
Ucapan Arsy tentu membuat Teddy berbesar hati dan merasa bangga. Biasanya cemburu itu kan tandanya cinta.
"Kamu yakin cemburu? Atau cuma pura -pura buat saya senang," tanya Teddy menghabiskan sisa makanannya.
"Ya sudahlah. Arsy laper, males bahas beginian," jawab Arsy ketus sekenanya.
Malam itu Teddy membawa Arsy ke sebuah apartemen miliknya dulu. Lebih tepatnya apartemen milik Papa Baron yang kemudian di tempati oleh Teddy selama mengenyam ilmu strata satunya.
"Jadi mau beli cemilan? Karena takutnya kamu mau makan gitu?" tanya Teddy pelan saat melewati sebuah minimarket.
"Iya dong. Kan mau beli cemilan yang banyak," jawab Arsy kesal.
Arsy masuk ke dalam mini market itu sambil membawa keranjang belanja. Ia mulai memasukkan beberapa makanan dan minuman kesukaannya. Tidak hanya itu saja, Arsy juga membeli beberapa barang yang sebenarnya tidak di buuhkannya ali -alih ingin mengerjai Teddy membayar belanjaan yang banyak.
"Apalagi? Keburu malam," ucap Teddy pelan.
"Cukup dua keranjang ini. Gak apa -apa kan?" tanya Arsy pelan.
"Gak apa -apa. Santai aja. Mau beli sama tokonya jug boleh," goda Teddy kemudian.
Teddy tak mempermasalahkan apapun yang menjadi kenginan Arsy asal demi kebahagiaannyaakan sellau di turuti.
Sesi belanja selesai. Niat Arsy untuk membuat Teddy marah pun gagal. Teddy tetap cool dan santai saja.
"Masih jauh tempatnya?" tanya Arsy pelan.
"Gak. Sebentar lagi sampai," jawab Teddy pelan.
Kebetulan kondisi jalan yang muali gelap tanpa ada penerangan lampu jalan dan cuaca sedang hujan lebat.
Setengah jam kemudian, mereka sampai pada sebuah gedung bertingkat.
"Ini apartemennya?" tanya Arsy yang begitu takjub melihat gedung apartemen dari luar.
__ADS_1
Gedungnya nampak besar dan terang sehingga dari kejauhan terlihat bersih dan rapi.
"Iya. Kmau suka? Klaau suka, rencana saya mau tinggal di sini dulu. Gak enak juga, kalau masih tinggal bareng sama Mama dan Papa, karena itu tidak akan membuat kita mandiri.
"Iya. Arsy lihat dulu tempatnya. Kalau cocok dan nyaman, mungkin Arsy mau tinggal di sini," ucap Arsy pelan.
Tempatnya memang nyaman dan aman. Tidak hanya itu saja, tempat ini jauh dari keramaian.
Teddy dan Arsy berjalan masuk ke dalam gedung dan langsung menaiki lift. Kamar apartemennya berada di lantai enam. Sesampai di lantai enam Teddy keluar lebih dulu dan langsung menuju kamarnya. Arsy berjalan di belakang dengan tas ransel di pundaknya dan kantong plastik berisi cemilan di tangannya.
Ceklek ...
Pintu kamar apartemen itu terbuka dengan lebar. Tempat itu benar -benar istimewa. Kamarnya memang tidak terlalu besar. Cukuplah untuk pasangan pengantin baru seperti Arsy dan Teddy. Hampir mirip dengan kontrakan tiga petak. Bedanya tempatnya lebih elegan dan fasilitasnya lebih lengkap.
Kamar apartemen itu hanya ada satu kamar saja dengan kamar mandi yang terpisah berhadapan. Di samping kamar ada sofa panjang dengan televisi besar serta jendela dan pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon.
Ruangan itu berhimpitan dengan kursi dan meja makan serta lemari pendingin. Pintu masuk kamar apartemen langsung menuju dapur.
"Tempatnya cozy banget," celetuk Arsy kagum.
Arsy langsung masuk dan meletakkan plastik itu di meja man lalu berjalan menuju sofa panjang dan duduk bersandar dengan kaki di naikkan ke meja. Rasanya seperti berada di surga dunia. Surga dunia? Arghh ... Pikirannya jadi ngaco dan sellau travelling.
