Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 28. Bertemu Isyana


__ADS_3

Setelah Nathan dan Tristan diantar Dion ke mobil Lexi sekarang Nathan, Tristan juga Annete dan Lexi pulang ke hotel tempat mereka semua menginap tanpa tahu bahwa ada yang mengikuti mereka.


Sampai di depan hotel.


"Kalian masuk duluan ya sama aunty Annete saya masih ada urusan dulu," ucap Lexi.


"Baik," ucap keduanya.


Nathan, Tristan dan Annete pun melangkah ke kamar mereka, namun sampai di depan kamar Isyana Annete pamit kepada mereka untuk mengambil tasnya yang ketinggalan di mobil.


"Sayang kalian masuk duluan ya aunty mau turun dulu tas aunty ketinggalan di mobil."


"Baik Aunty."


"Ingat jangan keluyuran! Nanti kalo kalian tersesat aunty yang bakal disalahin sama mama kalian."


"Iya Aunty. Tenang aja kita nggak bakalan kemana-mana."


Annete turun ke lobi hotel sedangkan Nathan menarik tangan Tristan masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang kebetulan tidak terkunci.


"Apa-apaan sih Atan kenapa malah masuk ke kamar ini. Ini kan bukan kamar kita."


"Shut jangan keras-keras ngomongnya sepertinya ada yang mengikutinya kita," ujar Nathan.


Tristan pun menurut saja. Mereka masuk ke dalam kamar tersebut yang kebetulan ada seorang wanita sedang merias diri.


"Hei kalian siapa kok masuk ke kamar saya?"


"Eh maaf Tante ternyata kami salah masuk kamar," ucap Tristan.


"Kalian cuma berdua? Mana orang tua kalian?"


"Itu orang tua saya lagi ke bawah karena harus mengambil tas yang ketinggalan di mobil."


"Oh kalau begitu kalian boleh tunggu di sini. Nanti Tante anterin ke kamar kalian. Ingat enggak nomor kamar kalian?"


"Ingat sih kata mama nomor 109 tapi nanti ya dianterin nya kalo mama udah balik. Untuk sementara kami mau numpang di sini dulu boleh kan Tan?"


"Tidak masalah, boleh saja."


"Terima kasih Tante cantik," ucap Tristan.


Nathan mengintip dari balik pintu apakah orang yang sedari tadi mengawasi sudah pergi atau belum. Ternyata orang itu sudah tidak ada. Ya karena orang tersebut pergi setelah tahu dimana kamar mereka.


"Itan orang itu sudah pergi ayo kita balik ke kamar!" ajak Nathan berbisik di telinga Tristan.


Tristan hanya berkata 'oke'.


"Tante cantik kami pamit dulu ya! Mama kami udah datang tuh."


"Ya sudah kalian hati-hati ya!"


"Iya Tan."


Dan mereka berdua kembali ke kamar mereka.


"Lama amat sih sayang mana aunty Annete?" tanya Isyana.


"Kami tadi masih jalan-jalan Ma dan sekarang aunty Annete masih ke bawah mengambil tasnya yang ketinggalan di mobil."

__ADS_1


"Kalian sudah makan?"


"Sudah Ma."


"Yasudah sana mandi dulu biar seger!"


"Iya Ma." Dan keduanya mandi bergiliran.


Di luar hotel seorang lelaki menelpon seseorang.


"Bos saya sudah dapat alamatnya. Di hotel P kamar 103."


Esok Hari.


Pagi-pagi Zidane mendatangi hotel P sesuai informasi yang didapatkan dari Rama. Sampai di sana dia langsung menuju kamar 103. Zidane terpaksa menyuruh Rama mengikuti si kembar karena mereka enggan memberitahukan dimana mereka tinggal kepada Zidane bahkan nomor ponselnya pun mereka tidak mau memberi tahu. Kepada Dion mereka pun hanya memberitahukan nomor Lexi.


Tok tok tok. Zidane mengetuk pintu.


Seorang wanita cantik yang sudah rapi dengan pakaiannya membuka pintu.


"Maaf Anda mencari siapa?"


"Saya mencari Nathan sama Tristan. Apa benar mereka tinggal di sini?"


"Nathan sama Tristan?" si wanita tersebut tampak berpikir.


Zidane hanya mengangguk.


"Oh ya kemarin mereka sempat ke sini tapi kamar mereka bukan di sini kalau tidak salah kemarin mereka bilang nomor kamarnya 109."


"Oh ya, bukan 103 ya?"


"Kalau begitu terima kasih saya akan ke kamar 109 saja."


