
"Rick selir siapa tuh di luar?"
"Apa sih Sya, selir-selir ternyata kamu tidak ada bedanya dengan yang lain. Mau belajar jadi kompor?"
Zidane terkekeh melihat Edrick ngambek. Sebab tidak biasanya dia seperti itu. Kenapa setelah menikah pria itu cenderung jadi sensitif.
"Hm, gitu aja ngambek orang Angel aja santai," sahut Isyana.
"Siapa? tanya Louis, kemudian dia ingat tadi sempat menyuruh Nindy agar membeli buah untuk Annete dan camilan untuk dinikmati bersama para sahabatnya. Louis langsung bergegas ke luar kamar rawat dan benar saja terlihat Nindy yang berdiri dengan muka cemberut.
"Hei kenapa cemberut Nona?"
"Nona-nona namaku Nindy. Males, dari tadi muter-muter nggak ketemu ditelepon nggak diangkat-angkat. Kalau tidak karena hutang mana mungkin aku mau kerja sama kamu," ketus Nindy.
"Ingat hutangmu banyak sama aku. Maka jangan sekali-kali kamu kabur," ancam Louis.
"Majikan kejam elo. Sok, nggak mau ngangkat telepon dari pembantunya. Kalau rumah kemalingan paling keburu malingnya pada kabur."
"Bisa nggak sih kali ini nggak usah ngedumel. Sakit telinga gue denger ocehan elo. Lihat nih ponsel gue lagi lowbet. Malas lama-lama gue sama elo."
"Baguslah kalau malas biar aku bisa dilepas."
"Jangan ngarep! Sebelum hutang lunas."
"Astaghfirullah hal adzim Louis, ternyata elo lebih parah ya daripada punya istri." Isyana tertawa cekikikan. "Belum nikah aja sudah berantem apalagi pas sudah nikah."
Sontak perkataan Isyana memancing teman-teman yang lainnya untuk keluar.
"Kenapa sih Sya?"
"Tuh lihat Louis dari tadi berdebat sama ceweknya."
"Apa sih Sya, cewek-cewek orang dia hanya pembantu saya," protes Louis.
"Benar hanya pembantu?" Zidane menilik penampilan Nindy dari atas sampai bawah.
"Iya," jawab Louis cepat.
"Bukannya elo yang pembantunya dia ya." Dion malah meledek.
"Brengsek Lo Yon kalau ngomong asal nyablak."
"Habisnya Lo bilang perempuan kayak gini pembantu elo?" Edrick menimpali dia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Louis.
"Awas mata dikendalikan, lihat yang muda dan seger entar lupa sama anak dan bini." Kayaknya Adrian ketularan kesomplakan teman-temannya. Annete dan Angel hanya terkekeh begitupun Yuna dan Anisa.
"Apa jangan-jangan dia memang pacar elo ya tapi nggak enak ngakuinnya karena ada Angel? Karena elo cepat move on-nya?"
"Loh-loh aku dibawa-bawa," protes Angel.
"Gercep banget loh Bro bisa dapat pengganti Angel secepat ini."
"Jangan khawatir Om kalian cocok kok." Tristan ikut menimpali.
"Sudah ku jelasin sedari tadi, kalau nggak percaya ya udah." Louis pasrah.
"Benar kan Nin?" lanjutnya Nindy hanya mengangguk kemudian menunduk. Dia merasa malu pada teman-teman Louis.
"Ini pesanannya Tuan." Nindy mengulurkan buah dan bungkusan di tangannya.
__ADS_1
"Berikan sama dia!" perintah Louis sambil menunjuk Annete.
Nindy masuk ke dalam dan memberikan buah dan bungkusan ke tangan Annete. Annete pun menerimanya dan memberikan bungkusan itu pada Adrian agar dibuka dan diberikannya pada yang lain.
"Silahkan duduk dulu!" Perintah Annete dan Nindy pun menurut.
"Siapa namamu?"
"Nindy."
"Apa benar yang dikatakan Louis bahwa kamu bekerja di rumahnya?"
"Benar Mbak." Louis tersenyum menang ke arah teman-temannya.
"Kayak polisi aja loh Net, pake interogasi segala," cibir Dion.
"Kan biar jelas semuanya Yon. Biar nggak timbul fitnah."
"Iya deh. Bagaimana perasaanmu sekarang Gel lega?" Dion beralih menggoda Angel.
"Aku justru lega kalau mereka memang pacaran," ucap Angel membuat Louis dan Nindy langsung menatap intens wajahnya.
"Kalian jangan menatapku seperti itu!" Angel jadi salah tingkah.
"Ayo kita pulang aku lupa hari ini ada meeting," ajak Louis sambil menarik pergelangan tangan Nindy.
"Kami pergi dulu ya Bro, sorry lupa ada rapat penting!" pamit Louis pada sahabat-sahabatnya.
"Cie-cie, rapat apa rapet?"
Louis hanya geleng-geleng kepala kemudian berlalu tanpa protes lebih lanjut.
"Elo bisa nggak sih jangan berpenampilan seperti itu?"
"Emangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Penampilan Lo kayak si inem pelayan seksi. Tahu sama sih inem?" Louis malah sewot.
Nindy menggeleng.
