Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 178. Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Setelah semua tamu sudah mengucapkan selamat seperti biasa kini semua teman-teman yang hadir di waktu itu juga kerabat yang lain berfoto-foto bersama.


Bagi yang tidak bisa datang siang itu bisa datang nanti malam di acara resepsi. Terutama teman-teman sesama dokter yang terhalang oleh tugas sehingga tidak bisa datang saat ini.


Saat semua sedang sibuk berfoto dengan Annete dan Adrian Angel masih saja sibuk dengan makanannya. Rasanya dia tidak ingin menyudahi makannya.


"Gel ayo foto-foto," ajak Isyana yang kini menggandeng si kembar. Adel pun sudah ada di tengah-tengah ayah dan bundanya.


"Mbak duluan aja saya masih mau menuntaskan makanan saya."


"Sikat Gel," ujar Annete sambil tertawa melihat sahabatnya yang semenjak hamil menjadi rakus.


"Ara sini!" panggil Louis.


"Apa sih Om?" Ara berjalan ke arah Louis.


"Jangan panggil Om lah saya kan berasa jadi om-om."


"Idih kan memang sudah om-om. Masih mau mengaku muda."


"Enak aja aku tuh teman Abang Lo seharusnya kamu memanggil saya Abang juga atau kakak juga boleh."


"Iya Kakak Louis ada apa?" ucap Ara dengan suara yang dibuat manja.


"Kok berasa aneh ya kamu memanggil kayak gitu."


"Biarin, ada apa sih?"


"Nggak ada apa-apa cuma saya minta kamu makan di sini aja biar Angel ada temannya."


"Emang Om nggak mau makan juga?"


"Aku udah dari tadi. Sekarang aku dipanggil tuh disuruh naik ke panggung mau foto-foto dulu."


"Oke," jawab Ara sambil mengangguk dan Louis bergegas naik ke panggung. Di sana sudah ada teman-temannya semasa kuliah. Ada Andy, Yuna, Dion, Zidane dan tentunya Adrian bersama Annete namun sayangnya Edrick sudah pulang terlebih dahulu.


Sampai di atas panggung mereka berbisik-bisik lalu tertawa bersama.


"Kenapa sih?" tanya Isyana yang kini sudah turun terlebih dahulu bersama si twins karena kali ini Zidane ingin berfoto-foto dengan para sahabatnya saja setelah tadi selesai berfoto bersama keluarga. Kini Isyana duduk di samping Lexi.


"Istrimu tuh Lex kayaknya boleh diadu dengan Angel kecepatan makannya."


"Oh itu sudah biasa," ujar Lexi datar. Sedangkan Isyana menoleh dan ikut tertawa.


"Untung saja para tamu sudah pulang kalau tidak mereka sungguh memalukan," ucap Isyana.

__ADS_1


"Biasalah Sya orang hamil juga para tamu pasti maklum, bawaan orok," timpal Lexi.


"Iya sih tapi apakah enggak kenyang mereka?"


"Nggak tahu juga sih."


Setelah acara foto-foto selesai Adrian dan Annete istirahat ke kamar mereka. Karena nanti masih harus menghadapi acara resepsi.


Para sahabatnya juga tidak kalah mereka juga masuk ke kamar mereka masing-masing di hotel yang sama untuk beristirahat.


"Yuk Adel sama Tante saja!" ajak Yuna yang melihat Adel ikut masuk ke kamar si kembar.


"Nggak apa-apa Tante, Adel sama kami aja," ujar Nathan.


"Biar Juju ada temannya," jawab Yuna sedangkan Andy memutuskan untuk pulang bersama para keluarga lainnya.


"Ya udah sana Del lagian nggak baik campur-campur sama kami kamu kan perempuan," kata Tristan.


"Cih sok tahu Lo kayak orang dewasa aja nggak boleh campur," protes Lexi.


"Kata mama kalau kamarnya campur nanti Adel bisa bunting kayak Tante Ara." Kena dah Lexi.


"Terserah kalian deh mau ngomong apa. Yuk sayang kita ke kamar saja." Yang diajak ternyata sudah tidak ada karena Ara sudah lebih dulu masuk kamar. Dia sudah mengantuk sedari tadi, waktu tidur siangnya sudah terlewat.


