
"Maafkan aku Om aku terpaksa berbohong, aku tidak ingin kau mengganggu hidupku lagi. Ini yang terbaik buat kita. Kalau aku masih dekat sama Om aku takut akan mengganggu hubungan kalian."
Melihat Naura yang berlari ke kamarnya dengan raut wajah yang sedih nenek Nisa menjadi khawatir. Dengan mendorong kursi roda Lana dia menghampiri Naura di kamarnya.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Nisa. Mendengar pertanyaan neneknya Naura semakin kencang menangis.
"Apakah karena Nak Febri?" tanyanya dia tahu Naura menyukai Febri dari cerita sahabat-sahabat cucunya dulu. Dia pun tahu bahwa Febri adalah seorang playboy jadi Nisa menyangka cucunya kecewa dengan laki-laki itu.
Naura menggeleng.
"Terus karena apa?"
"Om Lexi Nek."
"Lexi, kenapa dengan dia?"
"Dia pacaran dengan Tante Annete."
"Jadi kamu menyukainya?"
Naura mengangguk. "Tapi sayang Nek cinta Naura tak berbalas, hiks..hiks..hiks.."
Lana yang merasa tersentuh dengan tangis Naura mencoba menggapai kepala gadis itu dan mengusap rambutnya.
Naura yang merasa nyaman dengan sentuhan itu menoleh. "Nyonya! Nyonya sudah bisa bergerak?" Terkejut melihat Lana bisa menggerakkan tangannya begitupun dengan nenek Nisa.
Lana mengangguk dan dengan perlahan merentangkan tangannya meminta Naura masuk ke dalam pelukannya. Sejak melihat Naura Lana memang seperti melihat sosok Ara dalam dirinya. Makanya dia begitu nyaman berdekatan dengan gadis itu meskipun dia tidak tahu kalau Naura itu adalah Kiara putrinya. Naura pun tidak menolak ia masuk ke dalam pelukan Lana yang kini sedang menangis karena mengingat Putrinya.
"Sudahlah Nak berhenti menangis hanya karena seorang laki-laki. Nenek yakin kalau dia memang jodohmu maka dia akan tetap menjadi jodohmu tapi kalau bukan kita hanya bisa berdoa semoga kelak kau dapat yang lebih baik darinya. Sudah ya kamu istirahat dulu nenek harus bantu-bantu di belakang."
"Ia Nek," ucap Naura sambil mengusap air matanya.
Sementara Nisa hendak beranjak keluar cepat-cepat Nathan dan Tristan yang sedari tadi mengintip pergi terlebih dahulu. Sampai di belakang rumahnya melihat papanya sedang mengintrogasi pembantunya. Sedangkan teman-teman papanya sedang makan bersama.
"Bagaimana, ada yang mencurigakan tentang nenek Nisa?"
"Tidak ada Tuan hanya dia terlihat begitu dekat dengan Nyonya Lana sejak pertama kali bertemu dan kemarin ketika melihat Tuan Andy menghampiri Nyonya Lana dia buru-buru menghampiri Tuan Andy tapi sayang Tuan Andy nya keburu pergi."
"Ia Tuan sepertinya dia ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Tuan Andy," tutur yang lain.
"Hem, sepertinya dia menyimpan rahasia besar," tebak Zidane.
"Mungkin saja Tuan karena menurut informasi yang saya dapatkan nenek Nisa pernah bekerja di rumah Tuan Andy," ujar yang lain.
"Ya sudah kalian terus awasi dia dan sekarang boleh kembali ke posisi masing-masing. Saya mau menemui sahabat-sahabat saya dulu."
"Baik Tuan."
"Baik Den."
"Boys kalian darimana?" tanya Zidane kepada kedua putranya yang terlihat lesu.
"Dari kamar Kak Naura Pa."
__ADS_1
"Oh ya mana tuh orang kok nggak makan bareng yang lain?"
"Kak Naura lagi sedih Pa."
"Kenapa?"
" Sepertinya gara-gara Om Lexi Pa."
"Lexi, emang dia ngapain Naura?"
Keduanya kompak menggeleng. "Kayaknya Om Lexi Php-in Kak Naura Pa habis itu malah pacaran sama Tante Annete."
"Kalian ada-ada saja. Ya sudah ayo kita makan bareng. Nanti selesai makan kalian bisa mengantarkan makanan Naura ke kamarnya."
"Ia Pa."
