
Setelah pulang dari rumah sakit sehabis menjenguk Lexi Annete langsung beristirahat di kamar tamu. Kepalanya masih terasa pusing meski demamnya sudah reda. Melihat Annete tidak sehat Adel bukannya beristirahat di kamarnya malah menemani Annete tidur di kamar tamu.
Tak selang begitu lama Adrian memerintahkan bibi untuk mengantar makanan ke kamar Annete. "ini Nyonya makan siangnya. Tuan bilang Nyonya belum makan siang dari tadi."
"Bi panggil Annete Bi bukan Nyonya." Annete mengingatkan.
"Tapi apa tidak lancang Nyonya?"
"Nggak kok Bi nggak apa-apa."
"Panggil Neng aja ya Nyonya."
"Terserah Bibi lah."
"Baiklah Neng, setelah makan nanti Neng harus minum obat ini. Tuan tadi menitipkan pada saya karena dia buru-buru pergi katanya ada kepentingan mendadak."
"Iya nggak apa-apa Bi taruh di nakas dulu nanti habis makan aku minum." Bibi mengangguk kemudian pamit ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Apa perlu Adel suapi Tante?" ucap Adel menawarkan diri.
"Nggak usah Del Tante kan bukan anak kecil," tolak Annete sambil tersenyum ke arah Adel lalu mulai menyendok makanannya. "Adel sendiri tidak makan?"
"Sudah Tante tadi di rumah sakit."
"Oh." Annete hanya ber oh ria lalu meneruskan makannya. Setelah menyelesaikan makannya dan meminum obatnya Annete lalu membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang.
"Del Tante tidur dulu ya soalnya kepala Tante masih pusing," ucap Annete kepada Adel.
"Iya Tante istirahatlah agar Tante bisa sehat kembali.
Annete mengangguk dan mencoba memejamkan kedua matanya berharap hari ini dia bisa tertidur pulas dan setelah terbangun sakit di kepalanya hilang. Benar saja setelah beberapa saat kemudian dia akhirnya tertidur. Sedangkan Adel ketika melihat Annete tertidur dia kembali ke kamarnya dan mengambil boneka kelinci pemberian Annete lalu kembali ke kamar tamu dan tidur di samping Annete sambil memeluk bonekanya.
Jam menunjukkan pukul 5 sore tetapi di antara Annete dan Adel belum ada yang terbangun. Adrian yang datang langsung mengecek kamar tamu ketika melihat Adel tidak ada dimana-mana bahkan tidak ada di kamarnya sendiri. Benar saja dugaan Adrian bahwa Adel kini tidur bersama Annete. Adrian tidak habis pikir apa sih yang membuat Adel sangat lengket dengan Annete sehingga ingin selalu tidur bersama ketika Annete ada di rumah ini.
Adrian mengelus rambut keduanya secara bergantian. Baginya dua orang ini adalah wanita yang dicintainya. Rupanya pertanyaannya pada Adel tadi harus berbalik kepada dirinya sendiri. Mengapa dia bisa mencintai Annete? Mengapa dia ingin selalu dekat dengan Annete.
"Eugh." Annete melenguh dan terbangun saat merasai ada yang membelai rambutnya. "Mas kamu sudah pulang?" tanyanya pada Adrian dan langsung duduk karena kaget.
"Iya baru saja sampai, tidak baik tidur di sore hari. Apakah tubuh kamu masih belum enakan ?"
"Sudah mendingan kok Mas, ya walaupun masih sedikit pusing."
"Kalo begitu boleh tiduran lagi tapi jangan sampai merem ya!"
"Iya Mas."
Adrian beralih ke arah Adel dan membangunkannya. "Del bangun Del udah sore ini!"
"Ah masih ngantuk Yah," ucap Adel masih memeluk boneka kelincinya dan tidur kembali.
"Del ayo bangun!"
"Sepuluh menit lagi Yah."
__ADS_1
"Adel tidak baik loh tidur di jam-jam seperti ini nanti kesehatan kamu terganggu lagi."
Annete hanya tersenyum melihat Adel tak bergeming. "Biar aku yang bangunin Mas."
"Del bangun Del!"
"Aku masih capek Tante."
"Tapi Tante mau pulang."
"Apa?" Adel langsung bangun mendengar perkataan Annete.
"Ternyata dia lebih nurut sama kamu ya," ucap Adrian pada Annete.
"Itu kan karena diancam Mas," ujar Annete.
"Ya sudah kamu mandi dulu sana!" perintah Adrian pada Adel. Adel turun dari ranjang dengan malas dan merengut.
"Kalau kamu ngambek nanti Tante An beneran pulang loh," goda Adrian.
"Iya-iya Yah aku nggak ngambek asal Tante jangan pulang ya Tan!"
"Oke," jawab Annete singkat.
Pagi hari Adrian sudah siap dengan seragamnya. Sedangkan Adel dan Annete pun sudah rapi juga.
"Mau kemana kalian?" tanya Adrian melihat keduanya juga sudah siap pergi.
"Belum Tante."
"Ya sudah biar Tante yang ngomong."
"Mas hari ini kita mau jalan-jalan boleh ya Mas!"
"Memangnya tubuh kamu sudah benar-benar sehat?"
"Iya kok Mas aku sudah sembuh."
"Ya sudah nanti aku antar kalian dulu, emang mau kemana?"
