Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 156. Tak Sesuai Harapan


__ADS_3

Di dalam sebuah bar Annete merasa bosan karena berbagai cara untuk kabur selalu gagal. Akhirnya dia berdamai dengan keadaan, merasa mulai tenang dan percaya bahwa Paul memang hanya ingin dirinya menjadi pelayan seperti Diena. Karena ternyata paman Paul tidak memaksa dirinya menjual diri meskipun sudah hampir satu bulan dia bekerja di sana. Namun pada suatu hari ia jadi tegang kembali ketika dirinya di panggil ke sebuah ruangan dan diperkenalkan pada seorang pria.


Annete duduk dengan gusar dan sesekali meremas jari-jari tangannya karena terlalu cemas.


"An kalau kamu sukses malam ini paman akan membebaskan hutang ayahmu dan tidak akan pernah mengungkit tentang tanah pemakaman." Paul membuka pembicaraan, berkata dengan lembut.


"Maksud paman?" Bukannya senang Annete malah merasa takut mendengar kabar baik itu. Ia curiga karena yakin semua itu pasti harus ditebus dengan harga yang mahal yang ada dalam dirinya.


"Kau layani pria ini, maka kau tidak akan terikat lagi padaku." Suaranya kini berubah tegas. Yang di khawatirkan Annete ternyata benar.


"Tidak paman sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjual diri. Lebih baik aku mati saja daripada hidup dengan noda."


Plak...


Tamparan mendarat di pipi mulus Annete.


"Auw." Annete mengaduh kesakitan dan memegang pipinya yang terasa panas dan perih.


"Berani kamu menolak ya! Angel saja yang lebih seksi darimu menurut apalagi kau yang kucel seperti ini. Setiap orang yang tinggal di sini harus patuh pada perintahku!"


"Kalau begitu aku tidak ingin tinggal di sini. Biarkan aku pergi!" teriak Annete.


"Enak saja. Kau pikir mudah keluar dari tempat ini. Kau tidak boleh pergi sebelum menghasilkan uang banyak untukku, hahaha....."


Annete ketakutan melihat ekspresi Paul saat ini yang seperti orang kesetanan. Matanya melirik ke sana sini untuk mencari celah agar bisa meloloskan diri. Ada dua bodyguard yang berdiri tegak di depan pintu yang seakan siap kapan saja beraksi membuat nyali Annete menjadi ciut. Walaupun demikian dia terus berpikir bagaimana caranya untuk bisa melarikan diri.


"Kalau kau tidak bisa menuruti dengan suka rela maka harus dipaksa," ucap Paul sambil menjentikkan jarinya agar dua pengawal itu mendekat dan menyeret Annete keluar dan memasukkannya ke dalam mobil.


Pria yang tadi ikut masuk ke dalam mobilnya sendiri dengan tersenyum, tak nampak ada rasa kasihan di wajahnya.

__ADS_1


"Bawa dia ke hotel B!" perintah Paul pada anak buahnya setelah berhasil meringkus Annete.


"Baik Tuan."


Angel yang melihat itu langsung menyambar kunci mobil Bima yang tergeletak di mejanya.


"Wei mau kemana?" tanya Bima.


"Pinjem dulu," ujar Angel dan langsung berlari ke luar tanpa mendengarkan jawaban Bima."


"Nona mau kemana?" tanya salah satu penjaga di sana.


"Mau ketemu pelanggan, sudah terlambat ini." Karena alasan Angel penjaga meloloskan dirinya apalagi selama ini Angel memang tidak pernah berulah.


Angel melajukan kecepatan mobil yang dikendarainya agar jangan sampai kehilangan jejak.


Sampai di hotel Angel mengikuti langkah anak buah Paul dengan mengendap-endap seperti seorang maling. Untung saja tidak ada yang curiga. Setelah pria tadi memesan kamar dan anak buah Paul membawa Annete ke dalam kamarnya Angel pun meminta kunci cadangan kamar tersebut kepada resepsionis namun ditolak.


"Ah percuma," desah Angel. Lalu dia mengingat bahwa pria tersebut sebenarnya penakut sejak kejadian Anna yang asli bunuh diri di depan matanya hanya karena menolak untuk melayani pria brengsek dan tua bangka ini.


