Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 118. Pengkhianatan


__ADS_3

Setelah beberapa hari Annete dirawat di rumah sakit akhirnya kini dia diperbolehkan pulang oleh dokter. Setelah sampai ke rumah Annete disuruh istirahat oleh Johan dan Johan malah menghampiri Gita di sekolahnya.


"Nak Gita saya mau ngomong sama Nak Gita," ucap Johan pada Gita.


"Mau ngomong apa paman?" tanya Gita yang kini sedang duduk di kantin bersama beberapa sahabatnya.


"Kita kesana aja," ajak Johan pada Gita menuju meja yang kosong. Gita pun menurut saja dengan rasa harap-harap cemas dia melangkah ke tempat Johan mengajaknya.


"Nak Gita kok tega sih memberikan racun pada makanan Annete," ucap Johan setelah mereka sama-sama duduk di kursi.


"Maksud Paman apa sih, Paman jangan menuduh sembarangan dong kalau tidak ada buktinya."


"Siapa lagi yang akan memasang racun ke kue itu kalau bukan kamu sedangkan kemarin di sana hanya ada kita bertiga mana mungkin Annete yang memasukkan racun untuk meracuni dirinya sendiri."


"Sudahlah Nak Gita tidak usah mengelak saya datang kemari hanya untuk memperingatkan jangan sampai mengulang kejadian itu lagi kalau tidak saya akan melapor kepada orang tua Nak Gita atau kalau perlu saya akan melapor langsung ke kantor polisi. Saya permisi!" ancam Johan lalu pergi.


"Wah Kak Gita parah nih," ucap Ruri yang kebetulan lewat di sana.


"Mainnya pakai racun lagi." Salah satu teman Ruri menimpali.


"Kalau kamu tahu siapa ibunya Annete kamu pasti akan melakukan hal yang lebih jahat dari yang aku lakukan."


"Maksud kak Gita apa?" tanya Ruri penasaran.


"Kau tahu kau tidak akan punya ayah tiri seperti sekarang kalau ibunya Annete tidak mengambil Ayah kamu."


"Kak Gita jangan fitnah ya!"


"Enggak percaya ya sudah enggak apa-apa tapi kalau kamu penasaran bisa dicek nama ibunya Annete dan tanyakan langsung pada ibumu atau kamu bisa bertanya langsung pada Lutfi, kakakmu."


Kebetulan pada saat itu ibunya Ruri sedang ikut ayah tiri Ruri meninjau sekolah tersebut karena sekolah tersebut adalah milik dari ayah tiri Ruri.


"Tante, Tante!" panggil Gita pada ibunya Ruri.


"Iya ada apa Git?"


"Benar kan tante Tasya yang sudah berselingkuh dengan ayahnya Ruri dulu?"


Ibu Ruri tampak mengerutkan dahi sepertinya ia sedang berpikir. "Iya benar memang ada apa sih?"


"Anaknya, Annete sekarang bersekolah di sini."


"Memangnya Tante tidak ingin balas dendam?"


"Buat apa sih balas dendam? Tante sekarang hidupnya lebih bahagia dibandingkan dulu jadi seharusnya Tante berterima kasih pada ibunya Annete karena telah membantu melepaskan Tante dari si pria brengsek itu. Tante tidak habis pikir kalau Tante masih bersamanya bisa saja Tante masih menangis bersuamikan orang yang suka selingkuh." ucap ibu Ruri santai sedang Ruri merasa terbakar hatinya mendengar pengakuan ibunya.


Ruri meremas kedua tangannya sambil ngedumel dalam hati. " Awas kau Annete akan aku rebut apa yang menjadi milikmu!" ucap Ruri sambil tersenyum devil dalam hati dia sedang mengincar Duta.


##

__ADS_1


"Net tolong ambilkan buku laporan praktikum anak-anak di laboratorium, Bapak lupa tadi mengambilnya dan sebentar lagi lab akan diganti anak kelas 2."


"Baik Pak."


"Oh ya ini kunci cadangannya barangkali ruangan tersebut sudah di kunci oleh Duta dan kuncinya mungkin sudah diserahkan kepada guru IPA kelas 2."


Annete meraih kunci dari tangan sang guru kemudian berlari ke arah laboratorium untuk mengambil buku yang diperintahkan sang guru. Sampai di depan pintu ia mendengar suara bisik-bisik seorang laki-laki dan perempuan. Annete lalu menempelkan telinganya di depan pintu karena penasaran.


"Jangan di sini Kak, teman-temanku sebentar lagi sampai."


"Sebentar saja aku pastikan sebelum mereka datang kita sudah selesai."


'Deg'. Suara Duta, apa yang sedang dilakukan Duta di dalam sekarang? dan suara wanita itu suara siapa?pikir Annete dalam hati. Tanpa banyak berpikir lagi dia lalu membuka pintu tapi sepertinya pintu dikunci dari dalam.


Annete meraih kunci di saku bajunya lalu membuka pintu perlahan. Ketika pintu dibuka matanya langsung terbelalak melihat penampakan di hadapannya. Bagaimana tidak dia melihat Duta kekasihnya berlaku tidak senonoh pada Ruri dan sialnya Ruri tidak tampak melawan bahkan serasa menikmatinya.


"Duta!" Annete berteriak begitu saja membuat tangan Duta yang sedang meremas sesuatu yang menonjol di dada Ruri berhenti seketika. Begitupun wajah mereka yang sedang berciuman menjadi pias.


Annete masuk ke dalam ruangan tanpa memperdulikan keberadaan mereka. Sakit dalam hatinya ia tahan agar tidak nampak di depan keduanya. Buru-buru dia mengambil tumpukan buku teman-temannya dan berlari meninggalkan ruang lab.


