Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 145. Ingin Kembali


__ADS_3

Di tempat yang berbeda nan jauh di sana. Di salah satu perumahan yang jauh dari keramaian kota nampak seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang berselisih.


"Rayyan kapan kamu akan menikahiku? Aku sudah lelah dengan hubungan kita yang sudah bertahun-tahun tapi tidak ada kemajuan dan kejelasan sama sekali. Sebenarnya kamu punya niatan untuk menikahiku apa tidak sih?"


"Nis sudah kubilang mana mungkin aku bisa menikahi mu dengan statusmu yang yang belum bercerai dari Adrian." Selalu begitu alasan yang dilontarkan Rayyan.


"Rayyan sudah berulang kali aku mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bercerai dengan Adrian sebelum kamu ada niatan serius untuk menikahiku. Aku tidak mau menyandang status sebagai janda. Selama ini aku sudah bersabar menunggu tapi ternyata kamu tidak pernah serius terhadapku. Kalau memang kamu tidak ingin menikahiku maka biarkanlah aku kembali kepada Adrian," ancam Anisa.


"Itu tidak akan kubiarkan Nisa!" bentak Rayyan dengan suara yang meninggi.


"Kalau kau tidak ingin semua itu terjadi maka segeralah nikahi aku!" Suara Anisa tak kalah kerasnya.


"Apa semua yang kuberikan tidak cukup untuk membahagiakanmu hah, hingga aku harus menikahimu juga? Bukankah hubungan kita selama ini sudah bahagia walaupun tanpa adanya ikatan pernikahan?" Suara Rayyan terdengar melemah. "Maaf aku tidak bisa menikahimu."


"Kenapa?" Anisa terlihat murka wajahnya memerah karena menahan amarah. "Apa karena sudah ada yang lain di hatimu?" Suaranya masih terdengar keras. Anisa pikir Rayyan sudah punya kekasih lagi karena akhir-akhir ini dia jarang mengunjunginya. Rayyan terdiam bibirnya seolah kelu untuk mengatakan kebenarannya.


"Katakan Rayyan apa alasannya?!" ucap Anisa dengan suara yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Rayyan masih terdiam tak mampu merangkai kata lagi. Biasanya ketika Anisa memintanya untuk menikahinya ada saja alasan yang dia berikan tapi entah kenapa hari ini otaknya seolah buntu.


"Maaf..kan aku Nis," ucap Rayyan terbata. "Sebenarnya aku sudah punya istri. Aku bisa menikahimu tapi hanya sebagai istri siri saja."


Duarr.


"Apa?!" Anisa terhenyak kepalanya tiba-tiba berdenyut kencang. Bagai tersambar petir, aliran darahnya seakan berhenti seketika setelah sengatan listrik terasa merayap ke seluruh tubuhnya.


Anisa terdiam kaku kemudian berusaha menopang tubuhnya yang kini mulai terasa melemah.

__ADS_1


"Rayyan kau tega." Suaranya terdengar lirih lalu tanpa kekuatan lagi tubuhnya tersungkur ke lantai. Anisa begitu syok mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Nis." Rayyan mendekati Anisa tanpa tahu harus berkata apa. Dia paham Anisa pasti kecewa terhadapnya.


"Pergilah Rayyan!" ucapnya masih dengan suara yang lemah. Tanpa persetujuan Anisa Rayyan mengangkat tubuh Anisa ke kamar. dan membaringkannya di atas ranjang. "Malam ini aku tidur bersamamu."


Anisa menggeleng. "Lebih baik kita sudahi semuanya. Aku tidak ingin menjadi simpanan mu lagi." ucap Anisa tanpa mau memandang wajah Rayyan.


"Tapi Nis aku masih mencintaimu."


"Jangan katakan cinta Rayyan, yang kau miliki untukku bukanlah cinta tapi hanya sekedar nafsu. Selama ini aku begitu bodoh hanya karena dibutakan oleh cinta dan kemewahan darimu hingga dengan mudahnya aku mau saja menjadi budak nafsumu."


"Nis itu tidak benar, aku memang mencintaimu."


"Kalau kau benar mencintaiku maka kau ceraikan lah istrimu lalu menikahlah denganku! Seperti diriku yang rela meninggalkan anak dan suami hanya karena dirimu."


Anisa menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar. "Itu sudah cukup membuktikan semuanya."


