
"Pantas saja tidak pernah terendus ternyata pelakunya adalah orang dalam. Benar-benar musuh dalam selimut."
"Memangnya dia siapa Om?"
"Dialah yang namanya Jimmy."
"Oh pantas saja. Jadi om Dion sama paman Zidane selama ini dibohongi?"
"Ya begitulah dan bodohnya selama ini kami percaya begitu saja sama tuh orang."
"Kalian ngapain di sini?" Tiba-tiba saja Jimmy memasuki ruangan.
"Ingin mengecek cctv."
"Baiklah akan saya cek!"
"Tidak usah paman kami sudah mengeceknya."
"Bagaimana hasilnya?" tanya Jimmy pura-pura tidak tahu padahal dalam hatinya sudah yakin bahwa hasilnya akan nihil."
"Paman bisa melihatnya sendiri."
"Sebelum aku murka katakan apa mau mu dan siapa yang menyuruhmu!" bentak Dion sambil menggebrak meja rahangnya sudah mengeras menahan amarah.
"Maksud Pak Dion apa sih?"
"Kalau paman ingin tahu segera cek cctv-nya," saran Nathan dengan santainya.
Jimmy yang penasaran rubut segera mendekati komputer dan mengecek cctv tersebut.
Pias, begitulah penampakan wajah Jimmy kini setelah melihat rekaman kembali utuh dan tentu saja dia melihat dirinya sendiri yang melakukan aksi teror.
"Siapa yang menyuruh Paman?"
Jimmy hanya terdiam syok karena belangnya ketahuan.
"Lebih baik paman katakan sebelum pemilik perusahaan ini murka sama paman."
"Ada apa ini kok ribut-ribut?" Tuan Alberto tiba-tiba saja memasuki ruangan.
Kelu bibir Jimmy terasa kelu. Ia sudah yakin hari ini hidupnya akan tamat. Dia terdiam pasrah.
"Tuan tahu kita mencari seseorang untuk memperkuat keamanan jaringan komputer kita tapi nyatanya orang yang kita pilih malah mau menghancurkan perusahaan kita dan bahkan mau membunuh pak Zidane."
"Maksud kamu apa Dion?" Tuan Alberto tidak mengerti dengan yang dikatakan Dion.
"Dia, Dia pengkhianat Tuan. Dia yang selama ini melakukan teror bahkan saya yakin dia jugalah yang membocorkan rahasia perusahaan kita," lapor Dion sambil menunjuk wajah Jimmy sedangkan Jimmy menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.
"Benar itu Jimmy?"
"Maafkan saya Tuan."
"Maaf-maaf kalau sampai terjadi sesuatu sama anak saya kamu harus bertanggung jawab!"
__ADS_1
Jimmy masih menunduk.
"Kalau kakek Mike tahu apa yang kamu lakukan terhadap perusahaan dan anak saya apa dia tidak akan kecewa? Padahal dia dengan begitu yakinnya mempercayakan dirimu untuk membantu perusahaan ini."
Diam tidak ada suara.
"Katakan siapa yang menyuruh kamu?"
Tetap tak ada suara.
"Kalau kamu tetap diam saja maka aku tidak akan segan-segan memberikan suntik mati terhadap dirimu."
"Rama bawa dia ke ruang kosong di belakang perusahaan ini."
Rama yang diperintahkan segera melakukan tugasnya dia menyeret Jimmy ke ruangan yang dimaksud tuan Alberto sedangkan Dion dan Nathan mengikutinya dari belakang.
Sampai di ruangan tersebut Rama mengikat tubuh Jimmy pada sebuah tiang.
"Bagaimana apa kamu masih bersikeras untuk tetap tutup mulut?"
Jimmy masih diam membisu baginya lebih baik mati secara langsung daripada dibuat mati perlahan oleh orang yang menyuruhnya, apalagi keluarganya juga akan menjadi taruhan jika dia buka mulut.
"Rama ambil racunnya dan suntikkan pada tubuh pengkhianat ini!"
"Baik Tuan."
Rama mengambil jarum suntik dan mengisinya dengan cairan."
"Bagaimana apakah kamu akan menyerah?" Rama menakut-nakuti dengan memperlihatkan jarum tersebut dekat ke wajah Jimmy.
Rama mencoba menyuntikkan jarum tersebut dan Jimmy menutup mata namun sebelum jarum tersebut menyentuh tubuh Jimmy Nathan berteriak, "Hentikan!"
