Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 16. Malarindu


__ADS_3

"Dengan senang hati," ucap Mala sambil melepaskan pakaian kemudian mengajak Louis ke dalam kamar. Setelah sampai di kamar Louis pun melucuti pakaiannya atasnya.


Mala melanjutkan aksinya tanpa memberi celah untuk Louis agar memimpin padahal gai*rah Louis sudah berada di ubun-ubun. Mala ingin agar malam ini Louis benar-benar puas dengan servisannya hingga akhirnya Louis akan mengajaknya menikah.


"Giliran ku," ucap Louis pada Mala, segera Mala menghentikan aktivitasnya untuk memberi waktu pada lawan mainnya.


Louis merapatkan tubuhnya pada Mala, berulang kali menelan saliva sebelum akhirnya memutuskan memegang bukit kembar Mala.


"Est ...ssst." Mala mendesis merasai kenikmatan luar biasa akibat sentuhan Louis. Ingin rasanya dirinya cepat-cepat dibawa ke nirwana oleh Louis.


"Pak cepat!" pinta Mala saat Louis terlihat ragu-ragu. Mala sudah tidak tahan dengan permainannya, rasanya ia ingin langsung ke inti saja. Sedangkan Louis yang berniat menjadi bayi besar dengan menyesap dua bukit besar mengurangkan niatnya tatkala wajah Nindy melintas di kepalanya.


"Nindy."


"Astaghfirullah hal adzim, apa yang ku lakukan?" Reflek tangan Louis mendorong tubuh mala ke belakang sehingga tubuh wanita tersebut tersuntur mengenai sandaran ranjang.


"Bapak." Mala menjadi geram mengapa Louis jadi kasar begitu.


"Aduh." Mala merintih kesakitan. Dia berusaha bangkit untuk duduk kembali.


"Bapak kenapa sih?" Mala yang sudah tidak dapat menahan kekesalannya protes apalagi tidak ada inisiatif sedikitpun dari Louis untuk membantunya duduk.


"Pasang pakaianmu kembali!" Louis berkata sambil membelakangi Mala.


"Tapi Pak?"


"Pakai kata ku!" Kali ini nada suaranya terdengar tunggi.


"Baik." Segera Mala memakai lingerienya kembali.


"Sudah," katanya.


Pakaian luar mu juga," perintah Louis.


"Sudah," jawab Mala beberapa saat kemudian.


Barulah setelah itu Louis mau melihat Mala kembali.


"Bapak kenapa sih?" Mala bertanya dengan ekspresi bingung, tidak mengerti dengan sikap Louis yang tidak seperti biasanya.


"Maaf aku sudah berhenti bermain wanita, jadi mulai sekarang tolong jangan merayu ku kembali. Tolong jangan sesatkan jalanku lagi."


"Tapi Pak?"


"Ssst." Tenanglah aku tetap akan membayar mu untuk malam ini."


"Bukan maksud ku seperti itu Pak. Tapi kalau bapak ingin bertobat bapak bisa menikahi ku."


"Apa maksud mu Maya?"

__ADS_1


"Biar aku bisa terus melayani bapak secara halal."


Louis memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Aku sebenarnya mencintai mu Pak, sejak dulu. Makanya aku rela meski hanya dijadikan pemuas na*su bapak saja."


Louis terkejut dengan pengakuan Mala. "Bagaimana mungkin kamu melibatkan perasaanmu Mala? Bukankah sudah sering ku ingatkan jangan sampai ada rasa lain yang menyeruak di hati kita. Kamu hanya pasangan one night stand yang dibutuhkan kala aku membutuhkannya tapi saat aku tidak membutuhkannya ya kamu harus menerimanya."


"Apa bapak sudah punya kekasih?" Mala menebak perubahan diri Louis pasti karena dia sudah punya pacar. Apalagi saat menghentikan aksinya tadi Mala sempat mendengar Louis menyebutkan nama Nindy.


"Itu masalah pribadi saya, kamu tidak perlu tahu," ujar Louis membuat Mala semakin kecewa dan berniat ingin mencari tahu tentang kebenarannya.


"Untuk kata cintamu tadi maaf aku tidak bisa menerimanya." Louis beranjak dan mengambil tasnya. Ia mengeluarkan kertas dari dalamnya dan menulis angka di kertas tersebut. Setelah itu ia memberikan cek tersebut kepada Mala. "Saya harap ini lebih dari cukup untukmu," ucapnya sambil mengulurkan cek tersebut.


Mala menerimanya dan membaca tulisan di kertas tersebut. Ia tersenyum kecut. "Seharusnya aku bisa mendapatkan lebih dari ini apabila aku berhasil menikah denganmu."


Setelah itu Mala langsung pergi dari kamar Louis dengan membawa rasa kecewa. Ia tak menyangka pertemuannya yang terakhir ini telah merubah Louis menjadi orang lain. Padahal sudah lama ia merindukan sosok pria tersebut.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


"Tuan Louis! Tuan Louis! Hah hah hah." Nindy memanggil Louis dalam tidurnya. Dia bermimpi Louis sedang mengalami kecelakaan dan kini tubuhnya di gotong oleh orang-orang ke rumah sakit.


