Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 95. Kritis


__ADS_3

Mendengar kabar bahwa Lexi masuk rumah sakit Isyana, Zidane dan si twins langsung meluncur ke rumah sakit hari itu juga.


"Dion kamu urus semuanya ya sampai liburan mereka selesai saya akan kembali terlebih dahulu."


"Lo kenapa mendadak Pak?"


"Ia Yon Lexi masuk rumah sakit dan kami harus segera ke sana."


"Baik Pak, jangan lupa kabari saya tentang keadaannya nanti."


"Itu pasti."


Sampai di rumah sakit Isyana dan twins langsung menuju ruang rawat Lexi sedangkan Zidane menemui pimpinan rumah sakit untuk memastikan Lexi mendapat pelayanan terbaik.


"Pokoknya apapun lakukanlah untuk kesembuhan dia," perintah Zidane.


Sementara kedua putranya langsung menangis di samping Lexi ketika menyadari uncle satu-satunya yang selama ini dekat dengan mereka dalam keadaan kritis. Bagaimanapun Lexi adalah papa kedua yang dikenalnya setelah Edward.


"Uncle bangun! Jangan tinggalkan kami Uncle, kalau Uncle pergi nanti kita jalan-jalannya sama siapa? Maafkan kami Uncle. Bangun Uncle, bangun! Hiks hiks hiks. Mama Uncle Ma."


Isyana hanya mengangguk sambil mengusap-usap punggung mereka agar bisa lebih tenang, untuk berkata pun dia tidak mampu. Sedari tadi dia mencoba menahan dirinya agar tidak ikut menangis meskipun akhirnya bulir-bulir air mata pun lolos juga dari pelupuk matanya.


"Bagaimana keadaannya Tante? Apa kata dokter?" Mencoba menjauh dari Lexi dan berjalan ke arah mommy Laurens agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


"Dia masih belum sadarkan diri. Bahkan tadi siang jantungnya sempat berhenti berdetak. Kata dokter kalau dalam tiga hari ini belum sadar juga dia mungkin saja mengalami koma."


"Lex, Lex. Apa yang kamu lakukan sampai membuat mu seperti ini," keluh Isyana.


Isyana kembali lagi ke arah Lexi karena melihat kedua putranya saling berpelukan dengan Naura sambil menangis histeris.


"Sudah-sudah jangan menangis daripada kalian menangis mending kita sholat terus doakan Om Lexi biar cepat sembuh," nasehat Isyana pada kedua anaknya dan membuat mereka mengangguk lalu menuruti perintah mamanya untuk sholat. Berbeda dengan Naura ia tak bergeming sama sekali, masih setia di tempat.


Melihat Isyana dan kedua putranya keluar mommy Laurens pun ikut keluar. Sampai di luar ia menumpahkan air matanya. Sebenarnya dia tidak kuat melihat anak semata wayangnya terbaring lemah seperti itu namun sedari tadi ia tahan, berpura-pura tegar agar tidak semakin membuat Naura bersedih.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan putra kita Mom?" tanya Tuan Abraham kepada istrinya. Kebetulan dia ada kunjungan ke Indonesia sehingga sewaktu di telepon tuan Abrahan sudah ada di Bandara. Niatnya yang ingin langsung menemui rekan kerjanya terpaksa dibatalkan karena mendengar sang anak masuk rumah sakit.


"Masih belum sadar Dad. Apa yang harus kita lakukan Dad? Bagaimana kalau Lexi meninggalkan kita semua? Mommy nggak kuat Dad kalau kita sampai kehilangan anak kita, hiks hiks hiks."


"Mommy jangan ngomong seperti itu ah! Daddy yakin anak kita akan sembuh. Lexi itu anak yang kuat Mom, dia tidak akan menyerah dengan keadaan ini," ucap Tuan Abraham untuk menenangkan istrinya padahal dalam hati bergelut dengan perasaannya sendiri.


"Tapi Dad?"


"Hus, sudah-sudah kita berdoa saja demi kebaikan dia," ucap Tuan Abraham sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulut istrinya agar tidak melanjutkan bicaranya serta membawa Laurens dalam pelukannya untuk menyalurkan ketenangan setelah itu dia membawa istrinya kembali ke dalam ruang rawat anaknya.


