
"Sayang besok kita jalan-jalan yuk kayaknya kita sudah lama deh nggak jalan-jalan bareng sama anak-anak mumpung kita semua lagi libur," ucap Zidane pada Isyana pada suatu malam menjelang tidur.
"Ah nggak ah Mas aku kayaknya lagi males ini nggak pengen kemana-mana." Entah kenapa perasaan Isyana sepertinya tidak enak jadi akhir-akhir ini dia jadi malas keluar rumah.
"Ayolah sayang kasihan kan sama mereka semenjak kamu hamil kita jarang memperhatikan mereka."
"Baiklah Mas kalau itu mau Mas Zidane besok Syasa temani jalan-jalan."
"Nah gitu dong! Itu baru namanya istri yang baik menuruti keinginan suami."
"Sudah ah Mas kita tidur saja hari kan sudah malam."
Akhirnya malam itu mereka tertidur dengan pulas. Tengah malam ketika Isyana terbangun dia melihat Zidane sedang sholat tahajjud di kamarnya.
Tumben Mas Zidane sholat Sunnah biasanya sholat subuh pun harus dibangunin dulu.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Zidane sudah terbangun dan sudah terlihat rapi. Mungkin sejak sholat semalam dia tidak tidur lagi. Kalau tidak pasti dia tidak akan bangun sepagi ini. Kadang-kadang Istana suka meledeknya karena jam bangunnya selalu kalah dari di kembar. Zidane selalu bangun kesiangan dibanding kedua anaknya.
"Mas kok sudah rapi sih emangnya kita mau kemana?" tanya Isyana.
"Nggak tahu sih mau kemana terserah si twins deh dia maunya jalan-jalan kemana. Kemanapun kita jalan-jalan Mas akan merasa senang asalkan bersama kalian semua."
"Baiklah kalau begitu Mas saya akan memberitahukan anak-anak supaya bersiap-siap."
"Iya."
Setelah bersiap-siap mereka akhirnya berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama sebelum berangkat.
"Ma hari ini kita mau jalan-jalan apakah Mama mau ikut?" tanya Zidane pada Laras.
"Jalan-jalan kemana?"
"Kemana Boys?" Zidane malah bertanya pada kedua anaknya.
"Kemana ya Pa? Bagaimana kalau ke pusat permainan?" usul Tristan.
"Boleh," jawab Zidane.
"Aku ingin mengunjungi Opa Atmajaya Pa, Itan kangen sudah lama kita tidak menjenguk Opa."
"Oke, kemana lagi?"
"Pulangnya kita mampir ke taman kota Pa."
"Wah asyik tuh sepertinya,sayang Oma nggak bisa ikut karena Oma kan harus bantu-bantu Oma Lana sama Tante Ara buat pindah ke rumah mereka."
"Memang mereka mau pulang sekarang Ma?" tanya Zidane.
"Semalam ngomongnya begitu."
"Nggak mau makan bareng, mereka?"
"Mereka nggak mau tadi mama sudah ajak katanya mau makan di rumah mereka sendiri. Di sana pembantu mereka sudah menyiapkan makanan yang enak-enak buat menyambut mereka sekalian syukuran katanya."
"Oh gitu ya Ma."
"Iya apa tidak sebaiknya kalian ikut Mama aja ke rumah mereka?"
"Ah tidak Ma Zidane sudah ada planning hari ini jadi nggak bisa ikut."
"Kan bisa dibatalkan Nak. Kalian perginya bisa kapan-kapan aja."
"Iya apa tidak sebaiknya kita ikut Mama saja Mas," timpal Isyana.
"Nggak sayang biar kita lain kali main ke sana."
"Tapi perasaanku kok kayaknya nggak enak ya Mas aku takut terjadi sesuatu sama kita."
"Enggak enak kenapa sih? Yakinlah keluarga kita akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Bukan begitu Mas tapi tadi malam aku mimpi buruk, aku mimpi gigiku patah kata orang kalau mimpi gigi copot akan ada keluarga kita yang ... " Belum selesai Isyana berbicara Zidane sudah memotong perkataannya.
"Yang apa? Yang meninggal? Sya sya kamu ngaco aja itu kan cuma mitos, iya nggak boys?"
"Nggak tahu Pa kita belum belajar yang begituan," seloroh Tristan membuat Zidane geleng-geleng kepala.
"Ya sudah kita makan saja kalau bicara terus kapan selesainya," protes Alberto.
Akhirnya mereka semua menyantap makanannya tanpa ada yang berbicara namun sepertinya Isyana tidak nafsu makan pikirannya melayang entah kemana.
"Ayo sayang dimakan kok malah cuma diaduk-aduk makanannya?"
"Nggak tahu Mas hari ini Syasa tidak nafsu makan."
"Ya udah kalau begitu kamu bisa makan diluar nanti. Ayo berangkat!" Ajak Zidane karena melihat kedua putranya sudah berhenti makan dan dirinya pun sudah kenyang.
"Jadi Mas?" tanya Isyana masih ragu.
"Jadi lah, ayo Boys!"
"Zidane pamit Ma, Pa!"
"Iya Nak hati-hati."
Akhirnya Isyana mengikut langkah suami dan kedua anaknya ke mobil setelah pamit pada kedua mertuanya.
Dan kini mereka sudah duduk di mobil.
"Kemana dulu ini?"
"Ke rumah Opa dulu lah Pa."
"Oke, siap laksanakan." Si twins terkekeh melihat papanya bergaya seperti pemimpin upacara. Akhirnya pagi itu mereka mengunjungi kediaman Atmajaya dan bersenda gurau di sana.
