
Waktu seminggu ini begitu cepat sekali. Arsy sampai lupa, kalau ia sebenarnya masih berstatus pelajar putih abu.
Hari ini, sesuai jadwal yang sudah di rencanakan. Arsy akan membantu Mama Tina membuat kue kering.
Saat turun dari atas lantai dua, Arsy melihat Mama Tina sedang mengaduk adonan kue. Dan di meja berjajar beberapa toples kaca yang lucu -lucu bentuknya.
"Wah ... Toplesnya lucu -lucu banget. Ini pegangannya kayak angsa," ucap Arsy pelan. Ia memang jarang sekali ke dapur, apalagi membantu Bundanya untuk memasak, memegang pisau saja, tangannya masih bergetar.
"Ehh ... Arsy. Tolong di lap, Nak. Tadi belum sempat Mama bersihkan. Baru kamu susun adonannya di loyang untuk di oven," titah Mama Tina pelan.
Arsy mulai duduk dan membersihkan toples -toples kaca yang lucu.
"Bikinnya banyak banget Ma? Kayak mau ada tamu?" tanya Arsy pelan.
Mama Tina hanya tersenyum manis sambil mengocok telur di dalam baskom besar. Ia sengaja membuat banyak kue kering di dalam toples karena besannya akan datang saat acara empat bulanan Arsy.
"Kamu lupa? Kan kita mau bikin acara empat bulanan, Sayang. Pasti tamu yang akan datang juga banyak," ucap Mama Tina pelan.
"Iya Ma," jawab Arsy pasrah. Ia meneruskan pekerjaannya mengelap semua toples -toples berukuran sedang itu.
"Pengumuman kelulusan kapan? Mama perlu hadir atau tidak?" tanya Mama Tina pelan dnegan senyum lebar.
"Ekhemmm besok Ma. Gak perlu hadir, Ma. Nanti saja, pas saat acara perpisahan," ucap Arsy pelan.
"Baiklah," jawab Mama Tina pelan.
Ting ... Tong ...
Arsy menatap ke arah pintu depan karena bel berbunyi dari arah depan.
"Ada tamu, Ma," ucap Arsy pelan.
"Tolong buka kan, Nak. Si Mbok lagi keluar tadi," jawab Mama Tina pelan karena sedang sibuk mengocok telur.
Arsy pun bangkit berdiir bergerak menuju pintu depan. Pas di buka, ternyata tukang paket yang sedang mengirimkan sebuah buket bunga berwarna merah dengan beberapa batang cokelat kesukaan Arsy.
"Ada paket, Kak. Betul rumahnya Kak Arsy?" tanya tukang paket itu menyodorkan sepaket buket bunga dan cokelat beserta tanda terima untuk di tanda tangani.
Arsy menatap buket bunga cantik itu.
"Iya. Saya Arsy. Paket dari siapa ya?" tanya Arsy ragu menerima buket bunga itu.
__ADS_1
"Maaf Kak. Tidak ada namanya. Tapi ini kan benar alamatnya, mohon di terima," ucap tukang paket kini mengelurakan pulpen untuk di berikan pada Arsy.
Merasa paket itu memang untuk dirinya, Arsy pun menanda tangani paket itu dan membawanya masuk. Buket bunga itu masih segar, itu tandanya orang itu baru saja memesannya. Dan ... harum sekali wangi bunga itu, bentuknya juga sangat cantik. Tapi, tidak ada alamat tokonya. Biasanya di mana membelinya suka di sertakan.
"Siapa Sy?" tanya Mama Tina pelan menatap buket bunga mawar merah yang ada dalam gendongan Arsy.
"Paket bunga dan cokelat," ucap Arsy pelan. Ia masih bingung siapa yang mengirim paket ini. Lagi pula, tidak ada yang tahu, jika ia tinggal di rumah Mama Tina atau di rumah Pak Teddy, gurunya sendiri.
"Dari siapa? Kayaknya baru kali ini dapat paket romantis gitu," ledek MamaTiina pelan.
"Gak tahu Ma. Gak ada nama pengirimnya," jawab Arsy melihat di beberapa bagian untuk mencari nama pengirim atau kartu ucapan atau apalah sebagai informasui.
"Kartu ucapan? Hadiah untuk apa?" tanya Mama Tina pelan.
