Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 150. Rencana Licik


__ADS_3

Setelah sampai di bandara Laurens langsung dijemput oleh sopir pribadinya sedangkan Annete menolak untuk diantarkan oleh Laurens terlebih dahulu karena takut merepotkan. Sebab jalan menuju ke rumah mereka berlawanan arah.


Setelah Laurens pergi Annete pun masuk ke dalam taksi bandara dan meminta sang sopir untuk mengantarkannya ke makam sang ayah terlebih dahulu. Sesuai niatnya dulu saat pulang akan langsung ke kuburan sang ayah.


Sampai di kuburan ayah Johan, Annete berdoa kemudian mulai bercerita. Lama Annete duduk di sana mengadu tentang segala hal, tentang keluh kesahnya, tentang perjalanan hidupnya tanpa sang ayah di sampingnya sambil menangis.


Setelah puas Annete pergi dari tempat itu dengan pikiran yang masih kacau. Sampai di depan area pemakaman dia langsung melihat sebuah sepeda motor yang sepertinya akan berhenti di depannya. Annete pikir itu adalah ojek online dari Uber yang dia pesan tadi. Ketika pengendara motor itu berhenti di depannya dan melambaikan tangannya tanpa pikir panjang Annete lalu mendekat. Tiba-tiba saja pengendara tersebut menyentak tasnya dan membawanya kabur.


Annete yang tersadar langsung berteriak minta tolong. "Tolong ada copet!"


Mendengar teriakan Annete beberapa orang yang ada di sana menghampirinya dan mencoba menolong dengan mengejar copet tersebut namun sayangnya mereka semua kembali dengan tangan kosong.


"Maaf Nona kami kehilangan jejak," ucap salah satu orang yang tadi mengejar pelaku.


"Maaf Nona kami tidak bisa membantu," ucap yang lainnya.


"Tidak apa-apa Tuan, terima kasih sudah mencoba menolongku."


Mereka mengangguk lalu meninggalkan Annete pergi. Setelah orang-orang tadi pergi Annete terduduk lemas. meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya bertambah kacau kini. Bagaimana tidak bukan cuma uang, identitas, ponsel dan ATM nya ada dalam tas itu. Dan tanpa ponsel dia tidak bisa meminta tolong siapapun. Tidak ada nomor dalam ponsel itu yang dia hafal. Dia menangis sendiri, menangisi nasib yang seolah tidak pernah berpihak padanya.


Di saat Annete merasa lemah, ada seorang laki-laki setengah baya yang menghampirinya. Laki-laki itu sedari tadi mengawasi Annete dari kuburan istrinya yang tidak begitu jauh sebenarnya dari kuburan Johan tetapi karena Annete tidak begitu peduli dengan keadaan sekitar dia tidak sadar akan hal itu.


"Annete, kamu Annete kan?" Pria itu mencoba menyapa Annete yang kini duduk sambil bertopang dagu karena merasa putus asa.


Karena mendengar suara, Annete mendongakkan kepalanya ke arah pria itu. Annete terkejut mendapati orang tersebut adalah suami dari Darla, kakak dari ayahnya. "Paman?"


"Kenapa kamu menangis?" tanya pria tersebut.


"Aku habis kecopetan Paman, semua uang milikku ludes," jawab Annete.


"Apa paman bisa mengantarku ke kantor polisi untuk melaporkan hal ini, karena sebenarnya saya sudah tidak punya uang untuk membayar taksi."


"Baiklah kalau begitu ikut denganku!" ajak pria tersebut.


Annete pun yang tidak pernah merasa curiga karena dia itu adalah pamannya menurut saja dan ikut masuk ke dalam mobil pria tersebut.


"Paman itu kantor polisinya," ucap Annete tatkala mobil yang ditumpanginya melintasi begitu saja kantor polisi.


"Tenang nanti saya akan menyuruh Wilson untuk mengurus semuanya. Sekarang kamu istirahat di rumah kami dulu."


Annete pun mengangguk. Tidak apa-apa sekalian dia mampir ke rumah pamannya itu karena dia pun memang sangat rindu pada bibi Darla dan adik sepupunya.

__ADS_1


Mobil melaju di jalanan dengan kecepatan sedang, beberapa saat kemudian mobil itu sudah terparkir mulus di halaman sebuah rumah yang besar dan mewah.


"Wah!" Annete menganga melihat penampakan rumah tersebut, pasalnya selama ini Johan tidak pernah mengajak dirinya mengunjungi rumah bibinya ini. Entah apa alasannya, Annete pun tidak tahu.


Setelah turun dari mobil Annete melihat Wilson berlari ke arahnya karena melihat wajah Annete.


"Wah kakak, tumben kakak kemari?" sapa Wilson dengan senyum yang merekah kemudian merangkul bahu Annete.


