
"Kan yang bilang ke dokter itu Mama bukan Louis," ujar Louis lalu menghilang dari balik pintu.
Dia langsung berlari menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan mobil itu dengan cepat, kembali ke kantor. Sampai di sana Louis mengernyit, merasa aneh karena keadaan sedang riuh. Tampak beberapa karyawan dan polisi mencoba menangkap Pras yang sedang kabur. Semua akses keluar perusahaan ditutup untuk mencegah Pras bisa melarikan diri.
"Ada apa ini?" tanya Louis yang melihat keadaan sedang kacau balau bahkan terlihat beberapa karyawan belum melakukan aktivitas kerja padahal ini sudah masuk jam kantor lagi.
"Pras melarikan diri Tuan." Salah seorang anak buah Louis menjawab.
"Pokoknya aku tidak mau tahu kalian semua harus bisa menangkapnya!" Louis berkata dengan nada bicara yang tinggi, wajahnya terlihat murka.
"Harusnya kalian bisa menjaganya lebih ketat lagi! Kalian tahu kalau dia masih gentayangan di luaran sana, dia akan terus mengganggu hidup saya."
"Maaf Tuan, tapi saya yakin kita pasti akan bisa menangkapnya kembali. Dia tidak akan bisa pergi jauh dari sini karena selain jalannya yang terlihat pincang tadi, dia juga kena tembak oleh polisi di bagian betisnya sebab masih nekat berlari saat polisi memberikan tembakan peringatan. Jadi saya sangat yakin dia tidak akan bisa berjalan secara normal, dia sekarang berada tidak jauh dari sini, mungkin hanya bersembunyi saja. Jadi kami hanya perlu mencarinya di sekitaran sini. Oleh karena itu kami harap Tuan bisa bersabar. "
"Tangkap secepatnya, jangan sampai lolos!"
"Baik Tuan."
Dari arah lain tampak seorang karyawan menyeret Pras ke arah Louis.
"Ini Tuan penjahatnya," ujar karyawan tersebut sambil menyerahkan Pras. Louis tersenyum senang, rupanya tidak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk membalas perbuatan Pras pada Nindy. Siang tadi dengan begitu angkuhnya dia menyeret Nindy yang tidak berdaya, tapi sekarang dirinya malah diperlukan sama bahkan lebih parah lagi dari yang ia lakukan pada Nindy.
"Panggil polisinya!" perintah Louis pada karyawan lain. Mereka pun langsung mencari keberadaan polisi yang kini masih mencari keberadaan Pras dan hendak membawanya ke depan Louis.
Mendengar Louis bersuara Pras mendongakkan kepala menatap wajah Louis. Dia tampak kaget tapi sebisa mungkin dia menutup keterkejutannya itu.
"Kamu!" ucapnya geram sambil menuding wajah Louis.
"Kasihan sekali ya, pria yang tadinya berlagak sok kuat kini tidak berdaya lagi." Louis tersenyum mengejek, miris melihat keadaan Pras sekarang.
Pras ingin bangkit hendak memukul Louis namun ia mengurungkan niatnya tatkala menyadari kini dirinya sudah tidak berdaya lagi. Bagaimana bisa dia memukul Louis kalau untuk berdiri saja terasa sulit baginya.
"Akh." Louis mendesah lalu memukul dirinya sendiri. Tubuhnya terasa begitu remuk.
"Sebenarnya ini tidak cukup untuk membayar kejahatanmu terhadap calon istri saya, tapi ya sudahlah paling tidak saya puas karena akhirnya kamu bisa meringkuk juga di penjara."
"Calon istri?" tanya Pras heran.
"Ya, kamu pikir siapa wanita yang kamu sakiti itu? Dia adalah calon istri saya," terang Louis, Pras semakin kaget.
__ADS_1
"Ini polisinya Tuan."
"Tuan?" Pras semakin aneh mendengar semua orang memanggilnya Louis dengan sebutan 'Tuan'.
"Ya dia bos kita, dia adalah putra tuan Zaki yang akhir-akhir ini menggantikan posisi Tuan Zaki sebagai direktur utama perusahaan ini," jelas salah seorang karyawan membuat tubuh Pras serasa membeku mendengar kenyataan yang baru saja di dengarnya.