"Ke arena bermain Yah."
"Yakin An mau ke situ?"
"Iya Mas."
"Baiklah."
"Awas jangan naik komedi putar nanti Tante An bisa pusing lagi," bisik Adrian ditelinga Adel.
"Oke Yah siap," ucap Adel sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
"Ya sudah kita sarapan dulu." ajak Adrian. Keduanya mengangguk dan mengikuti langkah Adrian menuju ruang makan.
__ADS_1
Di sinilah mereka bertiga duduk sambil mengisi perut. Annete paling suka jika mereka makan bersama. Dia merasa memiliki keluarga yang utuh walau kenyataannya mereka berdua bukan keluarga Annete. Annete begitu bahagia membayangkan Adel dan Adrian benar-benar menjadi keluarganya suatu saat nanti.
Selesai makan mereka langsung masuk ke mobil. Sebelum Adrian ke rumah sakit dia mengantarkan Adel dan Annete terlebih dahulu. Setelah sampai di tempat tujuan Adel dan Annete menciumi tangan Adrian ketika pamit pergi. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada yang mengikuti mereka dan memandang tidak suka dengan keakraban ketiganya.
"Hati-hati ya Del, An, aku pergi dulu." Keduanya hanya menjawab dengan anggukan sambil melambaikan tangan ke arah Adrian dan setelah Adrian hilang dari pandangan mereka, mereka beranjak masuk ke dalam pusat games.
"Tunggu!" tiba-tiba ada suara yang menahan mereka. Annete menoleh. "Maaf anda siapa ya?"
"Malah bertanya lagi seharusnya saya yang bertanya kamu itu siapa?"
"Aku...." Belum sempat Annete meneruskan ucapannya,
"Oh aku tahu kamu pasti perempuan penggoda ya yang mau merebut suami saya," potong Anisa. Ya perempuan itu Anisa tadinya ketika sampai di depan paar rumah ia ingin langsung menemui Adrian tapi ketika melihat ada wanita di samping Adrian Anisa berniat ingin menghempaskan wanita itu terlebih dulu baru menemui Adrian.
"Del apakah dia bunda kamu?" tanya Annete penasaran ketika dia mengingat Adrian pernah mengatakan wajah bunda Adel mirip dengannya.
"Bukan Tante dia bukan bunda saya," jawab Adel dia tidak ingin mengakui orang yang telah mencampakkan dirinya.
"Adel ini bunda kamu Nak, bukan dia. Dia hanyalah wanita yang menyamar menjadi bunda. Bunda yakin dia pasti mengincar sesuatu dari kalian."
"Mbak jangan ngomong sembarangan ya!" bantah Annete.
"Siapa yang ngomong sembarangan. Kenyataannya kamu memanfaatkan kemiripan wajah kita untuk mendekati Adrian. Hai pelakor entahlah dari kehidupan Adrian karena Adrian masih berstatus sebagai suamiku."
Mendengar perkataan Anisa, Annete menjadi lemas. Rupanya selama ini dia mencintai suami orang. Annete pikir Adrian adalah seorang duda tapi ternyata dia masih suami orang. Ada bulir-bulir bening yang menetes di pipinya. Menyesal itulah kata-kata yang pantas diucapkan padanya. Mengapa membiarkan rasa itu tumbuh begitu saja. Harapannya ingin hidup bersama Adrian menguap sudah.
"Ya Tuhan kenapa kau mempermainkan ku? Mengapa kau selalu membuatku jatuh cinta kepada seseorang yang seharusnya tidak aku cintai. Kemarin Lexi sekarang Adrian," keluh Annete dalam hati.
"Aku minta jauhi Adel dan Adrian!"
"Jangan Tante! Jangan Tante! Jangan dengarkan dia," ucap Adel sambil menangis karena melihat Annete sedih. "Adel tahu ayah itu mencintai Tante," lanjut Adel.
"Kalau aku tidak mau?"
"Hmm, tidak tahu malu ya kamu. Asal kamu tahu Adrian itu masih mencintai saya dan dia itu sebenarnya tidak mencintaimu kamu. Dia bisa saja mengatakan mencintai kamu hanya karena wajahmu mirip denganku. Ya itu saja karena Adrian mengganggap kamu itu adalah aku."
Annete mencoba menahan sakit hatinya, mungkin memang benar apa yang dikatakan Anisa, tapi apapun itu rasanya Annete tidak bisa menjauhi Adel karena Annete sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
"Ingat ya kalau kamu tetap tidak menjauhi mereka, cara apapun akan aku lakukan untuk memisahkan kalian termasuk membunuhmu!"
Annete terbelalak mendengar perkataan Anisa sedang Adel memeluk Annete dengan erat karena ketakutan dengan ancaman Anisa.
"Sudah Del jangan didengar lebih baik kita masuk ke dalam dan bermain ya," ucap Annete menenangkan Adel.
"Iya Tante."
"Awas ya kamu."
Awalnya Annete tidak mau mendengarkan ancaman Anisa karena menyangka itu hanyalah gertakan belaka. Kenyataannya Anisa benar-benar merealisasikan ancamannya. Dia sering mengirim sesuatu untuk meneror Annete. Annete berpikir kalau dia tidak pergi wanita itu benar-benar akan menghabisinya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak: Like , Vote, Komentar, Rate bintang 5, dan Hadiahnya.Terima kasih.๐
__ADS_1