
Rumah sakit, New York.
"Bagaimana perkembangan kondisi anak saya dokter?" tanya Adrian pada dokter yang menangani Adel.
"Maaf Pak dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa pasien mengalami penurunan kondisi kesehatan." Dokter tersebut menjeda ucapannya kemudian terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya. "Maaf bahkan kami memprediksi bahwa pasien tidak akan mampu bertahan lebih dari 6 bulan."
Deg. Mendengar perkataan dokter, jantung Adrian seakan berhenti beroperasi seketika keringat mulai mengucur dari pelipisnya. Apakah itu artinya Adel akan meninggalkan dirinya dalam waktu dekat ini. Tidak Adrian tidak sanggup hidup tanpa Adel, dia terduduk seketika pandangan matanya menjadi kabur sedetik kemudian menjadi gelap segelap awan hitam yang menggelantung di langit Amerika saat ini. Dua setengah tahun perjuangannya di negara ini tidak membuahkan hasil apa-apa sekarang harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa Adel sebentar lagi akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Bapak yang sabar ya!" Dokter itu menyemangati Adrian. "Kalau begitu saya permisi dulu," lanjutnya.
Setelah dokter itu hilang dari pandangan mata, Adrian mencoba bangkit dari duduknya dengan langkah yang tertatih dia berjalan ke ruang rawat Adel.
"Ayah kenapa lemas begitu?" Adel merasa ada yang aneh pada ayahnya. Yang dia tahu Adrian selalu terlihat bersemangat di depannya tidak seperti sekarang ini, berjalan layaknya mayat hidup.
"Ayah tidak apa-apa," bohongnya.
"Adel ada yang sakit?" Adel cemberut.
"Adel tidak mau terus begini Yah, Adel sakit melakukan pengobatan kayak gini. Adel pengen secepatnya pulang, Adel lelah Yah. Jangankan Adel rambut Adel pun lelah ingin meninggalkan adel semua. Tapi..." Adel ragu-ragu meneruskan ucapannya.
"Tapi kenapa?"
"Kalau pulang nanti teman-teman Adel pasti meledek Adel karena ini," ucapnya sambil memegang kepalanya yang sudah plontos.
"Nanti biar ayah pesankan rambut palsu buat kamu, benar-benar Adel mau pulang?"
"Iya Yah Adel mau pulang, Adel kangen sama bunda. Kenapa sih bunda nggak pernah jenguk Adel di sini?"
Aliran darah Adrian seakan berhenti seketika mendengar protes Adel terhadap sikap bundanya. Apa yang harus dia jelaskan pada anak ini? Haruskah Adrian jujur tapi menyakiti hati Adel ataukah berbohong lagi?
Keputusannya saat ini adalah pulang ke rumah, menghentikan kemoterapi dan pengobatan yang menyakitkan tapi tak berguna ini. Yang diinginkan Adrian sekarang hanyalah membuat Adel bahagia sebelum dia benar-benar meninggalkan Adrian untuk selamanya. Mulai sekarang Adrian akan memenuhi semua keinginan Adel termasuk membiarkan Adel mengkonsumsi makanan yang selama ini Adrian larang untuk dikonsumsi Adel. Namun apakah tepat kalau dia mengajak Adel pulang sekarang? Bagaimana kalau dia kecewa kalau mendapati Anisa sudah tidak ada di rumah? Lama Adrian termenung memikirkan langkah selanjutnya namun otaknya seolah buntu, tidak ada ide yang muncul sama sekali.
"Akh... biar aku pikirkan nanti masalah itu." Kalau perlu dia akan mencari Anisa saat tiba di sana demi Adel.
"Kenapa Ayah diam saja? Pokoknya Adel mau pulang Yah," sungut Adel melihat ayahnya kini diam mematung.
"Ah iya. Baiklah kalau itu maunya Adel besok ayah akan mengurus kepulangan kita."
"Nah gitu dong Yah itu baru namanya ayah yang baik. Adel makin sayang deh sama Ayah," ucap Adel sambil mendekap Adrian dengan senyum yang mengembang.
Cup. Adrian mengecup kening putrinya. "Teruslah tersenyum seperti ini karena senyummu itu semangat ayah."
Adel mengangguk dengan senyum yang masih merekah.
๐๐๐๐๐
Hari yang ditentukan pun tiba Adrian akan membawa pulang Adel saat ini.
__ADS_1
"Bagaimana Adel sudah siap?"
"Sangat siap Ayah," jawab Adel yang tak pernah lepas dari senyumannya. Adrian pun merasa bahagia yang melihat putrinya sudah tumbuh besar itu selalu saja tegar walau fisiknya terlihat kurus dan lemah. Rasanya baru kemarin Adrian menggendong bayi kecil Adel itu tapi sekarang dia sudah berumur 5 setengah tahun.
Semoga kebersamaan ini tidak akan berakhir.
Adrian menyeka air matanya yang lolos begitu saja tanpa bisa dicegah dengan posisi memiring dari Adel agar tidak terlihat bahwa dia sedang menangis. Kemudian menggendong Adel masuk ke dalam mobil.
"Aku bisa jalan sendiri Ayah tidak perlu di gendong," protes Adel.
"Sudah jangan protes ayah lagi pengen gendong Adel," ucap Adrian lalu menurunkan Adel ke dalam mobil taksi. "Ke bandara Pak!"
Sopir taksi pun melajukan mobilnya ke bandara. Kini mereka berdua sudah ada dalam pesawat. Adel lalu menyandarkan bahunya di kursi pesawat dan tertidur sedangkan Adrian masih terjaga beberapa hari ini dia jarang bisa tidur pikirannya sedang kacau balau. Memikirkan bagaimana caranya dia membahagiakan Adel di sisi umurnya dan bagaimana caranya menjelaskan perlahan tentang kenyataan tentang bundanya kepada Adel. Berat, rasanya begitu sesak nafasnya menanggung semuanya.
