
"Kenapa Mas?" tanya Annete.
"Si Louis tuh masa mau nikahi Angel minggu depan. Gimana persiapannya gitu, pasti grusa-grusu."
"Serius, Louis mau nikahi Angel?"
"Katanya sih iya."
"Aaa.. Gel ternyata sahabatku, akhirnya menikah juga," ucap Annete sambil mengguncang tubuh Angel karena teramat bahagia sedangkan Angel hanya termenung. Entah apa yang dia rasakan sekarang. Pernikahan yang mendadak seperti ini membuatnya merasa tidak enak pasti Louis mau menikahinya karena tidak enak hati padanya.
"Kok kamu malah diam sih Gel?" Annete cemberut karena Angel tidak bereaksi.
"Aku nggak tahu Net mau ngomong apa."
"Ya sudah kamu diam saja biar aku sama Mas Adrian yang membantu mengurus persiapan pernikahan kalian, iya kan Mas?"
"Boleh," jawab Adrian.
"Sudah sampai," lanjutnya.
Mereka berempat pun turun dari mobil. Sudah ada pihak kepala panti dan beberapa pengurus yang sudah menyambut kedatangan mereka.
"Angel, Annete dan juga Adel membantu menurunkan nasi kotak dan menyerahkannya pada pengurus tersebut sedangkan Adrian menurunkan sembako dan membawanya ke dalam panti.
Sudah banyak anak-anak yang menyambut kehadiran mereka dengan senyum kebahagiaan. Pihak pengurus sudah meminta mereka untuk berkumpul dan mendoakan keluarga Adrian namun sebelumnya pihak panti mengucapkan ucapan terima kasih kepada Adrian dan keluarga yang telah meluangkan waktu dan juga memberikan panti asuhan itu bantuan. Setelah berdoa lalu mereka makan bersama.
Setelah acara makan bersama selesai, Adrian mengucapkan banyak terima kasih atas doa-doa yang mereka panjatkan untuk kesejahteraan keluarganya, terutama doa mereka untuk kesembuhan Adel.
Setelah itu Adrian memberikan anak-anak amplop secara bergantian yang sontak membuat mereka sangat girang.
"Gitu aja mereka udah bahagia ya Bunda," ucap Adel pada Annete.
"Itu namanya mereka bersyukur sayang, makanya Adel juga harus bersyukur. Mereka aja yang tidak punya ayah dan ibu bisa merasa bahagia dan bersemangat apalagi Adel yang punya ayah sama bunda jadi harus terus bersemangat."
"Iya bunda."
Setelah acara selesai mereka langsung pulang ke rumah setelah sebelumnya mengantarkan Angel dulu ke rumahnya.
Sampai di depan pintu pagar bi Sri menyambut mereka.
"Ada apa Bik, tumben bibi jemput kami sampai ke sini?" tanya Adrian.
"Itu Tu-an ... itu Tu-an...." ucap bi Sri terbata.
"Apa sih Bi, kok bi Sri jadi gagu seperti itu?" protes Annete.
"Itu loh Nya, pria yang pernah datang ke sini kemari lagi."
"Maksud Bibi, Farhan?"
"I-ya benar."
__ADS_1
"Ya sudah tenang saja, biarkan dia ketemu Adel." Bi Sri hanya mengangguk kemudian pamit pergi.
"Ayo Mas, ini saatnya Farhan tahu semuanya agar tidak lagi mengganggu kehidupan kita." Adrian mengangguk lalu mengambil pintu lain dan masuk ke kamarnya sedangkan Annete dan Adel masuk ke rumah tamu.
Melihat anak kecil masuk dari pintu Farhan segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Adel. Dia langsung memeluk Adel dan mengucap maaf beberapa kali.
"Maafkan ayah ya Nak yang tidak pernah menyadari akan kehadiranmu. Ayah janji mulai sekarang ayah tidak akan meninggalkan Adel lagi. Ayah janji akan memberikan yang terbaik buat Adel. Apapun yang Adel minta pasti ayah akan turuti asal Adel mau tinggal sama ayah," ucap Farhan dengan penuh harap sedang Adel mencoba melepaskan pelukan Farhan. Dia merasa risih dipeluk oleh orang asing.
Annete memberi kode supaya Adel diam dulu sebelum Adrian memberikan bukti untuk Farhan.
Beberapa saat kemudian Adrian turun dari kamarnya dan menghampiri Farhan yang belum mau melepas Adel juga.
"Ooh kamu yang namanya Farhan?"
Farhan melepaskan Adel dan berbalik. "Iya."
"Oh jadi kamu yang memperkosa Anisa?"
