Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 206 Leona, Leoni dan Leonard


__ADS_3

"Oh gitu ya!" Laurens menutup pintu kembali dengan perasaan bingung. Sudah jelas-jelas tadi Lana tertawa bahagia tapi mengapa cucunya belum lahir?


Ara mendekati ranjang kembali yang kini sudah dibersihkan oleh suster.


"Auww....Aduh....." Ara merintih kembali.


"Kenapa sayang sakit lagi?" tanya Lexi. Rasa khawatir mulai menjalar lagi melihat sang istri terlihat meringis menahan sakit.


"Mama ini lebih sakit dari yang tadi!" Ara langsung berteriak sambil berjalan gontai ke arah Lana.


Lana langsung menuntunnya menaiki ranjang.


"Berbaringlah Nyonya bayinya sudah mau keluar itu!" perintah sang dokter.


Ara mengangguk tapi dalam hati masih ragu. Bagaimana kalau dirinya beol lagi?


Lexi yang mengerti akan kekhawatiran istrinya. "Sudah nggak usah dipikirkan yang tadi. Kasihan anak-anak kita kelamaan keluarnya."


Ara mengangguk dan kembali ke posisi semula. "Sakit sekali Dok!" ucap Ara sambil meremas kedua lengan Lexi.


"Ayo tarik nafas dulu lalu hembuskan kemudian coba dorong!"


Ara pun melakukan yang diperintahkan.


"Aaaakhh!" Dia berteriak sambil mengejan. Karena saking sakitnya tangannya tidak terasa menjambak rambut Lexi membuat pria itu meringis menahan sakit.


"Jangan berteriak Nyonya nanti anda kehilangan tenaga. Ayo coba dorong lagi Nyonya rambut bayinya sudah mulai terlihat!"


Ara menarik nafas lalu menghembuskan. "Aaakkhhh...." Kali ini bukan cuma rambut yang jadi sasaran tapi wajah Lexi sampai tidak sengaja tergores oleh tajamnya kuku Ara.


"Ara kamu jangan jadi kucing dong masak mau melahirkan main cakar-cakar wajah suami segala."


"Biarin Ma, huh.. huh.. huh.... Aku kesakitan dia juga harus sakit. Masak dia mau enaknya doang giliran sakit cuma Ara doang yang ngalamin, Huft...Huft...Huft."


"Ya ampun sayang sejak kapan kamu jadi cerewet seperti ini sih?" Lana tidak habis pikir dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya Ara protes.


"Udah Ma biarin saja," ujar Lexi.


"Ayo Nyonya sedikit lagi!"


"Akkhhhh!"


Kepala bayi mulai nongol di jalan lahir, dokter segera membantu dengan menariknya.


"Oek-Oek...." Seketika suara bayi memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


Laurens pun yang berada di luar ruangan mengucapkan syukur.


"Selamat Tuan bayinya perempuan," ujar dokter sambil meyerahkan bayi tersebut kepada suster untuk dibersihkan.


"Terima kasih Dokter," ucap Lexi. Dia memang tahu bahwa semua bayinya adalah perempuan saat di lihat dari layar monitor USG sebelumnya. Meskipun dia sangat menginginkan anak laki-laki tapi dia tetap bersyukur bisa dikaruniai anak oleh Tuhan. Karena masih banyak di luaran sana pasangan suami-istri yang masih mengharapkan anak tapi Tuhan belum memberi kepercayaan terhadap mereka.


"Sakit lagi." Ara mulai merengek kembali. Dokter pun mulai bersiap-siap ke posisi semula.


Kejadian tadi terulang kembali rambut dan wajah Lexi menjadi sasaran tangan Ara untuk menekan rasa sakitnya.


Ampun, kalau begini terus rambut dan muka gantengku akan jadi apa nantinya? Tentu saja Lexi bicara dalam hati kalau diungkapkan, cengkraman Ara bisa saja menjadi dua kali lipat lebih kuat.


Ya sudahlah demi anak-anak. Batinnya, ia pasrah.


Sebentar kemudian terdengar tangisan bayi lagi. "Oek...Oek ...Oek...."


Lexi bernafas Lega kedua putrinya sudah terlahir ke dunia. Tinggal satunya lagi. Lexi berharap


semoga saja Ara masih punya tenaga untuk melahirkan anak ketiganya.


Dokter memberikan bayi itu kembali kepada suster tadi. Ada jeda diantara bayi kedua dan ketiga. Ara meminta minum kepada Lana. Dia benar-benar haus. Perjuangannya tadi sungguh menguras tenaga.


"Ini Nak diminum dulu!" Lana menyerahkan air minum kepada putrinya dan Ara memiringkan tubuh dan langsung meneguknya.


Beberapa saat perutnya mulas kembali. Ara tahu anak ketiga akan segera menyusul. Dia kembali ke posisi semula dan mencoba mengejan tapi tidak berhasil hingga akhirnya dia mencengkeram lengan Lexi namun tetap saja tidak berhasil. Akhirnya dia kembali ke cara pertama mengejan sambil menjambak rambut Lexi. Mungkin itulah cara yang diinginkan ketiga anaknya untuk bisa keluar dari rahim sang ibu karena cara itu terbukti ampuh. Dalam hitungan menit bayi ketiga pun terlahir ke dunia.


