
Setelah sarapan Isyana mengantarkan si kembar ke sekolah Taman Kanak-kanak kemudian menyuruh sopir mengantarnya ke butik.
Mulai sekarang Isyana sudah tidak membawa si kembar ke butiknya lagi. Setelah pulang sekolah dia akan dijemput sopir dan sampai ke rumah dia akan disambut oleh
Annette pembantu sekaligus pengasuh mereka.
"Aunty kami pulang!" teriak mereka antusias sepulang sekolah.
Meskipun seorang pembantu tetapi Isyana dan kedua anaknya menganggap Annette seperti keluarga sendiri. Apalagi umur Annete lebih muda dari Isyana membuat si kembar sangat akrab dengan wanita tersebut.
Setiap hari si kembar menghabiskan hari-harinya di dalam 'kamar musik' begitulah mereka menamai gudang tersebut.
Berbekal ponsel mereka mempelajari cara memainkan alat musik tersebut secara otodidak.
Tak hanya memainkan alat musik Tristan juga berlatih menyanyi dan gerakan dance.
Nathan pun berlatih memainkan alat tersebut tapi dia tidak sesemangat Tristan. Nathan hanya berlatih memainkan piano saja itupun karena desakan Tristan.
Lama mereka berlatih akhirnya sekarang sudah mahir memainkan alat musik tersebut.
Kini mereka sedang membuat beberapa akun di medsos dengan bantuan Annette namun Annette tidak tahu kalo tujuan mereka adalah untuk memposting kegiatan bermain musik mereka. Annette berpikir mereka hanya mengikuti tren saja.
Annette tidak pernah tahu kalau keduanya mahir bermain musik karena tidak pernah melihat mereka latihan musik. Ketika latihan mereka mengunci pintu kamarnya dan juga mengunci 'kamar musik' mereka dengan Grendel dari dalam sehingga Annete menganggap pada saat tersebut si kembar sedang tidur di kamarnya. Sedangkan ruangan tersebut kebetulan kedap suara.
Nathan berperan sebagai kameramen yang memvideokan aksi Tristan walau tak jarang dia juga ikut nimbrung dengan Tristan sedangkan hape kameranya dia letakkan pada alat tertentu.
Setelah puas dengan hasilnya kemudian mereka berdua mengunggah kegiatan mereka yang sedang memainkan berbagai macam alat musik tersebut ke akun YouTube mereka dan juga ke akun medsos yang lain.
Dalam sekejap follower mereka mencapai ribuan followers kemudian semakin hari semakin bertambah banyak bahkan setelah beberapa bulan akun YouTubenya kini mencapai hingga milyaran subscribers. Bagaimana tidak banyak selain mereka menyukai permainan musik mereka banyak diantara penonton yang malah menyukai wajah mereka yang tampan dan kebule-bulean itu.
Sungguh pencapain luar biasa untuk seorang anak yang tidak pernah sekolah musik apalagi umur mereka sekarang baru menginjak lima tahun.
๐๐๐๐๐
Mata Isyana membulat ketika mengecek saldo tabungannya bertambah drastis.
"Apa angka-angka ini benar? Apakah pandangan mataku sudah mulai kabur?" Isyana mengucek kedua matanya seolah meragukan ketajaman penglihatannya kini. Dia tidak percaya melihat saldo tabungannya bertambah drastis.
"Mama kenapa?" tanya Nathan yang baru turun dari ranjangnya hendak ke kamar mandi namun kamar mandinya masih dipakai Tristan jadi terpaksa dia ke kamar mamanya untuk menumpang mandi.
"Mama cuma bingung aja kenapa tabungan mama tiba-tiba bertambah banyak."
Nathan mengernyitkan dahi dia mencoba berpikir, "Barangkali customer mama yang transfer."
"Benar juga kalau begitu mama coba telepon customer mama dulu."
Nathan berlalu masuk ke kamar mandi sedangkan Isyana mencoba menelpon salah satu pelanggan butiknya.
__ADS_1
"Hallo benar ini dengan Bapak Antony?"
"Iya benar Bu ada apa?"
"Maaf sebelumnya Pak, Bapak jangan salah sangka saya hanya ingin bertanya. Apakah Bapak yang mentransfer uang ke rekening saya?"
Pak Antoni adalah salah satu pelanggan yang memesan banyak baju untuk di pakai menjadi seragam keluarga di kawinan anaknya.
