Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 3. Payah


__ADS_3

"Nindy bangun, buatkan aku sarapan!" perintah Louis.


Pagi hari, sang majikan sudah kembali dari jogging dan kini sudah nampak segar sehabis mandi dan siap dengan baju santainya, tapi Nindy yang seorang pembantu malah sedang enak-enak molor.


"Ya ampun Tuan, aku masih ngantuk karena semalaman tidak bisa tidur. Aku baru bisa tidur jam 3 dini hari."


"Aku tidak mau tahu ya, sekarang kamu pembantu di rumah ini. Jangan berlagak seperti majikan. Aku aja bangunnya pagi kamu malah asyik-asyik tidur. Gimana mau lunas hutang-hutangmu kalau seperti ini."


"Iya-iya aku bangun, cerewet banget sih." Nindy melempar selimut sembarangan lalu bergegas pergi ke dapur.


"Awas cuci muka dulu jangan sampai masakan campur sama belek," ujar Louis terkekeh.


Nindy masuk ke dalam kamar mandi yang dekat dengan dapur lalu mencuci tangan dan mukanya kemudian bergegas masuk ke dapur. Sampai di dapur Nindy celingak-celinguk mencari keberadaan Mira.


"Kemana mbak Mira sih, kok nggak kelihatan sedari tadi?" Bergumam sendiri.


"Aku harus masak apa coba?"


Nindy membuka penanak nasi, dia bernafas lega karena nasinya sudah matang. Tapi dia cemas karena tidak menemukan ikan atau sayur, alamat dia harus masak sendiri.


Nindy membuka kulkas, dia mengambil sayur dan langsung memotong-motongnya. Kemudian dia mendidihkan air dengan campuran bumbu yang sudah dipotong-potong. Setelahnya ia memasukkan sayuran tersebut hingga matang.


"Sip jadi nih sayur bening." Dia tersenyum puas karena berhasil memasak satu menu padahal bumbu yang ia masukkan di mix semua.


"Ikannya harus apa ya?" Ia membuka kulkas kembali. Matanya menangkap ada daging ayam sama telur di sana.


"Yang mana ya? Telur ah lebih simpel saja." Tangannya mulai meraih beberapa butir telur dan menaruhnya di dekat kompor. Kemudian menceploknya.


Saat ia mulai menaruh telur ke atas wajan tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu.


Satu bulan yang lalu dia juga melakukan hal ini. Terpaksa menceplok telur tatkala salah satu pembantunya mendadak sakit dan harus diopname. Ayah dan ibunya mengantarkan pembantu tersebut ke rumah sakit Sedangkan Lisfi sang kakak sudah pergi ke kantor sejak pagi-pagi buta. Alasannya ada pekerjaan kantor yang harus segera diselesaikan. Pembantu yang satunya pulang kampung karena ada keluarga yang meninggal.


Di saat-saat dia khusuk memecahkan telur tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Ayah sudah pulang? Bagaimana keadaan si Mbok?" Tidak ada jawaban orang itu malah menyandarkan dagunya di bahu gadis itu sambil mengeratkan pelukannya.


Nindy mengendus-endus wangi parfum tersebut, sepertinya dia hafal akan bau parfum itu tapi bukan parfum ayahnya.


Karena curiga dia langsung menoleh. "Kamu, ngapain kamu di sini?" Nindy mencoba mengurai pelukan pria tersebut namun pria tersebut malah semakin mengencangkan pelukannya hingga susah buat Nindy untuk melepasnya.


"Pras lepaskan!" bentak Nindy karena lelaki itu tidak melepaskannya juga."

__ADS_1


"Ayolah honey aku kangen saat-saat seperti ini. Biasanya kamu menikmatinya kan saat aku memelukku seperti ini."


Plakk.


Nindy menampar wajah Pras.


"Kurang ajar ya kamu. Pergi tidak!" ujar Nindy sambil mengambil sandal rumahan yang ia pakai dan melemparkan pada Pras.


"Jangan munafik kamu Safa, kamu pasti menginginkannya kan?"


"Tutup mulutmu!"


"Aku tahu kamu masih mencintaiku Fa, dan aku pun juga sama. Kita saling mencintai Safa tapi takdir tidak memihak pada kita."


"Kamu tahu Pras aku muak dengan ucapanmu ini. Jangan sekali-kali kau menyalahkan takdir. Ini sudah kehendakmu, dan kamu tahu saat kau memutuskan untuk menikahi kakakku, Lisfi rasa cintaku padamu sudah kandas dan perlahan berubah menjadi kebencian. Karena aku tahu kau adalah orang yang gila harta dan jabatan. Kini saat kau tahu kalau kak Lisfi hanyalah anak tiri dari ayah dan tidak punya hak atas semua hartanya kau ingin merayuku agar kembali padamu? Sorry sikapmu menjijikkan bagiku, terlalu pengecut!" ujar Nindy sambil berlari ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Dia tidak mau Pras akan mengganggunya kembali sedang dalam rumah tidak ada seorangpun kecuali pak satpam yang berjaga di luar sana.


