
Tepat pukul dua belas malam. Teddy meminta ijin satpam sekolah untuk meminta mangga di depan taman sekolah.
Teddy sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari pos satpam. Teddy keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pohon mangga yang paling besar dan lebat buahnya.
Arsy sendiri masih duduk manis sambil melihat suaminya yang bersiap memanjat pohon mangga itu.
Teddy sudah mendekati pohon mangga itu tangannya mulai menyentuh batang pohon yang kekar dan bergelombang kasar. Banyak getah yang membuat lengket tangannya dan banyak semut rang -rang merah yang berjalan berderet bagai pasukan perang yang siap menerjang musuh.
Kepalanya mendongak ke atas. Ada banyak buah mangga bergelantungan. Ada yang sudah matang pohon, semi matanag dan benar -benar masih muda.
Melihat jajaran semut rang -ranga yang berjalan sampai bertumpuk -tumpuk dan membawa telur -telur mereka pun Teddy sedikit bergidik ngeri. Tentu sakit sekali di gigit semua jenis itu. Badan tak hanya bentol tapi juga sakit.
Baru juga memegang pohon itu dan tangan Teddy mulai di kerubungi oleh semut rang -rang merah itu dan berteriak dengan keras.
Tok ... tok ... tok ...
Teddy mengetuk kaca jendela Arsy dan Arsy membuka kaca jendela itu.
"Kenapa Mas?" tanya Arsy cepat.
"Semut Sy. Beli aja ya. Lihat ini," ucap Teddy sedikit kesal sambil memperlihatkan kepada Arsy tangannya yang bentol di gigit oleh beberapa semut rang -ranng.
"Tapi Mas ... Arsy tuh pengen lihata Mas Teddy naik pohon mangga dan bergelantungan terus petik buah mangga dan Arsy foto. rasanya kayak puas banget," ucap Arsy pelan sambil mengusap pelan perutnya.
Kedua mata Teddy langsung melotot membulat sempurna. Raut wajahnya tak bisa di ukiskan lagi bagaimanaperasaannya saat ini. Ada kesal, sebel, mau marah, mau teriak, tapi melihat Arsy megusap perutnya pelan begitu, Teddy hanya bisa mengelus dadanya pelan.
"Oke baiklah. Kamu keluar, biar anak kita lihat Papahnya sedang berjuang demi mangga muda," ucap Teddy begitu sabar.
Teddy berjalan ke arah pos stapam dan meminjam jas hujan serta lakban. Ia langsung memakai dan menutup semua tubuhnya setelah di pakai jas hujan dan di tutup denagn lakban hitam.
Arsy tertawa keras. Ia tak sanggup menutupi rasa lucunya melihat Teddy yang persis seperti robot atau orang yang bekerja di pemadam kebakaran. Teddy juga memeakai helm full face lengkap dengan masker dan kacamata juga karena lebih melindungi kedua matanya.
__ADS_1
Dengan gagah, Teddy memanjat pohon dan bergelantungan memindahkan dari satu tangan dari satu dahan ke dahan yang lain.
Arsy dari bawah nampak bersorak seperti gadis pemandu sorak yang selalu membawa pom -pom berlunjak -lunjak bahagia. Senyum Arsy juga semakin lebar saat Teddy berada di batang pohon paling ting dan siap mengeksekusi beberapa buah yang akan ia kantongi dalam saku jas hujan yang di pakainya.
"Diam dulu Mas. Arsy harus fotoin dulu," ucap Arsy teriak keras.
Arsy mengambil ponsel dan mebuka kamera lalu mengambil beberapa gambar lucu posisi Teddy yang membuat Arsy tertawa di dalam hati.
cekrek ... cekrek ... cekrek
Arsy sudah membidik beberapa gambar dengan menggunakan lampu flash agar terlihat terang.
Teddy sudah mengambil beberapa buah mangga hingga kantung jas hujannya pun penuh dnegan magga
Tiba -tiba ....
Krek ...
Tedyy mencari dahan lain untuk berpegangan namun dahan itu keburu patah dan Teddy jatuh ke bawah sambil berteriak keras.
Arsy juga ikut berteriak karena panik sampai satpam sekolah pun berlari menghampiri mendengar teriakan yang begitu melengking.
BRUK ...
"Arghh ...." teriak Teddy dengan sangat keras.
Melihat Teddy sudah terjatuh dan tergeletak di bawah. Arsy pun berlari menghampiri Teddy dan membuka helm yang di pakainya.
"Awas Sy ... Banyak semut rang -rang. Jangan di buka," ucap Teddy berteriak.
Arsy melihat jas hujan Teddy yang memang benar banyak di kerubungi semut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya satpam sekolah yang baru datang.
"Tolong suami saya, Pak," ucap Arsy yang jujur dan polos begitu saja. Arsy begitu panik dan cemas. Ia jadi merasa bersalah menyuruh Teddy mengambil mangga seperti ini.
"Mbak Arsy kan? Ini Pak Teddy kan? Suami? Maksudnya?" tanya satpam sekolah yang masih bingung dengan ucapan Arsy barusan.
"Ekhemm ... Udah itu tolongin Pak Teddy. Kenapa malah ngurusin ucapan Arsy. cepet Pak," pinta Arsy dengan suara tegas dan lantang.
"Oh iya ... Mbak," jawab satpam sekolah itu dengan cepat.
Ia langsung membantu membersihkan semut -semuat yang masih menempel di jas hujan dan membuka helm lalu membantu Teddy berdiri.
Arsy mengikuti dari belakang dan Teddy di bawa ke teras depan sekolah untuk melepaskan jas hujan dan segala perlengkapan ynag di pakainya.
"Mas Teddy gak apa -apa? Ya ampun merah semua badannya," ucap Arsy cemas.
Setelah di buka jas hujannya. Tubuh Teddy terlihat memerah. Jelas sekali ruam ruam merah ada di sekitar tangan dan leher serta bagian dada.
"Ini jas hujannya yang kotor. Kulit Mas kan sensitif, jadi begini," jawab Teddy sambil menggaruk beberapa bagian tubuhnya yang gatal.
Satpam sekolah itu hanya menyimak sambil sesekali melirik ke arah guru dan muridnya yang sedang berkomunikasi dan melipat jas hujannya.
"Pak ... Terima kasih sudah di pinjamkan jas hujan itu. Walaupun pingga dan kaki saya sakit. Lumayan juga jatuh dari atas sana," ucap Teddy pelan.
"Sama -sama Pak Teddy," ucap satpam itu.
"Ayo pulang sayang. Bawa mangganya," titah Teddu lembut.
Satpam itu melongo. Ia bukan hanya mendengar tapi juga melihat Teddy merangkul Arsy dengan mesra.
"Pak Teddy dan Mbak Arsy?" ucapan Satpam itu terhenti. Rasanya ragu melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
"Jangan buka kartu ya," titah Teddy pelan.