
Esok hari, pagi-pagi sekali Annete mendengar ponsel Adrian bergetar sedangkan Adrian masih tampak molor.
"Mas bangun tuh si Louis nelpon, ada apa ya?" Annete mengguncang tubuh Adrian yang masih tidak mau bergeming juga.
Adrian menguap kemudiaan memejamkan matanya lagi.
"Mas bangun sudah pagi ini."
"Ada apa sih sayang, aku masih ngantuk sekali." Bagaimana tidak lelah, semalaman mereka saling berperang mengalahkan yang sedang malam pertama saja. Padahal baru saja kelelahan dari pesta pernikahan Angel.
Baru saja terlelap, eh Annete malah membangunkannya.
"Si Louis tuh nelpon mungkin ada hal yang penting."
"Kamu angkat aja lah teleponnya tanyakan dia mau apa?" perintahnya dan dirinya tidur kembali.
Annete mengambil ponsel Adrian dan menjawab panggilan Louis.
"Ada apa katanya?" tanya Adrian masih dengan mata yang tertutup.
"Katanya dompetnya ketinggalan di kamar pengantin itu dan lupa dimasukkan ke dalam koper. Jadi dia minta tolong kita yang mengambilnya karena kalau dia yang mengambil sendiri dia merasa tidak enak pada Edrick dan Angel."
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang kita bersedia."
"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti ambilnya agak siangan kalau sekarang takut mengganggu pengantin baru."
"Mas Adri nggak kerja?"
"Hari ini tidak ada jadwal."
"Oke kalau begitu, aku keluar dulu ya bantu-bantu bik Sri sama si Mbok masak."
"Nggak usah, sini temeni aku aja bobo lagi. Emang kamu nggak capek apa?"
"Capek si Mas tapi aku tidak biasa tidur lagi habis subuh. Daripada nggak ada rutinitas mending kan bantu masak aja."
"Ya sudah sana, tapi jangan capek-capek ya. Aku mau lanjutin tidurku lagi." Annete mengangguk kemudian keluar dari kamar menuju ruang dapur.
Jam setengah tujuh pagi makanan sudah tertata di meja. Annete memeriksa kamar Adel apakah bocah itu sudah bangun atau tidak. Ternyata Adel sudah mandi dan rapi.
"Wah anak bunda sudah seger! Yuk sarapan di bawah. Adel hari ini tidak sekolah apa kok bajunya kayak gitu?"
"Kemarin ayah kan minta izinnya dua hari sama pak guru. Jadi hari ini Adel nggak masuk dulu ya bunda," ucap Adel sambil menunduk. Dia takut Annete akan memarahinya.
"Ya sudah nggak apa-apa tapi lain kali sekolahnya harus rajin ya."
"Iya bunda Adel janji."
__ADS_1
"Ya sudah Adel duluan ke ruang makan, bunda mau manggil ayah dulu."
"Iya bunda." Adel turun ke lantai bawah sedangkan Annete kembali ke kamar menemui Adrian.
"Mas! Ya ampun masih molor aja sih. Adel sudah nungguin kita sarapan tuh di bawah."
"Iya, iya. Kamu duluan saja temani Adel, aku mau mandi dulu," ujar Adrian sambil duduk kemudian mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi. Sedangkan Annete hanya mengangguk dan keluar menemui Adel.
"Adel mau ikut nggak hari ini bunda sama ayah mau menemui Tante Angel di hotel." Annete berkata setelah mereka menyelesaikan sarapannya.
"Ikut Bunda."
"Oke kalau begitu siap-siap kita langsung ke sana," cetus Adrian.
"Oke."
Mereka pun siap meluncur ke hotel, menjemput dompet milik Louis sekaligus menjenguk sahabatnya. Apakah sudah akur ataukah masih cuek satu dengan yang lainnya.
Sampai di depan pintu kamar Adrian langsung mengetuk pintu. Edrick yang baru saja menyelesaikan mandinya langsung mengintip dari lubang pintu. Sedangkan Angel setelah mandi tidur kembali dan sekarang masih tampak tertidur pulas.
"Adrian ngapain ke sini?" gumam Edrick.
"Apa ada sesuatu yang penting?" Dia kemudian segera memakai baju dan membuka pintu.
"Ada apa Dri?" tanyanya langsung setelah pintu terbuka.
"Cck, wah kayaknya semalam ada hujan badai ya."
