Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 48. Kembali ke Jakarta.


__ADS_3

Esok pagi mereka pulang ke rumah mereka. Isyana menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke Jakarta.


Sore hari mereka menuju bandara dengan diantar pak Tirta. Setelah melakukan penerbangan berjam-jam akhirnya mereka tiba di bandara tanah air.


Sopir pribadi Zidane sudah standby di sana untuk menjemput majikannya. Setelah memasuki mobil tersebut akhirnya Zidane memutuskan untuk mengantar Isyana dan anak-anaknya terlebih dahulu ke rumah mereka.


"Oh ya ada yang mau Papa tanyakan kepada kalian. Dimana kalian melakukan tes DNA? Dan siapa yang membantu kalian?" Tiba-tiba Zidane teringat perihal tes DNA.


Mereka menyebutkan rumah sakit tempat dilakukannya tes DNA.


"Dan yang membantu kami adalah dokter Adrian Maulana."


"Adrian Maulana? Apa ini dokter yang kalian maksud?" Zidane menyodorkan ponselnya yang berisi foto-foto reunian bersama sahabat-sahabatnya."


"Iya Pa benar. Papa kenal sama Om dokter?"


"Dia salah satu sahabat Papa. Tapi apa benar dia sudah balik ke Indonesia?"


"Iya benar Pa, Om dokter ada di sini. Memangnya Om dokter pergi kemana?"


"Ke New York. Tiga tahun yang lalu semenjak ditinggal istrinya Adrian memilih ke New York untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Terakhir Papa dengar kabar bahwa anak Adrian diprediksi dokter hidupnya tinggal 6 bulan lagi. Setelah itu Papa hilang kontak dengan Adrian."


"Tinggal 6 bulan lagi Pa? Nyatanya sekarang Adel masih hidup."


"Benar Adel masih hidup?"


"Iya Pa bahkan kami sering main dengannya."


"Ya itu kan prediksi dokter, bisa benar bisa salah. Dokter kan juga manusia kalau umur manusia tuh Tuhan yang menentukan."


Kedua anaknya hanya manggut-manggut.


"Kalian punya nomor telepon Adrian?"


"Punya Pa."


"Kalau begitu Papa minta."


Nathan membuka Ipad-nya dan mencari kontak Adrian.


"Ini Pa." Nathan menyodorkan Ipad-nya kepada Zidane dan Zidane menyalin nomor Adrian. Setelah itu tidak ada yang bicara. Mereka lebih banyak diam sehingga membuat si kembar tersebut tertidur.


"Sya besok lusa aku jemput kamu untuk ketemu mama ya?"


"Iya Mas."


"Sudah sampai sayang!" ucap Isyana sambil mengguncang-guncangkan tubuh kedua anaknya."


"Eh sudah sampai ya Ma," ucap Nathan sambil mengucek kedua matanya.


"Itan! Itan bangun!" Nathan membantu membangunkan Tristan yang tertidur pulas.


"Eh mana mobilnya? Mana mobilnya!" Rupanya sedari tadi Tristan bermimpi.


"Mobil siapa sayang?" tanya Isyana.


"Hehe ... rupanya Itan cuma mimpi ya Ma."


"Mimpi apa Itan?" bisik Nathan.


"Mimpi punya mobil mungkin karena mama dulu bilang akan beli mobil jadi masuk ke mimpi Itan," jawab Tristan berbisik di telinga Nathan.

__ADS_1


"Sudah ayo kita turun," ajak Isyana kepada kedua anaknya.


Mereka bertiga turun dari mobil.


"Sampai jumpa Papa!"


"Sampai jumpa juga Boy! Sya jangan lupa lusa aku jemput!"


Isyana mengangguk sambil tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Mobil Zidane melaju lagi di jalanan. Kali ini menuju rumah utama. Sebelum sampai di rumah dia menelpon Adrian untuk memastikan kebenarannya. Sampai di rumah Zidane langsung mencari mamanya.


"Mama ada dimana Bi?" tanyanya pada bi Ina.


"Lagi di taman belakang Den. Apa mau bibi panggilkan?"


"Tidak usah Bi, biar saya yang ke sana saja. Bi Ina buatkan saya teh saja ya!"


"Baik Den."


"Bawa ke belakang ya Bi!"


"Ya Den."


Zidane menghampiri mamanya yang sedang duduk di gazebo.


"Mama."


"Eh kapan kamu datang Nak?"


"Baru saja Ma tadi Zidane langsung ke sini."