Bagaimana Safa bisa mengenal orang ini?
Polisi segera meringkus Pras.
"Kalau begitu kami pamit pergi," ucap salah seorang polisi setelah memasang borgol dan dijawab anggukan oleh Louis.
"Proses dia seadil-adiknya Pak." Pak polisi hanya mengangguk.
Louis mendekat ke arah Pras lalu menepuk pundak pria itu. "Selamat menikmati hari-hari bahagiamu di penjara." Sekali lagi Louis tersenyum mengejek sedang Pras membalas dengan senyuman pahit.
Karena Pras benar-benar tidak bisa berjalan, polisi mengambil tandu untuk menggotong tubuh pria itu. Bukan karena kasihan tapi karena tidak tahan menunggu Pras yang berjalan dengan menyeret tubuhnya seperti suster ngesot.
Setelah Pras dibawa masuk ke dalam mobil polisi, Louis bernafas lega. Satu persatu orang yang suka mengganggu Nindy sudah ia jauhkan dari gadis itu. Louis berharap setelah ini Nindy bisa sedikit merasa lebih tenang.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
"Tidak Tante." Nindy berbohong. Padahal sebenarnya mereka pernah bertemu di rumah Louis waktu itu. Nindy yakin waktu itu mama Ani tidak melihat dirinya di sana.
"Oh ya, apakah kamu tidak punya saudara kembar?"
"Tidak juga Tante."
"Oh begitu ya. Ya sudahlah mungkin Tante hanya salah lihat."
Nindy mengangguk.
"Siapa namamu?"
"Nindy Tante."
"Oh Nindy ya. Ada hubungan apa kamu sama anak saya?"
Nindy menunduk tidak tahu harus berkata apa. Haruskah dia Jujur? Tapi jujur seperti apa? Apakah dia harus mengatakan dirinya sebagai kekasih Louis ataukah hanya sebagai pembantunya saja?"
__ADS_1
Ah tidak, biarkan tuan Louis yang menjelaskan semua pada mamanya.
"Saya cuma pembantu di rumah Tuan Louis Tante."
Mama Ani mengernyit. "Pembantu?"
Mana mungkin Louis perhatian sekali dengan wanita ini kalau dia hanya pembantu. Pakai ngancam-ngancam segala lagi kalau aku sampai ngapa-ngapain dia. Tapi bisa juga sih Louis seperti itu bukankah dia memang baik pada semua orang. Sama Mira dia juga perhatian meski tidak sedalam ini. Eh tapi Mira kan memang ada ikatan famili sama dia meski hanya keluarga jauh di kampung.
"Iya," jawab Nindy membuyarkan lamunan mama Ani.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja, biar keadaanmu lekas pulih."
"Iya Tante terima kasih."
Mama Ani mengangguk, Nindy membaringkan tubuhnya kembali setelah tadi sempat duduk. Nindy mencoba memejamkan matanya namun tidak bisa tertidur. Dia masih tidak bisa melupakan perlakuan Pras tadi.
Sementara Nindy berbaring. Mama Ani masih saja penasaran. Dia ingat sesuatu, foto yang dikirimkan oleh Farah melalui chat di ponselnya, sepertinya mirip dengan gadis di depannya kini.
Mama Ani mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian mengecek foto tersebut. Ia terbelalak melihat wajah Nindy memang benar-benar mirip dengan foto tersebut.
Apakah Nindy ini adalah Safa ataukah keduanya hanya mirip saja?
"Kenapa Tante memandangku seperti itu?" Nindy yang risih dengan tatapan mama Ani langsung bertanya.
"Kamu belum tidur?"
"Nggak ngantuk Tante."
"Benar kamu tidak memiliki saudara kembar?"
"Tidak Tante. Mengapa Tante menanyakan hal itu lagi?"
"Ah tidak apa-apa, Tante hanya ingin memastikan saja." Nindy mengangguk.
"Aku harus harus mencari tahu apakah wanita ini benar-benar Nindy ataukah Safa seperti yang aku pikirkan," batin mama Ani.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, hadiah, komentar, favorit, dan rate bintang 5, terima kasih ๐
__ADS_1