Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Par 159. Pura-pura Itu Melelahkan


__ADS_3

Sudah dua hari Annete berkeliaran di jalanan dia takut pulang karena bisa saja paman Paul dan anak buahnya mencari dirinya ke rumahnya.


"Akh rasanya lelah sekali dan perutku terasa sangat lapar." Annete mendesah lalu masuk ke sebuah toko untuk membeli roti sekedar megganjal perutnya yang sudah jarang diisi karena keuangan yang tidak memungkinkan. Kalau saja Annete punya uang pasti dia sudah kabur dari kota itu atau bahkan keluar negeri, tapi sayangnya dia kabur tidak membawa apa-apa. Uang yang dia miliki pun hanya sekedar di berikan orang-orang yang mungkin menganggapnya pengemis.


Selesai memakan rotinya Annete masuk ke dalam ruangan telepon umum. Dia langsung menghubungi Angel agar mau meminjamkan dirinya uang agar bisa kabur dari kota tersebut.


Tapi tak di sangka ketika Angel keluar dengan alasan untuk membeli pakaian dan peralatan make up nya tidak ada yang melarangnya, tetapi dengan diam- diam ada yang mengikutinya. Ini yang ditakutkan Annete, itu mengapa dua hari ini dia tidak mau menghubungi Angel. Tapi karena terpaksa dia harus melakukannya. Dia tidak mau hidupnya terus- menerus di jalanan seperti ini.


Angel yang tidak merasa curiga sekalipun, tidak sadar bahwa dirinya ada yang menguntit. Setelah turun dari taksi ia berjalan santai ke arah Annete yang menunggunya di depan telepon umum.


"Annete."


"Angel."


Kedua sahabat itu berpelukan sambil menangis karena terharu bisa bertemu lagi.


Prok-prok-prok...


Suara tepuk tangan terdengar di telinga keduanya diiringi suara orang melangkah ke arah dua wanita tersebut


Tap...tap... tap.


Angel dan Annete menoleh. "Paman Paul?"


"Hebat ya ternyata kalian benar-benar bersekongkol. Wah aku tidak menyangka Angel melakukan ini semua."


"Kabur Net!" Angel berbisik di telinga Annete. Annete mempersiapkan diri untuk berlari namun.


"Mau lari kemana?" Anak buah Paul mengepung mereka dan menangkap keduanya.


"Bawa dia ke mobil dan bawa kembali ke bar!" perintah Paul dan anak buahnya mengangguk. Setelah itu Paul masuk ke dalam mobil yang lain dan meninggalkan semua orang.


"Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri." Angel memberontak dalam sekapan sedang Annete sudah pingsan karena obat bius.


"Jangan macam-macam kamu atau kami akan membunuh wanita ini."


Glup..


Angel menelan saliva dan hanya bisa mengangguk.


"Baiklah kami akan melepaskan ikatannya. Kenapa kamu menemui orang ini?"


"Saya tidak sengaja bertemu dengan wanita ini. Pas saya mau masuk ke toko pakaian tadi dia memanggilku. Sebagai orang yang pernah bekerja dalam satu bar dan satu kamar ya saya mendekat kalau tidak saya tidak mau dikatakan wanita sombong." Angel berucap dengan tenang.


"Benar seperti itu? Benar kamu tidak membantunya? Apakah wanita ini bukan temanmu?"


"Cih siapa juga yang mau berteman dengan orang seperti itu, menjijikkan sekali. Dia itu bukan levelku." Angel berkilah dalam hati terus meminta maaf pada Annete.


"Baiklah kalau begitu, tapi satu kali lagi kamu terlihat bersama wanita ini di luar bar kami tidak akan segan-segan membunuhnya dan membunuhmu juga."


"Oke." Dalam hati Angel berkata, " Kalian pikir aku takut?"


Sampai di dalam bar Annete di sekap dalam ruangan. Dia tidak diperbolehkan tinggal sekamar dengan Angel. Setelah seharian di sekap Annete di bawa ke kamar Lily dan meminta Lily agar tidak membiarkan Annete keluar kamar.

__ADS_1


Malam harinya Wilson menelpon Angel dia mengatakan bahwa ayahnya berniat menjual Annete pada seorang pria kaya raya yang memiliki pengaruh besar di kota itu.


Angel tahu siapa pria itu. Tuan Max, seorang pria yang royal yang suka memberikan tips pada wanita yang menjadi teman ranjangnya. Kadang para wanita psk di sana berebut agar bisa menservis pria tersebut karena tips nya tersebut. Kalau bukan dari pria itu darimana mereka akan mendapatkan uang tips padahal di negara tersebut tidak mengenal uang tips.


Angel berdiskusi dengan Wilson bagaimana caranya agar Annete bisa menggunakan momen ini untuk melepaskan diri. Hasilnya Angel langsung menemui Annete di kamarnya.


"Mau kemana Gel? Kamu tidak diperkenankan bertemu Anna." Lily mencegah Angel masuk karena kalau ketahuan dirinya yang akan kena masalah. Anak buah Paul sudah mewanti-wanti supaya Annete tidak bertemu siapapun.


"Please Ly, ini gawat. Kamu tidak mau kan ada Anna kedua yang berakhir di tempat ini. Bisa-bisa tempat ini menjadi angker." Lily bergidik ngeri mendengar perkataan Angel. Bayangan Anna yang menghantuinya dulu saat malam kematiannya terlintas kembali di benaknya.