"Usaha apa Ma?" tanya Zidane bingung.


"Kalo urusan kantor sih semua baik-baik saja."


"Usaha menangin hati mama si kembar," ucap Laras sambil tertawa kecil.


"Ah mama ngapain sih dari kemarin aneh mulu?"


"Kayaknya yang aneh tuh kamu bukan Mama. Kamu liat aja sendiri. Nih ngapain kamu melakukan ini?" tanya Laras kepada putranya.


"Ya Allah Ma! Darimana mama dapatkan foto itu?"


"Dari kiriman si Tristan."


"Ya ampun tuh anak jahil banget sih pasti menurun dari Omanya. Pantes saja Dion ngeledek saya. Pasti Tristan juga mengirimkan foto itu kepada Dion."


"Omanya? Memang kamu kenal sama Oma mereka?"


"Ya kenal lah orang hampir tiap hari Zidane ketemu?"


"Maksudnya siapa sih?"


"Ya Mama lah siapa lagi."


"Ngaco kamu Dan, bukankah sudah terbukti dia bukan anak kamu?"


"Tapi sebentar lagi dia akan jadi cucu Mama."


"Jadi si Isyana itu sudah mau sama kamu?"

__ADS_1


"Iya Ma."


"Wah selamat ya sayang akhirnya usahamu yang sampai jadi babu itu membuahkan hasil," ucap Laras sambil tertawa.


"Ma, sudahlah jangan meledek terus. Zidane punya kabar baik untuk mama. Mama tahu tidak ternyata Nathan dan Tristan itu benar-benar anak Zidane."


"Sudahlah sayang jangan menghayal terus. Lebih baik kamu segera nikahi tuh Isyana biar bisa memberikan cucu untuk mama."


"Mama nggak percayaan sih! Nih buktinya kalau mereka benar-benar anak Zidane." Zidane menyodorkan hasil tes DNA milik kedua putranya yang sengaja ia simpan."


Laras menerima kertas itu dan membacanya. "Ini benar Nak? Kenapa beda dengan hasil yang kemaren?"


"Itu yang benar Ma. Yang kemaren itu pasti salah."


"Serius?"


"Iyalah Ma, masak Zidane bohong sama Mama."


"Yee..." Laras melompat kegirangan. "Ternyata Mama sudah punya cucu."


"Terima kasih Tuhan akhirnya Engkau mengabulkan doa-doaku. Langsung dapat dua lagi," ucap Laras sambil menadahkan tangannya seperti orang berdo'a.


Dari jauh bi Ina datang dengan segelas teh. Dia bertanya pada Zidane melalui gerakan wajahnya mengapa nyonya nya aneh, sebentar lompat-lompat sebentar berdo'a.


"Kesambet kali Bi," jawab Zidane sekenanya.


"Ini Den minumnya."


"Terima kasih Bi." Zidane mengambil teh tersebut dan meneguknya.


"Kalau tidak ada yang diperlukan lagi Bibi permisi Den."


"Iya Bi."


BI Ina berlalu dari hadapan mereka tapi sebelum jauh Laras memanggilnya, "Bi!"


"Iya Nyonya."


"Sepertinya Bibi akan ada teman nanti untuk membersihkan rumah."


"Iya Nyonya." Bi Ina tidak mengerti apa yang dibicarakan Nyonyanya. Yang penting ia bilang iya saja deh beres. Bukankah di rumah itu memang sudah banyak pembantu walaupun jasa bi Ina lah yang lebih banyak digunakan karena mereka mempercayakan segala urusan rumah kepada Bi Ina.


"Ma, jangan bilang Mama akan memberitahukan rahasia Zidane itu kepada para pembantu."


"Nggak sayang kalau kamu janji akan membawa cucu mama ke sini lagi."


"Iya Ma besok aku bawa bahkan sama calon mantu mama sekalian."


"Benarkah?"


Zidane mengangguk.


"Ma besok kita harus ke rumah sakit menemui dokter Lukman untuk menanyakan kenapa hasil tes di rumah sakit itu malah menunjukkan ketidakcocokan. Apa Mama yakin menerima hasil tes DNA tersebut langsung dari tangan dokter Lukman?"


"Iya kok Nak Mama langsung dapat dari dokter Lukman. Kalau kamu tidak percaya besok kita langsung tanya saja pada dokter Lukman."


"Baiklah Ma besok kita ke sana sama-sama."


Bersambung....


Senin Jangan lupa Vote-nya ya!

__ADS_1


__ADS_2