Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 199. Kedatangan Para Sahabat


__ADS_3

Esok hari sepulang sekolah Anisa langsung membawa Adel ke rumah sakit untuk menemui Annete.


"Bunda!" teriak Adel antusias lalu melepaskan pegangan tangan Anisa dan berlari ke arah Annete lalu memeluknya.


"Hati-hati Del bunda masih belum sehat." Adrian mengingatkan.


Anisa langsung menghampiri Annete dan duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu, apa masih sakit?"


"Sedikit," sahut Annete.


"Net maafkan aku ya Dek."


Annete mengernyit, tidak mengerti mengapa tiba-tiba Anisa berubah baik. Mungkin karena dia yang menolong dari tabrakan mobil itu pikir Annete. Tapi kenapa Anisa memanggilnya adik? Annete memberi kode pada Adrian seolah bertanya ada apa?


Adrian hanya mengangkat bahu, bukan tidak mengerti tapi biarlah Anisa yang menjelaskan sendiri.


"Iya aku sudah memaafkan kok Mbak."


Anisa memeluk pelan tubuh Annete sambil menangis.


"Kenapa Mbak Nisa malah menangis?" Annete malah keheranan.


"Kamu anaknya ayah Johan kan?"


"Iya, darimana Mbak tahu?"


"Dari hpmu. Kemarin tidak sengaja aku melihatnya."


"Oh."


"Mbak kenal sama ayah?" tanyanya lebih lanjut.


"Kenal lah dia kan juga ayahku?"


"Apa?!" Annete terbelalak.


"Jadi Mbak Anisa ini adalah kakakku yang ikut ibu?"


"Iya. Aku punya foto yang sama dengan salah satu foto di ponselmu." Anisa mengambil foto yang sama persis ditunjukkan Johan dulu pada Annete.


"Jadi Mbak ini adalah Mbak Anis?"


"Iya."


Mereka berdua langsung menangis sesenggukan haru bercampur bahagia.


"Mbak tahu selama ini ayah selalu mencari Mbak tapi tidak pernah ketemu."


"Ceritanya panjang Dek, aku dan ibu dilarang keluar rumah kalau tidak penting-penting amat. Ayah Ferdi tidak suka kami bergaul dengan orang-orang luar."


"Oh jadi benar ibu menikah dengan si Ferdi itu?"


"Iya Dek memang kenapa? Bukankah ibu sudah cerai dengan ayah?"


"Cerai apaan Mbak? Ayah dan ibu tidak pernah bercerai. Orang ibu yang ninggalin kami berdua tanpa kabar, padahal aku masih bayi waktu itu."

__ADS_1


"Aku keluar dulu ya," pamit Adrian, dia takut mereka berdua tidak bisa leluasa berbicara karena keberadaan dirinya. Annete dan Anisa mengangguk bersamaan.


"Yuk Del ikut ayah!"


"Kemana Yah?"


"Ada aja, yuk!"


Adel dan Adrian pun keluar dari kamar rawat Annete.


"Oh ya? Ibu bilang sama aku udah cerai dan aku pikir ayah selama ini tidak pernah mengingat aku."


"Itu tidak benar Mbak. Ayah selalu mencari Mbak tapi tidak pernah ketemu, mungkin karena keterbatasan ekonomi kami waktu itu sehingga sangat susah mencari keberadaan seseorang. Apalagi setelah itu kami memutuskan untuk pindah ke Paris."


"Sekarang ayah dimana?"


"Sudah tidak ada Mbak, ayah sudah meninggal." Mendengar Johan sudah meninggal tangis Anisa jadi pecah. Dia menyesal selama ini tidak pernah berinisiatif mencari keberadaan ayahnya karena terlalu sebal sebab Johan tidak pernah sekalipun mendatanginya.


"Jadi Mbak tidak akan pernah bertemu dengannya lagi?" ucap Anisa masih dengan air mata yang bercucuran.


Annete hanya mengangguk lemah.


Anisa kemudian menghapus air matanya. "Apa kamu mau bertemu ibu?"


Annete mendengus. "Masih hidup ternyata dia. Buat apa bertemu dia, toh dia tidak pernah sekalipun mengingat aku. Apa Mbak Anisa juga nggak merasa dibohongi sama dia dengan mengatakan sudah cerai dari ayah tapi kenyataannya...." Annete masih merasa sakit hati karena bukan cuma telah menelantarkan dirinya dan Johan namun Tasya juga telah membuat namanya buruk di hadapan orang-orang.


"Jangan begitu Dek bagaimana pun dia tetap ibu kita," sanggah Anisa. Meskipun dia tidak membenarkan tindakan ibunya namun dia juga tidak membenarkan tindakan Annete. Bagaimanapun Anisa kini merasakan di posisi Tasya karena pernah menelantarkan Adel sebelumnya. Dia tahu rasanya mendapatkan penolakan dari anaknya sendiri meskipun sekarang Adel sudah mulai mau menerimanya.


"Mungkin suatu saat aku akan menemuinya Mbak, tapi untuk saat-saat ini aku belum siap."


