Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 24. Menggagalkan Keinginan Tuk Balapan


__ADS_3

Setelah alamat terkirim, Louis langsung menyambar kunci motor dan segera mengendarai motornya dengan cepat menuju tempat lomba.


Sampai di arena, balapan hampir saja dimulai. Para peserta sudah berjajar rapi untuk menunggu instruksi kapan mereka bisa memulai aksi mereka.


Cit Ciiiit....


Louis yang datang dengan kecepatan motornya yang tinggi langsung mendadak berhenti di depan peserta yang berbaris.


"Hei bang jangan halangi jalan kami," tegur salah satu peserta.


"Iya bang acara akan segera dimulai, tolong menyingkirlah!" perintah seorang panitia.


Louis tidak menggubris perkataan mereka. Matanya menatap satu persatu peserta untuk mencari keberadaan Nindi. Cukup sulit baginya untuk mengenali mengingat Nindy menggunakan helm dan jaket kulit milik Dika.


"Jangan halangi jalanku atau kalian berurusan dengan polisi!" ujar Louis saat mereka mendesak tubuh Louis agar pergi.


"Aku tahu kalian melakukan pertunjukan ini pasti tidak ada surat izinnya kan? Apalagi acaranya diadakan di jalan umum, bisa mampus kalian semua."


"Apa dia salah satu anggota polisi?" tanya salah satu peserta.


"Saya bukan polisi tapi bisa membuat kalian semua ditangkap polisi," ujar Louis menantang sambil mengarahkan mereka dengan wajahnya agar melihat ke arah belakang dirinya yang telah standby beberapa anak buahnya di sana. Sengaja Louis menyuruh anak buahnya untuk menampakkan diri, untuk berjaga-jaga karena takut mereka akan main keroyokan.


"Bang jangan laporkan kami, kami mohon! Sebenarnya apa yang Abang inginkan dari kami?"


"Izinkan aku mencari wanitaku!"


"Wanitamu? Apa dia ada di sini? Abang bisa cari dibarisan penonton." Panitia mengarahkan Louis ke arah penonton yang ramai, bukan hanya kaum adam yang antusias tapi kaum hawa pun juga ramai yang ingin melihat pertunjukan lomba tersebut.


"Tapi dia bukan penonton di sini, dia adalah peserta dalam lomba ini."


"Oh peserta wanita? Mari saya antarkan karena peserta wanitanya memang hanya ada satu orang."


"Oke baiklah." Louis turun dari motornya dan berjalan mengikuti panita tersebut.


"Ini dia Bang, tapi tolong jangan laporkan kami."


"Oke terima kasih." Panitia itu hanya mengangguk.


"Turun!" perintah Louis langsung pada Nindy. Nindy hanya menoleh ke sana kemari mencari siapa yang sebenarnya diajak bicara oleh orang tersebut.


"Turun Nin!" pinta Louis lagi sambil menunjuk diri Nindy.


Nindy melepas helmnya kemudian mengibaskan rambutnya.


"Saya?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Iya kamu turun!"


"Enak aja aku kan juga ingin ikut lomba. Apa hak kamu untuk mencegah saya? Saya sudah daftar kok ke panitia dan saya sudah lolos tahap seleksi."


"Turun kataku!"


"Tidak." Nindy masih ngotot.


"Turun Nindy!" ujar Louis sambil membuka helmnya.


"Tuan?" Nindy reflek menutup mulutnya yang menganga karena kaget dengan kedua telapak tangannya.


"Tuan tahu darimana aku ada di sini?"

__ADS_1


"Kamu lupa ya bahwa anak buahku ada dimana-mana. Jadi jangan pernah berpikir untuk kabur dariku."


"Bukankah aku sudah izin pada Tuan? Mengapa tuan masih mengganggu ku lagi? Tolong izinkan aku untuk ikut lomba ini. aku berharap bisa menang dan bisa membayar hutang-hutangku padamu."


"Itu jika memang, kalau kalah?Kamu pikir gampang untuk menaklukkan mereka semua. Kalau kamu kecelakaan siapa yang repot? Kalau kamu mati bagaimana?"


"Biarkanlah Tuan, kalau aku mati pun tidak akan ada yang peduli. Mungkin itu lebih baik daripada aku harus terombang-ambing seperti ini."


Louis hanya menggelengkan kepalanya. "Mana Nindy yang aku kenal dulu? Mengapa Nindy yang ku kenal berubah menjadi lemah seperti ini?"


"Keadaan bisa mengubah segalanya Tuan termasuk diriku. Aku sudah teramat lelah menjalani hidupku ini."


"Turunlah kau bisa cerita di bawah."


"Tidak Tuan ku mohon izinkan sekali ini saja tuan membebaskan ku untuk bertindak."


"Aku akan membebaskan mu tapi tidak untuk yang ini, aku tidak ingin mengambil resiko yang tinggi kalau sampai aku mengizinkan mu untuk balapan."


"Tapi Tuan ini cara satu-satunya agar aku bisa dengan cepat membayar..."


"Hutang-hutangmu?" potong Louis.


"Iya," jawab Nindy sambil mengangguk.


