Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 65. Sedikit Terkuak


__ADS_3

Jam sembilan malam acara pesta dansa dimulai. Alunan lagu-lagu pop dan Jazz yang indah terdengar dari ruang pesta. Kali ini pesta diadakan di sebuah ruangan yang luas dan desain sedemikian rupa agar menjadi nyaman. Beberapa panitia tampak membagikan topeng kepada para tamu.


Yuna tampak duduk di sofa di sudut ruangan tersebut bersama Vania. Mereka memilih mengobrol ketimbang ikut berdansa sedangkan yang lain sudah standby di tempat masing-masing. Adrian dan Anette sudah siap di tempat dan memasang topengnya begitupun Lexi dan Naura yang sudah siap dengan rencananya. Sedangkan Darren dan Adel sok-sokan ikut tapi menjaga jarak dari para orang dewasa.


Lagu A Thousand Year dari Christina Perri menjadi musik pertama yang mengawali pesta dansa. Lagu yang cocok untuk menggambarkan suasana hati kedua mempelai yang menunggu sekian lama untuk mendapatkan pasangannya.


Kedua mempelai mulai berdansa diikuti semua yang hadir.


Tiba-tiba saja datang seorang laki-laki yang sudah bertopeng tanpa pasangan. Menoleh ke sana kemari mencari seseorang yang mungkin bisa menjadi pasangannya.


Vania yang melihat orang tersebut mencari gandengan segera mendorong Yuna ke arah laki-laki itu.


"Vania apa-apaan sih kamu."


"Sudah sana kamu berdansa mumpung lagi ada yang butuh pasangan," suruh Vania pada Yuna sambil terus mendorong tubuh Yuna.


"Nggak ah aku lagi males, lagian aku nggak kenal sama orang itu. Daripada dansa sama orang yang tidak aku kenal mending aku berdansa dengan Dion aja."


"Jangan macem-macem Lo, nggak ada yang boleh menyentuh my husband."


"Cih dasar bucin Lo, lupa apa kalau Dion itu dulu teman dekat aku."


"Pokoknya nggak boleh."


Di saat keduanya sedang berdebat laki-laki itu malah mengulurkan tangan ke arah Yuna. Yuna pun terpaksa menerima uluran tangan tersebut dan ikut berdansa dengan pria tersebut.


Ketika berdansa Yuna seolah mengenali orang tersebut. Dari wangi parfumnya dia seolah mengenal pria tersebut tapi entahlah dia tidak berani menebak-nebak apalagi lampu di tempat tersebut dibuat agak buram hingga penglihatannya tak bisa diandalkan.


Lagu-lagu terus berputar dan berganti dengan lagu-lagu romantis yang lainnya. Setelah beberapa lama lagu berganti dengan musik yang lebih kencang. Bersamaan dengan itu lampu di ruang tersebut dimatikan.


Sesuai rencana Lexi melempar Naura ke arah Adrian dan Lexi pun menarik tangan Annete.


Kini mereka semua menikmati dansa tanpa tahu pasangan masing-masing. Sedangkan pria yang bersama Yuna enggan melepaskan Yuna sehingga tetap berdansa bersama.


Di ruangan yang lain nampak dua anak yang sedang fokus menatap layar komputernya. Ya Nathan dan Tristan tidak ingin terkecoh sedikitpun dalam pengawasannya. Mereka membagi tugas, ada yang mengawasi cctv yang ada di ruangan dansa ada yang mengawasi cctv di luar ruangan. Dion yang melihat keseriusan kedua anak tersebut hanya geleng-geleng kepala.


"Kayak detektif kecil aja," pikirnya.

__ADS_1


"Aku sepertinya kenal sama orang itu tapi dimana ya?" Nathan bergumam sendiri ketika melihat seseorang hendak masuk ke dalam ruangan tapi sebelumnya sempat membuka maskernya dan mengganti dengan topeng. Nathan dengan cepat langsung memotret gambar wajah pria tersebut.


"Oh aku ingat dia yang pernah mengejar mobil kami dan menyebabkan kecelakaan tiga tahun yang lalu di Paris yang menyebabkan mama Syasa terpaksa menjadi tersangka penabrakan tersebut." Bagi Nathan itu adalah peristiwa yang menakutkan selama masa hidup tanpa Zidane sehingga kejadian itu tetap melekat di memorinya hingga saat ini. Begitupun dengan pelakunya yang sempat dia lihat melalui kaca mobil saat mengejar mobil mereka tapi sayangnya saat itu mamanya tidak sempat melihat orang tersebut.