"Baiklah Gel tapi kamu jangan sampai ketahuan bisa-bisa aku di hek," ucap Lily sambil tangannya memperagakan seperti orang menyembelih.


"Iya-iya tenang saja." Angel masuk ke dalam menemui Annete dan mengatakan semuanya termasuk rencananya bersama Wilson.


"Bagaimana kalau gagal lagi dan malah menimbulkan masalah yang lain?" Annete terlihat ragu.


"Yang penting kamu harus percaya Net dan ingatlah untuk bersikap tenang. Kamu harus memainkan peran dengan baik agar orang itu bisa percaya sama kamu. Kamu harus membuat paman Paul percaya sama kamu bahwa kamu sudah Menurut padanya."


"Huffft..." Annete menarik nafas berat kemudian menghembuskan secara kasar.


"Baiklah semoga berhasil ya Gel."


"Amin. Kita berdoa saja ya Net."


"Iya Gel makasih ya."


"Iya."


Hari yang ditentukan pun tiba, Paul mempertemukan Annete dengan laki-laki tersebut. Sebelum membawa Annete ke sebuah restoran untuk bertemu dengan pengusaha itu Paul menjanjikan akan memberikan hadiah yang besar dan Annete pun pura-pura bahagia dan antusias.


"Baiklah Paman mulai sekarang aku akan menuruti perintah paman." Annete sumringah.


"Nah begitu dong coba saja kamu seperti itu dari dulu paman tidak akan keras-keras sama kamu."


"Iya paman."


"Sudah ayo berangkat."


Annete pun mengangguk dam masuk ke dalam mobil walau wajahnya terlihat biasa saja namun sebenarnya dalam hatimu sangat kacau dan cemas.


Sampai di dalam restoran setelah mempertemukan dengan pria tersebut Paul meninggalkan keduanya. Walaupun Paul meninggalkannya tapi Annete tahu bahwa anak buahnya masih terus mengawasinya.


"Siapa namamu?" Pria tersebut mengulurkan tangan.


"Anna." Annete memperkenalkan diri.


"Oke silahkan duduk!" Annete pun duduk.


"Sudah tahu kan kenapa kita bertemu?"


"Iya." Annete menjawab dengan suara datar.


"Apakah kamu sudah siap?" Ternyata benar kata Angel pria ini tidak gegabah.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kita akan melakukannya atas suka sama suka." Pria itu berkata lagi.


"Kalau bisa beri aku waktu satu hari."


"Oh tentu saja boleh. Hari ini aku masih banyak kerjaan. Kalau besok? Ya sepertinya waktunya tepat. Ada sesuatu yang ingin kamu minta?"


"Iya, karena aku masih virgin aku ingin semuanya sesuai dengan keinginanku. Karena bagaimanapun ini akan menjadi malam pertama bagiku." Pria itu tersenyum sedang Annete menahan diri ingin muntah mendengar ucapannya sendiri.


"Apa itu?"


"Aku ingin hotel dan nomor kamar aku yang menentukan."


"Tidak masalah aku setuju."


"Terima kasih."


"Sebelum kita memutuskan untuk bersenang-senang, memadu keringat di atas ranjang aku akan menawarkan suatu hal. Saat ini apa yang kamu inginkan dalam hidupmu?" Sesuatu yang sering ia tawarkan pada lawan mainnya.


Tentu saja kebahagiaan dengan orang yang dicintai ucap Annete dalam hati namun dia tidak berani mengatakan itu. Tiba-tiba Annete teringat akan tanah pemakaman ayahnya.


Dengan ragu ia berucap. "Aku ingin tanah pemakaman yang ada di dekat katedral itu menjadi milk saya."


"Apa! Aku tidak salah dengar kan?" Bagaimana mungkin gadis ini malah meminta pekarangan kuburan bukan mobil seperti yang lainnya.


"Tidak Tuan anda tidak salah dengar."


"Kamu bukan pemuja setan kan?"


Ingin rasanya Annete mengatakan ia biar laki-laki itu pingsan tapi bagaimana kalau mati? Annete takut kejadian lalu terulang kembali.


"Tidak Tuan saya hanya ingin kalau saya mati saya bisa dikuburkan di tempat itu kalau tanahnya sudah menjadi milik saya."


Pria itu menilik wajah Annete. "Kamu tidak ingin bunuh diri kan?"


"Oh tentu saja tidak Tuan."


"Syukurlah kalau begitu. Kamu tentukan saja hotel mana dan kamar nomor berapa, nanti kamu hubungi saya dan saya akan langsung mengurus tanah pemakaman itu."


Walaupun permintaan Annete tidak masuk akal di mata pria itu tapi karena dia selalu menuruti permintaan gadis yang mau menjual dirinya kali ini pun dia akan mengabulkan. Walau bisa saja tanah itu akan lebih mahal harganya karena bisa saja sang pemilik tidak akan menjualnya. Untung saja sang pemilik adalah Paul yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang jadi saat ditawarkan uang ia langsung mengangguk.


"Terima kasih Tuan."


Annete pulang ke bar dengan diantarkan pria tersebut.


"Besok siap-siap aku jemput ya!"


"Baik Tuan." Annete berkata sambil memoles senyum di bibirnya sambil melambaikan tangan.


Setelah pria itu pergi Annete membalikkan tubuh. "Akh.. ternyata pura-pura itu melelahkan," ujar Annete sambil masuk ke dalam bar.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2