"Tidak ada hutang-hutang lagi, cukup kamu berada di dekatku, mengusir rasa kesepian ku itu lebih dari sekedar membayar hutang-hutangmu."


"Tapi Tuan..."


"Tidak ada tapi-tapian." Tanpa mau mendengarkan ucapan Nindy, Louis langsung mengangkat tubuh Nindy dari atas motor lalu menggendongnya ala bridal style menunju motornya sendiri.


Nindy memberontak dalam gendongan Louis. "Lepaskan aku!"


"Jangan khawatir tuan kami bukan orang jahat dan mereka berdua sudah sangat akrab," ujar anak buah Louis meyakinkan.


Putri dan Dika hanya mengangguk kemudian saling pandang seakan bertanya siapa orang itu namun keduanya hanya mengangkat bahu bersamaan pertanda sama-sama tidak tahu.


Louis segera mendudukkan tubuh Nindy di bagian belakang jok motornya kemudian dia naik di depan dan bersiap-siap untuk mengendarai motornya. Nindy melepaskan jaketnya dan melempar pada Dika.


"Tangkap!" Dika pun menangkapnya.


"Pegangan!" perintah Louis pada Nindy namun wanita itu tidak menggubris perkataan Louis.


"Pegangan! Saya akan menunjukkan padamu bagaimana caranya balapan yang sebenarnya."


Louis langsung mengegas motornya membuat Nindy langsung pegangan erat pada pinggang pria tersebut.


Louis tersenyum melihat Nindy mau berpegangan padanya. Dia semakin menambah kecepatan laju motornya sehingga membuat Nindy semakin erat memeluk pinggangnya.


"Hati-hati Tuan, aku mau muntah," ujar Nindy sambil memukul bahu Louis karena laki-laki itu semakin menambah kecepatannya.


"Iya-iya." Louis langsung menghentikan motornya dan menepi ke pinggir jalan.


Karena mobil sudah berhenti Nindy langsung turun dan dia langsung muntah-muntah.


"Hoek-hoek." Louis membantu memijit leher dan dahi Nindy.


"Sudah?" tanya Louis setelah Nindy menghentikan aktivitas muntah-muntahnya.


"Sudah," jawab Nindy.

__ADS_1


"Maafkan aku ya Nin."


"Iya nggak apa-apa," ucap Nindy lemah.


"Bentar aku beli minuman dulu," ujar Louis sambil memanggil bapak pedagang kopi keliling.


"Pak sini Pak!"


"Iya Mas ada apa?"


"Ada teh hangatnya nggak?"


"Ada Mas, mau dibuatkan berapa, satu atau dua gelas?"


"Satu saja, yang satunya kopi ya Pak!"


"Baiklah, tunggu akan saya buatkan."


"Airnya satu Pak," pamit Louis


"Ambil saja," ujar pedagang itu sambil tangannya lincah menyeduh minuman.


Louis meraih air mineral dan membuka tutup botol plastik tersebut. "Ini kumur-kumur dulu." ucapnya pada Nindy. Nindy mengangguk dan menerima air mineral itu dari tangan Louis lalu meneguknya untuk berkumur-kumur dan meneguknya sedikit.


"Ini Mas teh hangatnya dan ini kopinya," ujar pedagang itu sambil menyodorkan dua gelas berisi kopi dan teh.


"Diminum gih biar sedikit hangat," ujar Louis pada Nindy dan Nindy hanya mengangguk kemudian melakukan apa yang diperintahkan. Sedangkan Louis menenguk kopinya sendiri.


"Gimana udah mendingan?"


"Udah enakan."


"Bagus kalau begitu kita langsung pulang," ujar Louis sambil membayar minuman mereka. "Terima kasih ya Pak."


"Sama-sama Mas."


"Tapi pelan-pelan ya nyetirnya," pinta Nindy.


Louis terkekeh. "Yang model beginian nih mau ikut balapan? Bukannya menang malah ada di deretan paling belakang. Itu pun kalau nggak jatuh sih," ujar Louis seperti orang mengejek bagi Nindy.


Nindy cemberut. "Iya kan aku nggak bawa helm, nggak pakai jaket jadi masuk angin deh." Nindy beralasan.


"Lain kali kalau mau bertindak itu dipikir-pikir dulu jangan grusa-grusu mengambil keputusan. Pikir dulu resikonya baru memutuskan."


"Iya," ujar Nindy sambil mengangguk. Dalam hati dia membenarkan perkataan Louis. Bagaimana pun masalah yang timbul dalam kehidupannya adalah salah satu akibat dari kecerobohannya sendiri.


"Ya sudah ayo pulang sepertinya ini mau hujan," ujar Louis sambil menyerahkan helmnya pada Nindy.


"Kan sekarang bukan musim hujan katamu tadi pagi."


"Tapi bisa jadi kan sekarang kan sudah masa peralihan apalagi akhir-akhir ini cuaca tak menentu."


"Iya juga sih."


"Ya sudah ayo naik!" ujar Louis yang kini sudah siap menyetir.


Nindy pun naik ke atas motor dan Louis langsung melajukan motornya kembali.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2