Mendengar perkataan Nathan, Dion dan Tristan segera menatap layar komputer.


"Kamu yakin Atan dia orangnya?"


"Iya Itan saya yakin saya masih ingat wajahnya."


"Bukankah itu Andy? Apa gunanya dia mau mencelakai kalian?"


Kedua anak tersebut hanya mengangkat bahu. Mana tahu mereka dengan keinginan orang itu.


"Andy itu siapa Om?"


"Saudara papa kalian."


"Bukankah papa tidak punya saudara?"


"Berarti benar kata om Jimmy dulu, dia bilang saya harus berhati-hati dengan keluarga Papa."


"Jimmy berkata begitu?"


"Ia, Atan dulu sempat memaksa om Jimmy untuk buka mulut sama Atan saja tentang siapa yang menyuruhnya waktu dia mau pergi tapi om Jimmy bilang tidak berani mengatakannya. Dia hanya menasehati Atan supaya berhati-hati dengan keluarga papa. Hanya saja waktu itu Atan tidak percaya mana mungkin keluarga papa mau mencelakai papa sendiri. Yang Atan tahu waktu itu keluarga papa hanya Oma dan Opa."


"Astaga ada apa ini sebenarnya?" Dion memijit pelipisnya yang tiba-tiba sakit. Bingung dan tidak mengerti dengan keadaan.


Tiba-tiba Nathan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo Paman, apakah Paman sudah mengganti kamera cctv di ruangan dansa?"


"Sudah Tuan kecil, Sudah kami ganti ke kamera pengawas yang lebih canggih seperti permintaan Tuan kecil agar kamera tetap bisa merekam gambar disaat keadaan gelap."


"Bagus kalau begitu, jadi saat mati lampu nanti kameranya bisa tetap bekerja. Tapi Paman, paman dan yang lainnya harus tetap mengawasi secara langsung orang ini untuk berjaga-jaga. Kalau orang ini melakukan hal yang tidak baik ataupun kejahatan segera tangkap dia!"


"Baik Tuan kecil apa boleh kami minta foto orang yang Tuan curigai agar kami dapat lebih fokus kepada orang tersebut dibanding yang lainnya?"

__ADS_1


"Oke akan segera saya kirim."


Nathan tampak mengotak-atik ponselnya kemudian mengirim gambar yang diminta anak buah papanya.


'Cring.' tiba-tiba ada notifikasi balasan dari anak buah tersebut.


"Baik Tuan Kecil perintah siap dilaksanakan."


Dion yang mengintip tulisan di handphone Nathan menjadi terkejut.


"Ya Tuhan apalagi ini, bagaimana mungkin seorang bocah seperti mereka sudah menyiapkan segalanya bahkan sudah berani mengatur anak buah papanya apalagi anak buah tersebut malah tidak melakukan konfirmasi dulu dengan Zidane atau diriku," ucap Dion dalam hati.


Disaat seperti itu muncul seorang anak buah Zidane yang lainnya yang kini sedang mencari Dion.


"Maaf Tuan aku ingin melaporkan sesuatu."


"Baiklah ada apa?"


"Maaf sebelumnya Tuan apakah tidak sebaiknya kita bicara di tempat yang lain mengingat di sini ada Tuan kecil."


"Tidak perlu di sini saja."


"Tapi Tuan saya tidak ingin membuat mereka resah karena mengetahui permasalahan orang dewasa."


"Kalau saya bilang di sini ya di sini, barangkali mereka mau mendengarkan juga," perintah Dion disertai anggukan kepala kedua anak tersebut.


"Kami sudah menemukan identitas pria itu."


"Maksudnya pria yang mana?"


"Yang hampir memperkosa Nyonya Isyana."


Kedua anak tersebut jadi antusias untuk mendengarkan.


"Baiklah lanjutan!"


"Nama lengkapnya Derly Sebastian. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai tour guide. Dia memiliki dua anak kembar wanita yang masih duduk di bangku sekolah SD yang bernama Richi dan Richa, istrinya bernama Salma pramudita. Mereka tinggal di salah satu desa di Bandung."

__ADS_1


__ADS_2