"Sepatunya di lepas dulu Sy. Tidak naik ke atas meja begitu," titah Teddy pelan.
Arsy pun langsung di turunkan dari meja dan masih tetap duduk sambil memejamkan kedua matanya. Tubuhnya lelah sekali. Kejadian hari ini adalah kejadian paling buruk untuk di ingat.
"Arghh ... Jangan ...." teriak Arsy dengan sangat keras. Ia langsung membuka kedua matanya dan menatap Teddy yang sedang mencoba melepaskan sepatu dan kaos kaki yang sedang di kenakannya.
"Kenapa Sy? saya hanya ingin membuka ini agar kamu lebih rileks," ucap Teddy pelan.
Arsy menatap Teddy. Bayangan kejadian tadi masih membekas di kepalanya dengan sangat lekat.
"Gak Pak," jawab Arsy yang terlihat ketakutan. Napasnya memburu dan jantungnya berdegup keras.
__ADS_1
"Kamu masih trauma dengan kejadian tadi?" tanya Teddy dengan suara lembut.
Teddy berusaha membuat Arsy tenang. Teddy tahu, kejadian tadi membuat Arsy ketakutan dan trauma.
Arsy mengangguk pelan. Tangannya mengeratkan baju seragamnya seperti takut akan di buka dengan paksa.
"Saya tidak akan mencelakaimu Sy. Saya kan suami kamu. Saya akan menjaga kamu," ucap Teddy pelan. Teddy duduk di sebelah Arsy. Arsy yang sudah berkeringat karena takut.
"Arsy takut Pak. Dia paksa buka baju Arsy," ucap Arsy sambil menangis.
Memang tidak sampai terjadi hal yang buruk. Tapi mungkin sentuhan Reno masih membekas dan membuat Arsy kesal mengingat hal itu. Mau marah mulutnya tersumpal. Mau berontak pun tubuhnya terikat kuat dan tak bisa bergerak. Arsy hanya bisa melihat tubuhnya yang mulai di gerayangi oleh Reno dari luar pakaiannya. Lalu, perlahan kancing baju itu di buka dan Reno mulai terlihat bergairah sambil mencium leher Arsy.
"Sudah lupakan Sy. Jagan pernah kamu ingat -ingat lagi," titah Teddy tegas. Ia juga tak snaggup mendengra rintihan ketakutan RAsy yang membuat hatinya terluka juga. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Arsy dengan baik hingga di tawan dan hampir saja di perkosa oleh orang yang tak bertanggung jawab.
"Arsy benci sama Bismo. Gara -gara dia, Arsy begini," ucap Arsy pelan.
"Jangan menyalahkan orang lain. Jangan menghubungkan dan mengaitkan masalah yang timbul karena orang lain. Kalau kita bisa menerima takdir kita, maka akan ada hikmah di balik itu semua," ucap Teddy pelan.
"Tapi Bapak tidak tahu perasaan Arsy. Rasanya di sentuh oleh lelaki yang ingin berbuat jahat. Itu sangat menakutkan," ucap Arsy dengan suara keras.
Teddy hanya diam. Ia tidak mau menyanggah ucapan Arsy dan membiarkan gadis labil itu meluapkan semua kekecewaannya, kekesalannya dan sakit hatinya dengan caranya sendiri.
Arsy menangis dan berteriak keras. Rasanya memang tidak enak belum bisa meluapkan semua isi hatinya.
Teddy berjalan ke arah meja makan dan mencari satu botol air mineral untuk Arsy.
"Minum dulu biar kamu tenang," ucap Teddy lembut. Teddy membukakan tutup botol air mineral itu dan menyodorkan untuk Arsy.
Arsy meminum air mineral itu dan dadanya mulai terasa tenang.
"Mau tidur? Ganti baju dulu ya? Saya carikan baju untuk kamu," ucap Teddy pelan.
Teddy berjalan menuju kamar tidurnya dan mencari pakaian yang pantas untuk Rasy beristirahat. Baju seragamnya akan di cuci dan langsung akan di keringkan nanti malam. Karena besok pagi akan di pakai lagi ke sekolah.
__ADS_1
"Ini piyama tidur milik saya. Pakailah, biar tubuhmu terasa lebih nyaman," titah Teddy pelan.