
Pertempuran panas yang terjadi tanpa sengaja itu suda terjadi kesekian kali di malam itu. Tubuh Teddy yang lelah seharian bekerja di kantor dengan segudang masalah pun berhasil di hempaskan dengan pelampiasan nafsunya kepada Arsy yang juga sedang ingin di manja oleh suaminya.
Sikap Arsy akhir -akhir ini memang sulit di tebak. Terkadang manis -manis manja, terkadang menyebalkan seperti ingin mengajak berantem walaupun berantemnya berakhir pada pertempuran panas di kasur.
Arsy berada di pelukan Teddy. Keduanya semakin intim dan terlihat mesra. Teddy yang dewasa selalu berhasil mengayomi Arsy yang manja.
"Kapan kamu mau ke dokter kandungan, Sy. Kamu harus periksa. Biar dapat vitamin dan obat lain yang mendukung kehamilan kamu," ucap Teddy pelan. Satu yangannya memeluk Arsy dan satu tangannya mengusap lembut kepala dan rambut Arsy.
Arsy mendongak ke arah Teddy, tangannya mengulur memegang rahang yang keras dan mengusap pelan hingga ke area leher. Jari jemari Arsy begitu lembut dan begitu menggelitik Teddy. Susananya masih sedikit panas. Hubungan mereka tak se -canggung dan se -kaku dulu. Mereka kini lebih hangat dan bisa berkomunikasi dengan baik.
"Besok sepulang sekolah? Bisa kan?" tanya Arsy pelan.
"Janji ya? Mas gak mau ada drama lagi. Mas gak mau kamu overthinking, cemburuan gak jelas, marah -marah gak jelas. Mulai besok kamu akan Mas kasih pegang kartu ATM, untuk beli keperluan kamu secara mendadak. takutnya mau makan, Mas belum pulang kamu bisa pesan secara online. Paham?" ucap Teddy menunduk menatap Arsy yang masih berada dalam dekapannya. Teddy mencium lembut kening Arsy.
"Mas lagi memarahi Arsy?" cicit Arsy yang terlalu sensitif.
"Bukaan memarahi, Sayang. Mas itu memberitahu. Mas itu cuma ingin kamu percaya seratus persen sama Mas. Bidadari lewat depana Mas juga Mas gak akan tergoda, karena bidadari yang Mas miliki jauh lebih semepurna dari bidadari yang ada di luaran sana," puji Teddy pelan sambil mengecup dan mengngit gem pipi Arsy.
"Argh ... Sakit, ish," cicit Arsy manja. Nada seperti ini yang sering di rindukan oleh Teddy. Arsy yang manja, kolokan, serb gak bisa dan selalu membutuhkan Teddy.
"Kamu gemesin sih. Jangan bikin gemes dong, tiap hari kan, Mas harus minta jatah," ucap Teddy memeluk istri labilnya semakin erat. Rasa cintanya semakin dalam, rasanya tak ingin berpisah walau sekejap saja.
"Yakin gemesin?" tanya Arsy mulai menggoda Teddy. Jari jemarinya muali lincah menjelajah ke wajah tampan Teddy. Tahu sendiri, laki -laki kalau sudah di sentuh dan di belai, ada sesuatu yang meneruduk hingga membuat merea bergairah kembali.
"Mulai berani ya? Istri Mas mulai nakal?" Teddy berucap pelan sambil mencubit gemas hidung Arsy.
"Ampun. Arsy lelah Mas. Tadi kan sudah ... Ekhemm, satu, dua, ...." ucapan Arsy langsung terhenti. Bibirnya di bekap dengan telapak tangan Teddy.
"Ssutt ... Belum sepuluh kali kan?" ucap Teddy tertawa.
Arsy melotot tajam. Ini baru beberapa kali saja, tubuhnya terasa rontok patah -patah. Apalagi sepuluh kali, bisa lecet dan iritasi nanti.
"Enak aja, main bilang sepuluh kali. Arsy capek," ucap Arsy ketus.
Arsy langsung mengubah posisi tidurnya. Kini berubah menyamping dengan membelakangi Teddy.
Teddy pun memeluk Arsy. Kepalanya kini mulai mencari kenyamanan di ceruk leher Arsy dari arah belakang. Berbisik pelan tepat di telinga Arsy.
"Keluar yuk. Cari nasi goreng," ucap Teddy yang tiba -tiba menginginkan nasi goreng yang di jual di tenda kaki lima.
__ADS_1
"Nasi goreng?" tanya Arsy mengulang ucapan Teddy sambil mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat jam kecil yang ada di nakas.
"Iya nasi goreng kambing kalau ada," ucap Teddy memilih.
