
"Zidane lepaskan dia!" Yuna berteriak.
"Mas lepas dia!" ucap Isyana melihat gadis itu tersengal-sengal.
"Uhuk-uhuk." Gadis kecil itu terbatuk ketika cengkraman tangan Zidane terlepas.
"Yuna kamu pecat dia atau saya laporkan dia kepada polisi!"
"Ampun Tuan jangan laporkan saya ke polisi saya tidak tahu kalau obat itu berbahaya." Gadis itu bersimpuh di kaki Zidane sambil bercucuran air mata. Apa jadinya neneknya kalau dia di penjara begitulah hatinya berbicara.
"Naura bangun dan jelaskan mengapa kamu melakukan itu." Yuna membantu gadis kecil itu untuk berdiri.
Gadis itu mengambil nafas kemudian mulai bercerita.
"Tadi pagi ada seorang pria dewasa yang menghampiri saya dia meminta tolong untuk memasukkan obat ke dalam minuman seorang wanita. Pria itu mengatakan bahwa wanita tersebut adalah istrinya. Dia mengatakan supaya jangan sampai ketahuan istrinya karena istrinya tidak suka mengonsumsi obat-obatan padahal dia mengidap suatu penyakit dan kalau istrinya tersebut tidak mau meminum obatnya maka nyawanya bisa terancam. Maafkan saya Tuan saya tidak tahu kalau orang itu berbohong, saya tidak tahu kalau Nyonya ini adalah istri Tuan."
"Yuna kamu tahu betapa polosnya dia? Bagaimana mungkin kamu mempekerjakan anak di bawah umur seperti dia. Bagaimana kalau ada orang yang menyuruh dia meletakkan nuklir di cafe kamu?"
"Itu tidak mungkin Zidane aku tahu dia anak yang baik dan aku pun menerima dia bekerja karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini tapi dia bekerja hanya pada jam-jam tidak masuk sekolah kok terutama saat hari libur seperti sekarang."
"Baiklah gadis kecil saya akan memaafkan mu kalau kamu bisa membantu saya."
" Saya akan melakukannya Tuan sekiranya saya bisa."
"Kamu tahu informasi tentang laki-laki itu? Mungkin saja laki-laki itu sering ke sini." Zidane mencoba menggali informasi dari bocah tersebut.
"Maaf Tuan saya tidak tahu saya jarang memperhatikan pengunjung."
"Hah tidak bisa diandalkan." Zidane menarik nafas berat.
"Ayo Yuna aku mau lihat cctv-nya saja. Jangan bilang cctv kamu mati karena tadi pagi listrik padam seperti hotel sebelah."
"Tidak masalah listrik padam semua yang ada di cafe tetap berjalan seperti biasa dan apa tadi kamu bilang? Hotel di sebelah itu cctv-nya mati?"
"Yups benar."
"Kok aneh ya hotel sebesar itu tidak siaga, mencurigakan."
"Kamu tahu hotel itu milik siapa?"
"Aku tidak begitu tahu. Kalau pemilik yang lama saya tahu tapi yang terakhir saya dengar hotel itu dijual dan pemiliknya berpindah ke Jerman."
"Ooh. Ya sudah kita cek cctv aja."
Sesampainya di ruangan cctv.
"Bagaimana ini Yuna kok rekamannya bisa hilang juga?"
"Saya tidak tahu tapi saya pastikan cctv-nya menyala dan tidak rusak."
"Iya aku tahu tapi ... apakah ada yang menghapus?" Zidane tampak berpikir.
__ADS_1
"Atan." Tristan meminta pendapat Nathan.
"Biar saya yang cek Pak," ucap Nathan pada petugas di sana.
"Memang kamu bisa boy?"
"Bisa sedikit Pa."
"Baiklah lakukan saja."
Petugas itu berpindah tempat memberikan ruang untuk Nathan.
Seperti biasa Nathan tangannya lincah mengotak-atik keyboard, memulihkan rekaman yang hilang.
"Sudah Pa."
"Wah hebat kamu Boy," ucap Zidane sambil memeriksa rekaman tersebut.
"Tapi kenapa posisinya selalu membelakangi kamera? Sekalipun ada yang menghadap wajahnya terhalangi oleh seseorang. Bagaimana kita tahu rupa pria itu kalau begini."