"Iya Mbak ngerti. Sekarang lebih baik kamu fokus sama kesehatanmu dulu, baru setelah itu pikirkan tentang ibu."


"Iya sama-sama." Mereka kembali berpelukan.


"Wah-wah-wah, ternyata istri dan mantan Lo akur tuh Dri. Boleh dipoligami deh kayaknya," kelakar Louis sambil cekikikan.


Adrian yang tadinya ingin mengajak Adel jalan-jalan di rumah sakit mengurungkan niatnya melihat para sahabatnya datang. Apalagi ketika melihat Nathan dan Tristan serta Juju, Adel langsung berlari ke arah mereka dan langsung asyik bersenda gurau kemudian langsung mengerubungi Annete.


"Sembarangan ngomong. Kamu aja satupun nggak ada, kok aku malah disuruh merangkap dua. Bisa-bisa habis stok perempuan buat kamu."


"Aku tidak terlalu khawatir. Stok wanita di dunia ini dua kali lipat daripada laki-laki," jawab Louis sambil nyengir.


"Lagipula Anisa tuh saudaraan sama Annete," lanjut Adrian.


"Benarkah?" tanya Angel dan Isyana hampir bersamaan.


"Iya," jawab Annete dan Anisa serempak.


"Pantas mirip," ujar Isyana.


"Wah selamat ya Net akhirnya kamu bertemu saudaramu juga," ucap Angel.


"Iya Gel makasih."


"Rick jatah Lo tuh mungkin mau mendua. Bukankah dulu kamu naksir ya sama Anisa. Hahaha...." Dion menggoda sambil tertawa. Sepertinya ia lupa bahwa para lelaki di sana sama-sama membawa istrinya.

__ADS_1


"Apa sih Yon, ngomong kok pada ngaco," protes Edrick.


"Bercanda sobat jangan diambil hati. Lagi pula Adrian sudah tahu kok kebenaranya."


"Iya Adrian sudah tahu tapi dia..." tunjuk Edrick pada Angel.


"Bisa terganggu nih senam perkasuran ane," lanjutnya.


"Elo tuh Rick kalau ditanya apa favoritmu kayaknya jawabannya cuma kasur." Zidane cekikikan.


Isyana yang mendengar candaan mereka hanya geleng-geleng kepala. "Gel, Nis kamu jangan ambil hati ya ucapan mereka. Mereka kalau ketemu otaknya memang jadi agak miring. Aku aja tuh kalau tidak kuat-kuat pasti dah minta cerai sama mas Zidane. Habisnya mereka ada-ada saja ngomongnya Zidane beginilah, Zidane begitulah bikin baper aja padahal mah semua bohong."


"Iya Mbak saya ngerti kok," jawab Angel dan Anisa hanya tersenyum karena sudah tahu dari dulu bahwa teman-teman Adrian memang kalau disuruh bercanda agak keterlaluan.


"Nah kalau sama bang Andy dan sama Adrian kalian baru boleh percaya karena mereka orangnya serius tidak suka mengada-ada," terang Isyana.


"Betul itu," sahut Andy.


"Cih suami sendiri tidak?" bisik Zidane di telinga Isyana.


"Nggak kamu sama aja Mas sama mereka."


Zidane pura-pura cemberut membuat si kembar tertawa renyah.


"Kasihan papa nggak dipercaya sama Mama, hahaha...."


"Kayaknya rumah tangga elo dari dulu adem ayem deh Yon, bolehlah sekali-kali selingkuh juga biar hangat-hangat dikit," Louis terkekeh.


"Jangan macem-macem! Sekali selingkuh langsung ku tendang," balas Vania dan Dion hanya menelan ludah kemudian mingkem.


"Hem kayaknya bapak-bapak tidak bisa berkutik nih kalau sama emak-emak. Untung aku masih jomblo jadi masih bebas," ujar Louis sambil mengusap dada.


"Alah Jomblo itu tidak enak Lou, tiap malam cuma bisa peluk guling," ujar Andy.


"Pengalaman dia," sahut Dion.


"Tenang planningku masih tahun depan menikah soalnya aku kan paling muda diantara kalian semua."


"Cih beda satu tahun doang, tetap aja sudah kepala tiga," ujar Zidane.


"Sudah-sudah kita ke sini mau jenguk Annete kan bukan mau mengobrol sendiri," tukas Isyana.


"Gimana keadaannya Net?"


"Sudah mulai membaik kok Mbak. Dedek Cila udah gede ya." Annete berucap sambil mencubit pipi Fazila yang tembem.


"Macih kecil kok onty," ucap Isyana menirukan suara anak kecil.


"Masih belum setahun dia Net."


"Oh, kalau dedek Dilvara udah bisa jalan Mbak?"


"Udah Net dia kan udah hampir dua tahun," jawab Vania.


"Duh lucunya ya anak-anak Mbak. Cantik-cantik juga. Kapan aku dikasih momongan ya sama Tuhan?" ucap Annete sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Sabar sayang kita kan masih baru menikah. Kita senang-senang aja dulu," ucap Adrian.


Bersambung....


__ADS_2