Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 27. Gelisah


__ADS_3

"Ini pasti gara-gara wanita tadi. Saya harus mencari tahu identitas wanita tersebut dan membuatnya hancur. Dia harus merasakan lebih dari yang Nindy rasakan." Louis mengeram dalam hati.


Louis langsung mendekati Nindy dan mencoba mengusap-usap punggung gadis itu untuk memberikan ketenangan.


"Ada apa Nin? Cerita dong sama kami barangkali kami bisa membantu mu." Louis berkata dengan halus disertai anggukan Mira.


"Iya benar Nin siapa tahu kami punya solusi, paling tidak kalau kamu bercerita sama kami mungkin kamu bisa sedikit merasa lega," sambung Mira.


Nindy cuma mengangguk kemudian menangis kembali.


"Hei sudah jangan menangis terus!" kata Louis sambil membawa Nindy ke dalam pelukannya.


"Apakah kalian juga akan meninggalkan ku suatu saat nanti mengingat aku hanya bisa merepotkan kalian. Karena aku hanya manusia tidak berguna yang hanya akan menambah beban kalian?" Nindy berkata dalam isak tangisnya Dia benar-benar merasa dirinya tidak berguna sehingga semua keluarganya bersikap seolah membuang dirinya, bahkan kakaknya saja sangat membencinya tanpa ia tahu alasannya apa.


"Kamu jangan khawatir kami akan terus mendukung mu. Kamu tidak sendirian ada aku, Mbak Mira, ada teman-temanmu juga yang masih setia bersamamu." Louis terus berusaha menenangkan Nindy.


"Setiap manusia itu pasti punya kelebihan masing-masing dan saya yakin kamu juga punya itu. Maka jangan pernah menganggap diri kita tidak berguna karena Tuhan menciptakan manusia tidak akan pernah sia-sia."


"Iya Mas Louis benar," lanjut Nindy.


"Tapi aku takut, setelah kita bertemu dengan kak Lisfi tadi pasti dia akan melapor sama Pras sehingga bisa saja dia mengikuti kita tadi dan aku yakin kalau dia tahu aku tinggal di sini, dia pasti akan selalu meneror kalian dengan ancamannya. Aku takut kalian yang akan kena imbasnya dan akhirnya kalian juga akan membenci ku."


"Hus ngomong apa sih kamu? Kamu pikir aku takut sama yang namanya Pras itu. Berikan alamatnya biar ku labrak mereka semua. Dasar manusia tidak tahu diuntung!"


"Jangan Tuan aku mohon jangan, aku tidak mau kamu kena masalah hanya gara-gara aku." Tubuh Nindy tampak Bergetar. Dia terlihat seperti orang ketakutan. Louis bingung kenapa gadis itu tiba-tiba berubah seperti itu. Dia membisikkan sesuatu pada Mira.


Mira mengangguk kemudian tampak mengambil kertas dari tangan Louis lalu berjalan tergesa-gesa ke luar rumah. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan obat di tangannya.


"Berikan padanya!"


Mira langsung membantu Nindy untuk meminum obatnya, beberapa saat kemudian Nindy tampak tenang dan akhirnya tertidur pulas.


Louis bernafas lega. "Mbak Mira tolong jaga dia, aku mau keluar sebentar."


"Baik Mas Louis."


Mira tampak ikut berbaring di samping Nindy sedang Louis keluar kamar. Dia tampak menghubungi Seseorang.


๐Ÿ“ฑ"Halo Tuan, apa yang bisa saya bantu?"


๐Ÿ“ฑ"Cari tahu tentang wanita yang bernama Lisfi!"


๐Ÿ“ฑ"Maaf Lisfi siapa ya Tuan? Soalnya kan nama Lisfi itu banyak takutnya kami salah orang."

__ADS_1


๐Ÿ“ฑ"Kakaknya Nindy."


๐Ÿ“ฑ"Oh gadis yang tadi?"


๐Ÿ“ฑ"Ya benar."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah akan segera kami lakukan."


Beberapa saat kemudian anak buah Louis menelpon kembali.


๐Ÿ“ฑ"Bagaimana? Ada hasilnya?" Louis.


๐Ÿ“ฑ"Ternyata wanita tersebut adalah bawahan Anda juga tuan tapi dia kerja di gedung yang lainnya karena berbeda departemen."


๐Ÿ“ฑ"Bagus cari tahu kesalahannya kalau tidak ada cari tahu kelemahannya. Kita harus mendepak wanita itu keluar dari perusahaan kita dan buat supaya tidak ada perusahaan lain yang mau menampung dirinya!"


๐Ÿ“ฑ"Baik Tuan, perintah akan segera dilaksanakan."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah aku tunggu kabar baik dari kalian."


Setelah menutup teleponnya Louis kembali ke dalam kamar Nindy. Dia melihat wajah Nindy yang kini sudah terlelap. Masih ada gurat sendu yang terlihat di sana.


