
Maximus langsung menyambar tubuh Lisfi dan melemparnya ke atas ranjang.
"Ampun Tuan, jangan lakukan ini. Aku mohon!"
Maximus tidak mendengarkan ucapan Lisfi. Pria itu terus saja bergerak ke arah wanita itu. Dengan sekali hentakan dia langsung bisa merobek pakaian Lisfi.
"Jangan tuan, jangan lakukan ini." Lisfi mencoba memberontak lagi tapi sayang tenaganya terkuras sudah.
"Jangan tuan aku sedang datang bulan," mohon Lisfi lagi saat pria itu mencoba menyentuh bagian intinya. Namun laki-laki itu sama sekali tidak perduli.
"Kamu tahu, aku suka bermain-main dengan darah. Mengerti?" Lisfi tersentak.
Dan akhirnya sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi sudah.
Lisfi menangis keras saat pria itu telah meninggalkannya seorang diri di atas ranjang. Dia meratapi nasibnya sendiri. Mungkin inilah hukuman dari Tuhan karena sebelumnya dia begitu mudah berzina.
Lisfi menekuk lututnya. Ia kemudian berteriak kencang saat melihat begitu banyak darah yang keluar dari tengah-tengah kedua pahanya.
Pembantu yang ada di sana langsung berlari ke arah kamar majikannya saat mendengar suara teriakan seseorang.
"Ya Tuhan." Wanita itu menggeleng melihat darah yang begitu banyak mengalir di sprei. Entah apalagi yang dilakukan majikannya kini. Yang pasti pembantu itu sudah seringkali melihat hal semacam itu namun dia tidak berani melaporkan kepada siapapun. Karena selain nyawanya yang terancam, nyawa keluarganya pun sama. Beberapa kali ia meminta untuk berhenti bekerja di tempat itu tetapi selalu mendapatkan jawaban ancaman.
"Nona kenapa? Saya telepon dokter dulu ya."
"Bik tidak usah lebih baik bibi bantu saya keluar dari tempat ini."
"Maaf Nona saya tidak berani, lagipula Nona tidak mungkin melarikan diri dengan keadaan seperti ini."
Lisfi meringis menahan perih yang sangat menusuk. "Bibi benar, saya tidak mungkin lepas dari pengaruh tuan itu dengan keadaan seperti ini.
"Tuan Maximus. Namanya Maximus. Besok dia akan pergi dan akan tinggal di luar negeri untuk beberapa hari. Kabarnya dia akan menyusun misinya kembali. Jadi Nona harus bersabar dan harus diobati supaya sembuh agar besok atau lusa bisa melarikan diri."
Lisfi tersenyum, sepertinya ada harapan untuknya agar lolos dari tempat itu.
__ADS_1
"Rena kenapa kamu masuk ke kamarku tanpa izin!" bentak Maximus pada pembantunya tersebut.
"Anu Tuan ... anu ... nona ini tadi berteriak kencang karena merasakan tubuhnya sakit. Sepertinya dia mengalami pendarahan."
"Panggil dokter kita ke sini dan ingat jangan coba-coba membantu wanita ini kabur dari tempat ini. Kalau tidak keluargamu yang jadi jaminannya."
Sang pembantu yang bernama Rena itu menelan ludah mendengar ucapan majikannya yang bahkan dia sudah hafal dengan kalimatnya itu. Ia segera bergegas keluar dan menelpon dokter kepercayaan majikannya.
Beberapa saat kemudian dokter tiba dengan dikawal oleh anak buah Maximus menuju kamar tuannya. Setelah diperiksa Lisfi dipindahkan ke kamar yang lain.
"Sebaiknya kau tidak lagi meniduri wanitamu dalam keadaan yang sedang menstruasi kalau tidak ingin hidupnya berakhir seperti wanita-wanita yang lainnya," nasehat sang dokter.