"Kebetulan tadi ketemu paman di makam ayah, kamu apa kabar?"


"Baik, kakak sendiri?"


"Baik juga. Bibi Darla mana?"


Mendengar pertanyaan Annete raut muka Wilson berubah jadi sedih. " Emang kakak belum tahu?"


"Tahu apa?"


Wilson menghembuskan nafas kasar. "Mommy sudah meninggal beberapa bulan yang lalu kak."


"Apa?!" Annete kaget sekaligus tidak percaya. "Kamu tidak sedang bercanda kan Wil? Kenapa kamu tidak mengabari kakak?" ucap Annete sambil mengguncang bahu adik sepupunya.


"Nggak kak, Wil nggak bercanda, mommy memang sudah tiada. Saat itu aku menghubungi kakak tapi nomor kakak tidak aktif."


Wilson hanya mengangguk. " Sudahlah Kak, ayo masuk," ajak Wilson kemudian melangkah ke dalam rumah diikuti Annete di belakangnya.


Setelah mempersilahkan Annete duduk dan menyuruh pembantu menghidangkan minuman. Wilson lalu mengantar Annete ke sebuah kamar.


"Ini kamar Kakak untuk sementara kakak tinggal di sini dulu ya, soalnya Wil masih kangen sama kakak."


"Mumpung Daddy lagi baik," lanjutnya. Mendengar perkataan Wilson Annete mengerutkan kening. "Apa maksud Wilson?"


"Wil aku boleh minta tolong?"


"Iya Kak."


Annete pun menceritakan tentang peristiwa pencopetan tadi dan meminta tolong Wilson untuk mengurus semuanya.


"Baik kak, akan Wilson usahakan."


"Terima kasih adik kakak yang paling baik."

__ADS_1


##


Dua hari ini Annete merasa bahagia karena seolah menemukan keluarga baru. Wilson begitu menyayangi dirinya begitupun pamannya yang seolah senang dengan kehadiran dirinya. Namun kesenangan hatinya harus terpatahkan kala paman Paul menyatakan tujuannya membawa Annete ke rumahnya.


"Kamu tahu kenapa saya membawamu ke sini?" tanyanya pada Annete saat mereka menyelesaikan makan malamnya.


Annete hanya menggeleng.


Plak. Paul menaruh kertas sambil menggertakkan tangannya di atas meja makan. Wajahnya nampak marah. "Lihat ini!"


Annete mengambil kertas tersebut dengan tenang kemudian membacanya. Entah mengapa keringat mulai bercucuran ketika membaca kertas tersebut. Annete sudah berpikiran buruk terlebih dahulu apalagi saat melihat ekspresi marah yang terpancar dari mata Paul. "Jadi paman yang telah membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya dengan tangan yang gemetaran sambil memegang kwitansi tersebut.


"Kamu pikir saya bodoh mau menanggung biaya rumah sakit ayah kamu?! Bibi kamulah yang telah membayar semuanya tanpa memberitahukan kepada saya."


"Terus paman maunya apa?"


"Bodoh, kenapa masih bertanya? Ya gantilah! Kamu pikir ayahmu akan tenang di sana karena mati membawa hutang? Ingat saya tidak akan mengikhlaskan semuanya!"


"Tapi Paman saya tidak punya uang sebanyak itu. Tapi Annete janji setelah ATM saya kembali saya akan menggantinya kemudian akan menyicil sisanya."


"Tidak bisa kalau kamu tidak menggantinya sekarang kamu harus bekerja pada saya." Wilson menelan ludah mendengar perkataan ayahnya sedangkan Annete mulai mengerti kenapa Wilson kemarin bilang mumpung Daddy lagi baik hati. Annete menyimpulkan bahwa Paul adalah orang kejam dan jahat.


"Saya tidak mau paman."


"Tidak mau?" Paul tersenyum menyeringai. "Kalau kamu tidak mau bakal ada kuburan yang terbongkar."


Annete terbelalak. "Maksud paman apa?"


"Pemakaman itu adalah pemakaian keluargaku dan itu tanahnya adalah milikku. Jadi kalau kamu tidak menuruti keinginanku aku akan menyuruh orang-orang membongkar makam ayahmu," ancam Paul.


"Apa?!" Annete terbelalak kaget dan sedih sedangkan Wilson menyayangkan tindakan ibunya yang masih menyimpan kwitansi pembayaran dari rumah sakit sehingga tanpa sengaja ditemukan oleh Daddy-nya.


"Baik paman aku siap bekerja di sini sebagai pembantu," saat ini Annete tidak ada pilihan lain selain pasrah.


"Siapa bilang kamu akan bekerja di sini."


"Terus aku harus bekerja dimana?"


"Kamu harus bekerja di...."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak; Lie, vote, komentar, dan hadiahnya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2