"Sepertinya orang itu tahu dimana sudut-sudut yang terpasang kamera," tebak Yuna.
"Wah mereka benar-benar hebat." Zidane meraih ponselnya dan menelpon anak buahnya.
"Kalian cari tahu siapa pemilik hotel xxx dan awasi pergerakan di sana. Kalau ada yang mencurigakan segera laporkan!"
"Baik Tuan."
"Kalau saya bisa melukis saya ingat wajah orang itu tapi bagaimana ya menggambarkannya?" Tristan menyayangkan dirinya tidak bisa menggambar.
"Yang kita tahu hanyalah wajahnya putih, hidungnya mancung ada tahi lalat di sebelah kiri alisnya, ah terlalu banyak orang yang mungkin mirip dengannya." Tristan mengoceh dan mengeluh sendiri.
Mendengar perkataan Tristan gadis kecil yang bernama Naura itu memiliki ide.
"Bu boleh aku meminta selembar kertas dan meminjam pensil?"
"Buat apa?"
"Melukis wajah orang itu."
"Emang kami bisa?"
"Tidak tahu Bu tapi saya akan mencobanya," ucapnya merendahkan diri.
"Baiklah saya akan mengambilnya." Yuna hendak beranjak namun di tahan oleh petugas bagian cctv.
"Tidak usah Bu saya ada, ini," ucap petugas tersebut sambil mengulurkan kertas dan pensil.
Naura meraih kertas dan pensil itu dan mulai membuat sketsa wajah Derly.
"Bantu aku ya mengingat wajah pria itu takutnya ada yang salah," pintanya kepada Nathan dan Tristan.
__ADS_1
"Siap," ucap keduanya.
Naura menggambar wajah laki-laki itu sambil sesekali berdiskusi dengan Nathan dan Tristan. Setelah yakin dengan gambarnya dia memberikan gambar itu kepada Zidane.
Zidane meraih dan menyodorkan pada Isyana. "Benarkah orangnya seperti ini?"
"Wah gambarnya benar-benar mirip, ternyata si Naura ini punya kemampuan bagus dalam melukis."
"Bagus kalau begitu. Nathan papa lihat kemampuan komputer mu bagus. Bisakah kau menyatukan gambar tubuh pria di komputer dengan wajah yang gadis kecil ini lukis?"
"Akan saya coba Pa."
Nathan kembali mengotak- atik komputer di ruangan itu. Beberapa saat gambar di komputer sudah siap.
"Ini Pa hasilnya."
"Wah sempurna," ucap Isyana dan Naura bersamaan.
"Bagus." Segera Zidane mengcopy gambar tersebut dan mengirimkan kepada anak buahnya.
"Segera cari orang ini termasuk informasi terbaru tentang dia!"
"Baik Tuan."
Beberapa saat kemudian telepon Zidane bergetar.
"Halo Tuan kami sudah mendapatkan identitasnya."
"Bagus segera cari dan tangkap orang itu."
"Baik Tuan."
Zidane menutup telepon itu namun teleponnya bergetar kembali.
"Halo ada apa?"
"Menurut informasi yang kami dapatkan pemilik hotel yang baru bernama Awan Tuan tapi untuk sementara kami tidak menemukan pergerakan yang mencurigakan."
"Baiklah tapi tetap pantau keadaan hotel tersebut. Kalau perlu kalian kirimkan foto orang yang bernama Awan tersebut."
"Baiklah Tuan tapi rasanya cukup sulit mengetahui orang yang bernama Awan tersebut karena semua karyawan yang kita tanya tidak ada yang tahu seperti apa wajah bosnya itu tapi kami akan tetap berusaha menggali informasi tentang orang tersebut."
"Baiklah lakukan tugas kalian."
Zidane menutup telepon sambil mengusap wajahnya.
"Mengapa rasanya begitu pelik?" Bicara pada diri sendiri.
"Mas bisakah kamu hentikan saja penyelidikan ini? Bukankah aku masih baik-baik saja? Kalau diteruskan bisa-bisa kamu nanti malah stres."
"Tidak Sya aku takut mereka akan terus mengganggu kehidupan kita nantinya. Kamu tahu ini semua begitu rapi seolah memang direncanakan dan aku curiga jangan-jangan yang suka menggangu keamanan sistem komputer perusahaan selama ini adalah orang yang sama."
__ADS_1