Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 202. Selir Siapa?


__ADS_3

"Mommy tidak suka ya?" tanya Ara khawatir.


"Kok tidak suka sih? Kalau mommy jangan ditanya nggak suka jangankan cuma tiga selusin pun mommy sanggup ngemong cucu."


"Iya pakek banyak baby sister," cibir Lexi.


"Iya lah Lex tangan mommy kan cuma dua masa muat pegang semuanya?"


"Iya deh Mom."


"Tuhan tahu aja ya apa yang kita butuhkan. Kalau anakmu tiga kan pas. Enak nanti kalau sudah gede mereka bisa megang perusahaan mommy sama Daddy dan yang satunya bisa mengelola kafe kamu."


"Ya ampun mommy anak belum lahir juga sudah dibebani pekerjaan."


"Hehe...." Mommy Laurens hanya tertawa renyah.


"Awas ya Lex jaga istrimu baik-baik ya. Nanti proses lahirannya pakai sesar saja soalnya kalau normal takutnya Ara tidak punya tenaga melahirkan tiga bayi sekaligus."


"Aku pengennya begitu sih Mom tapi Ara memaksa untuk diizinkan lahir normal saja."


"Kenapa sayang kok pengen lahiran normal?"


"Pengen ngerasain aja Mom gimana rasanya berjuang melahirkan."


"Tapi itu beresiko sayang."


"Kata dokternya tidak apa-apa."


"Benar Lex? Kamu sudah konsultasi dengan dokter kandungan?"


"Benar Mom kata dokternya memang tidak apa-apa selama kondisi Ara masih sehat seperti sekarang."


"Terserah kalian sajalah kalau begitu, tapi mommy khawatir apakah tidak bisa kalian pulang ke sini saja supaya pas nanti kalau saatnya melahirkan mommy bisa ada di samping Ara?"


"Iya Mom rencananya habis babymoon ini aku sama Ara langsung pulang ke rumah mommy."


"Benarkah?"


"Benar mommy." Dan Ara hanya mengangguk.


"Duh senengnya hati mommy. Eh sebentar ya Lex, Ara, mommy lupa kalau sekarang ada meeting. Udah dulu ya nanti mommy telepon lagi."


"Iya Mom semangat bekerja ya!"


"Pasti karena mommy sekarang lagi happy banget."


Video call pun berakhir.


"Ayo sayang kita istirahat saja. kamu nggak boleh capek-capek." Lexi menuntun istrinya ke ranjang.


"Gimana percaya kan sekarang sama aku?" Ara hanya mengangguk.


"Nanti kalau ada yang ngomong macem-macem lagi jangan didengerin karena itu semua pasti cuma fitnah."


"Iya Mas."


"Ya sudah yuk bobo."


Ketika keduanya sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan siap menutup mata terdengar ponsel Ara bergetar kembali.


"Siapa Mas?"


"Mungkin bang Andy video call lagi."


Ara hendak turun kembali ingin menjawab panggilan tersebut namun ditahan oleh Lexi.


"Biar aku bawa ke sini ponselnya biar kita bisa mengobrol sambil tiduran."


"Oke."


Lexi pun mengambil ponsel Ara yang tergeletak di meja dan membawanya ke tempat tidur. Dia langsung memberikan ponsel tersebut kepada Ara tanpa melihat siapa penelponnya.

__ADS_1


"Siapa?"


"Rachel Mas."


"Oh."


"Hai Ara!" Terdengar suara cempreng Rachel dan minta dari seberang sana.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Ara karena melihat suasana yang ramai di belakang keduanya.


"Kamu lupa ya sekarang kan hari perpisahan sekolah kita. Tuh lihat Tante Lana naik panggung." Perkataan Mita membuat mata Ara berkaca. Seharusnya dia berada bersama teman-temannya sekarang.


"Maaf ya aku tidak tahu kalau hari perpisahan sekolah kamu bakal diadain sekarang," ucap Lexi menyesal.


"Nggak apa-apa Mas kalaupun aku ada di sana, aku juga tidak bakalan hadir karena malu pasti teman-teman memandang perutku aneh kayak pas waktu ujian."


"Maaf ya sayang seharusnya aku tidak membuatmu hamil di saat yang tidak tepat."


"Ngomong apa sih Mas, aku senang kok mengandung mereka. Lihat tuh mereka bergerak-gerak."


Lexi menyentuh perut Ara. "Ramai ya sayang gerakannya? Tidak sakit?"


"Nggak kok Mas rasanya gimana gitu."


"So sweet!" ucap Mita dan Rachel sambil bersiul.


"Kapan aku menikah ya biar nggak usah kuliah," ucap Rachel penuh harap.


"Rachel-Rachel orang aku pengin sekolah kamu malah mau berhenti sekolah," cecar Ara.


"Dia memang nggak beres," cetus Mita.


" Eh ngomong-ngomong ngapain mama naik ke sana?"


"Mewakili kamulah, soalnya kamu yang mendapat nilai kelulusan yang terbaik. Kalah deh kami sama elo. Padahal kami kan yang rajin datang ke sekolah sedang elo hanya nongkrong di rumah aja."


"Elo rajin ke sekolah kalau cuma rajin ke kantin doang sama aja bohong, coba sekali-kali baca-baca di perpustakaan."


"Sudah dulu ya Ra namaku dipanggil juga tuh," ujar Mita kemudian berjalan menuju


panggung.


