Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 127. Pertengkaran Dua sahabat


__ADS_3

Anisa masuk ke dalam kamarnya kemudian berganti pakaian. Lama dia duduk di tepi ranjang menunggu Adrian tapi Adrian belum masuk kamar juga.


Karena tidak tahan menunggu akhirnya dia menghampiri kamar Adel. Dia melihat Adrian duduk di samping Adel dengan tatapan mata yang kosong. Sekilas Anisa kasihan melihat keadaan Adrian yang kini mulai terlihat lebih kurus. Dia lalu berinisiatif mendekati Adrian dan meminta maaf.


"Dri maafkan aku," ucapnya.


Adrian menoleh tapi tidak bicara apa-apa.


"Dri maafkan aku," ulangnya.


"Apa kurang ku Nis?" tanya Adrian dengan posisi memunggungi Anisa.


"Tidak ada Dri."


"Terus kenapa kamu selingkuh?"


Anisa terdiam tak tahu harus menjawab apa. "Kau tidak memiliki kekurangan apapun Dri tapi sayang perasaanku sudah berubah terhadapmu," batin Anisa.


"Kalau begitu ku mohon kamu jangan bekerja lagi ya!"


Anisa menarik nafas dalam-dalam. "Akan ku coba Dri. Pindah ke kamar yuk!" ajaknya. Adrian pun menurut pindah ke kamar mereka.


Setelah sampai di kamar dan mereka sama-sama berbaring di ranjang, Adrian memeluk tubuh Anisa dengan erat seolah takut kehilangan istrinya itu. Adrian begitu mencintai Anisa. Adrian bisa menerima Anisa kembali walaupun tahu apa yang telah terjadi dengan istrinya itu asal Anisa bisa berubah dan setia seperti dulu.


Adrian terlelap dalam tidurnya sedangkan Anisa malam ini tidak bisa tidur nyenyak. Dia begitu gelisah, bayangan Rayyan selalu hadir di pelupuk matanya tiap kali dia terpejam.


"Akh, aku harus apa? Siapa diantara mereka yang akan aku pilih?" Anisa bingung sendiri di satu sisi dia kasihan sama Adrian tapi di sisi lain dia begitu mencintai Rayyan tapi bagaimanapun Adrian adalah suaminya.


Untuk sementara otaknya merespon positif. "Baiklah aku akan mencoba melupakan Rayyan," ucapnya dalam hati.


Satu hari, dua hari Anisa bisa melewati hari tanpa bekerja dan bertemu Rayyan namun di hari ke-tiga dia mulai gelisah. Dia begitu merindukan Rayyan apalagi Rayyan tidak pernah berhenti menghubungi ponselnya walaupun dia tidak pernah menjawab apalagi membalas chat-nya tapi laki-laki itu seakan tidak menyerah. Akhirnya di hari ke-tujuh Anisa yang menyerah. Rasa rindunya pada Rayyan begitu menggebu-gebu sehingga hari itu dia memutuskan untuk bekerja kembali.


"Nis bukankah sudah kubilang kamu harus berhenti kerja, kenapa begitu sulit sih menyuruhmu berhenti? Apa uang dariku belum cukup juga untukmu sehingga kau harus ngotot tetap bekerja?" seru Adrian pagi itu karena melihat Anisa sudah siap dengan busana kerjanya padahal beberapa hari yang lalu dia telah menyuruhnya resign dari tempat kerjanya dan saat itu Anisa telah menyanggupinya.


"Ini bukan masalah uang Dri tapi ini masalah kesenangan. Aku senang bekerja, aku suka menggunakan uang dari hasil keringatku sendiri. Aku suka berbaur dengan banyak teman di sana."

__ADS_1


"Huh, itu cuma alasanmu kan? Jadi benar kamu selingkuh dengan atasanmu?" tuduh Adrian yang merasa curiga.


"Jangan menuduh sembarangan Dri!" bantah Anisa.


"Siapa yang menuduh sembarangan? Apa perlu aku datangkan saksi yang melihatmu berselingkuh dengan atasanmu itu?"


"Dri kamu salah paham aku tidak selingkuh," elaknya.


"Kau pikir aku percaya?"


"Apa Lani yang mengatakannya padamu? Bukankah kamu tahu dia menyukaimu jadi bisa saja kan dia memfitnahku macam-macam."


"Aku tidak tahu dari Lani," bantah Adrian.


Anisa berpikir sejenak kalau tidak tahu dari Lani terus Adrian tahu dari siapa? Kemudian dia mengingat Edrick.


