
Arsy pun menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Mau makan sekarang? Lalu minum susunya?" ucap Teddy pean.
Arsy hanya mengangguk pelan. Teddy pun mengambil nampan besar itu dan meletakkan di kasur lalu mengambilkan susu untuk di berikan kepada Arsy.
"Terima kasih." jawab Arsy pelan saat menerima satu gelas susu putih itu. Arsy langsung menyeruput susu hangat itu.
"Jangan lupa ini rotinya juga di makan ya?" ucap Teddy sambil memberikan satu piring berisi roti bakar untuk Arsy.
Arsy meletakkan gelas susu tersebut. Lalu mengambil roti bakar yang ada di piring kecil dan mulai menggigit roti bakar itu lalu mengunyah pelan di dalam mulutnya.
"Habis mandi terus sekolah," ucapTeddy pelan menitah Arsy. Arsy menatap jam yang ada di dinding. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Hari ini tidak masuk sekolah dulu," jawab Arsy santai kepada Teddy.
"Gak masuk?" tanya Teddy melotot ke arah Arsy.
Arsy hanya mengangguk pelan.
"Iya. Lagi pula hari ini ada ulangan kimia. Arsy belum belajar," jawab Arsy santai tanpa berdosa.
"Gak bisa. Kamu harus sekolah Arsy. Ayo habiskan sarapan kamu dan segera mandi." ucap Teddy pelan. Tanpa ada bentakan tapi tetap terdengar tegas dan menitah.
"Arsy belum belajar. Tadi malam mati lampu Pak," jawab Arsy mulai meninggi sambil mengunyah roti bakar itu.
"Masuk Arsy. Kamu sudah kelas XII. Tidak da waktu untuk santai -santai," ucap Teddy mulai tegas.
Arsy menatap Teddy dengan lekat. Tak habis pikir, baru juga tunangan dan calon suami sudah menagtur kehidupannya. Lalu, bagaimana kalau jadi istrinya bener.
"Gak." jawab Arsy ketus. Baru tadi malam mereka nampak akur dan romantis. Pagi ini sudah seperti kucing dan tikus lagi.
Teddy duduk di kursi meja rias. Keduanya saling bertatap lekat. Teddy yang memang sudah lama menyukai Arsy pun sudah lebih berani menatap gadis belia yang ada di depannya saat ini.
"Masuk." tegas Teddy. Lalu menenangkan hatinya dengan menyeruput kopi hitam yang mulai terasa dingin.
__ADS_1
"Kenapa sih Pak? Harus mengatur Arsy. Toh kita baru jadi tunangan. Belum SAH," ucap Arsy yang mulai sedikit berani mengungkap ketidak -sukaannya.
"Kamu merasa saya mengatur hidup kamu? Saya tidak mengatur. Saya hanya ingin kamu itu sekolah, biar semua cita -cita kamu itu terwujud sesuai harapan kamu Arsy," ucap Teddy pelan menjelaskan.
"Cita -cita? Harapan? Mulai minggu depan harapan dan cita -cita Arsy itu pupus, Pak. Arsy marah? Gak. Bahkan Arsy juga gak bisa berontak. Arsy nurut kan?" ucap Arsy yang mulai kesal. Ia berusaha menahan air matanya.
Teddy menatap Arsy. Tak tega rasanya melihat tunangannya mrasa keberatan dan merasa beban dengan perjodohan ini. Apalagi pernikahan mereka akan di laksanakan minggu depan. Teddy tahu, ini semua terlalu cepat bahkan Arsy belum mengenal Teddy seperti apa. Arsy hanya mengenal Teddy sebatas di sekolah. Hubungan mereka pun hanya sekadar Guru dan Murid tak lebih. Bahkan Arsy sendiri di sekolah jarang berinteraksi dengan Teddy yang notabene sebagai guru BP -nya.
"Kamu keberatan dengan acara pernikahan kita?" tanya Teddy pelan.
