
Setelah mendapat alamat rumah sakit segara Lexi bergegas ke sana. Dia mengeluarkan motornya dari garasi agar lebih cepat sampai ke rumah sakit dimana Isyana dan Nathan berada.
Sampai di rumah sakit setelah memarkirkan motornya dia langsung menuju kamar rawat Isyana karena sudah tahu nomor kamarnya.
Lexi segera membuka pintu kamar rawat tersebut setelah sebelumnya menyapa polisi yang berjaga di depan pintu kamar rumah sakit tersebut.
"Hallo Nathan," sapa Lexi.
"Uncle sudah datang? Kok cepat uncle datangnya!" ucap Nathan yang sepertinya tidak percaya Lexi datang secepat itu. Baru sepuluh menit yang lalu dia mengangkat telepon dari Lexi namun sekarang Lexi sudah ada di depannya.
"Kayak nggak tahu uncle aja, uncle kan Valentino Rossi," kelakar Lexi.
"Hati-hati lo Uncle nanti malah uncle yang nabrak orang beneran."
"Tenang aja itu tidak bakalan terjadi. Ngomong-ngomong gimana kabar mamamu?"
"Seperti yang Uncle lihat mama belum sadar juga."
"Terus kenapa dahi kamu diperban gitu?"
"Biasalah Uncle kena pukul orang-orang pas Nathan mau ngelindungi mama," jelas Nathan.
"Itu betis sama lutut kok memar, dipukuli jugakah?"
"Kalo yang ini Nathan tadi jatuh. Sudahlah Uncle nggak usah bahas Nathan. Uncle bisa nggak bantu mama supaya bisa bebas?"
"Kalo yang itu sudah uncle pikirkan, jadi kamu tenang saja. Bentar lagi mama kamu pasti bisa pulang ke rumah."
"Mommy sama daddy kamu belum datang?"
"Belum padahal sudah dari tadi siang mama ngasih tahu nya. Entah kenapa belum datang juga."
"Sudahlah Nathan nggak usah sedih kan ada uncle di sini."
Lexi menghampiri Nathan dan merangkulnya. "Tuh mama kamu kayaknya udah sadar."
Mereka berdua mendekat ke arah Isyana.
Perlahan Isyana mengerjabkan matanya kemudian membuka mata secara pelan dia mendapati Nathan sudah diperban.
"Nathan sini sayang! Nathan nggak apa-apa? Gimana kata dokter?" tanya Isyana khawatir.
"Nathan baik Ma, kata doker luka Nathan bukanlah luka yang serius. Nggak ada yang cedera juga."
"Syukurlah kalau begitu."
"Tuan Lexi sejak kapan Tuan ada di sini? Kok bisa tahu kalau kami dirawat di sini?"
"Tadi tidak sengaja saya melihat berita di tv tentang kecelakaan yang terjadi tadi siang setelah saya lihat ternyata tersangkanya adalah Anda jadi saya berinisiatif menelpon Nathan karena saya melihat dia ada di samping Anda," tutur Lexi panjang lebar.
__ADS_1
Disaat mereka sedang mengobrol tiba-tiba tiba Tristan datang. Dia berlari ke arah Isyana sambil berteriak, "Mama! Mama tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa sayang, sini peluk mama!"
Tristan pun memeluk Isyana.
"Atan kenapa?" tanya Tristan ketika melihat kepala Nathan yang di perban sambil menyodorkan mainan mobil remote ke tangan Nathan.
Tristan hanya tahu kalau Nathan terluka betis dan lututnya dia tidak tahu kalau Nathan terkena pukulan.
"Biasalah Itan hanya luka kecil saja," sahut Nathan.
"Kamu datang sama siapa? Mana mommy Lusy?" tanya Isyana.
"Mama Lusy nggak bisa datang katanya Ma soalnya tadi ada yang nelpon katanya kak Darren demam dan kejang-kejang dan Tristan tadi diantar pak sopir."
Bersamaan dengan cerita Tristan ponsel Isyana berbunyi. Ternyata Lusy yang menelpon.
"Hallo Kak gimana keadaan Darren?"
"Sudah mendingan setelah dikasih obat tadi. Maaf ya kakak nggak bisa datang ke situ!"
"Iya nggak apa-apa Kak. Kak Lusy jagain Darren aja. Kesehatan Darren lebih penting dari segalanya Kak."
