Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 122. Ditipu Teman Sendiri


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain nan jauh di sana sepasang suami istri ribut- ribut hanya karena tangisan sang anak.


'Tok tok tok.' Seorang pembantu terpaksa mengetuk pintu karena tidak mampu menenangkan putri dari tuannya.


"Tuan, Nona kecil menangis terus dari tadi, dia tidak mau meminum susunya."


Sepasang suami istri yang sedang bersiap melakukan pertempurannya akhirnya menghentikan aktifitasnya secara mendadak.


"Kenapa berhenti Dri?" tanya sang istri karena melihat Adrian memasang pakaiannya kembali.


"Anak kita menangis Nis," ucap Adrian sambil menyelimuti tubuh Anisa lalu beranjak dari ranjang untuk membukakan pintu.


"Kenapa Bik?" tanya Adrian setelah pintu terbuka sambil mengambil Adel dari gendongan pembantunya.


"Tidak tahu Tuan dari tadi menangis terus."


"Oh ya sudah Bibi istirahat saja biar saya yang menenangkan Adel."


"Baik Tuan, ini susunya," ujar Bibi sambil mengulurkan botol susu ke arah majikannya kemudian berlalu pergi.


Adrian membawa Adel ke ranjang. "Nis coba kamu susui mungkin dia ingin asi dari bundanya."


Nisa tidak menjawab dia malah acuh, membenarkan letak selimutnya kemudian pura-pura tertidur.


Karena melihat istrinya acuh Adrian membawa Adel keluar kamar sambil mencoba menyodorkan botol susu ke mulut bayinya. Awalnya Adel tidak mau tapi lama-kelamaan dia mau juga. Adrian begitu telaten merawat bayinya yang entah kenapa ibunya sendiri tidak ingin merawatnya. Lama-kelamaan Adel terlelap dalam pangkuan Adrian dan Adrian meletakkan kembali Adel ke box bayi di kamar putinya kemudian kembali ke kamarnya sendiri menemui istrinya. Setelah sampai di tempat tidur ternyata Anisa tidak tidur.


"Nis kamu jangan seperti itu, bagaimanapun dia itu anak kamu jadi kamu tidak boleh mengacuhkannya," nasehat Adrian.


"Alah Dri paling umurnya nggak bertahan lama buat apa kita membuang-buang waktu hanya untuk merawatnya. Mending kita titipin saja dia ke panti asuhan. Nanti kita tinggal kirim uang saja ke sana sebagai bayaran mereka yang telah mengurusnya."


"Nisa!" Adrian membentak Anisa.


"Bagaimana mungkin seorang ibu berkata begitu. Sadarlah Nis dia itu anakmu, Bayi yang terlahir dari rahimmu sendiri bagaimana mungkin kau membenci anakmu sendiri. Pokoknya aku tidak mau tahu mulai besok kamu harus memberikan dia asi kalau perlu kamu berhenti kerja dan fokus merawat dia," ucap Adrian murka lalu pergi keluar kamar.

__ADS_1


Malam ini dengan membawa segenap amarah dia masuk ke kamar Adel. Karena hanya dengan memandangi bayi mungil amarahnya yang memuncak bisa padam. Adrian memandang putrinya dengan penuh harap, air matanya mengalir begitu saja ketika mengingat dokter memvonis putri kecilnya terkena penyakit kanker. Adrian tidak akan menyerah dia akan melakukan apapun termasuk memberikan pengobatan terbaik demi kesembuhan putrinya. Malam itu akhirnya Adrian memilih tidur dengan Adel di kamar sang anak.


Sedangkan Anisa meringkuk di ranjang dia menangis sejadi-jadinya. Dia tahu Adrian marah padanya hanya gara-gara bayi berpenyakitan itu. Padahal selama ini Adrian tidak pernah memarahinya. Ada tangis bercampur amarah dalam diri Nisa. "Bagaimana kalau dia bukan putrimu Dri," gumamnya sendiri.


Bayangan satu tahun yang lalu terlintas di memorinya bagaimana hari itu Adrian melarangnya bekerja namun dirinya menolak hingga terjadi hal yang tidak diinginkan oleh Anisa.


"Nis mulai besok kamu berhenti bekerja ya, aku ingin kamu fokus menjadi ibu rumah tangga saja," pinta Adrian.