Kasihan dia.


"Mbak Mira nggak ada pekerjaan?"


"Ya sudah kalau begitu Mbak Mira boleh keluar biar saya saja yang jagain dia."


"Baik Mas Louis, kalau begitu Mira pamit keluar."


"Iya, silahkan."


Saat Mira keluar kamar Louis hanya bisa memandangi wajah Nindy tanpa berkata-kata. Dia hanya berpikir ternyata Nindy yang kelihatan tegar di luar tapi jauh di dalam sana ternyata dia begitu rapuh akibat konflik dalam keluarganya.


"Sepertinya aku harus berhati-hati untuk memperlakukannya."


Saat sedang merenung ponselnya berdering kembali.


๐Ÿ“ฑ" Halo."


๐Ÿ“ฑ"Sepertinya wanita itu tidak pernah ada masalah di perusahaan Tuan."


Louis menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara kasar.

__ADS_1


"Aku tidak punya alasan untuk menyingkirkan wanita itu ternyata. Apa memang sehebat itu wanita tersebut sehingga sang ayah lebih menyayangi dirinya ketimbang Putrinya sendiri," batin Louis.


๐Ÿ“ฑ"Apa kalian tidak punya cara lain agar dia bisa keluar dari perusahaanku?"


๐Ÿ“ฑ"Ada sih Tuan menjebak misalnya cuma rasanya tidak etis tuan kalau kita melakukan itu, kalau ketahuan Tuan Zaki bisa marah besar dia."


๐Ÿ“ฑ"Terus bagaimana caranya agar dia tidak bisa mengganggu Nindy lagi? Apa kalian tidak tahu apa kelemahannya?"


๐Ÿ“ฑ"Bagaimana kalau kita mutasi dia ke perusahaan cabang yang jauh dari sini, yang ada di luar kota misalnya. Kalau untuk itu kita punya banyak alasan. Kelemahan dia yang kami tahu tidak bisa jauh dari keluarganya sehingga kalau dia kita pindah saya yakin dia tidak akan betah tinggal di sana dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri."


๐Ÿ“ฑ"Ide yang bagus, kita memang harus membuatnya jauh dari keluarganya seperti dia menjauhkan Nindy dengan keluarganya."


Tanpa mendengar jawaban dari anak buahnya, Louis langsung menutup panggilan teleponnya. Dia baru sadar sedari tadi dia belum mengganti pakaiannya yang basah karena terlalu khawatir. Dan bodohnya tadi dia langsung memeluk Nindy tanpa berpikir terlebih dahulu. Louis memeriksa pakaian Nindy tetapi syukurlah hanya basah sedikit, kalau tidak dia pasti merasa tidak enak kalau harus mengganggu tidurnya dengan meminta Mira untuk mengganti bajunya kembali.


Louis langsung bergegas ke kamarnya sendiri dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah berganti pakaian ia langsung kembali ke kamar Nindy.


Dia duduk di atas sofa sambil merenung, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membantu gadis itu agar lepas dari permasalahan ini dan membuat gadis itu bisa tersenyum kembali.


"Sepertinya aku harus mencari tahu tentang Pras dan juga ayah Nindy. Dan untuk wanita yang bernama Lisfi itu rasanya aku belum puas kalau hanya dimutasi saja. Dia harus bisa merasakan lebih sakit dari yang dirasakan Nindy sekarang.Tapi apa yang harus aku lakukan?" Louis berkata sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja. Berusaha berpikir keras sekiranya hukuman apa yang pantas untuk wanita bernama Lisfi tersebut.


Saat sedang berpikir keras tiba-tiba saja Nindy terlihat gelisah kembali. Ia membolak-balikkan tubuhnya secara kasar sambil sesekali meracau tidak jelas.


Louis mendekat.


"Pras jangan lakukan itu Pras, jangan!"


"Nin kamu kenapa?" Louis mengguncang tubuh Nindy agar terbangun dari tidurnya.


"Jangan Pras, Jangan! Jangan bunuh dia, aku mohon!"


"Jangan!!!" Nindy berteriak histeris.


"Nin bangun Nin, bangun!" Louis terus mengguncang tubuh Nindy.


"Hah hah hah!" Nindy langsung terduduk dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa?" tanya Louis saat Nindy sudah membuka mata.


Nindy tidak menjawab namun dia terus memandang wajah Louis seolah tidak percaya bahwa lelaki itu ada di hadapannya. Namun sesaat kemudian Nindy langsung mendekap erat tubuh Louis.


"Aku pikir kamu sudah pergi." Rupanya Nindy bermimpi Louis sudah tiada.

__ADS_1


"Aku tidak kemana-mana kok dari tadi di sini saja," ucap Louis tidak mengerti dengan perkataan Nindy


Bersambung....


__ADS_2