
Suatu hari Isyana merasa sakit perut yang berlebihan. Laras mengajaknya ke dokter ia tidak mau jadi tepaksa dia menghubungi Zidane di kantor.
Zidane yang sedang mengadakan meeting di kantornya terpaksa segera mengangkat teleponnya karena telepon itu berbunyi beberapa kali. Dia pikir pasti ada yang penting kalau tidak mana mungkin mamanya akan meneleponnya berulang kali. Mendengar istrinya yang sakit perut akhirnya Zidane membatalkan meeting nya dan pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan dia menelpon Rian siapa tahu dia lagi bersama dengan teman perempuan yang berprofesi sebagai dokter kandungan yang pernah memeriksa Isyana dulu. Kebetulan sekali Rian memang bersama dokter wanita itu dan sekarang mereka menuju rumah sakit tapi masih berada di sekitaran jalan raya di dekat kediaman Zidane.
"Baiklah kalian ke sana duluan ya Yan, cepat periksa istriku jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya," perintah Zidane melalui sambungan teleponnya.
Setelah sampai di kamarnya ia segera menghampiri istrinya dan menyapa Rian dan dokter wanita itu. Sedang si lembar dia lihat sedang menelpon seseorang.
"Bagaimana keadaannya? Apa mau melahirkan?" tanya Zidane sekenanya. Dia pikir istrinya mengalami kontraksi. Ya walaupun umur kehamilannya masih tujuh bulan siapa tahu lahir prematur pikirnya.
"Tidak apa-apa istri Tuan hanya mengalami kram perut saja mungkin karena kebanyakan duduk. Saya sarankan perutnya supaya dikompres ya dengan air hangat biar cepat pulih."
Zidane mengernyitkan dahi sedang berpikir apa yang dilakukan istrinya hingga kebanyakan duduk padahal dia selalu menyuruhnya banyak-banyak istirahat sedangkan Laras menuruti perintah dokter mengambil air hangat kemudian mengompres perut menantunya.
"Apa sih yang kamu lakukan sayang sampai banyak duduk begitu?"
"Ah aku nggak ngapa-ngapain kok Mas," bohong Isyana.
"Dia itu kebanyakan duduk karena sering menjahit pakaian untuk calon bayinya," lapor Laras.
"Ah sayang, kan sudah kubilang kita beli saja nanti, nggak usah jahit segala," protes Zidane pada Isyana.
"Tapi aku mau yang spesial Mas buat bayi kita dengan menjahitnya sendiri. Lagian saya males berdiam diri terus di rumah. Mau ke butik Mas Zidane nggak ngizinin." Isyana cemberut.
"Mau kerja gimana menjahit di rumah aja sudah begini apalagi sampai kerja di butik."
"Dia sudah mama Larang tapi tidak mendengarkan kata-kata Mama. Kalian berdua memang benar-benar sama, sama-sama keras kepala," keluh Laras.
"Mama kok bawa-bawa aku sih?" protes Zidane.
"Iyalah kan kalian emang sama."
"Iya sih Ma, makanya kita jodoh ya hehe..!"
"Hemm."
Tiba-tiba saja Naura dan Lexi datang dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana, Tante Syasa sakit apa? Apa benar sudah mau melahirkan?" tanya Naura khawatir. Ternyata Nathan dan Tristan tadi sedang teleponan dengan Naura.
"Cuma sakit perut tapi sudah mendingan kok," jawab Isyana.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu ya!" ucap dokter wanita itu sambil menarik tangan Rian.
"Terima kasih ya Dok!"
"Iya jangan lupa ya Tuan ini vitamin supaya dikonsumsi rutin oleh Nyonya," ujar dokter itu sambil mengulurkan obat dan Zidane segera meraihnya.
Segera Zidane mengambilkan air dan membuka bungkusan obat itu dan membantu Isyana meminum obatnya.
__ADS_1
"Kok obatnya bau sih Om!" protes Naura.
"Yang namanya obat itu ya Ra emang bau dan pahit kalau enak itu makanan kalau harum itu parfum."
"Iya sih Om tapi obat ini baunya kebangetan huek..huek...." Naura berlari ke kamar mandi Isyana dan muntah-muntah di sana.
"Tunggu Dok!" Isyana mencegah dokter Rian dan dokter wanita itu untuk pergi padahal mereka sudah keluar dari pintu.
"Ya ada apa Nyonya?" Mereka berdua berbalik.
"Tolong periksa adik kami sepertinya dia sakit."
"Baiklah."
Akhirnya Isyana menggeser tubuhnya dan menyuruh Naura naik ke ranjang untuk di periksa.
"Maaf Dok, lebih baik dokter itu saja yang memeriksanya." Lexi menolak Rian yang ingin memeriksa istrinya ketika Rian hampir saja menyingkap baju Naura.