"Iya Dek makasih ya atas pengertiannya. Apakah kalian baik-baik saja? Terus apakah Tristan sudah sampai?"
"Iya Kak kami baik kok dan Tristan sudah di sini."
"Iya Kak."
Dan panggilan pun berakhir.
"Ma uncle Lexi katanya mau bantuin kita supaya mama nggak ditahan," ucap Nathan.
"Benarkah Tuan?"
Lexi mengangguk.
"Apakah tuan yakin? Tuan tahu rekaman cctv di tempat itu sudah ada yang meretas dan orang-orang yang ada di sana malah bersaksi kalau saya yang menabrak anak itu. Jadi susah bagi saya untuk bebas apalagi saya tidak ada bukti." Isyana merasa putus asa.
"Anda tenang saja serahkan semuanya pada saya. Saya sudah berjanji pada Nathan untuk membebaskan Anda jadi apapun akan saya lakukan agar Anda bisa bebas."
"Terima kasih Tuan atas bantuannya."
"Ya sudah aku ke kantor polisi dulu untuk membereskan masalah ini."
Lexi beranjak ke luar dari ruangan.
"Hati-hati Uncle! Semoga uncle berhasil," ucap Nathan penuh harap.
__ADS_1
"Doakan saja."
Lexi pun meninggalkan rumah sakit dan menuju kantor polisi. Dia menunjukkan rekaman di ponselnya yang sempat ia rekam tadi siang. Sebenarnya ketika kecelakaan itu berlangsung dia sedang iseng memvideokan keadaan cafenya termasuk jalan raya di depan cafe tersebut.
Kebetulan aksi tabrakan tersebut sempat terekam oleh kamera ponselnya. Sebenarnya ketika kecelakaan berlangsung dia ingin mendatangi lokasi kejadian namun dia batalkan karena kebetulan saat itu dia kedatangan tamu dan dia melihat sudah banyak orang yang berlari ke tempat kejadian untuk menolong korban.
Selain itu moodnya pun saat itu sedang tidak baik makanya dia memilih untuk tidak ke sana.
Setelah melihat bukti video dari Lexi akhirnya polisi membebaskan. Isyana.
Lexi pun kembali ke rumah sakit untuk mengabarkan kepada Isyana dan si kembar bahwa Isyana telah bebas.
Setelah sampai di ruangan rumah sakit Lexi langsung menyapa Nathan dan Tristan.
"Hallo anak-anak uncle punya kejutan untuk kalian ayo tebak apa?"
"Nggak tahu Uncle," jawab keduanya. Sepertinya mereka malas berpikir.
"Mama kalian... sudah bebas."
"Beneran Uncle?"
"Yap benar, masa uncle bohong."
"Yee...." Kedua anak tersebut bersorak gembira. Lalu kedua anak dan ibu itu berpelukan dalam suasana yang mengharu-biru.
"Akhirnya mama bebas."
"Terima kasih Tuan."
"Terima kasih Uncle," ucap si kembar sambil memeluk Lexi.
๐๐๐๐๐
Di tempat lain seorang laki-laki terlihat tertawa mendengar berita Isyana menjadi tersangka kasus tabrak lari tersebut.
"Bagus kalau ibunya dipenjara aku akan lebih mudah menangkap anaknya. Rasain kamu Zidane aku pastikan seumur hidupmu kau tidak akan pernah bertemu dengan putramu, di saat kau tahu sudah memiliki putra di saat itu pula kau telah kehilangan putramu."
"Hahaha... untung saja aku segera menyuruh orang untuk menghapus rekaman cctv itu kalau tidak pasti akulah yang akan mendekam di tahanan."
Namun kemudian pria tersebut menjadi khawatir dan mengepalkan tangannya mendengar Isyana di bebaskan dan plat nomor mobil yang menabrak sebenarnya telah di temukan dan saat ini polisi sedang melacak keberadaan mobil tersebut.
Pria tersebut terlihat mengambil ponselnya dan menelpon
seseorang.
"Cari orang yang mau mengakui menyetir mobil yang saya pakai menabrak anak itu dan janjikan dia akan mendapat apa yang dia inginkan!"
TBC....
__ADS_1
Jangan lupa like setiap babnya ya agar Author jadi semangat! ๐ฅฐ