Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
SOLUSI AKHIR


__ADS_3

"Ya. Arsy namanya. Dia istriku," jawab Teddy pelan.


"Ohhh ... Kayak masih muda banget? Semester berapa?" tanya Dessy pelan.


"Dia masih SMA," jawab Teddy pelan.


Dessy menatap lekat ke arah Teddy. Ia tak percaya dengan jawaban Teddy barusan.


"Aku gak salah dengar kan? Kamu gak lagi becanda kan? Aku pikir spek idaman kamu itu. Perempuan dewasa, cantik, tinggi, putih kayak model dan smart," ucap Dessy pelan.


"Aku cinta sama dia. Aku nyaman sama dia. Gak perlu lagi ada pertanyaan. Itu pilihanku," ucap Teddy menyudahi topik obrolannya.


Skip ...


Arsy menangis dengan suara keras. Ia membereskan semua barang -barangnya dan ingin pulang malam ini juga tanpa bisa menunda lagi. Seharusnya Arsy pylang besok siang. Namun, karena kejadian salah paham ini, Arsy marah dan kecewa. Ia benar - benar sakit hati dengan sikap Teddy yang tak meresponnya.


"Arsy. Ini sudah mau malam. Pulang besok ya, Nak," titah Bunda Bella lembut.


"Gak. Arsy mau pulang sekarang. Arsy mau fokus sama ujian akhir. Arsy gak mau lagi mikirin Mas Teddy. Percuma!! Kalau yang di pikirin malah mau enak -enak sediri," ucap Arsy ketus.


Koper besar itu sudah penuh dan sudah di tutup rapat.


Arsy juga sudah merapikan diri dan bersiap untuk pulang ke Indonesia.


"Arsy. Kita harus bicara dulu," ucap Papah Hermawan pelan.

__ADS_1


"Sudahlah Pah. Gak ada lagi yang perlu di bicarakan. Arsy sudah kecewa. tolong pesankan taksi Pah," ucap Arsy pelan.


Arsy menggeret koper besarnya dan duduk di sofa ruang tengah. Kedua matanya masih basah. Masih jelas terngiang bagaimana penolakan Teddy terhadapnya. Itu membuatnya pusing tujuh keliling.


Akhirnya dengan perdebatan yang begitu alot, Arsy pun bisa kembali malam ini juga. Ia sudah berad di bandara dan sudah membeli tiket pulang ke negaranya secara online.


Arsy cukup bahagia kali ini. Bisa bertemu dengan kedua orang tuanya dan melihat Papah dan Bundanya semua sehat.


Arsy hanya menunggu pesawatnya datang lalu berangkat untuk membawanya pulang.


Skip ...


Teddy sudah berada di depan pintu kamar apartemen mertuanya. Ia ragu mengetuk pintu kamar itu, tapi ia juga tak punya pilihn lain. Dari pada hubungannya dengan Arsy runyam lebih bak ia mengalah.


Tok .. Tok .. Tok ...


"Teddy?" ucap Bunda Bella menyapa.


"Bunda. Maafkan Teddy. Papah mana?" tanya Teddy dnegan sopan.


"Masuk dulu yuk. Kamu sendiri?" tanya Bunda Bella pelan.


"Iya Bunda. Tadi di antar sama dokter Dessy dan saya minta di temani oleh OB apartemen ke kmaar ini," ucap Teddy pelan.


Bunda Bella menggandeng Teddy dan menuntun menantunya masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tengah agar lebih enak ngobrolnya.

__ADS_1


Papah Hermawan, Bunda Bella dan Teddy sudah duduk santai di ruang tengah. Kini giliran Teddy yang harus menceritakan awal ceritanya.


"Kalau kamu selamat, kenapa kamu tak mencari kmai? Kamu tahu? Papah Baron itu di tempat lokasi selama dua minggu, Papah juga kesana tapi hasilnya nihil," ucap Papah Hermawan pelan menjelaskan.


"Maaf Pah. Teddy juga di tolong oleh seorang petani di daerah pedalaman. Teddy juga bersyukur karena selamat dan masih hidup. Walaupun Teddy sdah tidak bisa melihat lagi," jawab Teddy pelan.


"Besok pagi kita ke rumah sakit. Kita cari pendonor mata. Papah gak mau kamu berlarut -larut seperti ini," ucap Papah Hermawan pelan.


"Iya Pah. Terima kasih. Arsy? Arsy kemana?" tanya Teddy dengan suara pelan.


"Arsy sudah pulang. Dia kecewa. tadimalam ia bercerita dengan kami. Ia bertemu sosok yang mirip suaminya. Ia yakin sekali itu kamu. Kenapa? Ada apa denganmu? Kau tidak yakin dengan Arsy? Bahkan ia sudah memeluk kamu?" tanya Papah Hermawan pelan.


Teddy pun menjawab apa adanya. Intinya ia malu dan tak percaya diri. Ia takut Arsy pun jadi malu berjalan dengan seorang yang buta.


"Arsy tidak akan seperti itu. Bunda kenal betul sapa Arsy. Arsy itu sdah mulai mencintai kamu, Nak. Apalagi dia sangat bahagia, kandungannya berisi du janin. Anak kalian kembar," ucap Bunda Bella pelan.


"Benarkah? Anakku kembar. Syukurlah,. Lalu bagaimana dengan kandungannya?" tanya Teddy pelan.


"Kandungannya juga sehat, Nak. Andaikan kamu bisa mengusap perutnya tadi. Perutnya sudah sedikit membuncit," ucap Bunda Bella dengan sumringah.


Teddy hanya mampu mnedoakan yang terbaik untuk istrinya. Ia yakin suatu hari nanti ia kembali untuk istrinya dan tinggal bersama, berkumpul bersama setiap hari dan bercanda serta mengurus si kembar bersama -sama. Betapa indah dan romantisnya keluraga kecilnya yang sedang ia bina ini.


"Fokus dulu pada kesembuhan kamu. Papah yakin, Arsy bisa mengerti. Beri ia waktu dan ruang untuk sendiri, supay atenang," ucap Papah hermawan pelan.


Teddy engangguk pasrah. Ia paham maksud Papah mertuanya.

__ADS_1


Kini, gantian tugas Mama Tina dan Papah Baron yang harus menjaga Arsy. Kedua keluarga itu saling berkomunikasi dan begitu bahagia mendengar kabar tentang Teddy yang sudah di temukan selamat.


__ADS_2