"Mas ... Ini sudah malam. Sudah jam sebelas malam," ucap Arsy pelan.
Ucapan Arsy membuat Teddy menghembuskan napasnya kasar. Teddy tak bersuara lagi menahan rasa ingin makan nasi goreng kambing yang membuat lidahnya berliur seperti orang mengidam.
Kluruk ...
Perut Arsy berbunyi juga. Ia lapar tapi rasanya malas kalau harus keluar. Tiba -tiba di pikirannya terbesit mangga muda.
"Mas ... Mas Teddy sudah bangun?" tanya Arsy pelan sambil mengusap tangan Teddy yang melingkar di pinggangnya.
"Hemmm ...." Teddy hanya berdehem lirih. Ia juga belum tidur karena lapar tapi kalau Arsy tidak mau di ajak keluar, amna mungkin ia pergi sendiri dan meninggalkan istrinya di rumah.
"Mas ... Serius nih," ucap Arsy pelan.
"Apa sayang," jawab Teddy pelan.
"Mau mangga," ucap Arsy pelan.
"Mangga? Malam -malam gini?" tanya Teddy bingung.
"Iya. Mangga yang ada di di halaman sekolah. Kemarin pulang dari Bali, Arsy lihat ada beberapa mangga di sana dan terlihat enak," ucap Arsy pelan.
"Beli aja ya. Kita keluar sekarang, cari tukang buah," ucap Teddy memberikan saran.
"Maunya mangga di depan sekolah. Mas yang ambil sendiri, manjat pohonnya," ucap Arsy lantang.
"Arsy ... Mas gak bisa manjat pohon mangga. Kalau manjat kamu, Mas bisa," ucap Teddy masih berusaha menggoda Arsy.
"Cih ... Arsy serius. Gak lagi becanda," ucap Arsy kesal.
"Oke. Demi anak Papah, Papah mau manjat pohon mangga.Ttapi kalau jatuh, tolongin ya?" ucap Teddy manja.
Arsy hanya tersenyum lebar dan mengangguk paham. Rasanya senang keinginannya akan di kabulkan.
"Tapi habis itu makan nasi goreng kambing ya?" pinta Teddy pelan.
__ADS_1
Arsy berpura -pura berpikir.
"Boleh. Tapi di campur mangga muda ya? Arsy pengen liht Mas teddy makan nasi goreng kambing di campur mangga muda. Hemmm ... pasti enak," ucap Arsy pelan sambil mengecap mulutnya. Rasa asem mangga bisa ia rasakan di lidahnya saat ini dan itu mmebuat hatinya senang.
"Hah? menu apa itu? Nasi goreng kambing di kasih mangga muda? Kalau ngidm jangan aneh -aneh dong, Sayang," cicit Teddy pelan.
Arsy bangkit dari tidurnya dan mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih casual. Celana pendek dan tank top di tambah cardigan panjang. Rambutnya di biarkan tergerai tanpa di ikat.
Teddy juga sudah siap. Dengan celana training dan kaos oblong serta topi andalannya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil. Kaca jendela sengaja di turunkan arsy karena mula dnegan wewangian parfum enath milik siapa yang masih melekat di ruang mobil itu.
"Parfum siapa sih? Mual tahu?" ucap Arsy ketus.
"Kan Mas tadi udah bilang. Ivana ikut pulang bareng Mas. Dia turun di jalan dan mau ketemu pacarnya, makanya pakai parfum," ucap Teddy pelan dan beralasan.
Arsy menutup kembali kaca jendela itu daan kakinya di lipat di atas jok. Sesekali masih ingin muntah karena mual.
"Lain kali jaangan pake parfum. Atau Arsy gak mau naik mobil ini lagi. Emang taksi buat tebengan," ucap Arsy mulai posesif.
"Kan temen, Sayang. Sekalian karena satu jalur," ucap Teddy pelan. Pandangannya fokus ke arah depan menatap jalanan yang kosong.
"Ohh ... Temen. Tahu gak kalau Mas sudah nikah?" tanya Arsy sambil melirik ke arah Teddy.
"Tahu. mas bilang," jawab Teddy lantang.
"Terus?" tanya Arsy memancing.
"Terus apa, Sayang? Gak ada terusannya," jawab Teddy pelan.
"Mas bilang gak? Kalau Arsy lagi hamil," tanya Arsy cepat.
"Gak," jawab Teddy polos.
"Apa? Gak bilang?" ucap Arsy kesal.
Arsy meninju lengan Teddy berkali kali hingga Teddy pun hilang kendali menyetir karena jadi tida fokus.
"Argh ...." teriak Arsy dnegan suara keras.
__ADS_1