
"Kalian sudah tahu kan apa yang harus kalian lakukan?" Mereka mengangguk-angguk.
"Eksekusi dia!" perintah Louis.
"Apa! Di eksekusi?" Tubuh Mala dan Lisfi tampak bergetar.
"Bagaimana ini Mala?" tanya Lisfi dengan bibir bergetar karena ketakutan.
"Eksekusi apaan?" tanya Mala. "Kalian menipu ku ya." Mala masih sempat-sempatnya protes.
"Terserah kalian mau pilih yang mana, mau yang mati langsung atau mati secara perlahan. Kebetulan kami punya racun yang sedikit demi sedikit mampu menggerogoti tubuh kalian hingga hidup kalian berakhir mengenaskan." Seorang anak buah Louis menakut-nakuti kedua perempuan itu.
"Ada apa ini Nak Louis?" Farah berjalan ke arah mereka dengan heran.
Louis mendekat ke arah Farah lalu berbicara dengan setengah berbisik.
"Kalau begitu aku serahkan saja sama Nak Louis tapi bunda mohon jangan dihukum mati beneran ya Nak."
"Tenang Bun Louis tidak sekejam itu kok." Farah hanya mengangguk.
Seketika Lisfi langsung berlari ke arah Farah dan berlutut di kakinya. "Bunda tolong Lisfi ya Bun, Lisfi mohon." Matanya mulai tampak berkaca-kaca.
"Maaf Bunda tidak bisa menolongmu kali ini. Kamu memang pantas mempertanggung jawabkan kesalahanmu. Selama ini kamu telah tega memfitnah adikmu sendiri hingga kami pun bahkan terpengaruh oleh ucapanmu. Kamu juga telah berusaha menghancurkan hubungan adikmu dengan nak Louis dan rencana apa lagi yang kini kalian ingin bikin lagi? Ingin menculik Safa? Jangan harap bunda memaafkan mu."
__ADS_1
"Bunda tidak adil!" Lisfi berteriak kesal. Dari kecil dia merasa dibedakan. Oleh karena itu setelah dewasa dia ingin mendominasi kasih sayang orang tuanya. Termasuk pak Ramlan yang notebene-nya hanya seorang ayah tiri baginya.
"Bunda Farah tidak adil!" Lisfi berteriak histeris membuat sebagian orang yang belum pulang menoleh ke arah meraka. Hal itu membuat amarah Farah jadi terpancing keluar.
"Tutup mulutmu Lisfi! Jangan mempermalukan bunda di tempat ini!"
"Memang benar kan selama ini kasih sayang bunda cuma sama Safa saja, sama Lisfi tidak pernah tulus."
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Lisfi sehingga meninggalkan bekas merah di sana.
"Tampar Bunda, tampar!" teriak Lisfi kalau perlu Lisfi ingin mati di tangan bunda, bukan mereka." Tunjuknya pada orang-oramg suruhan Louis.
"Jangan ngelantur ya kamu bicaranya!" Farah masih terlihat murka.
"Semua gara-gara kamu. Seharusnya aku tidak pernah mempunyai adik sepertimu," ucap Lisfi geram.
"Lisfi bunda akan katakan yang sebenarnya." Suara Farah mulai terdengar melemah.
"Sejujurnya kasih sayang bunda untukmu dan juga Safa tidak ada bedanya tetapi terkadang bunda merasa kecewa saat melihat dirimu. Mungkin itu yang membuatmu merasa bahwa kasih sayang bunda tidak tulus tapi sebenarnya cinta bunda sangat tulus buat kalian berdua."
"Kenapa bunda, kenapa harus kecewa sama Lisfi?"
"Karena sebenarnya kamu bukan anakku. Kamu hanyalah anak dari Rangga dengan kekasihnya."
__ADS_1
"Apa?!" Lisfi merasa syok.
"Itu tidak benar kan Bunda?" Lisfi berharap Farah hanya bicara melantur karena amarah.
"Kamu tahu setelah tujuh hari pernikahan kami ayahmu -Rangga- membawamu padaku dan mengatakan bahwa dia sudah memiliki anak dari orang lain. Dia membawamu kepadaku dalam keadaan yang masih merah. Waktu itu aku ingin marah mengapa ayahmu tidak pernah jujur bahwa dia sudah punya kekasih. Kalau itu terjadi pasti aku akan menolak perjodohan kami. Namun sayangnya ayahmu merahasiakan hal itu hingga kami menikah. Kecewa itulah yang bunda rasakan saat itu. Apalagi ketika ayahmu memohon padaku untuk ikut merawat mu dengan alasan ibumu dalam keadaan kritis setelah melahirkan mu."
Lisfi menggeleng. "Itu tidak benar."
Bukan hanya Lisfi yang kaget tetapi Nindy dan pak Ramlan tidak kalah kagetnya.
"Farah kamu ngomong apa sih?" tanya Ramlan masih tidak percaya.
"Iya Mas semua itu benar. Aku selama ini merahasiakan semuanya darimu agar engkau juga bisa menerima kehadirannya dalam keluarga kita."
Pak Ramlan menghela nafas. Dia tidak pernah tahu akan hal itu. Dia pikir Lisfi memang anak Farah dengan Rangga. Oleh karena itu dia tidak ingin membedakannya antara Lisfi dengan Nindy karena takut dianggap tidak bisa menyayangi anak sambungnya itu. Selain itu diakhir hidupnya Rangga menitipkan Lisfi dan Farah secara bersamaan, dan yang lebih membuatnya menyayangi Lisfi karena di dadanya tertanam ginjal Rangga. Rangga berpesan pada dokter untuk mendonorkan ginjalnya kepada pak Ramlan di akhir hayatnya. Kebetulan saat itu pak Ramlan sedang mengalami gagal ginjal.
"Apa yang masih kamu pikirkan? Mereka bukan keluargamu, tidak mungkin mengampuni mu Kita harus segera kabur," bisik Mala di telinga Lisfi.
Lisfi mengangguk. Mala menarik tangan Lisfi kemudian membawanya ke luar ruangan. Mumpung semua yang hadir di tempat itu sedang lengah mereka punya kesempatan untuk kabur.
"Kejar mereka!"
Bersambung.....
__ADS_1