"Annete tunggu biar aku jelaskan! Ini tidak seperti yang kamu lihat." Duta mengejar Annete tapi Annete tidak memperdulikannya dia terus berlari dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahannya.


"Annete tunggu!"


Dibelakang Ruri ikut mengejar setelah membenahi letak seragamnya.


"Net maafkan aku ya aku khilaf," mohon Duta dengan wajah memelas nya.


"Aku sudah memaafkanmu tapi maaf aku tidak bisa meneruskan hubungan kita."


"Annete aku mohon beri aku kesempatan, aku janji setelah ini aku akan jadi kekasihmu yang setia."


Annete tetap menggeleng.


"Buat apa Kak kamu mempertahankan wanita seperti itu, saya yakin orang tua kak Duta pun tidak akan merestui hubungan kalian jikalau tahu. Kakak tahu dia itu keturunan orang yang tidak benar. Ibunya telah membuat ibuku menjadi janda sewaktu aku kecil," tutur Ruri panjang lebar.


"Benarkah itu Annete?" tanya Duta.


"Aku tidak tahu!" bentak Annete.


"Mana ada maling yang ngaku Kak kalau tidak penjara pasti penuh."


"Benarkah itu Annete? Kalau memang benar kita memang harus berpisah. Orang tuaku selalu melihat seseorang dari bibit dan bobotnya."


Mendengar perkataan Duta Annete meraup wajahnya. "Pergilah kalian aku anggap tidak melihat apa yang kalian lakukan tadi dan kamu Duta, kamu benar kita memang harus berpisah," ucap Annete sambil berlari ke arah ruang guru.


Sampai di rumah Annite mencari keberadaan ayahnya dia sudah tidak tahan ingin menanyakan seperti apa sih sosok ibunya sehingga kemana pun dia pergi stigma keturunan pelakor selalu melekat pada dirinya.


Tempat pertama Annete mencari ayahnya di toko kue yang berada persis di depan rumah mereka.

__ADS_1


"Ayah, Yah!" panggilnya namun tak ada jawaban hanya bibi Rez yang berlari ke arahnya. Bibi ini yang ikut membantu mengelola toko Johan.


"Ada apa Net?"


"Bibi lihat Ayah?"


"Ayah kamu tadi masuk rumah apa tidak ada di kamarnya?"


"Tidak ada Bi saya sudah mencarinya."


"Mungkin ada di dapur atau di kamar mandi Net," ujar bi Rez.


"Oh iya ya Bi baiklah aku akan mencarinya lagi."


Annete masuk ke dalam rumah kembali mencari keberadaan ayahnya di dapur dan di kamar mandi yang posisinya juga dekat dengan dapur.


"Kemana sih Ayah kok dari tadi tidak kelihatan apa di kamarku ya!" gumamnya lalu berbalik arah menuju kamarnya sendiri. Sampai di ruang tamu dia melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di kursi menghadap bufet yang ada di pojokan sehingga samar-samar terlihat namun dari gaya duduknya gadis itu tahu kalau dia adalah Johan sang papa. Annete mendekat berjalan pelan-pelan menuju tempat sang ayah, dalam hati berpikir apa gerangan yang dilakukan ayahnya sampai tidak mendengar suara panggilannya yang nyaring sedari tadi. Sampai di sana Annete melihat ayahnya memandang sebuah album foto sambil termenung.


"Oh jadi ayah melamun pantesan tidak mendengar panggilan ku sedari tadi," ucap Annete dalam hati.


"Ayah kangen ibu?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar kala menangkap ayahnya sedang memandangi foto ibunya. Ya Annnete tahu itu foto ibunya. Ayahnya pernah menunjukkan foto ibunya tersebut tapi hanya sekedar foto ibunya yang dia tahu bagaimana sifat ibunya dia sama sekali tidak tahu karena dirinya tidak pernah mengenal sosok ibu sedari kecil. Bahkan apakah sosok ibu itu masih hidup atau sudah mati dia tak tahu, ayahnya pun pernah meminta Annete tidak menanyakannya sehingga Annete tidak berani bertanya lagi.


Johan mengusap air matanya. "Kamu sudah pulang nak?" Johan mengalihkan pembicaraan.


"Iya Yah sudah dari tadi bahkan Annete sempat mencari Ayah ke mana-mana karena Ayah tidak menjawab ketika Annete panggil."


"Maaf Ayah tidak mendengar."


"Ayah kangen ibu?" Annete mengulang pertanyaannya lagi. Johan menggeleng.


"Kalau begitu apa yang ayah pikirkan? Kenapa Ayah sampai menangis? Johan memandang wajah Annete sekilas.


"Mungkin sudah saatnya Ayah menceritakan segalanya. Apakah kamu sudah siap kalau Ayah menceritakan tentang ibumu?"


Tentu saja Annete senang bukankah itu yang ditunggu-tunggunya selama ini. Tapi kenapa hatinya kini berdebar-debar benarkah dia takut apa yang didengarnya selama ini benar?


"Iya yah Annete siap."


"Ayah cerita dari awal yah agar kamu tidak salah sangka dan semoga saja cerita Ayah ini bisa menjadi nasehat buatmu untuk menjalani hidup kedepannya." Annite hanya menjawab dengan anggukan menandakan dia setuju dengan apa yang dikatakan ayahnya.


"Sebenarnya pernikahan ayah dan ibu bisa dikatakan pernikahan darurat dan orang tua ayah tidak merestuinya."


"Mengapa bisa begitu Yah?"


"Baiklah Ayah akan cerita...."


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, hadiah dan komentarnya. Terima kasih.๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2