"Terus kenapa tuh rambut pada basah," ujar Adrian ketika melihat rambut Edrick dan Angel yang masih tertidur di atas ranjang.
"Oh ini, biasalah Dri. Kamu kayak nggak pernah nikah aja," ujar Edrick sambil melangkah ke arah ranjang dan menutupi rambut istrinya.
"Emang biasa sih yang nggak biasa itu keadaan kamar ini. Masa Allah kayak kena tiup angin badai," ucap Adrian karena melihat kamar yang semalam terlihat begitu indah kini malah nampak kocar-kacir. Sprei sudah tidak beraturan lagi. Bunga-bunga plastik yang menghiasi tirai sudah tercecer di mana-mana. Untung saja tidak ada baju yang tercecer seperti di novel-novel.
"Ganas banget Lo Rick," ujar Annete.
"Yang ganas itu yang nikmat Net makanya kamu harus menuntut Adrian agar bisa seperti itu." Edrick lupa pada pesan mamanya semalam.
Adrian hanya geleng-geleng kepala sedangkan Edrick nyengir kuda.
"Hati-hati loh istrimu kan sedang hamil muda jadi jangan suka kencang-kencang apalagi sampai main kasar, mau kamu Angel keguguran?"
"Nggak lah Dri. Iya kenapa aku bisa lupa ya?" ucap Edrick sambil mengusap-usap jidatnya.
"Sudahlah aku ke sini mau mengambil dompet Louis, katanya ketinggalan di sini." Angel terbangun dari tidurnya mendengar suara berisik dari Edrick dan Adrian.
"Annete?" Angel segera membenahi letak kerudungnya yang tadi disematkan Edrick lalu melangkah ke arah Annete dan mereka langsung berpelukan.
"Bagaimana apa dia masih jahat sama kamu?" tanya Annete dan Angel hanya menggeleng.
__ADS_1
"Apaan sih Net tanya begituan, emang aku penjahat apa?"
"Iya penjahat kelamin," ucap Annete sambil cekikikan menggoda Louis. sedangkan Adrian memberikan jempolnya.
"Cih maklum kalau kami begituan kan masih pengantin baru sedang yang lama aja masih basah-basah juga," balas Edrick sambil tersenyum tipis membuat Annete dan Adrian bersemu malu.
"Ayo masuk Net, Dri kok berdiri aja di depan pintu."
"Nggak usahlah Gel. Kami mau langsung pergi saja. Mumpung hari ini aku tidak kerja jadi mau ajak Adel dan Annete jalan-jalan. Syukurlah kalau kalian sudah akur. Aku takut Angel masih mendiamkan mu."
"Lagipula kalau lama-lama takut mengganggu," sambung Annete.
"Ah nggak lah Net lagian kami nggak mau ngapa-ngapain kok, iya kan Rick?" Edrick mengangguk.
"Ah nggak percaya gue," ujar Adrian.
"Terserah," sahut Edrick.
"Gimana ada nggak Rick?" tanya Adrian yang melihat Edrick memeriksa nakas.
"Apa sih yang dicari?" tanya Angel.
"Dompet Louis katanya kemarin ketinggalan di sini." Annete yang menjawab.
"Kebiasaan tuh orang, dompet selalu ditinggal dimana-mana. Coba cek di dalam lacinya Rick!" ujar Angel.
"Iya ini ketemu," ucap Edrick lalu berjalan ke arah Adrian dan menyerahkan dompet tersebut.
"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu ya!"
"Beneran kalian nggak mau duduk dulu ya?" tanya Angel.
"Lain kali kami langsung main ke rumah kalian saja," ujar Annete.
"Baiklah kalau begitu kami akan menunggunya," sahut Edrick.
Adrian, Adel dan Annete pun meninggalkan tempat. Di luar hotel sudah ada Louis yang menunggu mereka.
"Thanks ya," ucapnya pada Annete dan Adrian saat mereka menyerahkan dompet Louis.
"Sama-sama Lou."
Mereka pun meninggalkan tempat. "Mau jalan-jalan kemana ini?" tanya Adrian saat sudah duduk di belakang setir.
"Ke mall Yah, kita hari ini mau main-main di sana."
"Iya aku mau belanja juga," ujar Annete.
"Siap kalau begitu kita langsung meluncur ke sana," ujar Adrian sambil menghidupkan mobilnya.
__ADS_1
Bersambung....