
Di tempat yang lain Zidane dan Lexi mengibas-ngibaskan tangannya setelah melumpuhkan anak buah Max.
Zidane langsung menelpon Edrick barangkali masih belum bisa merebut Annete dari tangan mereka. Mendengar mereka sudah terbebas dari anak buah Max, Zidane lalu menyuruh Lexi untuk membubarkan anak buahnya.
"Kalian bisa kembali," ujar Lexi pada anak buahnya. Mereka pun mengangguk dan memberi hormat kemudian kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
"Kita kemana sekarang?" tanya Lexi. Mereka berdua kini sudah berada dalam mobil.
"Ke rumah sakit," jawab Zidane santai.
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Jangan-jangan diantara mereka ada yang terluka parah ya!"
"Santai aja Lex, nggak ada kok katanya Adrian tadi Annete hanya terkena asam lambung saja. Mungkin selama ini selalu telat makan atau kebanyakan makan yang pedas-pedas."
"Oh begitu ya."
"Lex mengapa kau tiba-tiba ada di sini, bukannya Ara tidak mengizinkanmu pergi yah?"
"Masalah Ara udah aku atasi kok bang. Udah aku jinakin dia. Dia udah aku kasih ular kobra." Lexi terkekeh.
"Jadi dia ngizinin deh aku balik ke sini. Tapi dia bilang kalau masalah Annete udah kelar harus segera balik."
"Cih ular cobra, berbisa dong Lex?"
"Iya bisa-nya bikin perut kembung."
"Cih mentang-mentang aku lagi puasa kamu malah pamer."
"Sensitif banget sih bang. Kan tadi Abang yang nanya kenapa aku diizinkan sama Ara."
"Eh ngomong-ngomong kenapa Adrian kamu ajak, emang masalahnya sama Anisa udah kelar? Aku nggak mau lah nanti Annete kecewa lagi."
"Udah Bang, mereka sudah cerai."
"Secepat itu Anisa menyerah?" Zidane tidak percaya karena tahu seperti apa sebenarnya sifat Anisa.
"Ceritanya panjang Bang."
"Yang panjang kan anumu, coba ceritakan! Aku kan penasaran."
"Iya-iya deh!"
Untung dia kakak ipar gue kalau nggak, ogah ah aku nurut sama dia. Kepo amat sama urusan orang.
"Apa Lo pasti ngehujat gue kan? Ku pecat nanti Lo jadi adik ipar."
"Iya-iya Bang."
Lexi pun mulai bercerita.
Flashback On.
__ADS_1
Esok hari setelah Zidane dan Edrick pergi ke bandara, Adrian pun kembali mengurus surat cerainya dengan Anisa. Adrian mau setelah bertemu dengan Annete nanti dirinya sudah dalam keadaan bercerai dengan Anisa.
Setelah surat cerai di dapat dia langsung pulang ke rumah. Dia tidak membawa Adel karena Adel ingin tinggal bersama si twins untuk sementara waktu.
Sampai di rumah dia langsung masuk ke kamarnya. Adrian terkejut kala melihat Anisa sudah ada dalam kamar Adrian.
"Ngapain kamu di sini?"
"Ini rumahmu kan juga rumahku Dri."
"Cih maaf rumah ini tidak bisa menampung mu lagi."
"Selama aku masih menjadi istrimu aku masih berhak atas ini semua."
"Bibi!" Adrian kesal memanggil pembantunya yang telah lancang membiarkan Anisa masuk ke rumah.
"Iya Tu..an a..da apa?" Bi Sri berkata dengan gugup takut majikannya murka.
"Siapa yang mengizinkan dia masuk ke rumah ini dan ke kamar ini hah?"
"Maaf Tuan nyonya Anisa mengancam kami kalau tidak diperbolehkan masuk. Dia juga mengatakan akan melukai Non Adel kalau tidak diperkenankan masuk."
Prank..
Terdengar suara benda-benda yang di lempar oleh Adrian. Bi Sri ketakutan melihat majikannya murka.
"Terus bibi kasih kunci kamarku juga? Bukankah dia bisa tidur di kamarnya sendiri?"
"Kalau itu aku tidak memberikannya Tuan, aku juga tidak tahu kalau Nyonya Anisa tidur di kamar Tuan."
"Aku bahkan tidak bisa melupakan saat-saat kita memadu kasih di tempat ini dulu. Kalau kamu mau kita bisa mengulangnya lagi hari ini." Anisa menyosor Adrian.
Adrian langsung mendorong tubuh Anisa hingga terjungkal. "Cih menjijikkan, aku tidak sudi lagi menyentuh tubuhmu."
"Dri kenapa sih kamu berubah kasar seperti ini?" Anisa tak terima dengan perlakuan Adrian padanya. Adrian tak menjawab langsung melemparkan kertas ke hadapannya.