Sedangkan di kamar Naura berpikir keras bagaimana caranya dia bisa melupakan Lexi secepatnya. Dia jadi teringat pada Febri yang sempat mengajaknya pacaran. Bukankah Febri masih memberikan dia waktu?
"Ya Kak Febri, seharusnya dia bisa membantu ku," pikirnya.
"Ya aku harus berusaha mengembalikan perasaanku dulu pada kak Febri," lanjutnya.
Dia meraih ponselnya lalu menelpon Febri.
"Halo Kak, bisa kita bertemu?"
"Bisa, kapan?"
"Besok sepulang kantor sekitar jam 4 sore di restoran tempat kemarin kita bertemu."
Sepulang bekerja Naura menolak ajakan Rachel untuk pulang bersama. Dia memilih naik ojek online ketimbang naik mobil Rachel. Padahal setiap hari biasanya Rachel yang mengantarkan dia pulang. Hal itu membuat kedua temannya yaitu Rachel dan Mita menjadi curiga dan memutuskan untuk mengikuti Naura.
Sampai di restoran cepat saji Naura langsung menuju meja tempat Febri menunggu.
"Hai Kak sudah lama menunggu?"
"Nggak baru saja, aku pesankan makan dulu ya!" tawar Febri.
"Nanti aja Kak aku mau ngomong dulu."
"Oke silahkan mau ngomong apa."
Sementara Naura berbicara dengan Febri kedua sahabatnya mengintip dari suatu tempat. Mereka terkejut ternyata yang ditemui Naura adalah Febri padahal mereka mengira Naura akan bertemu dengan Lexi.
"Kok Kak Febri sih!" protes Rachel.
"Ia jangan-jangan Naura menerima Febri lagi jadi pacarnya," lanjut Mita.
"Bukankah sekarang Naura menyukai Om Lexi ya?"
"Mana aku tahu."
"Eits, lihat tuh Naura mau kemana?"
__ADS_1
"Ayo kita samperin Kak Febri kita harus memperingatkan dia supaya jangan sampai macam-macam sama Naura."
"Oke ayo!"
Sementara Naura pamit ke kamar mandi kedua sahabatnya menghampiri Febri yang sedang memesan makanan.
"Kak!"
"Kalian, ada apa?"
"Kakak pacaran ya sama Naura?" Langsung ke inti.
"Ia, kalian kok tahu?"
"Tidak penting darimana kami tahu tapi yang penting kami minta sama kakak jangan sampai mempermainkan Naura kalau tidak hek!" ucap Rachel sambil menggerakkan telapak tangannya di depan lehernya sendiri seperti orang yang ingin menyembelih.
"Ia-ia, kalian tenang saja kok kali ini aku serius sama Naura. Jadi aku janji nggak bakal nyakitin dia."
"Bagus, kalau begitu kami pamit dulu. Pegang ucapan Kakak." Rachel mengingatkan.
"Nggak mau makan bareng?" tawar Febri.
"Nggak usah Kak, ayo Mit sebelum Naura datang kita harus pergi dari sini."
"Ayo."
Lexi memperhatikan kepergian dua sahabat Naura sambil menggelengkan kepala.
"Kak maaf lama ya menunggu?"
"Nggak Nau pesanannya aja baru dapet. Ayo kita makan dulu!"
"Baiklah Kak, tapi Kak, kamu nggak apa-apa kan kita menjalin hubungan seperti ini?"
"Tidak apa-apa nanti seiring berjalannya waktu Kakak yakin kamu bisa mencintai Kakak lagi dan selama itu Kakak akan bersabar menunggu sampai kau benar-benar mencintai Kakak."
"Terima kasih Kak atas pengertiannya."
"Ya sudah makan jangan terlalu dipikirkan."
"Baik Kak."
"Semoga secepatnya perasaanku kembali lagi ke Kak Febri seperti dulu dan masalahku akan berakhir. Semoga Kak Febri benar-benar setia dan bisa membuatku melupakan Om," batin Naura.
Selesai makan Febri mengantarkan Naura pulang dengan mogenya.
"Wah hebat Kak Naura baru kemarin nangis-nangis kini dapat yang baru," ujar Tristan.
"Syukurlah Itan biar Kak Naura nggak sedih lagi."
"Tapi apa ia yah Atan, Kak Naura bisa secepat itu melupakan Om Lexi?"
Nathan hanya menggendikkian bahu pertanda ia tidak tahu.
__ADS_1
Bersambung....
Segini dulu ya! Jangan lupa like, favorit, gifts, rate bintang 5, Vote dan komentarnya. Terima kasih.