"Rachel bagaimana yang ku perintahkan?"


"Beres Bos nama kalian udah bersih. Kami tinggal kasih lihat saja sama mereka bukti-bukti pernikahan kalian selesai deh masalahnya."


"Bagus nanti aku transfer ya sebagai upah kalian."


"Oke Bos senang bekerja sama dengan Anda."


"Cih ada apaan sih kalian?"


"Itu kemarin-kemarin gosip tentang kamu hamil duluan beredar jadi aku langsung meminta teman kamu untuk bertindak dan ternyata cukup bisa diandalkan."


"Kok kalian tidak ngasih tahu aku sih?"


"Aku tidak ingin kamu banyak pikiran."


"Tuh-tuh lihat ke belakang Ra, kak Febri sedang menyanyikan lagu khusus buat kamu," ucap Mita sambil terengah-engah karena berlari menghampiri Rachel.


Rachel pun mengarahkan kameranya ke arah panggung.


"Sudah di skip aja Hel!" perintah Lexi.


"Cih ada yang cemburu nih ye?" Ara tersenyum senang melihat ekspresi wajah Lexi. Sepertinya ia ingin balas dendam dengan yang tadi.


Saat Febri mengutarakan perasaannya terhadap Ara di panggung Ara menjadi gelisah. Ara merasa kasian dan tidak enak pasti Febri akan menjadi topik pembicaraan di sekolah dan dia akan dipermalukan oleh teman- temannya.


"Kenapa kamu tidak mau diam sedari tadi, apakah kamu masih ada perasaan ya sama Febri?"


"Ada," jawab Ara.

__ADS_1


"Cck." Lexi berdecak.


"Rasa kasihan," lanjutnya membuat Lexi mengacak-acak rambut Ara.


"Emang kak Febri belum tahu ya bahwa aku sudah menikah?" tanya Ara.


"Nggak saat dia lulus tahun lalu dia jarang ke sekolah. Katanya sih ia kuliah di luar kota."


"Kenapa panitia nggak bilang sih sama kak Febri kalau aku udah nikah. Bukannya pihak sekolah sudah tahu ya aku sudah menikah dan hamil?"


"Mungkin saat mengutarakan keinginannya untuk menyumbangkan lagu dia tidak bilang kalau dia ingin nembak kamu."


"Bantu dia Hel aku tidak ingin dia dipermalukan karena nama saya."


"Bantu apa?"


"Saat dia memanggil nama aku kamu ya yang naik?"


"Mana bisa? Bisa-bisa aku malah jadi bahan tertawaan anak-anak."


"Namamu kan Rachel Tamara. Anggap aja dia manggil Ara itu Tamara, gitu jelasinnya pada anak-anak."


"Gimana ya?" Rachel tampak berpikir.


"Transferan dua kali lipat," ucap Lexi.


"Siap Bos!" Rachel langsung naik ke atas panggung.


"Mata duitan padahal orang tuanya orang kaya." Mita berdecak.


"Biarin lah mungkin dia tidak bebas kalau pakai uang orang tuanya. Kalau pakai uang sendiri mah kan bebas mau dibelikan apa saja," ujar Naura.


Sampai di atas panggung Febri salah tingkah karena yang naik malah Rachel bukan Ara.


"Kok kamu sih yang naik, kan aku manggilnya Ara?" bisik Febri.


"Jangan banyak bicara, serahkan bunga itu kalau kamu tidak ingin malu."


Febri mengernyitkan dahi namun kemudian terpaksa menyerahkan buket bunga pada Rachel.


"Loh kan yang dipanggil kan Ara kok kamu yang naik Hel?" protes salah satu temannya.


"Iya dia manggil aku Ara. Kan namaku Rachel Tamara."


Febri terhenyak namun tak mampu berkata-kata.


"Aku pikir dia suaminya Naura," ujar salah satu teman yang lain.


"Bukan kalau nggak salah suaminya Naura itu kan Lexi ya, yang kemarin kita lihat foto pernikahannya itu?" sambung yang lain.


Jadi Ara sudah beneran menikah dengan om-om itu? Pantas saja Rachel yang naik tadi. Mungkin dia tidak ingin aku malu, batin Febri.


Akhirnya dia dan Rachel pun berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Dari balik ponsel Ara bernafas lega.


"Sudah ya Mit aku mau istirahat dulu lain kali kita sambung lagi.


"Iya Met istirahat ya, aku mau kembali ke teman-teman dulu," ujar Mita sambil mengakhiri video call-nya.


Di tempat Lain setelah mengobrol dengan Lexi dan Ara, Isyana pamit keluar pada semuanya karena bayinya sedang menangis. Ia membawa baby Fazila keluar kamar rawat Annete untuk membawanya jalan-jalan sebentar. Namun sampai di luar pintu dia melihat penampakan seorang gadis yang sedang mencari seseorang. Tangan yang satu menenteng keranjang buah dan yang satunya menenteng bungkusan plastik.


"Maaf cari siapa ya?" tanya Isyana.


"Cari tuan Louis," sahutnya.


"Oke aku panggilkan dulu." Isyana masuk ke dalam kembali. Untung baby Fazila sudah tidak menangis lagi.


"Rick selir siapa tuh di luar?"


"Apa sih Sya, selir-selir ternyata kamu tidak ada bedanya dengan yang lain. Mau belajar jadi kompor?"


Zidane terkekeh melihat Edrick ngambek.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2