
Permainan yang singkat dan cukup membuat jantung naik turun karena di kejar oleh waktu. Ini bukan bulan madu yang sesuangguhnya, tapi gairah mereka sebagai pengantin baru pun tak dapat di bendung. Hanya denagn sentuhan, tiupan kecil, kecupan manis, semuanya bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat. Awalnya hanya makan atau membuka obrolan santai tapi semua berujung pada pemuasan hasrat.
Tidak sampai lima belas menit dan tepat di menit kelima belas keduanya sudah terkulai lemas di atas kasur dengan tubuh yang polos dan saling berpelukan. Memang dunia ini sangat indah jika di lalui dengan penuh kebahagiaan.
"Mandi yuk?" ajak Teddy berbisik di telinga Arsy yang masih dalam mode malas dan manja memeluk tubuh Teddy.
Lama -lama ini menjadi candu bagi keduanya.
"Eunghh ... capek Mas," ucap Arsy manja.
Teddy menatap wajah istri labilnya yang masih memjamkan kedua matanya, dan brusaha lelap sebentar untuk memulihkan tenaganya.
Teddy masih memeluk Arsy dengan selimut menutupi tubuh polos mereka hingga bagian dada. Satu tangan Teddy memegang dagu Arsy dan mengecup pelan bibir mungil yang selalu membuat candunya. Mungkin kalau di bolehkan dan tidak malu, setiap bertemu Arsy, Teddy ingin sekali bebas mengecup bibir Arsy sebagai tanda kepemilkan dan tak ada yang boleh mengganggunya.
Kedua mata Arsy masih menutup seolah tak merasakan aa -apa yang baru saja di lakukan olh Teddy.
"Mas .. Arsy lelah. Jangan minta nambah dong," cicit Arsy lemah. Arsy benar -benar kelelahan hingga tak ada tenaga untuk membuka matanya.
"Hei cantik. Kita mau melalang buana untuk tugas akhir. Kamu kan siswanya? Hari ini kita mau ke Tanah Lot lalu di akhir prjalanan mau ke Pantai," ucap Teddy pelan.
"Eunghh ... Capek lho ini. Ngantuk Mas," ucap Arsy yang tak sanggup mengangkat kelopak matanya.
Ponsel Teddy berbunyi keras sekali dan berulang. satu tangan Teddy meraih ponselnya di atas nakas dan menatap layar ponsel itu. Teman guru pendampingnya meneleponnya. Suara ponsel dan gerakn cepat Teddy tentu membuat Arsy membuka kedua matanya dan membola menatap Teddy.
"Jangan mengeluarkan suara ya? Pak Dedi telepon," titah Teddy sambil mengecup pelan bibir Arsy yang mengerucut karena penasaran.
Arsy hanya menghela napas dan mengehembuskan lega. Setidaknya bukan guru perempuan yang terus menerus berusaha mendekati suaminya.
Beberapa menit kemudian pembicaraan itu di akhiri dan di tutup oleh Teddy. Arsy masih menatap lelaki yang hampir sebulan ini di nikahinya. Memang pilihan orang tua untuk dirinya itu adalah pilihan yang sangat tepat. Arsy merasa di cintai, di sayangi, di butuhkan, dan di hargai sebagai perempuan.
"Mandi yuk? Sudah di tunggu di ruang makan, habis ini mau berangkat. Malas -malasannya nanti malam lagi. Nanti Mas pijat deh," ucap Teddy berjanji.
"Bener? Mau mijetin Arsy? Gak ada keinginan lain ya?" ucap Arsy menegaskan.
__ADS_1
"Yah sayang. Habis mijetin celup -celup dikit kan gak apa -apa, biar pules juga Mas tidurnya," ucap Teddy dengan raut wajah memohon.
"Argh ... Mas ini mesum banget. Arsy mau mandi ah. Lama -lama di sini bisa habis Arsy,' jawab Arsy yang langsung bangkit berdiri. Ia lupa tubuhnya masih polos dan hap ... Arsy langsung jongkok di bawah samping tempat tidur.
"Kenapa Sy? Ada yang sakit?" tanya Teddy kaget.
"Gak Mas," jawab Arsy lirih.