"Maaf," ucap Farhan sambil menunduk. Dia merasa bersalah terhadap Adrian.
Sebenarnya Adrian geram melihat pria ini mengingat dialah yang menjadi penyebab awal kehancuran rumah tangganya dengan Anisa namun melihat wajah Annete hati Adrian menjadi tenang kembali. Walau bagaimanapun gara-gara pria ini jugalah Adrian bisa bersatu dengan Annete.
"Ada perlu apa kamu datang kemari?" Adrian pura-pura tidak tahu.
"Aku ingin menjemput putriku, Adel." Farhan berucap dengan mantap.
"Ini baca!" Adrian langsung memberikan hasil tes DNA dirinya dengan Adel.
"Kamu salah sangka, Adel itu putri saya."
"Dia bodoh tidak perlu kamu percaya, buktinya sudah ada di tangan kamu. Silahkan baca sendiri!"
Farhan membuka lipatan kertas yang dipegangnya. Matanya terbelalak membaca tulisan di kertas tersebut. Bahkan Farhan sampai beberapa kali mengucek matanya siapa tahu dia salah lihat.
"Anda tidak merekayasa semua ini kan?"
"Apa untungnya saya merekayasa?" Adrian balik bertanya.
"Siapa tahu Anda ingin menguasai anak saya."
"Baiklah kalau Anda tidak percaya Anda bisa membuktikannya sendiri."
"Del ayah minta rambutnya ya, sedikit saja supaya orang ini tidak ngotot kalau kamu anak dia."
"Iya Yah boleh."
Adrian lalu mengambil beberapa helai rambut Adel dan memberikannya pada Farhan. "Ini kamu tes DNA saja sendiri biar jelas."
Laki-laki itu mengangguk dan mengambil rambut yang diberikan Adrian kemudian permisi pulang.
"HAh, selesai satu masalah," ucap Annete bernafas lega.
__ADS_1
"Emang ada masalah lain lagi?" tanya Adrian.
"Ada."
"Apa?"
"Mantanmu itu loh Mas, kapan kapoknya ganggu keluarga kita?"
"Kalau itu jangan terlalu dipikirkan. Apapun yang terjadi dia tidak akan mampu misahin kita bertiga."
"Del mandi dulu sana, lihat tubuhmu bau acem gegara keringatan. Habis itu langsung istirahat ya!"
"Oke ayah." Adel berlalu ke kamar mandi di kamarnya sendiri.
Annete pun beranjak ke kamarnya kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat siang. Namun Adrian menahannya. "Mau kemana?"
"Mau mandi lah Mas, emang mau apa lagi?"
"Layani aku dulu!" pinta Adrian.
"Iya nanti lah Mas, tubuhku masih bau ini. Habis mandi yah ya!" rayu Annete berharap setelah mandi Adrian melupakan keinginannya karena dirinya benar-benar merasa penat.
"Nggak apa-apa aku suka baumu." Please sekarang ya sayang," ucap Adrian dengan suara serak dan berat.
Akhirnya Annete mengangguk pasrah. Adrian pun beraksi dengan menciumi leher Annete dan memberikan sentuhan-sentuhan di tubuh istrinya namun tiba-tiba,
Brak. Pintu terbuka.
"Bunda!"
Adrian menghentikan aksinya dan membenahi pakaian isterinya. "Adel mau ngapain sih ke sini?"
"Mau tidur sama Bunda," rengek Adel manja sambil berjalan ke arah mereka dengan menenteng boneka hello Kitty pemberian Annete dulu.
Untung Adel nggak lihat. batin Annete, dia merasa lega.
"Nggak boleh, kan sekarang ada ayah!" tolak Adrian.
"Emang kenapa kalau ada Ayah? Adel kan sudah biasa tidur siang sama bunda."
"Iya itu kalau ayah lagi kerja. Kalau ayah di rumah giliran ayah lah tidur sama bunda."
"Gitu aja kok repot sih Yah, Ya udah kita tidurnya bertiga aja."
"Nggak bisa, kalau tidur bertiga gimana caranya ayah sama bunda bikin dedek bayi buat kamu. Katanya Adel pengin punya adik biar suasana rumah jadi ramai." Annete melotot ke arah Adrian. sedangkan Adrian hanya cengengesan.
"Nggak boleh buat adik siang-siang, kata orang nanti adiknya penakut. Kalau buat adik malem-malem aja ya Yah."
"Alasan." Adrian garuk-garuk kepala. Bagaimana caranya menurunkan keinginannya yang sudah ada di ubun-ubun.
"Ambil wudhu Mas," ujar Annete sambil tertawa lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Adrian memijit keningnya yang tiba-tiba pusing.
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