Zidane beranjak dari tempat itu namun wanita cantik tersebut memanggil Zidane.


"Mas, Mas tunggu dulu!"


Zidane berbalik, "Ya ada apa?"


"Sepertinya mereka sudah keluar tadi saya ketemu di restoran bawah katanya mereka mau pergi ke rumah salah satu keluarganya."


"Terima kasih infonya kalau begitu saya permisi."


"Sama-sama."


Zidane pun meninggalkan tempat itu dan berniat akan kembali esok hari.


Di tempat lain.


"Sayang baju yang mama buat untuk opa ketinggalan di hotel kayaknya mama harus balik dulu ya untuk mengambilnya. Kalian pergi saja duluan dengan uncle."


"Bagaimana kalau kita balik saja," tawar Lexi.


"Jangan ini kan udah hampir sampai lebih baik kalian jalan duluan aja takutnya ayah udah nunggu. Biar saya balik pakai ojek online aja biar cepat."


"Kamu yakin Sya?" tanya Lexi.


"Iya aku nitip anak-anak ya! Kira-kira kamu bisa nggak nemuin alamat itu?"

__ADS_1


"Bisa kamu jangan khawatir kami tidak akan tersesat," jawab Lexi sambil bergurau.


Setelah ojek online yang dipesan datang Isyana turun dari mobil dan beralih naik ojek.


"Hati-hati Ma," ucap si kembar sambil melambaikan tangan.


"Iya kalian juga ya."


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Dari luar hotel Isyana terburu-buru masuk ke dalam lobi karena saking tergesanya dia sampai tidak sengaja menabrak tubuh seseorang.


"Maaf." Isyana meminta maaf pada orang yang ditabrak tanpa melihat wajahnya.


Lelaki tersebut menoleh, Dia terperanjat melihat orang yang menabraknya adalah orang yang dicarinya selama 6 tahun ini namun tidak berhasil ditemukan. Sekarang wanita itu kini ada di hadapannya.


Untuk sesaat Zidane terpaku namun kemudian tersadar dan mengejar Isyana.


"Isyana tunggu!" sambil berlari ke arah Isyana sedangkan Isyana yang tidak mendengar panggilan Zidane tetap berjalan seperti biasa.


Sampai saat tangannya ada yang menarik baru Isyana menoleh.


"Pak Zidane." Isyana tak kalah terperanjat melihat lelaki yang ingin dihindarinya kini malah ada di hadapannya.


"Ikut aku!" Zidane menarik tangan Isyana.


"Lepaskan!" Isyana menghempaskan tangan Zidane.


"Please Sya aku ingin ngomong sama kamu."


"Bicara apa Pak? Diantara kita saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan."


"Saya minta maaf atas yang pernah aku lakukan sama kamu dulu."


"Tidak masalah saya sudah memaafkan Bapak, jadi bisakah sekarang Bapak tidak menghalangi jalan saya?" Isyana berlari menjauhi Zidane namun Zidane terus mengejarnya.


"Sya aku mohon berhenti!" teriak Zidane sambil terus berlari mengejar Isyana membuat orang-orang menoleh ke arah mereka.


"Bapak mau apa?" tanya Isyana ketika dirinya sudah lelah berlari.


"Ikut aku!" Zidane menarik kembali tangan Isyana.


Jantung Isyana berdebar-debar. Apa yang ingin dibicarakan Zidane?Apakah Zidane sudah tahu tentang anak-anak mereka? Apa yang harus dikatakannya pada Zidane?


Sebenarnya kondisi Isyana memang tidak fit. Dia sedikit demam dan pusing namun terpaksa dia harus menuruti keinginan kedua anaknya yang sudah tidak sabar ingin bertemu opanya. Sekarang malah ditambah bertemu Zidane yang membuatnya banyak berpikir membuat tubuhnya menjadi benar-benar kelelahan dan kini tubuhnya terhuyung dan pingsan. Untunglah Zidane segera menangkap tubuh wanita itu hingga tidak sampai membentur lantai.


Zidane membopong tubuh Isyana dan membawanya ke mobil. Dia melajukan mobilnya membawa Isyana ke apartemennya.


Sampai di apartemen Zidane segera menelpon dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Isyana.


"Dokter Rian cepetan ke apartemen saya!"


"Kenapa kamu sakit?" tanya dokter Rian yang juga merupakan sahabat dari Zidane.


"Bukan tapi ada pasien yang harus kamu periksa."


"Siapa?"


"Dokter Rian saya membayar Anda bukan untuk banyak bertanya."

__ADS_1


"Iya-iya saya segera ke sana."


__ADS_2