Tanpa berkata apa-apa dokter mengangkat bayi tersebut dan menunjukkannya pada Lexi. Seketika Lexi menangis melihat anak ketiganya. Ara yang melihat suaminya menangis menjadi berprasangka buruk. "Mas ada apa dengan bayi kita?" Ara yang tidak mendengar jawaban Lexi bertambah khawatir.


"Ma apa bayinya cacat?" Ara beralih bertanya pada Lana.


"Nggak sayang."


"Terus kenapa Mas Lexi menangis?" Lana menggeleng sedang Lexi masih tidak menjawab dia hanya mengecup kening Ara dan mengucapkan berkali-kali terima kasih.


"Mungkin karena bayi ketiga berbeda dengan keduanya Nyonya."


"Maksudnya?" Ara masih tidak paham berbeda tapi tidak cacat, apa maksudnya?


"Laki-laki Nyonya." Ara terperangah "Bagaimana mungkin Dok?" Bahkan dia melihat sendiri di layar monitor ketiga bayinya perempuan.


"Mungkin saat di USG dia menyembunyikan alat vit*lnya Nyonya."


"Oek...Oek...Oek...." Ketiga bayi tersebut menangis bersamaan membuat ruangan menjadi bising dengan suara tangisan bayi.


Laurens yang berada di luar buru-buru masuk mendengar tiga tangisan bayi.

__ADS_1


"Ini Tuan silahkan di adzani biar bergiliran," ucap suster sambil menyerahkan anak pertama. Mereka memang memilih rumah sakit muslim di sana.


Lexi pun menggendong dan mengadzani putri pertamanya kemudian menyerahkan kepada Lana dan mengambil anak keduanya. Sedangkan suster tadi membersihkan putranya.


"Taruh di perut ibunya Nyonya!" perintah dokter agar bayi tersebut mendapat IMD. Lana pun menurut membiarkan cucunya mencari put*ng susu ibunya.


Ketika suster memberikan anak ketiganya, Lexi menyerahkan bayi keduanya kepada mommy Laurens.


Setelah ketiga bayi sama-sama sudah diadzani dan di IMD. Kedua putrinya langsung dipegang oleh kedua omanya sedangkan bayi laki-laki anteng dalam dekapan Lexi yang terus saja menyentuh bibir bayi mungil itu.


Abraham dan Reyhan pun mendekat. Dia ingin melihat keadaan ketiga cucunya.


Ara cemberut melihat Lexi terus saja memegang bayi laki-lakinya. "Mas Lexi kayaknya bakalan kecewa ya kalau semua bayinya perempuan?"


Mendengar perkataan Ara, Lexi mendongak. "Kata siapa?"


"Tuh cuma perhatian sama dia doang."


"Nggak sayang aku cuma bingung aja kenapa dia bisa mirip sama kamu ya sedangkan dia laki-laki dan kedua kakak perempuannya malah mirip denganku."


Laurens ingin melihat cucu laki-lakinya yang kata Lexi tadi mirip Ara. Namun sebelum melihat wajah cucunya terlebih dahulu dia melihat wajah Lexi.


"Ya ampun Lex, kamu kenapa?"


"Dicakar kucing Mom." Dia menjawab sekenanya membuat Ara memalingkan wajah.


"Biasa itu akibat mantu kamu yang proses lahirannya penuh drama," ujar Lana sambil cekikikan.


Ara melotot ke arah Lana takut rahasia bayi kuning dibeberkan mamanya. Bisa mati dia menahan malu kalau sampai mertuanya tahu akan hal itu.


"Aman," ujar Lama sambil terkekeh.


"Ada apa sih kok aku jadi curiga?"


"Nggak ada apa-apa kok Mom," jawab Lexi cepat. Dia tidak ingin istrinya ngambek.


"Oh ya sudah dikasih nama? Siapa saja namanya?" tanya Abraham.


Lexi melihat ke arah Ara seakan memberi kode akan dikasih nama siapa saja. "Kamu aja yang ngasih nama Mas, pokoknya yang miriplah sama kamu." Ara tidak ingin berpikir sedangkan selama ini mengarang nama tidak ada yang cocok.


"Bagaimana kalau Leona, Leoni sama Leonard. Nanti belakangnya kasih nama belakangku saja."


"Boleh, ide yang bagus."


"Terima kasih ya sayang ternyata kamu kuat," ujar Laurens sambil membelai rambut menantunya. Bukannya terlihat lelah setelah melahirkan tiga anak Ara masih terlihat tidak kelelahan sama sekali.

__ADS_1


Kedua besan itu tampak duduk-duduk dan saling mengobrol dengan raut wajah yang bahagia di dalam ruang tersebut setelah meletakkan bayi-bayi ke dalam boks. Ara sudah tampak tertidur pulas sedangkan Lexi masih tidak mau beralih dari menatap ketiga wajah bayinya yang imut.


Bersambung......


__ADS_2