Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 62. Jelang Wedding


__ADS_3

Hari ini di kediaman Zidane nampak sibuk. Di sana sedang terjadi persiapan pernikahan. Kali ini Zidane dan Isyana memutuskan menikah di rumah utama. Mereka ingin mengusung tema garden dan sebenarnya ingin diadakan di tepi pantai saja namun mereka urungkan karena menganggap taman belakang rumahnya yang sangat luas cocok untuk dijadikan tempat pernikahan dan acara resepsi.


Sebelum acara pernikahan dimulai, malam hari sebelumnya diadakan acara pesta lepas lajang. Sebuah acara yang tidak penting sebenarnya mengingat Zidane sudah memiliki anak namun teman-teman semasa kuliahnya mendesak untuk tetap diadakan pesta lepas lajang atau bujang tersebut.


Beberapa teman Zidane sudah berkumpul melingkar mengelilingi meja di taman belakang. Mereka nampak bercanda sambil tertawa riang. Ada camilan dan beberapa botol whisky yang telah terhidang di meja.


"Ayo Bro kita bersulang dulu," ajak Edrick sambil menuangkan minuman ke gelasnya.


"Sorry aku sudah tidak minum, kalau ketahuan calon istriku aku bisa dipecat sebelum jadi suami," kata Zidane.


"Begitulah Bro makanya saya tidak mau cepat-cepat nikah, belum siap diatur-atur," balas Edrick sambil tertawa.


"Elo belum mau nikah bukan karena itu tapi karena belum bisa melepas cewek-cewek Lo yang seabrek," timpal Louis.


"Emang belum berhenti dia jadi cassanova?" tanya Dion.


"Belum, belum puas dia," ucap Louis cekikikan.


"Alah Lo ngatain orang Lo sendiri nggak ada bedanya," tandas Edrick.


"Kan gue ngikutin jejak Lo," ucap Louis.


Adrian dan Zidane hanya geleng-geleng kepala.


"Berhenti Bro emang kalian nggak pengen hidup normal gitu? Gue, pak Zidane, Adrian sama Andy aja udah punya anak tinggal kalian berdua aja yang masih belum."


"Emang Lo udah punya anak?" sindir Louis.


"Masih otw," ucap Dion.


"Istrinya masih bunting," ucap Zidane sambil terkekeh.


"Dri tumben Lo diem aja dari tadi?"


"Adrian lagi sariawan," ucap Dion.


"Aku nyimak aja deh," ucap Adrian.


"Bukan lagi keinget istri Lo yamg kabur itu ya," kelakar Louis.


"Enak aja dia udah dapat yang baru," sanggah Zidane.


"What udah dapat gantinya?"


"Iya makanya Lo cepat nyusul biar nggak jadi perjaka tua."


"Gue mah udah enak dengan hidup gue. Berganti istri tiap malam."


"Cih nanti kalau udah tua menyesal Lo nggak akan ada yang merawat Elo. Gue yakin kalau elo nggak mau berhenti dengan kebiasaan Lo bisa-bisa nggak ada cewek yang mau jadi istri Lo."


"Siapa bilang? Sekarang para cassanova itu bisa dapatin perawan tahu."


"Hmm terlalu banyak baca novel kali dia. Hei Bro itu dunia halu ini mah dunia nyata. Kamu tahu yang di novel itu biasanya cassanovanya seorang CEO nah elo...."


"Iya-iya gue ngerti gue cuma pemilik club malam tapi gue bisa nikmatin pekerjaan gue sekaligus nikmatin apa yang ada di dalamnya."


"Ya sudahlah terserah Lo." Akhirnya Dion menyerah juga, tidak ada gunanya menasehati Edrick pikirnya.


"Ngomong-ngomong Andy si Abang Lo tuh mana?"

__ADS_1


Zidane mengangkat bahu. " Nggak tahu udah semenjak lama kami tidak bertemu."


"Tapi Lo udah undang dia kan?"


"Udah, aku serahkan undangannya ke om Reyhan biar dia yang nyampaiin aja."


"Eh dia siapa Bro?" tanya Louis ketika melihat Lexi berjalan ke arah mereka.


"Teman calon istriku," jawab Zidane.


"Sini Bro gabung!" ucap Edrick sambil melambaikan tangan ke arah Lexi kemudian menarik kursi yang kosong agar dapat di duduki Lexi.


"Kebanyakan ngomong gue sampai lupa, ayo bersulang!" ajak Edrick lagi.


Lexi dan Louis nampak menuangkan whisky ke gelas masing-masing.


"Ayo Bro," ajak Louis yang melihat Dion dan Adrian tidak merespon ajakannya.


"Ayolah jangan ajak Adrian, diakan seorang dokter. Mana mungkin minum-minum yang nggak sehat macam itu," ucap Zidane sambil tertawa kecil.


Edrick mencebik. "Terus Lo nyediain minuman ini buat apa kalau lo-lo pada nggak mau minum," protes Edrick.


"Emang nyediain buat kalian berdua takut nggak datang kalau tidak ada itunya," jawab Zidane santai.


