Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 88. Kompak.


__ADS_3

Di kantor Zidane merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Sejak pagi tadi dia mual-mual ketika mencium bau parfum.


"Dion kamu kenapa kok hari ini bau banget?"


Dion mencoba mengendus bau tubuhnya, tidak bau kok wangi seperti biasa apalagi parfum yang ia gunakan adalah parfum yang berkelas.


"Bau apa sih Pak, orang wangi kayak gini," protes Dion.


"Wangi apaan? Bau tokek kayak gini."


"Hidung Bapak aja yang kayaknya bermasalah jangan nyalahin tubuh saya. Orang saya pakai parfum mahal dibilang bau," gumam Dion tapi masih bisa di dengar oleh Zidane.


"Sudah sana keluar jangan membangkang, kalau bau ya bau aja nggak usah protes."


"Ada apa ini?" tanya Maura yang yang kebetulan masuk dengan berkas-berkas di tangannya.


"Menurut kamu aku bau nggak?" tanya Dion pada Maura.


Maura mengernyitkan dahi kemudian berjalan ke arah Dion. "Tidak kok Bapak wangi."


"Tuh kan Maura bilang apa, hidung Bapak aja yang kayaknya nggak normal."


"Ini Pak berkas yang harus Bapak tanda tangani hari ini," ucap Maura sambil menyodorkan berkas ke arah Zidane.


"Maura kamu mundur, jangan dekat-dekat! Kenapa sih hari ini kalian pada bau semua?"


Maura memandang Dion meminta penjelasan dengan isyarat mata.


"Tahu kesambet setan di Venice kali, pulang-pulang jadi aneh," ujar Dion sambil sengaja menyemprotkan pewangi ruangan.


"Dion!" teriak Zidane sambil menutup hidungnya kemudian berlari ke ruangan Dion.


"Huek-Huek."


"Ngapain Bapak masuk ke ruangan saya?" protes Dion.


"Suruh siapa kamu menyemprot ruangan saya? Pokoknya saya tidak mau tahu, bawa semua pekerjaan saya ke sini! Untuk hari ini kita tukar ruangan dulu."


"Bapak serius?"


"Sejak kapan Zidane alergi parfum?" batin Dion.


"Serius lah Dion, kamu pikir aku bercanda? Sana pergi! Bau banget sih," kata Zidane sambil mendorong tubuh Dion.


"huek-huek."


"Bapak tidak sakit ataupun kesurupan kan?" ledek Dion sambil menyentuh kening Zidane.

__ADS_1


"Dion!" bentak Zidane.


"Ia, ia Pak," ujar Dion sambil melangkah ke arah pintu.


"Dion! panggil Zidane kembali ketika Dion sudah sampai di luar pintu.


Dion melongo. "Ia Pak?"


"Ganti baju dulu sebelum mengantar berkas dan yang lainnya. Pastikan baju kamu tidak ada parfum atau wewangian lainnya!"


Dion tidak menjawab hanya menggaruk kepalanya. Ada-ada saja dengan Zidane pikirnya.


"Satu lagi, umumkan kepada semua karyawan mulai besok tidak boleh ada yang memakai parfum kalau ada yang melanggar siap-siap dipecat!"


"Ia Pak," jawab Dion lalu melangkah pergi sambil geleng-geleng kepala. Entah alasan apa yang akan disampaikan nanti kepada semua karyawannya. Apa dia akan mengatakan atasannya sedang kesambet, tiba-tiba alergi parfum ataukah terkena penyakit kronis yang membuatnya tidak bisa membedakan antara bau dan harum.


Dion pun mengumpulkan karyawannya hanya untuk memberi informasi tentang hal yang tidak penting menurut Dion.


"Ya nanti bau dong Pak kalau nggak boleh pakai parfum," protes salah satu karyawan perempuan.


"Ya sudah kamu mandi kembang aja kalau nggak ingin bau badan," cetus seorang karyawan laki-laki.


"Gini aja, kita bawa parfum aja dari rumah nanti kita pakai pas pulang dari kantor. Kan kalau pagi-pagi kita masih harum ya meski nggak pakai parfum," timpal yang lain.


"Nggak ah aku nggak bisa kalau nggak pakai parfum soalnya aku sudah ketergantungan. Lebih baik aku menghindar aja deh kalau papasan sama Pak Zidane."