Setelah puas mereka akhirnya menuju taman bermain. Susana mereka bermain seru dengan papanya sedangkan Isyana tidak ikut bermain hanya mengawasi ketiganya sambil mengambil foto keceriaan mereka bahkan terkadang ia pun ikut berfoto bersama mereka sambil tertawa-tawa puas. Hilang sudah ketakutan yang dari semalam Istana rasakan karena melihat wajah suami dan kedua anaknya yang sumringah.
Selesai menjelajahi bermacam-macam area permainan kini mereka beraksi berburu kuliner yang ada di sana. Ketika sedang asyik-asyiknya berburu jajanan tiba-tiba saja Isyana melihat claw macine atau mesin capit boneka.
"Kenapa kamu pengen dapet boneka?" tanya Zidane.
"Kita bisa beli aja langsung kalau main kayak gituan kalau nggak dapat nanti malah bad mood."
"Bukan bonekanya Mas tapi keseruannya yang ingin Isyana rasakan."
"Ya udah kita ke sana. Awas ya kalau nanti nggak dapet malah ngambek," seloroh Zidane. Memang akhir-akhir ini Isyana suka ngambekan.
"Nggak akan, janji," ujar Isyana sambil memperlihatkan dua jarinya membentuk piss.
Akhirnya setelah membeli koin Zidane menyuruh Isyana bermain duluan tapi dia malah tidak dapat apa-apa. Dapat dilihat sekarang mukanya jadi cemberut karena sudah lima kali boneka yang berhasil dia capit terlepas begitu saja.
"Ah kok lepas lagi sih, menyebalkan!" gumamnya.
"Tuh kan cemberut," ucap Zidane terkekeh.
"Ah nggak," ucap Isyana dengan tersenyum yang dipaksakan padahal dalam hati ngedumel sendiri.
"Biar aku yang nyoba Ma," pinta Tristan. Isyana mundur membiarkan anaknya yang bermain.
"Yee dapet Ma," ujar Tristan riang sambil menunjukkan boneka Bumblebee yang berhasil dia capit.
"Ya dapat yang itu," Isyana kecewa.
"Giliran Itan, sekarang aku yang nyoba."
"Oke Atan."
Nathan pun mencoba bermain. Beberapa saat kemudian dia juga berhasil mendapatkan sebuah boneka Doraemon.
"Hore dapat juga Ma." Isyana masih cemberut.
__ADS_1
"Kenapa kamu pengen yang itu?" tanya Zidane karena dari tadi Isyana tidak pernah berhenti memandangi boneka Teddy bear berwarna merah muda.
"Iya Mas Syasa suka yang itu habisnya di dadanya ada love-love nya gitu."
"Hemm suka yang lope-lope ya padahal Mas malah lebih banyak lope-lopenya buat kamu," ujar Zidane karena melihat boneka tersebut mendekap dua love.
"Mas jangan bercanda ah."
"Baiklah sekarang Mas yang akan nyoba siapa tahu bisa dapat yang kamu inginkan."
"Dedek Mas yang menginginkannya bukan Syasa."
"Jangan gunakan si dedek sebagai alasan," ucap Zidane sambil mencapit boneka tersebut. Kedua putranya hanya tertawa karena mereka lah yang sering menyuruh mamanya menggunakan si dedek dalam perut sebagai alasan setiap kali ingin sesuatu.
"Hei Mas Zidane bisa dapet, hebat Mas," ucap Isyana bahagia sekaligus bangga.
"Iya itu tandanya Mas selalu punya cinta di dada seperti boneka ini."
"Makasih ya Mas."
"Iya. Gimana kalau kita ke taman kota sekarang Boys kayaknya kalau sore-sore begini di sana pasti ramai."
"Oke Pa kita meluncur ke sana."
Akhirnya Zidane membawa Isyana dan kedua putranya ke taman kota. Benar apa yang dikatakan Zidane sore itu taman memang nampak ramai. Ya lumayanlah buat cuci-cuci mata sambil menikmati udara segar sambil mengobrol santai.
"Pa aku mau ke sana ya mau beli eskrim mochi."
"Ikut Atan."
"Iya hati-hati ya apa perlu papa antar?"
"Nggak usah Pa kami bisa sendiri."
Nathan dan Tristan menyebrang jalan sedang Zidane menerima telepon.
"Dari siapa Mas?" tanya Isyana khawatir karena wajah Zidane terlihat cemas.
"Dari kantor polisi mereka mengabarkan Belva mengalami gangguan jiwa dan polisi menyerahkannya pada rumah sakit jiwa."
"Tapi kenapa Mas Zidane tampak khawatir?"
"Pijak rumah sakit jiwa baru saja mengabarkan bahwa ia kabur. Aku takut dia akan... " Belum sempat Zidane meneruskan ucapannya orang-orang malah ramai berteriak.
"Awas ada orang gila."
"Orang gila."
Zidane menoleh ke seberang jalan seorang perawat rumah sakit jiwa sedang mengejar seseorang.
"Apakah yang mereka kejar itu Belva?" pikir Zidane.
"Gawat dia menuju si twins." Benar saja Belva sekarang sedang mendekati Tristan dan Nathan sedang berusaha melepaskan pegangan wanita tersebut.
Reflek Zidane langsung berlari ke arah mereka untuk menolongnya namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.
'Brak.' Mobil tersebut menabrak mobil di depannya dan mobil di depan mengenai Zidane. Terjadilah kecelakaan beruntun pada hari itu di jalan depan taman kota.
"Aaakh." Zidane mengerang kesakitan lalu pingsan.
Isyana dan kedua putranya segera berlari menghampiri Zidane yang kini bersimbah darah.
Mas Zidane!" Isyana berteriak histeris. Membuat semua orang langsung berlari kearahnya.
"Papa!"
"Tolong!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.💓