Keringat bercucuran dari dahi dan seluruh tubuh Nindy. Nafasnya nampak terengah-engah.


Mira yang mendengar Nindy memanggil nama Louis dengan keras menempelkan telinganya di daun pintu. Dia berpikir Nindy memang bicara dengan Louis.


"Kapan ya Mas Louis datang? Kenapa aku tidak tahu ya?" Mira bicara sendiri. Ingin masuk takut-takut memang Nindy berbicara dengan Louis, dan kalau masuk dia takut disangka lancang.


Namun karena beberapa saat Mira tidak mendengar suara Louis akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam.


Sampai di dalam Mira melihat tubuh Nindy bergetar dengan bibir yang meracau tidak jelas. Mira langsung meraba tubuh dan dahi Nindy. "Panas, dia panas sekali."


"Aku harus apa ya?" Mira panik sendiri. Beberapa saat kemudian dia langsung mengambil parasetamol untuk Nindy.


"Nin bangun! Kamu itu demam, minum parasetamol dulu ya." Namun yang diajak bicara tidak merespon dan tetap memejamkan mata.


Akhirnya Mira segera menelepon dokter untuk datang ke sana. Sebelum dokter datang ia mengambil kain kompres dan mengompres dahi dan beberapa bagian tubuh lainnya untuk mengurangi panas di tubuh Nindy.


"Kok dokternya lama sekali sih?" Mira semakin panik. Dia lalu teringat akan Louis.


Ketika hendak mengambil ponselnya kembali untuk menghubungi Louis, dokter yang akan memeriksa Nindy datang.


Mira segera berlari ke arah luar untuk membukakan pintu. "Siapa yang sakit?" tanya dokter kepercayaan keluarga Louis.


"Teman saya Dok, mari silahkan masuk!" Dokter mengangguk kemudian mengikuti langkah Mira ke dalam kamar Nindy.


"Saya periksa dulu ya Mbak Mira." Dokter tersebut meminta izin.


"Silahkan Dok."

__ADS_1


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum lalu memeriksa tubuh Nindy.


"Demamnya tinggi sekali, apa tidak sebaiknya di opname?"


"Apa tidak bisa diberikan obat saja Dok, saya masih mau melapor pada Mas Louis."


"Ya sudah saya kasih obat dulu, barangkali dia panas begitu karena belum menyentuh obat sekalipun. Apa sudah diberi obat penurun panas?"


"Belum Dok, boro-boro mau dikasih, mau membuka mata pun dia tidak."


"Kalau begitu saya suntik dia dulu ya Mbak Mira nanti kalau demam nya belum reda juga atau tidak mau mengkonsumsi obat kamu bisa membawanya ke rumah sakit."


"Baik Dok."


Setelah menyuntik Nindy dan menyerahkan obat-obatan kepada Mira dokter tersebut langsung pamit.


"Terima kasih pak Dokter," ucap Mira saat dokter tersebut keluar pintu.


"Sama-sama Mbak Mira, jangan lupa terus dikompres ya." sahut dokter tersebut ramah.


"Baik Dok."


Setelah dokter tersebut pergi Mira menemui Nindy lagi dikamar. Ia membasahi kembali kain kompres


yang sudah kering akibat suhu tubuh Nindy yang teramat panas.


Nindy terus saja meracau, memanggil-manggil nama Louis seolah lelaki itu berada dalam bahaya.


"Tuan Louis sadar Tuan Louis."


"Nin, bangun Nin! Kamu harus segera minum obat." Mira mengguncang tubuh Nindy agar mau bangun tapi sayang Nindy tetap tidak meresponnya. Karena terlalu khawatir akhirnya Mira segera menelpon Louis.


๐Ÿ“ฑ"Ada apa Mbak Mira?"


๐Ÿ“ฑ"Mas Louis, Nindy demam suhu tubuhnya sangat panas dan dari tadi dia mengigau memanggil-manggil nama Mas Louis."


๐Ÿ“ฑ"Apa? Apa sudah dipanggilkan dokter?"


.


๐Ÿ“ฑ"Sudah Mas tapi dia tidak bisa minum obat karena dari tadi tidak mau bangun-bangun."


๐Ÿ“ฑ"Kalau begitu kamu paksa supaya dia terbangun dan segeralah memberikannya obat. Kalau belum berkurang juga demamnya sampai besok kita akan segera membawanya ke rumah sakit. Malam ini aku akan langsung pulang," ujar Louis sambil menutup teleponnya lalu segera berkemas untuk pulang.


๐Ÿ“ฑ"Baik Mas Louis Mira tunggu, segeralah pulang aku takut terjadi sesuatu sama gadis itu."


Tak ada jawaban.


๐Ÿ“ฑ"Halo, halo Mas Louis?"

__ADS_1


"Hah ternyata teleponnya sudah terputus," ujar Mira sambil melangkah kembali ke ranjang untuk membasahi kain kompres yang kini sudah mulai mengering kembali.


Bersambung.....


__ADS_2