
"Aku tidak kemana-mana kok dari tadi di sini saja," ucap Louis tidak mengerti dengan perkataan Nindy.
"Janji ya jangan pergi!" Nindy berucap sambil mendongakkan wajahnya ke atas, menatap wajah Louis.
"Iya." Louis menjawab sambil membelai rambut Nindy yang masih basah kemudian membalas pelukan Nindy hingga pelukan keduanya semakin erat saja
Prok-prok-prok.
Saat sedang berpelukan tiba-tiba tuan Zaki memasuki ruangan. Louis menoleh sedang Nindy yang kaget langsung mengurai pelukannya.
"Hebat ya anak Papa. Papa yang disuruh kerja tapi kamu malah enak-enakan di sini. Pakai acara mesra-mesraan lagi dengan gadis ini."
Mendengar perkataan tuan Zaki, Nindy menunduk. Dia merasa tidak enak karena kepergok berpelukan dengan Louis. Apalagi mendengar Louis memanggil papa pada laki-laki tersebut dan orang itu mengatakan Louis meninggalkan pekerjaan hanya karena dirinya.
"Awas anak orang jangan diapa-apain," goda Tuan Zaki. Dia tahu kebiasaan Louis dulu yang bergonta-ganti wanita. Meskipun Louis sudah insaf saat bersama Angel bukan tidak mungkin dia akan kembali ke dunianya lagi karena kecewa dengan pernikahannya yang gagal.
"Ini tidak seperti yang papa pikirkan," bantah Louis.
"Kan papa tidak menuduh cuma mengingatkan kamu saja. Siapa tahu kamu jadi khilaf." Tuan Zaki terkekeh.
Melihat tuan Zaki tertawa Nindy merasa malu.
"Pa..." Louis hendak protes.
"Mira sudah menceritakan semuanya." Tuan Zaki memotong perkataan Louis.
"Terus?"
"Yakin tidak mau menerima perjodohan yang Mama sama Papa rencanakan?"
"Jadi Tuan Louis juga dijodohkan? Kenapa aku merasa kecewa ya?" batin Nindy.
"Pa Louis kan sudah bilang, Louis tidak mau dijodohkan. Louis bisa cari calon istri sendiri."
"Kenapa sih masih ngotot? Kamu nggak mau tahu siapa calon yang akan papa dan mama jodohkan untuk kamu?"
"Tidak penting, Louis tidak perlu tahu dan tidak mau tahu," jawab Louis ketus.
"Yakin? Calon papa cantik kok."
"Biarin." Louis masih berkata dengan ketus.
"Yakin tidak tertarik? Dia seksi loh."
"Nggak ngaruh."
"Astaga nih anak, awas menyesal nanti ya!"
"Nggak akan."
"Yakin?"
__ADS_1
"Sangat yakin."
"Kenapa? Apa karena wanita itu?" Tuan Zaki menuding Nindy membuat gadis itu semakin merasa bersalah dan semakin tidak mau mengangkat muka.
"Kayaknya akan jadi masalah kalau aku harus tinggal di sini. Semoga tuan Louis tidak mengatakan iya di depan papanya." Walaupun sebenarnya jauh di dalam hatinya dia berharap Louis mengatakan iya.
"Iya Pa, papa benar." Louis menjawab dengan menunduk juga. Sebenarnya ia merasa tidak enak menolak papanya karena selama ini tuan zaki tidak pernah sekalipun memaksakan kehendaknya dan sekarang dia pun harus menolak kembali permintaan papanya. Namun dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
"Apa kamu benar-benar mencintainya?" pertanyaan itu membuat Nindy menjadi kaget, pasalnya tidak terlihat nada amarah dari pertanyaan tuan Zaki namun yang membuat lebih kaget lagi malah jawaban Louis.
"Iya Pa, aku sangat mencintainya. Maaf ya Pa kali ini aku tidak bisa mengabulkan permintaan papa lagi."
Mendengar perkataan Louis Nindy menganga dia terlihat syok, dia begitu tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana tidak syok karena selama ini Louis tidak pernah mengakui perasaannya di depan Nindy tapi sekarang malah mengakuinya di depan orang lain dan itu adalah ayahnya sendiri.
"Apa kamu sudah tahu dengan keluarganya?"
"Sudah Pa."
"Apakah dia berasal dari keluarga baik-baik?"
Deg. Jantung Nindy seolah berhenti seketika.
"Iya Pa," jawab Louis berbohong.
"Bagus kalau begitu, dan apa kamu sudah mengatakannya pada gadis itu bahwa kamu itu mencintainya?" Tuan Zaki langsung bertanya ketika melihat wajah Nindy terlihat kaget.