"Sok tahu kamu, tugasmu hanya memeriksa dan memberikan obat di sini. Bukankah kau bahagia kalau ada pasien? Kau akan dapat bayaran tertinggi memeriksa pasien di sini."
Sang dokter hanya menggeleng mendengar ucapan Maximus.
"Kenapa diam? Benar kan?"
"Sudah pergi sana tidak usah ceramah di tempat ini. Kalau mau khotbah di gereja sana."
Dokter itu menggeleng lagi lalu pergi meninggalkan rumah tersebut.
Esok hari Maximus benar-bebar pergi. Lisfi merasa sedikit lega karena tidak akan ada yang menyiksanya lagi, tetapi sayang kesehatannya belum pulih untuk bisa melarikan diri.
Lisfi memandang tiap sudut kamar. Lalu dia turun dari ranjang. Dengan langkah yang tertatih dia berjalan ke luar kamar. Mencoba melihat ruangan itu yang kemarin dia lewati saja tanpa mau memandangnya.
Lisfi terpukau melihat keadaan tempat itu, sangatlah besar dan megah. Bahkan barang-barang yang ada di tempat itu pun terlihat mewah dan bermerek. Lisfi pikir kalau saja ada orang yang membawanya kabur satu barang saja, orang itu pasti bisa langsung kaya.
Lisfi bergidik ngeri kala mengingat pemiliknya. Andai saja pemilik rumah itu adalah orang baik maka dia adalah orang beruntung yang bisa masuk ke tempat itu, tetapi sayangnya keadaan yang terjadi justru sebaliknya.
"Bagaimana keadaannya Nona?"
"Sudah mulai membaik bik, terima kasih ya bibi sudah merawatku."
__ADS_1
"Aku bahagia nona, bisa melakukan hal yang baik untuk nona. Nona beristirahatlah agar keadaannya cepat pulih. Nona harus bisa keluar dari tempat ini sebelum tuan Max kembali."
"Iya Bi terima kasih."
"Pergilah ke kamar Nona, aku akan mengambilkan makanan untukmu."
๐๐๐๐๐
Dua hari berlalu, ini hari ketiga sejak kepergian tuan Maximus. Keadaan Lisfi sudah mulai membaik. Hari ini dia bertekad harus bisa keluar dari rumah ini.
Rena membantu Lisfi dengan memasukkan obat tidur di makanan pak satpam hingga pak satpam tertidur pulas.
Dengan mengendap-endap ia keluar dari rumah dan menuju pagar rumah. Hampir saja ia membuka pintu pagar, tetapi alarm dari penjuru rumah langsung berbunyi keras memekakkan telinga. Anak buah Maximus langsung menangkap kembali Lisfi.
"Mau kabur kemana kamu ya!"
"Aku tidak mau kabur, hanys ingin berjalan-jalan saja," ujar Lisfi berbohong.
"Ingat tubuhmu sudah dimasukkan sesuatu oleh tuan Max, jadi jangan coba-coba untuk lari. Karena setiap kamu berniat akan lari maka alat itu akan memberikan sinyal dan alarm-alarm dari tiap penjuru rumah akan langsung berbunyi." Lisfi terlonjak kaget. Ia memegang perutnya. Alat apa?"
"Kamu tidak perlu tahu, dan kamu Rena jangan macam-macam. Jangan membantu dia untuk kabur kalau tidak ingin kena masalah."
"Tapi Tuan saya tidak membantunya."
"Jangan bohong kamu, rumah ini ada cctv-nya. Jadi apa yang kau lakukan meski tersembunyi pasti akan kami ketahui. Makanya kami tidak ingin menyentuh makanan yang selalu kau buatkan untuk kami."
Reta mendesah, ternyata sudah lama aksinya diketahui oleh anak buah Maximus. Akan sangat susah dirinya nanti untuk membantu membebaskan Lisfi tanda disadari oleh mereka.
Lidi memejamkan matanya. Ternyata dirinya harus tertahan di tempat ini lagi, entah sampai kapan.
Bersambung .....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐
__ADS_1