"Cih posesif banget sih Lo Lex aku aja nggak apa-apa Isyana diperiksa Rian," ujar Zidane namun Lexi tidak menjawab dia memilih diam saja.
"Apakah Nona mengalami telat datang bulan?"
"Iya Dok."
"Berapa hari?"
"Seharusnya tiga hari yang lalu saya datang bulannya Dok tapi tidak tahu kenapa bisa telat padahal biasanya jadwal bulanan saya selalu teratur."
"Suami Nona mana? Apa dia?" Menunjuk Lexi.
Naura hanya mengangguk kemudian menunduk.
"Berarti dugaan saya benar Nona sekarang lagi hamil."
"Apa! Benar hamil?" Naura kaget sampai tangannya reflek menutup mulutnya sedangkan Lexi hanya tersenyum bahagia.
"Selamat ya Nona sebentar lagi Nona akan menjadi ibu." Dokter tersebut berucap sambil tersenyum.
"Selamat ya Tuan." Lexi hanya tersenyum ramah sambil mengangguk.
"Bagaimana ini Lex kok kamu membuat Naura hamil? kamu harus tanggung jawab ini," ucap Zidane.
##
Di lantai bawah Andy sedang menemui Lana dan berbincang-bincang dengannya. Andy bahagia sekali melihat mama Lana sudah kembali sehat seperti semula. Ternyata Zidane benar-benar mengurusnya dengan baik bahkan ia mampu membuktikan omongannya bahwa dia bisa merawat Tante Lananya hingga sembuh total.
"Ma kok sepi sih, mana yang lainnya?"
"Oh mereka semua sedang berkumpul di kamar Zidane."
"Ada apa Ma?"
__ADS_1
"Tadi istrinya Zidane sakit perut sampai gelisah di kasurnya tapi sekarang sudah mendingan."
"Oh kalau begitu Andy ke sana dulu ya Ma."
"Iya sana."
"Nitip Juju ya Ma."
"Iya iya."
"Duh cucu Oma sudah besar. Sini peluk Oma," ucap Lana sambil mendekat ke arah cucunya lalu merangkulnya."
Sedangkan Andy bergegas menghampiri Zidane di kamarnya. Di depan kamar tampak Alberto sedang duduk-duduk bersama si kembar.
"Om, Nathan, Tristan," sapanya.
"Om Andy?"
"Kapan datang Nak?"
"Tadi pagi Om. Bagaimana keadaan Isyana Om?"
"Sudah mendingan, tuh lihat sendiri di kamarnya."
Andy melangkah menuju kamar Isyana sampai di depan pintu dia mendengar pembicaraan Zidane dengan Lexi.
"Bagaimana ini Lex kok kamu membuat Naura hamil? Kamu harus tanggung jawab ini," ucap Zidane. Yang dimaksud Zidane sebenarnya adalah mengapa membuat hamil Naura sekarang bukankah Naura masih sekolah jadi Lexi harus bertanggung jawab terhadap sekolah Naura.
Namun Andy yang tidak mendengar pembicaraan dari awal menjadi salah paham.
Dia masuk begitu saja. "Siapa yang hamil?"
"Adik kamu," ucap Zidane. Memang dia sudah menceritakan tentang Naura kepada Andy bahwa dia adalah adiknya namun Zidane belum sempat memberitahukan soal pernikahan Lexi dan Naura kepadanya.
"Hamil? Siapa yang menghamili kamu?"
"Om Lexi Pak," jawab Naura sambil menunduk dia masih canggung dengan Andy karena pernah menjadi atasannya. Mendengar panggilan Om membuat Andy menjadi salfok. Dia pikir hubungan mereka adalah hubungan terlarang seperti remaja dan om-om apalagi tadi dia mendengar Zidane meminta Lexi untuk bertanggung jawab.
"Brengsek kamu ya!" ujar Andy sambil menghajar Lexi dan Lexi yang memang tidak diberitahu tentang Andy tidak mau diam saja dia melawan pukulan-pukulan Andy.
"Bang hentikan, dengarkan dulu!" Zidane berbicara setengah berteriak sedang Naura merasa syok.
Andy yang merasa kalah dalam melawan Lexi akhirnya mengulurkan pistolnya ke kepala Lexi. "Mau ku bunuh Lo ya!"
"Bang dengarkan dulu!"
"Hentikan!" Naura berteriak sekencang-kencangnya sambil menutup mata dan telinganya. Tiba-tiba kepalanya menjadi sakit. Sekelebat bayangan masa lalu memenuhi memorinya.
Penembakan itu, penculikan dirinya sampai ia memutuskan melompat dari mobil yang melaju kencang.
"Ah sakit!!!!"
__ADS_1