
Ya ampun kelakuan Tristan membuat Isyana tepuk jidat, dalam keadaan begitupun masih sempat-sempatnya dia ingin berfoto selfi.
Selang tak begitu lama Kiara, Lexi dan Lana datang ke ruangan tersebut sambil menenteng beberapa kantong plastik berisi makanan.
"Wah sudah lahir ya cucu Oma," ucap Lana sambil meletakkan plastik berisi makanan di atas sofa kemudian mendekat ke arah cucunya yang baru lahir.
"Cantik," ucapnya.
Kiara pun tak mau kalah mendekat ke arah bayi itu yang kini sedang dipegang seorang suster.
"Lucu bang," ucapnya pada Zidane.
"Iya lucu kayak kamu," ucap Zidane.
"Eh kok kayak aku sih." Sambil mengelus-elus pipi bayi mungil itu.
"Sudah Tuan dan Nyonya?" tanya suster.
"Maksudnya Sus?"
"Saya pinjam bayinya dulu, dia belum di IMD," ucap sang perawat.
"Oh iya Sus mana-mana sus!"pinta Isyana. Dia sampai kelupaan karena saking senangnya sedangkan perawat di sana merasa tidak enak mengganggu momen kebahagiaan keluarga besar tersebut.
"Yuk kita keluar semua terutama kamu Lex jangan ngintip istri gue lagi ***** si kecil."
"Cih siapa juga yang mau ngintip!"
"Kali aja Lo masih tertarik sama bini gue."
"Cih."
"Apa maksudnya Om?" tanya Kiara merajuk.
Mendengar perkataan Kiara yang memanggil dirinya Om kembali Lexi tahu istrinya sedang kesal dan mencurigai sesuatu. Semenjak Kiara hamil dirinya menjadi sensitif oleh karena itu Lexi selalu berhati-hati jika berbicara dengan Kiara. Tapi sekarang justru Zidane malah memancing kekesalan istrinya.
"Bro!" ucap Lexi dengan wajah protesnya.
"Apa Bro bro kamu tuh harusnya
manggil aku Abang kayak dia," protes Zidane.
"bini ku Bang," ucapnya pada Zidane dan Zidane pun langsung menatap pada Kiara yang sekarang sedang cemberut.
"Sorry sorry aku lupa. Ayo kita keluar semua! Tante bawa makanan apa Zidane sepertinya lapar masa selama ini cuma di kasih makan infus aja." Berbicara sambil keluar dari ruangan sedang yang lain mengikuti langkahnya.
Kiara terkekeh mendengar ucapan Zidane. "Suruh siapa Abang koma untung aja nggak koid."
Lexi bernafas lega melihat istrinya ceria kembali.
"Ayo duduk semua aku siapkan makanannya," ujar Lana sambil menata makanannya ke dalam piring yang sudah disiapkan oleh Laras.
Akhirnya Nathan, Tristan, Zidane dan Laras serta Lana makan bersama sedangkan Lexi dan Kiara hanya melihat mereka semua menyantap makanannya karena sudah makan di luar tadi.
"Bang, Abang kok rakus banget sih," keluh Kiara melihat hanya Zidane lah yang makannya seperti orang kelaparan.
"Biasa papa kan lagi kelaparan Tante," jawab Tristan sedang Nathan hanya mengangguk membenarkan perkataan sang adik.
"Awas jangan banyak-banyak dulu takutnya berpengaruh pada kondisi tubuhmu, kalau mau balas dendam sama makanan besok-besok saja," kelakar Lexi.
"Om apakah Om menyukai Mbak Syasa?"
Lexi menelan ludah. Astaga nih orang masih ingat saja ku kira tadi sudah lupa.
__ADS_1
Lexi menggaruk kepalanya. "Aku ceritain di rumah aja ya Sayang."
"Janji ya!"
"Iya." Lexi menatap horor ke arah Zidane tapi Zidane pura-pura tidak melihat.
"Bodoh amet!" batinnya.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit pasca sadar dari komanya akhirnya hari ini Zidane diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya sudah bisa dikatakan pulih juga Isyana dan bayinya yang memilih untuk tinggal di rumah sakit agar bisa pulang bareng.
Dengan jemputan Lexi akhirnya mereka pulang ke rumah. Ketika sampai di jalan terjadi kemacetan. Mereka lupa kalau hari ini adalah hari Senin dan bahkan mereka pulang pada jam-jam kesibukan orang-orang yang akan berangkat ke kantor.
Ketika lampu lalu lintas berubah merah dan Lexi menghentikan mobilnya tiba-tiba ada dua orang pengemis dengan pakaian lusuhnya mendekat ke arah mobil mereka.
"Sedekahnya Tuan." Berucap sambil menadahkan tangan. Kiara yang duduk di depan meraih dompetnya dan mengulurkan selembar uang kertas.
"Tunggu-tunggu sepertinya aku kenal dengan orang itu," ujar Isyana sambil hendak membuka mobil.
"Ibu!" ucapnya kemudian.
Zamila dan Rumana menoleh. "Isyana!"
"Bu ayo pergi malu dilihatin sama Isyana kita dalam keadaan seperti ini."