"Terus? Kenapa jongkok begitu?" tanya Teddy pelan. Teddy pun bangkit berdiri dan mengambil handuk dan melilitkan di pinggangnya. Teddy baru akan menghampiri Arsy, tetapi Arsy berteriak keras.
"STOP!! Jangan kesini," teriak Arsy keras.
"Kenapa?" tanya Teddy panik.
"Berhenti," teriak Arsy kemudian.
"Kamu kenapa sih, Sy?" tanya Teddy bingung.
"Apa yang lucu, Mas?" sentak Arsy kesal.
Teddy langsung diam membungkna mulutnya.
"Eum ... Gak ada yang lucu," jawab Teddy memelan.
"Terus kenapa tertawa?" tnya Arsy sebal. Raut wajahnya terlihat marah.
Perlahan Teddy melangkahkan kakinya dan Arsy berhasil dalam gendongannya. Teddy langsung membawa istri labilnya ke kamar mandi agar segera mandi. Arsy meronta dan berteriak keras.
Istri labilnya merajuk dan tak ingin di sentuh.
"Lepas. Arsy bisa mandi sendiri. Gak usah lihat," ucap Arsy tegas. Ia pun segera mengguyurkan air dari shower yang hangat ke seluruh tubuhnya. Hanya dua menit mandi, Arsy langsung keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian casualnya.
Teddy hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Suka ingin tertawa sendiri kalau memiliki istri labil seperti itu.
__ADS_1
Arsy sudah memakai rok pendek dengan kemeja berlengan pendek berwarna putih dan sedikit tipis. Arsy sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kering.
"Sudah siap? Mau turun duluan?" tanya Teddy yang masih bertelanjang dada dengan rambut basah. Begitu tampan sekali di lihatnya.
"Gak apa -apa? Arsy duluan?" tanya Arsy yang masih bercermin di depan meja riasnya.
"Ya gak apa -apa. Kalau memang mau sarapan nemenin Wulan," ucap Teddy pelan sambil mengambl pakaian dari daam koper.
Arsy menyisir rambutnya dan memakai lip balm pada bibirnya.
"Sudah cantik," ucap Teddy berbisik dan memeluk Arsy dari belakang. Teddy mengecup pipi dan leher Arsy. Wangi tubuh Arsy memang sangat khas sekali.
"Hemm ... Mulai deh. Arsy turun duluan ya?" cicit Arsy pelan lalu mengecup pipi Teddy dari samping.
"Ya. Nanti Mas nyusul. Tinggal raapih -rapih aja," jawab Teddy yang terus mengeratkan pelukannya ke tubuh Arsy.
"Sudah Mas. Kita nanti terlambat kalau begini terus," ucap Arsy mulai terasa sesak.
"Cium dulu dong," ucap Teddy tiba -tiba dengan suara manja.
"Ih ... Ini nanti lip balm nya hilang," ucap Arsy sendu sambil membalikkan tubuhnya.
Rasanya masih ingin berlama -lama bersama dan berpelukan serta mendekap satu sama lain. Tapi, ini bukan waktu yang tepat.
"Mas tuh gak mau kamu jadi pusat pperhatian teman -teman kamu. Pakai jaket Sy. Inii terlalu seksi," ucap Teddy sambil mengusap lengan mulus Arsy. Sontak elusan itu membuat Arsy merinding dan merasakan ada yang bergetar hebat di tubuhnya.
"Mas ... Cepet siap -siap Arsy keluar duluan," ucap Arsy cepat. Ia langsung mengecup pipi dan bibir Teddy lalu mencium punggung tangan itu dengan cepat.
Arsy buru -buru keluar dari kamar itu. Bisa -bisa Teddy akan melakukan hal gila dalam lima menit saja. Dan itu bisa di lakukan, parahnya Arsy selalu senang dan terus di ulangi. Ia masuk ke dalam lift dan tersenyum sendiri mengingat kejadian pagi ini. Begitu singkat dan cepat, namun sangat berarti sekali.
"Arsy? Kamu dari mana?" panggil seseorng yang berada di dalam lift yang sama.
Arsy menoleh dan wajahnya memucat seketika.
__ADS_1