"Oh jadi ini ulahmu? Secepat ini kau mengadu pada Adrian? Baiklah aku akan mempermainkan mu. Siapa yang akan menang nantinya aku atau kamu," batin Anisa.


"Itu tidak benar Dri aku tidak pernah selingkuh dengan pak Rayyan jadi izinkan aku bekerja lagi ya," rayunya.


"Katakan kau berselingkuh dengan siapa!"


"Jangan bohong kamu Nis katakan atau aku tidak akan pernah memaafkan dirimu."


"Baiklah Dri aku mengaku. Maafkan aku Dri aku khilaf, aku tidak bermaksud mengkhianati mu tapi Edrick terus merayuku. Awalnya aku menolak tapi dia terus memaksaku hingga akhirnya pertahananku runtuh Dri," ucapnya sambil terisak.


"Edrick? Jadi dia menipuku? Jadi dia mengatakan Anisa selingkuh dengan orang lain untuk menutupi kebusukannya sendiri?" Adrian bicara sendiri sambil mengepalkan kedua tangannya. Lalu secepat kilat dia keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya serta mengemudikan mobilnya dengan kencang, amarahnya sudah tidak terbendung lagi ingin segera menghampiri Edrick di rumahnya dan memukuli sahabatnya itu.


Melihat Adrian terpancing amarahnya pada Edrick Anisa tersenyum licik. "Mampus loh Rick, suruh siapa Lo macem-macem sama gue," kata Anisa bicara sendiri lalu melenggang pergi menuju kantor.


Sampai di kantor Rayyan menyambut kedatangan Anisa dengan senyum yang manis sekali.


"Akhirnya kau kembali juga baby," ujar Rayyan sambil merentangkan tangannya dan Anisa pun masuk ke dalam pelukan sang kekasih. Banyak mata yang memandang aneh kepada keduanya tapi satupun diantara mereka tidak ada yang berani mengadu pada ibu bosnya itu dengan alasan yang bermacam-macam.


"Aku tidak kuat menahan rindu padamu," ujar Anisa sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ruangan ku menunggumu," ujar Rayyan sambil mengulurkan tangannya dan menggandeng wanitanya itu lalu membawa Anisa ke ruangannya tempat mereka berdua biasa memadu kasih.


Sementara di tempat lain Adrian buru-buru keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arah Edrick yang kini juga ingin masuk ke dalam mobilnya sendiri ingin meninjau keadaan clubnya yang sekarang dalam proses pembangunan menambah beberapa ruangan.


Tanpa aba-aba Adrian langsung menarik kerah baju Edrick dan melayangkan bogem ke wajah Edrick beberapa kali seperti orang kesetanan.


"Dri tunggu dulu! Ada apa ini?" Endrick tidak mengerti mengapa sahabatnya itu tiba-tiba saja memukulnya.


"Tega kau Rick menusukku dari belakang. Anisa itu istriku Rick istriku! Tidak ada wanita lain kah sehingga kau tega menjamah sesuatu yang sudah menjadi milikku, sahabatmu sendiri?"


"Tunggu! Ini ada apa Dri? Apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura tidak tahu."


"Astaga Dri aku benar-benar tidak tahu, aku tidak mengerti apa yang kau tuduhkan padaku."


"Kau yang telah merayu Anisa dan menidurinya tapi kau malah melempar kesalahan pada orang lain."


Edrick geleng-geleng kepala mendengar pernyataan Adrian. "Itu tidak benar Dri mengapa kau malah menuduhku?"


"Karena memang itu kenyataannya."


"Tidak itu tidak benar. Siapa yang mengatakannya?"


"Anisa sendiri yang mengakuinya Rick jadi kamu tidak usah berkilah!"


"Demi Tuhan Dri itu semua tidak benar."


"Jangan bawa-bawa nama Tuhan Rick, orang sepertimu tidak pantas menyebut nama Tuhan."


"Oke Dri aku tahu aku memang orang brengsek tapi percayalah aku tidak pernah menyentuh istrimu. Aku paling tidak suka mengambil milik teman sendiri."


"Aaah pembohong!" teriak Adrian.


"Terserahlah Dri kau mau percaya atau tidak tapi sekali lagi ku tegaskan, Aku tidak pernah berselingkuh dengan istrimu," ucap Edrick lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya keluar pekarangan rumahnya meninggalkan Adrian yang kini masih mematung.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak! Like vote, gift dan komentarnya terima kasih.


__ADS_2