Louis menoleh kepada Nindy. "Belum Pa."
"Payah. Ya sudah sana katakan!"
"Kenapa? Kalau tidak berani berarti harus terima perjodohan papa!"
"Bukan begitu Pa, tapi ini belum waktunya," ucap Louis kesal. Masa dia harus mengatakan perasaannya pada gadis pujaan hati di depan papanya sendiri.
"Terus waktunya kapan?" Mau nunggu kamu keriput dulu?"
"Astaga papa benar-benar kuno nih orang, aku kan masih belum menyiapkan momen-momen romantis."
"Cih mau nunggu apalagi toh dia sudah tahu tentang perasaanmu tadi."
"Iya juga ya," ucap Louis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya ia salah tingkah.
"Tapi papa Janji ya kalau aku berani mengatakan perasaanku sama dia di depan Papa harus merestui hubungan kami."
"Cih belum tentu diterima juga."
"Pa!"
"Iya Papa janji."
"Baiklah."
__ADS_1
Louis menarik nafas kemudian memantapkan hati. Ia menoleh ke arah Nindy kembali dan Nindy masih terlihat menunduk karena masih merasa malu.
Louis mengambil kedua tangan Nindy dan menggenggamnya.
"Nin jujur selama ini aku merasa nyaman ada di dekatmu. Awalnya aku pikir itu hanya perasaan biasa namun ternyata lambat-laun aku mulai menyadari bahwa aku memang mencintaimu. Apakah kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku?"
Nindy tidak menjawab hatinya masih merasa jedag-jedug tak karuan. Senang bercampur malu kini yang dirasakannya. Apalagi dia harus menjawab pertanyaan itu di depan laki-kaki yang akan menjadi calon mertuanya.
"Nin?" Louis merasa khawatir karena Nindy tidak menjawabnya. Apalagi gadis itu masih terlihat menunduk. Louis sudah dapat menebak bahwa Nindy tidak bisa membalas perasaannya.
"Kamu boleh menolak ku kok kalau kamu memang tidak bisa mencintaiku. Aku tidak akan pernah memaksa," ujar Louis pasrah. Kalau Nindy menolaknya sudah dipastikan tuan Zaki akan meminta dirinya untuk menerima perjodohan yang telah dirancang oleh kedua orang tuanya.
"Nin?" Louis menunggu Jawaban Nindy dengan harap-harap cemas.
"Iya." Suaranya Nindy terdengar lirih namun masih bisa didengar oleh Louis.
"Tatap aku dan jawablah dengan suara yang nyaring agar papaku bisa mendengarnya."
Nindy terpaksa mengangkat wajah dan menatap Louis.
"Iya." Setelah mengatakan itu Nindy langsung menutup wajahnya yang kini terlihat memerah.
Mendengar jawaban Nindy, Louis tersenyum dan ia berniat ingin menggoda gadis itu.
"Iya apa? Nggak jelas!"
"Iya aku mencintaimu," ucap Nindy dengan suara yang keras karena reflek. Ia menutup wajahnya kembali yang kini semakin bertambah merah saja seperti tomat karena malu pada Tuan Zaki.
"Kenapa wajahnya ditutupi terus sih?" protes Louis sambil berusaha melepas tangan Nindy yang ada di wajahnya.
"Malu," ucap Nindy masih dengan posisi menutup wajahnya.
"Kemarin aja bilang i miss you nggak malu," ucap Louis terus menggoda Nindy.
"Ekhem-ekhem, kayaknya papa jadi obat nyamuk deh di sini."
"Kan papa sendiri yang daftar jadi obat nyamuk," sahut Louis terkekeh.
"Ya sudah karena putra papa sudah tidak jomblo lagi papa sekarang jadi tenang," ucap tuan Zaki sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kamar.
"Papa pergi dulu ya!"
"Iya Pa tapi papa janji ya harus membatalkan perjodohan itu," pinta Louis.
"Kalau itu sih kamu minta sama mama kamu saja kan dia yang merencanakan itu semua."
"Yah papa tadi kan papa sudah
janji sama Louis."
"Emang papa janji apa? Kan papa cuma janji buat ngerestui kalian bukan membatalkan perjodohanmu. Lagi pula mama kamu belum tentu ngerestui hubungan kalian. Jadi kamu harus berjuang sendiri menaklukkan hati mama kamu itu," ucap tuan Zaki sambil cekikikan.
__ADS_1
"Yah Papa nggak asyik," ujar Louis kecewa.
Bersambung....