
Arsy tak sanggup menahan air matanya yang sudah penuh sesak berkumpul di pelupuk matanya. Air matanya pun jatuh begitu saja membasahi pipi Arsy.
Bunda Bella pun menghampiri ARsy dan memeluk anak gadisnya yang sbenetar lagi akan menjadi seorang Ibu seperti dirinya.
"Kamu gak apa -apa? Kalau mau cerita? Cerita saja? Biar bebanmu juga berkurang, Sy. Bunda pasti dengarkan cerita kamu. Bunda percaya dengan semua ucapan kamu. Bunda mengenal betul, siapa anak Bunda," ucap Bunda Bella begitu lembut. Nasihatnya begitu memotivasi Arsy untuk tetap sabar, kuat dan tegar menghadapi semuanya.
"Lelaki itu buta, Bundaaa ...." jawab Arsy terisak. Bunda Bella bisa merasakan Arsy yang sedang merasakan sesak dan rasa sedihnya di hati.
Kepala Arsy semakin dalam di benamkan di dada Bunda Bella. Pelan rambut Arsy pun di belai lembut. Selama di London, Arsy tak memakai hijab. Ia memang belum siap untuk memakai pakaian yang menutup aurat itu. Tapi etidknya, cara berpakaian Arsy sdah mulai sedikit tertutup dan tidak terbuka lebar seperti dulu.
"Seberapa yakin kamu menganggap orang itu adalah Teddy?" tanay Bunda Bella pelan. Ia juga merasakan hal yang sama saat itu. Tingkat keyakinan Bunda Bella dan Papah Hermawan juga besar terhadap lelaki yang ia temui beberapa hari lalu.
Pernah suatu hari Bnda Bella berhasil mengikuti lelaki itu. Tapi saat berjaan di ujung jalan, kantong belanjaannya jebol. Mau gak mau, Bunda Bella kehilangan jejak lelaki itu.
Arsy pun mengendurkan pelukannya di tubuh Bunda Bella ia kembali duduk tegak dan mengumpulkan semua tenaganya agar tidak menangis lagi.
"Arsy yakin sekali. Yakin dengan seyakin -yakinnya. Kalau lelaki itu Mas Teddy. Sempat Arsy memeluk lelaki itu tapi ia lepaskan dan ia cuma ilang. Kau salah orang, Nona. Bunda tahu kan rasanya tuh, nyesss banget, kayak hati Arsy tuh di tusuk -tusuk jarum kecil -kecil," ucap Arsy terisak pelan.
Beberapa kali, Arsy menyeka air matanya yang jatuh tanpa di minta. Rasanya perih dan pedih bercampur menjadi satu. Awalnya ia ke London ingin menghilangkan rasa stresnya dan melupakan sejenak rasa rindunya kepada suaminya itu. Tapi, semua tak sesuai dengan keinginannya. Ia malah di hadapkan pada masalah baru. Ia kembali di pertemukan dengan masa lalunya yang terus meghantuinya hingga kini, termasuk Bismo.
__ADS_1
"Arsy lelah, Bund ...." ucap Arsy pelan dan memukul meja makan denga kesal.
"Arsy ... Kamu jangan sedih. Ada Papah, ada Bunda, ada Papah Baron dan ada Mama Tina. Kami semua selalu ada buat kamu. Kami semua sayang sama kamu dan anak kembar yang sebentar lagi lahir, Itu cucu Bunda," ucap Bunda Bella berusaha menghibur Arsy.
Arsy mengangkat kepalanya dan memandang ke arah langit ruang makan itu.
"Arsy mau istirahat saja. Arsy beneran lelah, Bund," ucap Arsy lirih. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar tidurnya.
Arsy sudah berada di dalam kamar dan menutup pintu kamarnya dnegan rapat. Ia bersandar pada pintu dan luruh turun kebawah lalu terduduk di lantai.
"Arsy kangen sama kamu, Mas ... Kenapa kamu bohong dan bilang Arsy salah orang, padahal Arsy yakin itu kamu, Mas," ucap Arsy tersedu.
Air matanya sudah tak bisa di bendung. Rasa keram perutnya sudah tak lagi di rasakan oleh Arsy.
Bunda Bella terduduk di kursi amkannya dan menatap ke arah pintu kamar Arsy yang sudah tertutup dengan rapat.
"Lelaki itu sama seperti yang di ceritakan Arsy baru saja. Mungkin saja itu Teddy, ia menjadi buta dan hilang ingatan?" ucap Papah Hermawan menganalisa.
Bunda Bella menatap suaminya. Benar sekali ucapan suaminya itu. Analisanya sangat masuk akal sekali.
__ADS_1
"Lalu? Kita harus berbuat apa?" tanya Bunda Bella pelan.
"Tunggu saja sampai Arsy pulang. Kita bergerak mencari lelaki itu dan kita interogasi. Kalau bisa kita carikan donor mata untuknya agar ia bisa melihat dan mengingat kembali masa lalunya melalui terapi," ucap Papah Hermawan pelan memberi solusi.
Bunda Bella hanya bisa mengehmbuskan napasnya kasar.
"Bunda gak tega lihat Arsy begini, Pah," ucap Bunda Bella pelan.
"Siapa yang tega melihat anaknya terpuruk dan sedih? Orang tua mana yang tega? Gak ada Bund ... Semua orang tua ingin anaknya bahagia, apalagi Arsy dan Teddy sudah akan memberikan cucu kembar kepada kita," ucap Papah Hermawan pelan menasehati.
Bunda Bella hanya mengangguk pasrah.
"Semoga semuanya berakhir bahagia," ucap Bunda Bella pelan berdoa.
"Panggil Arsy ajak makan," titah Papah Hermawan kepada istrinya.
"Biar nanti Bunda bawakan makan malam dan susu hangatnya. Biarkan dia sendiri dulu. Papah tahu kan rasanya perempuan kalau lagi meajuk," ucap Bunda Bella mengingatkan.
Papah Hermawan hanya mengangguk kecil dan melanjutkan makan malamnya tanpa mempedulikan lagi masalah yang baru saja mencuat kembali.
__ADS_1