"Saya belum mentransfernya Bu, bukankah perjanjiannya saya akan membayar setelah pakaian itu saya ambil dan uang muka sudah saya serahkan langsung ke Ibu waktu itu."
"Iya Pak benar. Maaf ya Pak saya pikir bapak yang mengirim uang ke rekening saya. Saya mohon maaf atas tergangunya waktu bapak!"
"Iya tidak apa-apa Bu!"
Isyana menutup telepon dan menelpon pelanggan yang kemarin memesankan baju untuk anak seorang menteri namun orang tersebut mengatakan belum mentransfer uangnya.
Isyana menggaruk kepalanya bingung darimana uang tersebut berasal.
Nathan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di tubuhnya menghampiri Isyana. Bau sabun menyeruak dari tubuhnya membuat Isyana tidak tahan untuk menciumi pipi buah hatinya tersebut.
"Jangan cium-cium dulu Ma Nathan malu belum pakai baju nih."
"Biarin mama kan cuma cium pipi aja!"
"Gimana Ma udah ketemu orang yang mentransfer?"
"Barangkali orang salah transfer Ma."
"Nggak mungkinlah sayang uang sebanyak ini mana mungkin orang teledor salah memasukkan nomor rekening."
"Bisa saja kan Ma, sudahlah jangan dipikirkan nanti mama stres. Anggap aja itu rejeki mama."
"Nathan, Nathan. Mana ada orang stres kalo lihat uang yang ada mata mama berubah ijo tuh kalau liat uang banyak tapi mama cuma bingung aja asal uang itu dari mana."
"Sama aja Ma kalau kebanyakan mikir nanti stres juga. Emang mata mama bunglon apa kok bisa berubah warna?"
Isyana menggeleng-gelengkan kepala ternyata Nathan tidak bisa mengerti istilah. Maklumlah dia masih kanak-kanak walaupun terkadang pikirannya dewasa.
"Sana cepat pakai baju kalo tidak mama nanti tidak akan melepaskan kamu untuk terus mama cium."
Nathan hanya menggelembungkan pipinya.
"Atau mau mama pakaikan baju kamu?"
"Nggak Ma Atan sudah bisa pakai baju sendiri," tolak Nathan sambil berlari keluar kamar.
Sampai di kamarnya Nathan membicarakan kebingungan mamanya kepada Tristan.
__ADS_1
"Jangan-jangan kemaren akun yang minta masukin no rekening itu yang ngirim ke mama," tebak Tristan.
"Jadi maksud kamu kita di bayar gitu?"
"Ya kayaknya seperti itu tapi lebih jelasnya kita tanya aunty Annete aja kan dia yang bantu masukin rekening mama dulu."
"Oke kalau gitu kita ke kamar aunty Annette aja."
"Oke."
Keduanya pun menuju ke kamar Annette.
Tok tok tok. Tristan mengetuk pintu.
"Aunty! Aunty Annete!" panggil keduanya.
"Sepertinya nggak ada Atan."
"Kalau nggak ada di kamar pasti ada di dapur," tebak Atan.
Mereka pun menuju dapur.
Benar saja Annete sedang memasak sayur di dapur.
"Aunty kita mau nanya nih!"
Annete menoleh ke arah mereka. "Mau tanya apa?"
"Aunty benar YouTube membayar kami?"
Sebenarnya Annette sudah tahu bahwa mereka sukses dan viral di medsos dan di YouTube karena dia selalu memantau akun mereka namun Ia tidak memberitahukan kepada Isyana karena si kembar meminta merahasiakan dari mamanya.
Sedangkan Isyana tidak mengikuti berita selain berita mengenai design pakaian dan mode pakaian yang lagi ngetrens. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya apalagi dia berkeinginan mengikuti lomba designer yang diadakan pemerintah kota di sana.
"Kenapa kalian bertanya begitu?" malah balik bertanya.
"Soalnya mama tadi Nerima transferan tapi nggak tahu dari siapa. Katanya mama nggak kenal."
"Kayaknya ia ya kan kemaren aunty yang bantu itu mencet-mencet hp kamu dan memasukkan nomor rekening mamamu."
"Benar Tante?"
"Iya sih kayaknya."
"Hore...." Mereka bersorak gembira.
"Akhirnya kita bisa membanggakan mama," ucap Tristan sambil tersenyum sumringah.
__ADS_1