Di dalam kamar Nindy menangis sesenggukan. Ia teringat ketika dia masih berpacaran dengan Pras namun kakaknya menginginkan Pras menjadi suaminya. Ayah dan ibu Nindy menawarkan jabatan pada Pras agar mau menikahi Lisfi karena saat itu Lisfi berpura-pura menderita penyakit leukemia. Yang membuat ayah dan ibunya menjadi sangat khawatir dan segera mewujudkan permintaannya yang bisa saja menjadi permintaan terakhir darinya.


"Bagaimana nak Pras?" tanya pak Ramlan.


"Pras kumohon jangan terima, aku mencintaimu Pras, aku mencintaimu. Kita saling mencintai."


"Safa saya minta kamu mengalah yah sama kakak kamu, kasihan dia sedang sakit, mungkin saja ini adalah permohonannya yang terakhir," pinta sang ayah.


"Bagaimana nak Pras nanti saya juga akan segera menaikkan jabatan kamu."


"Baiklah Pak, saya mau."


Nindy terbelalak mendengar jawaban Pras. Dia hanya menggeleng tidak percaya. Ternyata sedangkal itu cinta Pras padanya. Namun dia tidak terima dengan semua itu.


"Yah ini tidak adil, mengapa ayah terkesan tidak adil padaku? Pras itu cinta pertama Safa yah kenapa ayah tega memisahkan kami? Ini tidak adil! Benar-benar tidak adil. Nindy membanting kursi-kursi yang ada di ruang tamu.


"Safa sayang bersabar ya Nak, sekarang mengalah dulu sama kakak kamu, nanti bunda carikan jodoh yang pas buat kamu," bujuk bunda Farah.


"Nggak mau bunda jahat sama kayak ayah. Dari dulu kalian memang suka membedaka-bedakan kami. Aku benci sama ayah dan bunda.


"Bukan begitu sayang tapi kakakmu lagi sakit makanya kami mengutamakan dia dulu dibandingkan kamu. Saya harap kamu bisa mengerti dengan situasinya."


"Bohong dia berbohong, dia wanita licik. Aku bisa membuktikan kalau dia cuma bersandiwara. Dia berbohong atas penyakitnya. Dia menyogok dokter itu. Aku bisa membawa dokter tersebut ke sini kalau ayah mau."


"Safa! Jangan sembarangan ya kamu ngomong. Dia itu kakak kamu."

__ADS_1


"Aku tidak peduli Yah, yang kutahu dia hanya wanita perebut milik orang lain."


"Safa tutup mulutmu!"


"Tapi itu kenyataannya yah apa perlu saya mengancam agar dokter tersebut memang berbohong?"


"Tidak perlu aku percaya sama kakak kamu."


"Berarti ayah tidak percaya padaku? Aaakhhh!" sekarang meja lah yang menjadi sasarannya.


Selesai mengamuk di rumah Nindy langsung pergi menemui Putri sahabatnya yang kini nongkrong bersama geng motor.


"Kenapa Lo kucel?"


"Stres gue. Dik boleh pinjam motornya?"


"Boleh, ini!" Dika melempar kunci motornya.


Setelah menangkap, Nindy langsung naik ke atas motor dan melajukannya dengan kencang. Namun na'as, dia malah terpental dari motor tersebut dan jatuh ke aspalan yang membuat dirinya harus menginap di rumah sakit untuk beberapa hari.


"Nindy bau apa ini? Kenapa kau lama sekali?" Louis berjalan ke arah dapur dan memeriksa dari mana asal bau. Ternyata dari telur yang sudah berwarna hitam di atas penggorengan.


"Ya ampun Nindy kamu goreng telur aja tidak becus? Payah!"


Nindy tersadar dari lamunan kemudian segera mematikan kompor.


"Maaf," ucapnya sambil masih menunduk.


"Kamu pikir semua ditebus dengan kata maaf hah?" Nindy tidak menjawab.


"Hei kamu dengar tidak?" Masih tidak ada Jawaban.


"Kalau bikin telor ceplok saja tidak bisa terus bisa kamu apa?"


"Merebus air dan mie instan."


"Oh God! Kalau itu aku yakin anak kelas 1 SD pun bisa kalau cuma memasak air."


Nindy mengusap air matanya yang masih tidak bisa terbendung.


"Eh kamu menangis? Apa aku terlalu keras padamu?"

__ADS_1


*Eh b*isa nangis juga tuh orang. Batin Louis.


__ADS_2