"Maaf Dri aku tidak bisa lagipula kalau aku berhenti bekerja aku jadi kesepian di rumah. Kamu kan sering bertugas sampai larut malam masa aku hanya berteman dengan bibi-bibi di sini. Kalau aku kerja kan banyak teman-temannya Dri, jadi aku tidak akan kesepian."


"Baiklah kalau itu mau kamu tapi kalau kita sudah punya anak aku tidak akan mengizinkan kamu bekerja lagi," ucap Adrian sambil mengecup puncak kepala sang istri.


"Aku berangkat dulu ya!" Pamitnya kemudian.


"Iya," jawab Anisa sambil mencium tangan Adrian.


"Dri!"


"Nanti sore aku mungkin pulangnya telat karena ada salah satu temanku yang ultah jadi dia pengen ngajak kami jalan-jalan sekaligus traktiran."


"Oke tidak masalah yang penting kamu hati-hati dan pintar-pintar jaga diri. Oh ya apa tidak sekalian berangkat sama aku aja?"


"Hari ini tidak bisa Dri aku sudah janjian sama Lani katanya dia mau menjemputku nanti, lagian aku belum siap kalau menungguku kamu pasti telat."


"Oh ya sudah kalau begitu aku berangkat duluan."


"Iya, hati-hati ya Dri."


"Iya."


Anisa memandangi kepergian suaminya setelah Adrian tidak nampak lagi dari pandangan Anisa, dia kembali ke kamarnya untuk mandi kemudian bersiap-siap pergi ke kantor.


Setelah memoles wajahnya dengan kosmetik dan merasa puas dia melangkah menuruni tangga sambil bersenandung kecil. Sampai di luar ternyata Lani dan Sinta sudah menunggu di mobil.

__ADS_1


"Hei ayo cepat kita hampir terlambat," ujar Lani.


Anisa mempercepat langkahnya kemudian masuk ke dalam mobil. Seharian itu mereka bekerja seperti biasa namun setelah pulang mereka langsung meluncur ke sebuah club malam.


"Kok ke sini sih Lan?" tanya Anisa tidak mengerti kenapa ulang tahun Lani malah dirayakan di tempat yang beginian.


"Iya itu inisiatif teman-teman yang ingin ultahku dirayakan di tempat ini biar ganti suasana kata mereka."


"Tapi kayak aneh gitu Lan, kenapa nggak di cafe aja," ujar Anisa.


"Ah ini mah cuma biasa Nis bahkan beberapa kali temanku sempat merayakan di tempat beginian."


"Aku nggak ikut ah kalau Adrian tahu aku pasti bakal kena marah," tolak Anisa sambil berbalik.


"Eits jangan dong masa kamu balik berarti kamu nggak menganggap aku teman dong."


"Bukan begitu Lan bagiku tempat seperti ini terasa asing. Seumur hidup aku belum pernah ke tempat beginian."


"Makanya sekarang ikut biar enggak kudet," timpal Sinta.


Anisa menggeleng dia ragu namun Lani tetap menarik tangan Anisa ke dalam ruangan, akhirnya Anisa hanya pasrah.


Setelah acara ultah selesai mereka meneruskan dengan acara mabuk-mabukan. Anisa dipaksa oleh Lani dan Sinta untuk ikut. Beberapa kali Anisa menolak namun akhirnya dia tidak tahan dengan godaan teman-temannya sehingga ikut minum juga.


Beberapa gelas sudah tandas namun Lani selalu menyodorkan gelas tersebut ke arah Anisa. Anisa yang sudah setengah mabuk tetap membuka mulutnya ketika Lani masih menyekokinya dengan minuman hingga akhirnya dia mabuk berat.


"Lan sudah kepalaku sudah pusing banget ini," ucap Anisa sambil mendorong gelas minuman yang di sodorkan Lani.


Anisa melihat Lani tersenyum puas ke arahnya namun kemudian pandangan mata Anisa menjadi kabur kemudian pingsan.


Setelah melihat Anisa pingsan Lani dan Sinta membopong tubuh Anisa ke dalam sebuah kamar dan meninggalkan Anisa seorang diri kemudian dia menelpon seorang pria untuk datang ke tempat tersebut.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2