"Lo kok tidak ada?" Lexi terkejut Ara sudah tidak ada di belakangnya membuat si kembar tertawa lepas.


Malam hari acara resepsi pun di mulai. Kini Annete dan Adrian sudah duduk di pelaminan dengan anggun.


Terdengar seorang MC sedang membuka acara kemudian beberapa artis dangdut terkenal mulai bergiliran mendendangkan lagu. Sengaja memang keluarga Zidane mengundang artis-artis ibu kota karena pernikahan Adrian bertepatan dengan menjelangnya malam tahun baru sehingga keluarga dan teman-teman Adrian tidak harus repot-repot mencari hiburan di luar.


Setelah acara di tutup Adrian dan Annete pamit ke kamar mereka sedangkan yang lainnya memilih bakar-bakar di luar hotel. Mereka sengaja tidak pulang karena ingin menyambut pergantian tahun bersama-sama. Tidak terkecuali anak-anak. Adel, Juju dan si kembar pun antusias untuk menyambut pergantian tahun kali ini.


Kembali ke Adrian dan Annete. bukannya melakukan Mp keduanya malah tertidur pulas karena kelelahan.


Jam sebelas lewat tiga puluh menit Adrian terbangun. Dia mengguncang tubuh Annete dengan lembut. "Sayang bangun!"


Annete mengucek dan mengerjapkan matanya kemudian memandang ke sekeliling ruangan. "Kan masih malam Mas kenapa sudah bangunin aku?" protes Annete, dia sepertinya lupa bahwa dia baru saja menikah.


"Ih ini kan malam pertama kita sayang masa mau dilewatkan begitu saja."


"Oh iya aku lupa Mas, maaf ya mungkin efek masih ngantuk."


"Gimana kamu siap?" tanya Adrian karena tadi Annete mengatakan dirinya masih mengantuk.


Annete mengangguk. "Insyaallah siap Mas."

__ADS_1


"Sudah tidak mengantuk?" Adrian memastikan takut- takut di tengah perjalanannya nanti Annete ketiduran kan berabe.


"Iya Mas sudah nggak lagi."


"Baiklah." Adrian lalu menadahkan tangannya sambil merapalkan doa setelahnya ia meniup tangannya lalu diusapkan ke ubun-ubun Annete.


Tubuh Annete geriming seketika ketika Adrian mendekatkan wajahnya ke wajah Annete. Dia memejamkan mata tatkala Adrian mencium wajahnya kemudian membawanya dirinya berbaring ke kasur.


Ketika hendak melanjutkan aksinya tiba- tiba,


Sroot......dar dar dar.


Bunyi kembang api dan petasan terdengar bersahutan. Terdengar samar-samar riuh suara orang-orang yang menyambut pergantian tahun baru di bawah sana.


Adrian menghentikan aksinya karena terkejut sedangkan Annete Tampak ketakutan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Adrian yang melihat ekspresi yang berbeda dari wajah Annete. Tubuh gadis itu terlihat bergetar.


"Aku takut Mas."


"Takut kenapa?"


"Aku takut suara petasan, kayak bom saja," ucapnya sambil memeluk erat tubuh Adrian.


"Kamu takut suara petasan, sejak kapan?"


"Aku phobia suara petasan sejak kecil." Apalagi mereka sekarang berada di lantai teratas. Suara tersebut seolah sejajar dengan tempat mereka kini. Karena suara kembang api dan petasan itu seolah memenuhi langit.


"Oh begitu ya, tenanglah ada aku di sini jadi kamu tidak perlu takut," ujar Adrian semakin memeluk erat tubuh istrinya.


"Kenapa sih orang-orang pada nyalain petasan dan kembang api," protes Annete.


"Ini kan tahun baru sayang jadi kan sudah kebiasaannya begitu."


"Iya sih tapi bisa kan merayakan dengan cara yang lain?"


"Sudahlah kamu tidur saja lagi ya!"


Annete menggeleng. "Aku sudah tidak mengantuk."


"Ya sudah kalau begitu." Adrian berkata sambil mengelus rambut Annete yang kini sedang bersandar di bahunya.


Jadilah malam pertama mereka hanya peluk-pelukan semata.


"Gagal-gagal," ucap Adrian dalam hati, padahal sudah lama dia menginginkannya.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™


__ADS_2