Setelah melakukan penerbangan selama hampir 22 jam akhirnya mereka tiba di bandara tanah air. Tak menunggu lama mereka langsung menuju parkiran mobil. Di sana sudah ada sopir yang menjemput mereka. Mereka berjalan bergandengan tangan sambil sesekali Adrian mengelus rambut sang anak.
Di sisi lain Annete dan si kembar juga sedang berjalan menuju taksi. Annete tak sengaja melihat seorang ayah yang sedang menggandeng tangan anaknya dan sesekali mengusap-usap rambut putrinya tersebut seolah takut anak tersebut tersesat. Sejenak Annete mengingat masa kecilnya bagaimana dulu ayahnya juga melakukan hal sama dengan pria tersebut. Annete terdiam memandangi kedua orang ayah dan anak itu seolah itu adalah dirinya dan Johan.
"Aunty kenapa aunty diam?" tanya Tristan sambil menarik pergelangan tangan Annete yang kini sudah ketinggalan langkah dengan yang lainnya karena bengong.
Annete masih tidak merespon masih bernostalgia dengan ingatannya.
"Aunty kenal orang itu?" Nathan ikut menimpali karena melihat Annete tak berkedip memandang ke arah pria tersebut.
"Ah tidak, aunty cuma ingat masa kecil aunty saja lihat mereka." Annete tersadar. Kemudian melangkah cepat untuk mengimbangi Isyana dan Lexi yang sudah ada di depan.
"Ah iya kalian benar ayah Aunty sudah tenang di sana." Keduanya pun mengangguk dan berlari ke arah mamanya.
Sampai di rumah Adel langsung mencari bundanya ke segala penjuru rumah.
"Bunda!"
"Bunda!" teriaknya.
"Bunda kemana Bi, kok tidak ada?"
Pembantu yang ditanyai tidak menjawab hanya memandang wajah Adrian untuk meminta bantuan.
"Adel masuk ke kamar dulu mandi dan ganti baju nanti ayah akan beritahu kemana bunda."
"Baik Ayah." Adel langsung berlari ke kamarnya dan melaksanakan apa yang diperintahkan Adrian.
"Bagaimana Bi, apa Anisa pernah ke sini?"
Bibi menggeleng sambil berkata, " Tidak pernah Tuan."
"Apa dia pernah menelpon dan menanyakan Adel?"
__ADS_1
"Juga tidak pernah Tuan."
"Hufft." Adrian menghembuskan nafas beratnya dan berkata, "Sudah sana Bibi boleh pergi." Bibi mengangguk dan meninggalkan majikannya.
Selesai mandi Adrian mengajak Adel makan.
"Adel makan yuk!"
"Bunda mana Ayah?"
"Makan dulu!" Adel pun mengangguk dan menyendok makanannya.
"Sekarang Adel sudah makan Ayah janji kan akan mengatakan Bunda kemana?"
Adrian menghela nafas. "Adel maafkan ayah, sebenarnya saat ayah membawamu ke New York untuk berobat saat itu bunda sudah meninggalkan kita." Akhirnya Adrian tak mampu lagi berbohong.
"Apa!" Ayah berbohong kan?" Adel berharap ayahnya salah bicara tapi sayangnya Adrian menggeleng. "Maafkan Ayah selama ini membohongi mu. Ayah terpaksa berbohong karena tidak mau membebani pikiranmu. Tapi sekarang ayah tak tega lagi membohongi mu."
"Ayah pembohong!" Adel berlari ke kamarnya dan melempar benda apa saja yang ada di hadapannya. Adrian terlihat menekan dadanya. Sakit menyeruak ke ulu hatinya menyaksikan putrinya yang kecewa.
"Adel Sayang maafkan Ayah."
"Kenapa Bunda meninggalkan kita Yah, apa karena benci sama Adel yang selama ini selalu nyusahin? Hiks...hiks...hiks." Adel menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka kelinci pemberian terakhir Anisa.
"Kenapa Bunda ninggalin Adel? Sebegitu bencikah bunda pada Adel?"
"Sayang jangan berkata seperti itu bunda itu sebenarnya sayang sama Adel tapi dia tidak suka pada ayah makanya dia pergi."
"Ayah bohong, iya kan?"
"Ayah tidak berbohong."
"Aku sudah besar Yah aku sudah mengerti semuanya. Sejak kecil bunda memang tidak pernah menyayangi Adel, tapi kenapa dia malah memberikan boneka kesukaan Adel pada saat ulang tahunku?" Adel murka lalu melempar boneka yang dari tadi di peluknya kemudian beralih memeluk Adrian.
"Adel, Adel tidak usah sedih ayah janji akan mencari bunda untuk Adel."
"Tidak usah Yah, Ayah tidak usah mencarinya. Kalau memang dia sayang sama Adel dia akan datang sendiri tanpa dicari."
"Tapi Del kamu..."
"Sudah Yah aku hidup sama Ayah saja sudah bahagia. Kita selama ini sudah terbiasa hidup berdua tanpa bunda kan?"
Adrian mengangguk sambil mengusap air mata di pipi putrinya. "Adel terima kasih yah sayang atas pengertiannya," ucap Adrian sambil mengeratkan pelukannya pada putri kecilnya.
"Terima kasih juga Yah Ayah sudah merawat ku dengan tulus semenjak Adel kecil."
Bersambung.......
__ADS_1