"Apa dipecat?" tanya mereka serempak.


"Hm," jawab Dion sambil berlalu dari hadapan semuanya sementara para karyawan hanya bisa menelan ludah mendengar perkataan Dion.


"Kamu!" panggil Dion pada seorang OB sambil membuka dompetnya.


"Ia Pak."


"Tolong belikan aku baju ganti sekarang dan antarkan ke ruangan Pak Zidane!"


"Baik Pak."


Sore hari Naura masih enggan keluar kamar. Matanya sekarang sudah bengkak akibat terlalu lama menangis. Si kembar yang sejak datang sekolah tidak melihat keberadaanya menyangka gadis itu belum pulang dari bekerja.


"Ma kok Kak Naura belum pulang juga ya Ma?" tanya Tristan pada Isyana. Pasalnya jam segini biasanya Naura sudah balik dari kantor.


"Mama nggak tahu sayang. Kalian kan lihat sendiri dari pagi kepala mama pusing banget jadi mama seharian nggak keluar kamar." Memang benar seharian ini kepala Isyana terasa pening, mukanya pucat dan perutnya serasa mau muntah tapi tidak keluar-keluar, tubuhnya pun terasa lemas. Untuk itu Laras berinisiatif membawakan makanannya ke kamar.


"Mama sudah ke dokter? Apa perlu Itan nyuruh Oma memanggil dokter Rian?"


"Nggak usah sayang sebaiknya tunggu papa kalian dulu aja ... hoek-hoek." Isyana berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


"Atan kamu minta bibi buatkan teh hangat ya biar Itan yang memijit mama!"


"Ia Itan."


Nathan pergi ke dapur sedangkan Tristan mengikuti mamanya ke kamar mandi lalu memijat-mijat bahu dan leher Isyana. Meskipun tenaganya tidak seberapa namun Isyana tersentuh dengan perbuatan kedua anaknya. Mereka selalu perhatian dan selalu bisa membahagiakan mamanya dengan cara mereka sendiri.


Selesai membersihkan mulut serta wajahnya dan mengeringkannya dengan tisu Isyana menangkup wajah Tristan lalu menciumnya. Matanya nampak berkaca-kaca karena saking terharunya.


"Mama menangis?" tanya Tristan melihat setetes air mata jatuh di pipi mamanya.


"Ia tangis bahagia, Mama sangat terharu. Entah kebaikan apa yang pernah Mama lakukan hingga Tuhan menganugerahkan Mama anak-anak yang baik seperti kalian."


"Mama," rengek Tristan sambil masuk ke dalam pelukan Isyana.


"Mama." Nathan datang dengan segelas teh hangatnya dan berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sini sayang!" panggil Isyana sambil merentangkan tangan yang satunya.


"Minum dulu Ma," ujar Nathan sambil menyodorkan gelasnya dan Isyana menerima lalu meneguknya kemudian meletakkan gelas di lantai dan membiarkan Nathan masuk ke dalam pelukannya.


"Terima kasih ya sayang. Kalian sumber kekuatan dan kebahagiaan Mama. Mama tidak tahu apakah Mama bisa sebahagia ini kalau saja kalian tidak pernah hadir dalam hidup Mama," kata Isyana sambil mengecup kening putranya satu persatu kemudian mengeratkan pelukannya.


"Ada apa ini kok malah pelukan di kamar mandi?" tanya Zidane.


"Mama tadi muntah-muntah Pa."


"Dan kalian bantu Mama?"


"Ia Pa."


"Hebat jagoan Papa. Ayo keluar ngapain kalian disitu?!" ujar Zidane sambil masuk ke kamar mandi untuk membantu Isyana bangun namun ternyata.


"Huek-huek." Dirinya ikutan muntah.


"Kenapa sih bau sabun menyengat banget!" protesnya namun dirinya sudah bisa merasa lega karena sesuatu yang tertahan sedari pagi di perutnya bisa keluar sekarang.


"Papa Mama kok kalian kompak banget sih?"


"Ada apa sih dengan kalian?"


Keduanya kompak menggeleng.


"Ya sudah kami akan menyuruh Oma manggil dokter Rian."


"Nggak usah, biar Papa aja."


"Baiklah Pa."

__ADS_1


__ADS_2