"Ya udah deh gue temenin." Akhirnya Dion ikut menuangkan minumannya ke gelas karena merasa tidak enak dengan kedua teman-temanya.


"Beneran Lo nggak mau minum Dan?" tanya Louis lagi untuk memastikan. Zidane menggeleng.


"Dia takut peristiwa tujuh tahun yang lalu terulang lagi," canda Dion.


"Dion!" Zidane melotot ke arah Dion.


"Sorry pak."


"Biarin," sungut Dion.


Mereka semua tertawa menertawakan Dion dan juga Zidane kemudian menyatukan gelas mereka dan meneguk minumannya. Sambil minum Edrick mengambil rokok dan menyalakan dengan pemantiknya. Sesaat asap rokok mengepul ke udara.


Di sudut berbeda Naura dan Yuna juga si kembar nampak sedang bakar-bakar barbeque. Mereka tampak bergelut dengan asap.


Zidane menghampiri Naura untuk meminta tolong mengambilkan minuman jus dan mengantarkannya pada meja mereka. Ya sudah sehari ini Naura dan Yuna dimintai Zidane untuk menemani Nathan dan Tristan karena hari ini mamanya dan perempuan yang lainnya seperti Vania dan Annete memilih berkumpul di rumah Atmaja menemani Isyana.


"Minta sama bibi-bibi di dapur aja ya!"


"Baik Tuan."


"Jangan panggil Tuan panggil om saja ya soalnya anak-anak kan panggil kamu kakak."


"Baik Om."


Naura beranjak ke dapur kemudian keluar dengan gelas-gelas berisi minuman dan menyuguhkan di meja para teman-teman Zidane di susul Yuna yang juga membawa daging barbeque yang sudah matang.


"Siapa bilang nggak ada yang mau jadi istri aku?" goda Edrick sambil memainkan matanya ke arah Yuna.


Yuna yang mengerti langsung berkata, " Ih jijik."


"Daripada Lo ngarepin yang tidak ada mending Lo sama gue aja," goda Erick lagi.


"Ih amit-amit mending gue jomblo seumur hidup aja daripada harus sama Lo."

__ADS_1


Mendengar pernyataan Yuna minuman yang ada di mulut Dion menyembur keluar karena menahan tawa.


"Emang gue kurang apa sih?"


"Bekas orang." Yuna menjawab sekenanya.


"Emang Lo pikir Andy bukan bekas orang?"


"Maksud gue bekas orang banyak. Kalau Andy kan nggak, jadi aman. Nah kalau elo bisa-bisa bawa penyakit kelamin."


"Tuh kan Yuna aja nggak mau sama elo."


"Tenang kalau yang dewasa nggak ada yang mau sama aku yang seperti dia juga boleh." Tunjuk Edrick pada Naura.


Naura hanya mengusap lengannya yang tiba-tiba bulunya merinding takut pada Edrick yang di leher sama lengannya di penuhi tatto.


"Ya Tuhan ternyata kamu bukan cuma cassanova tetapi pedofil juga," keluh Adrian.


"Jangan macem-macem sama dia, dia itu teman anakku."


"Emang kenapa kalau dia temen anak Lo?"


"Kalau sampai macem-macem elo bisa babak belur kena tonjokan Nathan," ucap Dion.


"Alah cuma anak kecil," bantah Edrick.


"Kemaren aku lihat dia menghajar seorang bodyguard yang tubuhnya jauh lebih kekar dari elo dan ternyata bodyguard tersebut kalah. Apalagi elo yang kelihatannya body kekar tapi kenyataannya lembek."


Edrick menelan ludah mendengar perkataan Dion sedang Dion tertawa jahat dalam hati melihat Edrick percaya saja dengan ucapannya.


"Sudah ah minumnya kalau kebanyakan saya takut entar kamu malah perkosa pembantu saya lagi," kata Zidane.


"Emang gue elo. Gue nggak mau ya tidur sama perempuan kalau tidak sama-sama mau."


Perkataan Edrick telak membuat Zidane merasa malu.


"Ngomong-ngomong gue kangen kita nge-band kayak dulu." Tiba-tiba Louis mengingat kenangan semasa dulu.


"Mana bisa saya sibuk," ucap Zidane cepat.


"Saya juga," ucap Adrian dan Dion hampir bersamaan.


"Lagipula vokalisnya sudah tidak ada," jawab Edrick.


"Kalau mau elo bisa gabung tuh sama anak-anak Zidane," ucap Dion sambil tertawa.


"Tuh managernya ada di sini," tunjukannya pada Lexi. Lexi hanya tersenyum menanggapi.


"Nanti Lo kasih nama bandnya Bopera aja."


"Apaan tuh?" tanya Adrian.


"Bocah kecil dan perjaka tua," ucap Dion sambil tertawa lepas.


"Hahaha...."


Semua yang hadir pun ikut tertawa termasuk Yuna dan Naura yang belum jauh beranjak dari tempat itu.


"Brengsek Lo Yon."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa Vote-nya ya biar author semangat.๐Ÿ™


__ADS_2