"Ya sudah kalau nggak tahu pokoknya penampilan kamu harus dirubah."
"Loh-loh kok jadi ngatur-ngatur soal penampilan? Jadi aku harus berpenampilan kucel gitu?"
"Pokoknya penampilan kamu harus lebih tertutup. Kamu tidak lihat tadi teman-teman aku melihatmu seperti apa?"
"Nggak."
Louis menghela nafas. "Pokoknya harus diubah, harus lebih tertutup. Kalau tidak kamu boleh pergi dari rumah."
"Benarkah?" Nindy tersenyum sumringah.
"Tapi jangan lupa bayar hutang dulu!" Nindy menelan ludah kasar mendengar perkataan Louis.
"Baiklah aku akan merubah penampilanku," ucap Nindy pasrah padahal dia tidak tahu apa yang salah dengan cara berpakaiannya.
🥀🥀🥀🥀
Dua hari berlalu Adrian memilih membawa Annete pulang meski belum pulih benar. Dia meninta pada dokter agar Annete diizinkan rawat jalan saja.
__ADS_1
Setelah pulang dari rumah sakit karena kondisi Annete yang belum pulih Adrian melarang dia untuk melakukan tugas rumah tangga apapun. Kebutuhan Adel kini diambil alih menjadi tanggung jawab Anisa meskipun sudah ada pembantu di sana. Bahkan terkadang Anisa yang menyiapkan air hangat untuk Adrian tatkala ia harus mandi sepulang kerja. Hal itu tentu saja membuat Annete merasa tidak nyaman meski dia tidak ingin berpikiran macam-macam. Mengapa dia merasa Anisa masih mengharapkan Adrian.
Dia sudah melarang Anisa untuk melakukan itu dan meminta bik Sri yang melakukan semuanya namun Anisa menolaknya dengan alasan ingin berterima kasih kepada Annete dan Adrian karena telah memaafkannya dan merawat Adel sedari dulu.
Hari demi hari Adel semakin dekat dengan Anisa. Entah mengapa Annete merasa Adel semakin jauh darinya. Entahlah mungkin itu cuma perasaannya saja.
Hingga suatu hari Adel meminta Anisa dan Adrian berfoto bersama dirinya karena memang sedari kecil tidak memiliki foto bertiga bersama ayah dan bundanya.
"Apa boleh An?" Adrian meminta izin pada Annete.
"Kenapa tidak Mas? Turuti saja permintaan Adel. Toh hanya foto-foto saja."
Adrian mengangguk kemudian menghampiri Adel dan Anisa dan mulai melakukan sesi foto bersama sesuai arahan Adel.
Saat melihat kebersamaan mereka tiba-tiba ada rasa yang sesak yang menyeruak ke dalam dada. Annete merasa menjadi penghalang untuk kebahagiaan mereka. Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Dia menyekanya berulang-ulang kali.
Melihat Annete menangis buru-buru Adrian menghampiri Annete. "Kau menangis? Kamu cemburu?" Annete tidak menjawab.
"Maaf aku tidak akan melakukannya lagi meskipun itu permintaan Adel."
"Mas sepertinya mbak Anisa masih mengharapkan mu."
Adrian mengerutkan dahi. "Terus?"
"Apa tidak sebaiknya kamu kembali padanya? Aku lihat Adel tadi bahagia bersama kalian berdua."
"Apa yang kamu katakan?"
"Mumpung kita belum punya anak Mas, kamu bisa kembali padanya."
Adrian menggeleng. " Sst, Jangan katakan itu lagi," ucap Adrian sambil menaruh telunjuknya di bibir Annete.
"Apapun alasannya aku tidak mau berpisah sama kamu. Aku tidak mampu hidup tanpamu An." Adrian berkata sambil mendekap erat tubuh Annete seolah tidak mau kehilangan. Membuat wanita itu semakin kencang menangis.
"Tapi Mas..."
"Sst, jangan bicara itu lagi aku tidak suka. Bahkan sampai stok wanita habis sekalipun aku tidak akan pernah kembali padanya. Aku hanya menganggap dia sebagai ibu kandungnya Adel dan saudaramu juga, tidak lebih dari itu. Maka aku mohon jangan memintaku lagi untuk kembali padanya."
Annete hanya mengangguk dalam dekapan Adrian.
"Janji ya sayang?" Annete mengangguk lagi.
Adrian tersenyum ke arah Annete dalam hati dia harus membuat Annete secepatnya hamil agar wanita itu tidak meminta hal itu lagi. Karena Adrian yakin anak mereka akan jadi pengikat keduanya.
"Kenapa memandangku seperti itu Mas?" protes Annete.
"Ah, nggak kamu tambah cantik aja."
"Ih gombal." Annete memukul-mukul bahu Adrian manja.
Anisa dan Adel tersenyum ke arah Annete. Mereka ikut bahagia melihat kemesraan keduanya.
"Adel ikut ya untuk sementara tinggal di rumah bunda agar ayah sama bunda Annete punya banyak waktu untuk berdua."
"Tapi Bunda..."
"Katanya Adel pengen cepat punya adik? Makanya beri waktu mereka untuk bikin adik buat Adel.
"Baiklah," ucap Adel seraya mengangguk.
__ADS_1
Bersambung....