
Di dalam ruangan bersalin tampak seorang dokter kandungan dan beberapa perawat sedang sibuk menangani proses persalinan Isyana. Isyana sudah tampak menyerah. Tenaganya terkuras sudah sedang bayi dalam perutnya belum keluar juga.
"Ha ha ha, aku sudah tidak kuat Dok," ucap Isyana sambil terengah-engah.
"Operasi saja Dok," perintah Lana.
"Tidak bisa Nyonya bayinya sudah masuk ini, rambutnya sudah kelihatan kalau saja Nyonya Isyana bisa mengejan lebih kuat sedikit lagi pasti bayinya bisa kami tarik."
"Tapi aku sudah tidak kuat Dok." Ini yang ditakutkan Laras makanya sejak kemarin dia meminta Isyana untuk melahirkan sesar saja. Apalagi ketika dokter juga menyarankan sesar. Selain bayi dalam kandungan Isyana besar dia juga terlihat capek dan lelah karena setiap hari dia selalu menangis dan tak pernah mau pergi dari rumah sakit menjaga Zidane siang dan malam namun Isyana begitu keras kepala dia ngotot ingin melahirkan secara normal.
Melihat mamanya yang mengatakan tidak kuat Nathan dan Tristan terisak. Mereka mengintip mamanya dari balik jendela dan hanya bisa melihat wajah mamanya yang bermandikan keringat serta terlihat begitu pucat dan lelah.
"Ma, Mama yang kuat ya. Atan percaya Mama adalah Mama yang kuat."
"Ma, Mama jangan tinggalkan kami ya Ma. Kami tidak mau hidup tanpa orang tua."
"Hu hu hu...." Mereka menangis sesenggukan. Bagaimana tidak sedih melihat kedua orang tuanya sama-sama berjuang menghadapi maut. Mamanya sudah mengatakan menyerah sedangkan papanya koma entah sampai kapan sadarnya.
"Sya lihat tuh anak-anak kamu dari tadi mereka di sana tak pernah berhenti mengawasi mu. Selalu memberikan semangat untuk mamanya. Makanya kamu berjuang dong demi mereka. Kasihan mereka melihat kalian sama-sama lemah," ucap Laras menyemangati.
Isyana menoleh kepada anak-anaknya.
"Ma."
"Mama."
"Sayang!" Isyana tersenyum ke arah mereka.
"Mama yang kuat Ma!" Kalau saja diizinkan masuk ingin rasanya mereka mendampingi mamanya saat ini tapi sayang dokter melarangnya.
"Ma haus," ucap Isyana pada Laras.
"Air suster," pinta Laras pada salah satu perawat.
Perawat itu mengangguk mengambilkan air minum dan menyodorkan ke mulut Isyana. "Ayo minum Nyonya!" Isyana menenggak minumannya lalu kembali ke posisi semula.
"Sudah siap mengejan lagi Nyonya?" tanya sang dokter. Isyana mengangguk kemudian mencoba mengejan lagi. "Aaaaaaa!"
Namun tetap saja tak berhasil bayinya masih berada ditempat semula.
"Mama!" Kedua anaknya memanggil Isyana sambil menyeka air mata.
Di rumah sakit yang sama di dalam ruangan yang berbeda tampak Lana, Ara dan Lexi sedang menunggui Zidane. Lexi keluar dari kamar rawat Zidane karena sedang menerima telepon.
"Siapa yang menelpon Mas?" tanya Ara ikut keluar menguntit sang suami.
"Adrian."
"Mau apa om Adri?"
"Huuft." Lexi menghela nafas kasar. "Minta tolong supaya mencarikan Annete karena ternyata sampai saat ini Adrian belum menemukannya, katanya Annete tidak pernah pulang ke rumahnya."
"Mas menyanggupinya?" Lexi menggeleng. "Tidak mungkin aku pergi dalam keadaan keluarga yang seperti ini."
Naura mengangguk. "Tapi apa kita tidak kasihan sama om Adri?"
"Tenanglah aku akan meminta anak buahku di sana supaya membantu Adrian. Sudahlah yuk kita makan dulu sekalian beliin buat mama dan yang lainnya!"
"Baiklah." Akhirnya Lexi dan Ara meninggalkan kamar rawat Zidane menyisakan hanya Lana yang menjaga Zidane.
__ADS_1
Setelah Lexi dan Ara pergi, tiba-tiba Zidane terbangun dari tidur panjangnya. Dia langsung duduk begitu saja. Dia kaget sepertinya dia baru saja bermimpi ada yang memanggil-manggil namanya.
"Zidane kamu sudah sadar Nak." Lana yang menjaga terkejut melihat Zidane tiba-tiba saja sudah duduk. Rupanya dia ketiduran tadi.
"Mana istri saya dan si twins Tan?"
"Istri kamu sedang melahirkan dan mama kamu beserta si twins sedang menemaninya."
"Apa!" Zidane bangkit begitu saja dan melepas selang-selang yang ada di tubuhnya.
"Tunggu Nak aku akan panggilkan dokter dulu!"
"Tidak Tante aku sudah tidak apa-apa. Aku mau menemani istriku lahiran."
"Tapi Zidane, kamu baru..."
Zidane tidak mendengarkan perkataan Lana ia tetap berjalan meninggalkan ruangannya sendiri dan menuju ruang bersalin.
"Istriku berada di ruangan nomor berapa Sus?" tanyanya pada seorang suster.
"Ruangan bersalin no 1 Tuan." Tentu saja suster itu tahu. Siapa sih yang tidak tahu dengan istri pemilik rumah sakitnya itu.