"Mom dia...," tunjuknya pada Naura


"Ia Dad."


Tuan Abraham mengangguk dan menghampiri putranya. Bersamaan dengan itu Zidane beserta keluarga memasuki ruangan. Setelah berbicara sebentar mereka akhirnya pamit pulang."


"Ingat Uncle kalau kami ke sini lagi Uncle sudah harus sadar," ucap Tristan.


"Saya nitip Naura Tuan, Nyonya," kata Zidane pada orang tua Lexi karena Naura tidak mau diajak pulang. Kedua orang itu hanya mengangguk, mengiyakan.


"Bagaimana keadaannya Tante?"


"Ya seperti yang kamu lihat. Kamu Annete kan?"


"Ia Tante."


"Boleh kita mengobrol sebentar di luar?"


"Ia Tante."


Akhirnya mereka keluar membiarkan tuan Abraham berdua dengan putranya dan membicarakan sesuatu yang penting di luar sana.


Sudah beberapa hari ini Lexi dirawat di rumah sakit namun ternyata sampai sekarang ia belum sadar juga. Menurut dokter dia mengalami kerusakan ginjal akut yang bisa saja membuatnya koma.

__ADS_1


Sebenarnya mommy Laurens kecewa terhadap Naura ketika mengetahui kenyataan yang terjadi antara Naura dan putranya. Namun melihat Naura yang begitu tulus dan masih setia menunggui Lexi di kamar rawat membuat hati mommy Laurens menjadi luluh. Bagaimanapun gadis itu tak kalah sedih dengan dirinya atas peristiwa yang menimpa putranya. Apalagi gadis itu tidak pernah berhenti menangis terkecuali dirinya ketiduran.


"Naura sayang makan ya Nak," ucap Laurens sambil menyodorkan makanan ke arah Naura.


"Naura tidak lapar Tante." Begitu selalu jawaban Naura ketika Laurens memintanya untuk makan.


"Ayolah sayang nanti kamu juga sakit. Kalau kamu sakit terus siapa yang bakal bantu Tante jagain anak Tante?" Rayuan yang biasanya mempan untuk membuat gadis itu menyerah dan mau makan namun kali ini sama sekali tidak berhasil malah semakin membuat gadis itu menangis sesenggukan.


"Om bangun! Sampai kapan Om akan seperti ini? Naura tidak kuat melihat Om terbaring seperti ini. Terus siapa yang akan melindungi nanti kalau ada yang jahatin Naura kalau Om terbaring tak berdaya seperti ini? Hiks hiks hiks. Jangan tinggalin Naura Om, bangun!"


"Naura sudah ya sayang lebih baik kamu mandi sekarang dan berangkat sekolah bukankah kamu beberapa hari ini sudah tidak masuk sekolah? Nanti kamu bisa dikeluarkan oleh pihak sekolah lo kalau kamu tidak masuk sekolah tanpa izin. Disini kan sudah ada tante dan suami Tante, biar kami yang jagain Om kamu."


"Tidak Tante aku akan tetap di sini menemani Om Lexi. Aku tidak mau sekolah sampai Om Lexi bangun."


"Sayang kamu tahu anak Tante akan sedih kalau kamu sampai bolos sekolah seperti ini."


"Suruh siapa dia nggak bangun-bangun Tante? Pokoknya Naura akan tetap di sini sampai dia sadar."


"Ya sudahlah kalau begitu." Menyerah lebih baik daripada berbicara tak berguna.


"Mom sepertinya cinta mereka kuat ya Mom?"


"Begitulah Dad."


"Daddy jadi nggak sabar pengen nikahin mereka kalau Lexi sudah sadar."


"Dad dia masih sekolah Dad."


"Ia nggak apa-apa nikahin diam-diam aja."


"Udahlah Dad jangan bahas itu dulu yang penting sekarang anak kita sembuh dulu." Padahal Tuan Abraham ingin mengalihkan kesedihan istrinya namun nyatanya tidak bisa.


Sementara di sisi lain Naura terus saja mengajak Lexi bicara walaupun sudah tahu pria di depannya tidak merespon.

__ADS_1


"Om bangun! Bangun Om hiks hiks hiks. Kalau Om tidak bangun Om akan menyesal karena Naura akan kembali ke Kak Febri," ancamannya.


Bersambung....


__ADS_2