"Tanda tangani ini!"
"Sudah kubilang aku tidak mau berpisah Dri, kumohon ampuni aku."
"Bangunlah Nis!" Adrian membantu Anisa berdiri. Anisa tersenyum dia pikir Adrian sudah luluh.
"Dan tanda tangani ini!" bentaknya sambil menyodorkan kertas itu kembali.
Anisa mengambil kertas itu hendak menyobek kertas tersebut namun langsung ditahan oleh Adrian.
"Jangan disobek lagi atau kau akan menyesal! Kalau kau masih tidak mau menandatanganinya maka kita proses saja melalui pengadilan. Aku yakin aku yang akan memenangkan sidang karena sudah banyak saksi yang melihat kalau kamu yang bersalah dalam pernikahan ini. Kau yang telah meninggalkan Adel dan aku waktu itu dan memilih berselingkuh dengan pria lain."
"Kamu pikir dengan saksi saja akan cukup Dri? Tidak, kamu tidak punya bukti, aku bisa saja membalikkan fakta bahwa mereka sekongkol dengan mu. Mereka orang-orang bayaranmu."
"Siapa bilang Adrian tidak punya bukti?" Tiba-tiba saja Dion muncul bersama Lexi. Lexi yang mendengar kabar bahwa anak buahnya sudah menemukan jejak Annete segera ingin membawa Adrian ke Paris hari itu juga.
__ADS_1
Namun tak di sangka di rumah Adrian mereka melihat Adrian sedang bertengkar dengan Anisa. Mereka sedari tadi hanya melihat dan mendengarkan saja tidak bermaksud untuk ikut campur. Namun ketika Anisa mempertanyakan bukti Dion mau tidak mau ikut nimbrung dengan perdebatan mereka.
"Memang apa buktinya?"
"Oh kamu masih ingin bukti? Lihat ini!" Dion menunjukkan foto-foto Anisa yang bergelayut manja dengan Rayyan dan foto-foto hot mereka yang lainnya serta sebuah video.
"Brengsek Lo Yon, darimana kamu dapat foto-foto dan video itu?" Anisa mencoba merebut ponsel Dion.
"Kalaupun kamu bisa menghapus foto-foto di ponselku ini aku tidak masalah karena masih banyak copiannya. Dan ingat lebih baik kamu menyerah daripada harus mempermalukan diri di pengadilan nanti. Atau aku bisa saja menyebarkan foto ini agar kamu viral. Mau nggak Viral?" Dion terkekeh. Anisa mengepalkan tangan ingin meninju Dion namun segera ditangkap oleh Dion.
"Jangan macam-macam menyentuh diriku kalau kamu tidak ingin viral." Dion sengaja mengulang-ulang perkataan itu agar Anisa semakin terpojok.
Anisa mengepalkan tangannya tapi kali ini dia melayangkan tinjuan itu ke udara.
"Baiklah, mana aku akan tanda tangan tapi setelah itu kau harus menghapus foto-foto dan Video tersebut."
"Baiklah tawaran diterima." Ucap Dion.
Adrian memberikan kertas itu kembali pada Anisa dan Anisa menandatanganinya.
"Sudah," katanya lalu dia meninggalkan ruangan tapi sebelum pergi dia berbalik dan berkata pada Dion. "Awas ya Yon kalau kau tidak menghapus dan malah menyebarkan foto-foto itu aku akan mengganggu anak dan istrimu."
"Iya-iya pasti aku hapus."
"Siapa juga yang mau nyebarin ini bisa-bisa aku kena pasal," gumam Dion dan Lexi hanya cekikikan.
"Kamu dapat darimana Yon foto-foto dan video itu?" tanya Adrian.
"Dari Edrick, dia bilang barangkali semua ini berguna buat kamu nantinya."
"Tolong dihapus semuanya ya Yon dan kalau di Edrick masih ada kamu suruh hapus juga ya. Bagaimanapun dia itu bundanya Adel aku tidak ingin Adel malu." Bagaimanapun Adrian harus menjaga perasaan Adel.
"Iya pasti Dri, buat apa disimpan kalau tidak ada gunanya lagi."
"Terima kasih ya Yon."
"Sama-sama."
"Tumben kamu ke sini Lex, ada apa?" Kini Adrian beralih bicara pada Lexi.
"Kami sudah menemukan jejak Annete lebih baik kita menyusul Edrick dan Zidane sekarang Juga."
"Benarkah?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang juga."
Lexi dan Adrian pun menuju bandara menyusul Zidane dan Edrick sedang Dion harus kembali ke perusahaan karena tanggung jawabnya yang kini semakin besar karena Zidane, sang atasan tidak masuk kerja.
Flashback Off.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!"๐