"Ayo!" Mereka pun bejalan dengan cepat melewati mobil-mobil yang menunggu lampu lalu lintas berubah warna.
Isyana hendak turun namun ditahan oleh Zidane dengan menarik tangan istrinya. "Sayang jangan di kejar bahaya!"
"Tapi Mas dia ibu."
Bersamaan dengan itu 'Tin tiin tiiin.' Bunyi klakson bersahutan.
"Masuk Sya lampu sudah berubah hijau ini," perintah Lexi.
"Ibu tiri aku Mas."
"Oh itu ngapain kamu kejar bukankah dia sudah jahatin kamu dulu?"
"Kasihan Mas masa mereka jadi pengemis sih."
"Biarin itu tandanya mereka dapat hukuman dari Tuhan sudah jahatin kamu serakah lagi, malah mencuri uang Ayah."
"Iya Mas tapi bagaimanapun dia pernah menjadi kakak dan ibuku meskipun..."
"Buat apa punya ibu dan kakak kalau seperti bawang merah dan ibunya dan kamu dijadikan seperti bawang putih oleh mereka."
"Ya terserah lah Mas," ucap Isyana pasrah toh mereka sudah tak terlihat lagi.
Sesampainya di rumah kedatangan mereka sudah disambut meriah. Bahkan teman-teman Zidane sudah pada berkumpul dan mengucapkam selamat atas kepulangan Zidane dari rumah sakit sekaligus menyambut lahirnya bayi Isyana.
"Selamat Ya Dan akhirnya sudah lengkap ya anaknya punya anak laki-laki dan perempuan juga," ucap Yuna.
"Makasih ya Yun."
"Iya."
"Selamat ya Dan," ucap Andy.
"Makasih Bang, kapan Abang menyusul punya anak lagi?" goda Zidane.
"Kalau dia sudah siap," ucapnya sambil memandang ke arah Yuna dan Yuna pun hanya membalas dengan senyuman.
"Wah kayaknya aku ketinggalan berita nih," ucap Zidane.
__ADS_1
"Apa kalian sudah pacaran?" tanya Zidane penasaran.
"Bulan depan kita akan menikah," ucap Andy sambil menggandeng tangan Yuna.
"Wah." Zidane kaget.
"Tapi baguslah jadi aku tidak perlu repot-repot buat mendekatkan kalian."
"Selamat ya Yun, Bang," ucap Isyana.
"Makasih," jawab keduanya serentak.
"Hem, Hem, kecewa deh gue," ujar Edrick sambil pura-pura terbatuk membuat semua orang tertawa.
Zidane menarik Andy ke dalam ruangan. "Abang serius mau nikahin Yuna?"
"Iya lah Dan masa bercanda sih?"
"Apa Abang yakin?"
"Yakin lah dia orangnya kan baik selama ini sering bantu Ara terus juga sering ngerawat Mama sekarang dia juga dekat dengan Juju. Apalagi yang membuatku tidak yakin?"
"Bukan itu Bang maksudku, aku tahu Yuna itu baik tapi yang jadi masalahnya Abang cinta nggak sama dia? Aku tidak ingin dia kecewa karena Abang hanya menikahinya karena merasa berhutang budi saja. Aku sarankan Abang jalanin aja dulu jangan buru-buru menikah nanti kalau Abang sudah bisa mencintainya baru memutuskan untuk menikah."
"Kamu tahu kan Dan aku tidak pernah bermain-main dengan suatu hal apalagi soal pernikahan. Soal perasaan kamu jangan khawatir sebenarnya aku menyukainya sejak kuliah dulu tapi aku mundur dan memilih Valentine karena Yuna terlalu dekat dengan teman-teman kita yang laki-laki dan aku tidak menyukai itu."
"Baiklah kalau begitu Bang tapi aku mohon jangan kecewakan dia. Abang tahu dia rela menuggu Abang bertahun-tahun dan juga rela menentang perjodohan dari orang tuanya hanya karena menunggu Abang."
"Kamu tenang saja Dan aku tidak akan pernah mengecewakannya."
"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali berkumpul dengan yang lainnya."
"Papa, Papa!" panggil Nathan.
"Iya sayang ada apa?"
"Tante Vania nanya dedeknya namanya siapa?"
"Kenapa nanya sama Papa nanya aja sama Mama kamu."
"Mama bilang sekarang giliran Papa buat ngasih nama adik."
"Hmm, kasih nama siapa ya?" Zidane nampak berpikir.
"Gimana kalau Ratu Sejagat?" ucap Zidane sambil terkekeh.
"Kok itu sih Pa?"
"Iya karena waktu dalam kandungan Mama dia kan suka tuh merintah-merintah Papa."
"Mas!" protes Isyana.
"Kasih nama yang benar dong!" lanjutnya.
"Dia mana tahu buat nama anak paling tahunya bikin doang," sambung Dion.
"Wah kalau itu mah aku jago makanya ke anu baru satu aku udah dapet tiga," ucap Zidane dengan bangga.
Bersambung....
Kemarin ada yang minta kisah Annete dan Adrian kira-kira menurut kalian baiknya di sambung dalam novel ini dan dijadikan season 2 ataukah dibuatkan kamar lain?"
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.🥰
__ADS_1