"Apa saya perlu bantu Tuan?"
"Tidak usah saya bisa berjalan sendiri." Zidane melangkah menuju ruangan Isyana. Sampai di depan kamar melihat penampakan kedua anaknya yang menangis sesenggukan sambil mengusap air matanya.
"Boys, kenapa kamu menangis?" Zidane menghampiri keduanya dengan hati yang teramat khawatir dalam otaknya pasti terjadi sesuatu yang tidak beres pada istrinya.
"Papa! Mama Pa."
'Deg.' "Apa yang telah terjadi pada istriku?" batin Zidane, kekhawatirannya semakin bertambah namun ia mencoba untuk tegar demi kedua anaknya.
"Mama bilang sudah tidak kuat Pa."
Mendengar perkataan kedua anaknya buru-buru Zidane masuk ke dalam ruangan.
"Jangan masuk!" larang salah satu perawat.
"Eh maaf Pak, ku kira siapa," ujarnya kemudian setelah melihat siapa yang membuka pintu.
"Silahkan masuk Pak," lanjutnya.
Zidane tak mau mendengar ucapan suster itu berlalu begitu saja menuju tempat istrinya terbaring. Kekhawatirannya membuncah tatkala melihat wajah istrinya yang pucat.
"Zidane kamu sudah..." Ucap Laras terkejut melihat anaknya sudah sadar namun ucapannya dipotong oleh Zidane dengan anggukan.
Laras pun membalasnya dengan anggukan.
"Sayang itu suami kamu sudah datang," bisik Laras di telinga Isyana.
Isyana menoleh kemudian sebuah senyum terbit dari bibirnya.
"Mas Zidane kamu..."
Zidane sekali lagi menjawab dengan anggukkan. "Mas ingin memenuhi janji Mas sama kamu, menemanimu saat kamu lahiran putri kita. Sekarang Mas mohon kamu harus kuat dan semangat ya!" Isyana mengangguk entah karena bahagia atau rindu semangatnya tiba-tiba muncul kembali.
Zidane duduk di dekat kepala istrinya. Mengelus-elus rambut Isyana sambil sesekali mengusap keningnya yang berkeringat. Semua perawat dan dokter kembali ke posisi semula bersiap-siap untuk membantu persalinan.
"Ayo Nyonya tarik nafas dulu hembuskan!" Ucap sang dokter. Isyana pun menuruti perintah sang dokter dengan bersemangat. Dia melakukannya tiga kali kemudian bersiap-siap untuk mengejan.
__ADS_1
Dibantu sang dokter Isyana mengejan. "Aaaaaaaaa!"
"Oek oek oek." Seorang bayi perempuan akhirnya terlepas juga dari Kungkungan Isyana.
Zidane tersenyum dan mengucapkan banyak-banyak syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan keluarganya.
"Sayang lihat anakmu cantik persis dirimu!"
"Iya Mas terima kasih ya karena telah menepati janji menemaniku saat ini."
"Iya sayang."
Isyana tersenyum ke arah suaminya kemudian beralih ke bayinya namun kemudian dia pingsan.
Melihat Isyana pingsan Zidane menjadi gusar.
"Dok, Dok kenapa istri saya Dok?"
"Tenanglah Tuan! Istri Tuan hanya pingsan. Dia hanya kecapean karena proses lahirannya tadi lama. Tapi percayalah dia tidak apa-apa dan sebentar lagi akan sadar."
"Lebih baik Tuan berwudhu dulu dan saya akan membersihkan bayi Anda setelah ini Tuan bisa mengadzani nya," saran seorang perawat.
"Baik Sus."
Sebelum mengadzani putrinya Zidane sempat memanggil kedua anaknya.
"Sini Boys!"
Dan kini untuk pertama kalinya Zidane mengadzani anaknya disaksikan kedua putranya, Laras dan semua yang hadir di tempat itu.
Mendengar suara adzan Isyana yang pingsan tiba-tiba sadar. Ada senyum yang terbit di bibirnya tatkala melihat suaminya dengan khusuk melantunkan suara adzan.
"Bagaimana sayang apa suara Mas bagus?" canda Zidane setelah bayinya dia serahkan ke Laras dan menyadari istrinya telah sadar.
"Suaranya Fals Mas," ucap Isyana sambil tertawa kecil.
"Tenang sayang itu kan karena Mas baru sembuh dari sakit. Nanti deh aku nyanyiin tiap malem anak kita kalau kamu ingin tahu kemerduan suara saya."
"Hemm, Papa Papa! Dedek bayi itu jangan dinyanyiin tapi dibacain sholawat," protes Tristan.
"Iya nanti kalau dinyanyiin entar kaya Itan nggak tahu tempat, masa guru di depan ngajar dia di bekalang ngajar nyanyi," keluh Nathan.
"Benar boy?"
"Hehe... iya kadang-kadang Papa."
"Ada-ada saja nih anak Papa," ucap Zidane sambil mengacak-acak rambut kedua anaknya.
"Oma sini!" panggil Tristan pada Laras. Tanpa protes Laras yang sedang memperhatikan cucu kecilnya mendekat ke arah mereka.
"Suster tolong fotokan kami ya!"
"Baik."
Ya ampun kelakuan Tristan membuat Isyana tepuk jidat, dalam keadaan begitupun masih sempat-sempatnya dia ingin berfoto selfi.
Bersambung....
Bantu vote-nya ya Readersku tersayang! Biar levelnya bisa naik🥱Terima kasih 🙏love you all.
__ADS_1