Muncul ide di kepala Angel. Kenapa tidak menakut-nakuti pria tersebut saja. Dia langsung menghubungi Lily karena sebelumnya pria ini adalah langganan Lily. Angel yakin lily pasti punya nomor handphone nya.


Sementara Angel menelpon Lily di luar kamar di dalam Annete memberontak karena pria tersebut mau menjamah tubuhnya. Annete terus saja berteriak meminta tolong walau sebenarnya ruangan tersebut kedap suara dan pasti tidak akan ada yang mendengarnya.


Di saat Annete mulai melemah karena kebanyakan bergerak tiba-tiba ponsel pria tersebut berbunyi. Untuk sementara pria tersebut mengabaikan namun karena terus-menerus berbunyi dia merasa terganggu dan akhirnya mengangkatnya. Ketika diangkat Angel tidak bersuara.


"Ah siapa yang berani bermain-main denganku?!" ucapnya kesal. Dia melemparkan ponselnya begitu saja ke atas ranjang. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi kembali sepertinya ada chat yang masuk. Karena penasaran ia mengambil ponsel itu kembali dan membaca pesan yang masuk.


[ Hati-hati wanita di samping Anda itu adalah Anna yang satu tahun yang lalu sempat melakukan percobaan bunuh diri di hadapan Anda. Ternyata dia masih hidup dan sekarang melakukan operasi plastik untuk menjalankan misi balas dendam. Hati-hati burung Anda bisa saja dipotong]

__ADS_1


Mata pria itu terbelalak membaca pesan dari nomor tak dikenal. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang dan tak beraturan.


Angel terkekeh melihat tulisannya sendiri namun kemudian berdoa semoga Annete ditinggalkan oleh pria tersebut karena ketakutan.


"Bagaimana kalau pria tersebut tidak percaya?" batin Angel.


"Ya Tuhan selamatkan Annete."


[Kalau Anda tidak percaya Anda bisa mengecek identitas di tasnya.]


"Kemana sih polisi kok lama banget?" Angel jadi gusar sendiri.


Seperti seorang yang terhipnotis Pria tersebut melakukan apa yang diperintahkan Angel. Dia mengecek tas Annete. Keringat bercucuran dari tubuh pria tersebut. Dia memandang ke arah Annete, entah mengapa di matanya wajah Annete berubah menyeramkan.


"Hantu." Pria tersebut berhalusinasi dan ketakutan. Sesaat kemudian memegang dadanya yang terasa sesak dan kemudian tergolek di lantai.


Melihat pria tersebut tak bergeming bukannya senang Annete malah semakin takut. Dia menggedor-gedor pintu agar ada yang membukanya. Sesaat setelah itu polisi datang membuka kamar tersebut. Angel pun ikut masuk ke dalam. Tapi bukannya bahagia Angel pun merasa bersalah karena melihat laki-laki itu sudah meregang nyawa dan dokter yang datang memeriksa mengatakan ia meninggal karena penyakit jantung nya.


"Anda harus ikut ke kantor polisi untuk diperiksa karena anda ada di saat pria ini meregang nyawa." Annete memejamkan mata lalu mengangguk. Tidak apa-apa dipenjara asalkan dia tidak diperkosa pikirnya. Toh Tuhan yang tahu segalanya bahwa ia tidak bersalah meskipun di mata manusia mungkin dia tetap hina.


"Ah mengapa aku melakukan ini?" Sesal Angel.


"Aku yang akan bertanggung jawab Net," bisiknya di telinga Annete.


"Maksudnya apa Gel?"


"Dia penyakit jantungnya kambuh hanya karena saya mengerjainya lewat ponsel. Berarti yang membunuh pria itu aku bukan kamu Net. Pak polisi..."


Annete menutup mulut Angel kemudian mengambil ponsel pria tadi yang terselip di pinggir ranjang dan menonaktifkannya kemudian menyembunyikan di bawah kasur. Dia tidak mau Angel yang masuk penjara karena dia sadar Angel melakukannya sebenarnya untuk menyelamatkannya meskipun hasilnya tak sesuai harapan. Lagipula menurut Annete hidup di penjara saat ini lebih baik daripada dia harus kembali ke bar.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, gift dan komentarnya.Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2