Arsy meletakkan buket bunga itu dan membuka buket cokelat yang ternyata memang ada kartu ucapan terselip di sana. Kartu ucapan berwarna pink dengan emot love yang sangat banyak.
Dear Arsy ...
Apa kabarnya? Selalu semangat menjadi calon Ibu. Semoga kita bisa ketemu di waktu yang tepat.
Di makan cokelatnya, gak perlu takut gemuk. Karena gemuk itu seksi.
Hanya seperti ucapannya. BUkan ucapan lebih menasehati atau meledek? kalau Arsy semakin gemuk?
"Dih ... Gak enak amat bacanya," ucap Arsy kesal. Ia meletakkan kartu ucapan itu.
Melihat menantu kesayangannya itu marah dan kesal, Mama Tina hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh saja.
"Ya sudah, di makan saj cokelanya. Biar gak mubazir. Lumayan banyak banget itu," ucap Mama Tina malah mendukung Arsy untuk menerima paket itu.
"Kok Mama malah terkekeh. Mama ya, yang kirim ini?" tanya Arsy menuduh.
"gak lah. Buat apa? Mungkin itu fans kamu," ucap Mama Tina pelan.
"Gak ada yang tahu alamat di sini Ma," ucap Arsy pelan.
"Masa? Kan kamu kemarin isi data pribadi untuk kelulusan pakai alamat mana?" tanya Mama Tina mengingatkan.
__ADS_1
"Alamat di sini?" jawab Arsy tersipu malu.
Mama Tina hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya membuat kue. Arsy sudah selesai mengelap semua toples kaca itu dan kini ia mulai membantu Mama Tina membentuk adonan castangel di loyang dan memberikan parutan keju sebelum di maskkan ke dalam oven.
sambil menunggu beberapa kue kering itu matang. Arsy kembali duduk di kursi meja makan dan membuka satu bungkus cokelat yang ia terima tadi. Cokelat -cokelat ini adalah cokelat kesukaannya. Siapa pengirimnya sampai tahu ia suka bunga mawar merah, suka dengan cokelat juga. Jangan -jangan Wulan, batin Arsy di dalam hati.
Arsy mulai menikmati potongan -potongan kecil cokelat itu dan di kunyah lembut di dalam mulutnya.
"Mama mau cokelatnya?" tanya Arsy menawarkan kepada Mama mertuanya.
"Gak Sayang. Habiskan saja," ucap Mama pelan.
Tidak lama, bel berbunyi lagi. Mama Tina hanya menatap Arsy dan memberi kode anak menantunya itu untuk membuka kembali pintu depan.
Arsy pun kembali ke depan membuka pintu depan.
"Kak Arsy ya?" tanya driver ojol yang akan mengirimkan makanan cepat saji untuk Arsy langsung menuduh.
"Iya. Ada apa?" tanya Arsy pelan menatap tentengan di tangan driver ojol itu.
"Ada paket makanan Kak. Masa ada saya di hati Kakak," ucap driver ojol itu tertawa sambil tersenyum.
"Ihh ... Abang, bisa -bisanya ngomong gitu," ucap Arsy melengos kesal. Moodnya lagi gak bagus.
"Canda Kak. Kakak? Bener Kak Arsy kan?" tanya driver ojol itu tersenyum malu.
"Iya. Saya Arsy,' jawab Arsy ketus.
"Pantes," jawab driver ojol itu.
"Pantes kenapa?" tanya Arsy mulai kesal.
"Pantes cantik, Kak. Ini pesanannya," jawab driver ojol itu sambil memberikan satu paper bag berisi makanan entah apa.
"Saya gak pesan apa -apa. Ini salah alamat kali," ucap Arsy tak mau menerima.
Arsy jadi teringat racun yang ada di dalam makanan yang di pesan secara fiktif, seperti di berita -berita viral itu.
"Tapi ini pesanan atas nama Kak Arsy dan alamatnya benar. Masa sih, saya salah? Gini -gini saya juga anak sekolahan Kak, bisa baca dan tulis. Saya kan juga lulusan S2, SD dan SMP," jawab driver ojol itu terkekeh.
"Saya gak mau ambil ini paket, karena saya gak psan. Buat abang saja," ucap Arsy ketus lalu menutup pintu depan dengan keras dan kasar.
__ADS_1