"Nis aku mohon kau mengerti, semua yang kumiliki, semua yang ku punya adalah milik istriku. Bahkan perusahaan yang aku pegang sekarang itu adalah milik mertuaku. Jika aku menceraikannya bagaimana caranya aku bisa membahagiakan mu tanpa harta itu? Ku mohon Nis bertahanlah sampai semua menjadi milikku. Setelah itu aku baru akan menceraikannya dan menikahimu."


"Persetan dengan semuanya, persetan dengan hartamu itu. Kamu pikir aku tidak bisa makan kalau tidak ada itu semua. Dengar Rayyan aku bisa kerja sendiri kalau kau tidak menahanku di tempat ini." Anisa bangkit dari ranjang kemudian seperti orang kesetanan dia membuka lemari dan memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Nis dengarkan aku dulu!" Rayyan menahan Anisa dengan cara memasukkan kembali baju-baju Anisa ke dalam lemari tapi Anisa tidak tinggal diam dia langsung mendorong tubuh Rayyan ke belakang hingga terjungkal mungkin karena amarahnya yang besar hingga ia memiliki kekuatan seperti itu.


Rayyan bangkit langsung memeluk tubuh Anisa dengan erat hingga ia tidak bisa bergerak. Rayyan tidak mau kehilangan Anisa tapi dia tidak mau melepas kemewahan yang kini selama ini menempel pada dirinya. "Lepaskan aku Rayyan!"

__ADS_1


"Nis dengarkan aku dulu! Kamu tidak boleh pergi! Aku pasti akan sangat merindukanmu. Nis tubuh mu itu sudah menjadi candu bagiku. Aku tidak bisa berpisah darimu," ucapnya sambil menciumi wajah dan leher Anisa berharap Anisa bisa luluh tapi sayangnya nafsu amarah Anisa sudah mengalahkan segalanya. Justru mendengar ucapan Rayyan ini emosi Anisa semakin tersulut.


"Hentikan menjadikan aku sebagai pemuas nafsumu. Aku bukan lagi pelacur mu," ucap Anisa berteriak dengan menekankan pada kata pelacur.


"Nis bukan begitu maksudku. Aku sama sekali tidak menganggap mu seperti itu.


"Sudahlah Rayyan mulai sekarang aku akan pergi, jangan pernah ganggu aku lagi. Kumohon!" ucap Anisa dengan tatapan memelasnya sontak itu membuat hati Rayyan jadi luluh dan langsung melepaskan pelukannya. Kesempatan itu digunakan oleh Anisa untuk memasukkan kembali pakaiannya ke dalam koper. Rayyan hanya memandang Anisa dengan tatapan nanar.


Anisa mengambil kotak-kotak perhiasan dan mengembalikannya pada Rayyan. "Rayyan ini milikmu."


"Ambillah Nis itu sudah menjadi milikmu. Aku tidak akan memintanya lagi."


Anisa menggeleng. "Ambillah selama ini aku hidup denganmu karena tulus mencintaimu bukan karena menjual diri."


"Nis berhentilah mengatakan seperti itu." Perkataan Anisa membuat Rayyan muak.


"Tapi itu kenyataannya Rayyan, kau membutuhkan tubuhku dan membayarku dengan hartamu. Dan ini kunci rumahnya, aku harus pergi sekarang." Anisa beranjak dari tempat itu dan melangkah ke luar kamar.


"Pergilah Anisa jika kau masih membutuhkanku maka kembalilah padaku dan pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untukmu," ucap Rayyan penuh harap semoga saja suatu saat nanti Anisa mau kembali padanya setelah dirinya sudah mendapatkan segalanya dan mampu melepaskan istrinya. Anisa terus melangkah tanpa mau mendengarkan perkataan Rayyan lagi. Ucapan Rayyan ketika mengakuinya sudah punya istri berdengung di telinga Anisa mengiringi langkah kepergiannya.


"Aku harus meminta maaf dan kembali pada Adrian dan Adel lagi. Semoga saja mereka masih mau menerimaku kembali." batin Anisa.


"Tapi aku tidak akan pernah membiarkan mu kembali pada suamimu itu. Kau tidak boleh menjadi milik siapapun. Suatu saat nanti kau harus menjadi milikku lagi," batin Rayyan sambil tersenyum smirk.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak: Like, Vote, Komentar, dan Hadiahnya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2