"Dion kenapa kau bawa anak-anak ke sini?" protes Tuan Alberto.
"Hentikan, kenapa Tuan tega melakukan ini pada paman Jimmy?"
"Karena dia telah melakukan percobaan pembunuhan kepada anak saya dan juga mau menghancurkan perusahaan ini selain itu dia tidak mau buka mulut tentang siapa yang telah menyuruhnya. Apakah itu tidak cukup untuk membuat kita tega terhadap orang ini?"
"Tidak Tuan alasan itu tidak cukup untuk membuat anda mengambil nyawa seseorang apalagi paman Zidane baik-baik saja."
"Terus kamu mau apa?"
"Lepaskan dia! Aku tahu dia masih diharapkan hidupnya oleh anak-anaknya. Tuan tidak tahu bagaimana rasanya tidak memiliki seorang ayah. Pasti anak-anaknya akan sangat sedih apalagi kalau sampai tahu ayahnya meninggal karena disuntik mati. Aku yakin dia punya alasan kenapa tidak mau memberitahukan siapa yang menyuruhnya kalau tidak dia pasti tidak berani mati."
"Baiklah aku akan melepaskan mu karena permintaan anak ini tapi ingat jangan pernah main-main dengan kami lagi. Kalau sampai kamu ketahuan melakukan kejahatan baik terhadap perusahaan maupun keluarga kami, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang," ancam tuan Alberto.
"Baik Tuan aku janji tidak akan membuat kesalahan lagi. Lagipula orang yang menyuruhku tidak akan memaksa ku lagi karena aku sudah ketahuan oleh kalian."
"Bagus kalau begitu. Rama lepaskan dia!"
Rama segera melakukan perintah tuannya melepaskan ikatan di tubuh Jimmy.
Setelah ikatan sudah lepas Jimmy berjalan ke arah Nathan dan bersujud di kaki anak tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih kamu menyelamatkan paman hari ini. Paman janji tidak akan mengulanginya lagi."
Nathan meraih tangan Jimmy. "Bangun Paman! Paman tidak perlu berlutut seperti itu. Kalau paman mau berterima kasih, berterima kasihlah pada Tuhan karena dialah yang membantu paman saya hanyalah sebagai perantara saja.
Jimmy bangun. "Kalau begitu saya permisi semuanya. Maaf aku tidak bisa membantu. Semoga suatu saat kalian bisa menemukan penjahat itu sendiri."
"Pergilah dan selalu ingat kata-kataku," ujar tuan Alberto.
Setelah Jimmy pergi Dion tertawa.
"Hahaha ...."
"Kenapa paman tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Ya jelas lah lucu orang obat itu cuma cairan vitamin kamu takut sampai segitunya."
"Apa cuma vitamin?"
"Iya kamu pikir aku sekejam itu? Aku hanya ingin menakut-nakuti Jimmy agar buka mulut tidak tahunya bukan Jimmy yang ketakutan tapi malah kamu," ujar tuan Alberto.
"Maafkan saya Tuan! Saya pikir itu racun sungguhan. Kalau aku tahu pasti aku...."
"Tidak masalah itu bukan salah kamu tapi salah Dion yang tidak mencegah kamu ikut kemari."
"Tapi walaupun dia tidak ikut pun sepertinya Jimmy tidak akan pernah membuka mulut dan kita akan ditertawakan karena efek racunnya tidak terasa."
"Iya juga ya."
"Yang penting kita sekarang bisa bernafas lega karena satu masalah telah selesai walaupun siapa dalang dibalik ini semua belum bisa ditemukan," kata Dion.
"Hei kamu." tunjuk tuan Alberto kepada Nathan.
"Iya Tuan."
"Karena kamu telah membantu kami memecahkan satu masalah kamu boleh meminta satu hadiah. Kira-kira hadiah apa yang kamu inginkan?"
"Separuh dari saham perusahaan ini."
"Apa separuh dari perusahaan ini?"
Nathan terkekeh, "Bercanda Tuan, aku hanya ingin di antar ke rumah sakit menemui paman Zidane."
"Hanya itu?"
"Ya hanya itu."
"Baiklah ayo ikut aku!"
"Rama antarkan kami ke rumah sakit!"
"Baik Tuan."
TBC....
__ADS_1
Yang menebak Jimmy selamat Anda benar!