Teddy hanya ingin membuat Arsy bisa menerima semuanya dengan baik secara ikhlas.
Arsy hanya tertawa lepas mendengar ucapan Teddy. Pertanyaan yang tidak perlu di jawab kan, batin Arsy semakin kesal.
"Menurut anda? Memang ada seorang murid yang mau menikah dengan gurunya sendiri. Bahkan sang murid tidak kenal sama sekali dengan gurunya sendiri? Ada gak?" tanya Arsy dengan pandangan yang tajam.
Teddy diam membalas tatapan Arsy dengan teduh dan bijak. Tidak ikut terpancing dengan emosi labil Arsy.
"Kalau gurunya baik, ganteng, mendekati sempurna, kenapa tidak?" ungkap Teddy dengan penuh percaya diri.
Tangan Arsy menggapai ponselnya yang ada di nakas dan membuka layar ponselnya mencari nama Wulan, sahabatnya untuk mengijinkan Arsy tidak dapat masuk sekolah. Lalu mengembalikan kembali ponselnya ke nakas.
"Masih tetap gak mau sekolah?" tanya Teddy pelan.
Arsy dengan mantap menggelengkan kepalanya.
"Gak. Arsy mau tidur seharian. Nonton drakor biar bahagia ketemu pacar -pacar halu Arsy, seperti Suga 'BTS'," ucap Arsy dengan binar bahagia.
"Okelah. Terserah kamu, Arsy. Pilihan hidupmu ada di tanganmu sendiri. Saya tidak bisa memaksakkan kehendak." ucap Teddy pelan. Teddy meletakkan gelas kopinya dan pergi begitu saja dari kamar Arsy.
Ia langsung berpamitan pada si mbok yang menyapu di halaman depan sebelum mencari taksi online untuk pulang ke rumahnya.
"Mau pulang den?" tanya si mbok pelan. Saat melihat Teddy berjalan ke arah luar sambil memainkan ponselnya.
"Iya Mbok. Saya harus ke sekolah." jawab Teddy pelan.
__ADS_1
"Non Arsy gak sekolah, den?" tanya si mbok yang mencari -cari keberadaan Arsy, anak majikannya itu.
"Gak Mbok. Katanya kurang enak badan. Titip Arsy mbok. Kalau ada sesuatu, tolong beri tahu saya sceepatnya," titah Teddy kepada si mbok.
Tak lama taksi online pesanan Teddy pun datang dan langsung naik ke dalam taksi.
Arsy terdiam di kamarnya sendiri. Perasaannya begitu kosong dan hampa. Tadi ada Teddy, tunangannya masih lumayan hangat kondisinya. Ada teman walaupun teman berdebat.
TOK ... TOK ... TOK ....
"Non Arsy?" panggil si mbok pelan dari arah luar kamar dan mengetuk pintu kamar Arsy dengan sangat hati -hati seklai.
"Masuk mbok. Ada apa?" tanya Arsy sopan dengan tubuh malas yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Non Arsy sakit?" tanya si mbok pelan sambil membereskan bekas sarapan RAsy dan Teddy tadi.
"Gak Mbok," jawab Arsy jujur.
"Gak sekolah Non?" tanya si mbok kembali dengan pelan.
"Malas. Mau nikah juga buat apa sekolah," jawab Arsy dengan sedikit kecewa.
"Non. Mbok boleh kasih nasihat buat Non?" tanya si Mbok pelan.
Arsy menatap si mbok dan mengangguk pelan.
Si Mbok pun duduk di lantai sambil menatap Arsy, anak majikannya yang sejak kecil di urus olehnya. Sebentar lagi gadis manja itu akan menikah dan di bawa oleh suaminya.
"Duduk atas Mbok. Mbok kan sudah Arsy anggap sebagai pengganti Bunda," ucap Arsy pelan.
Si Mbok pun tersenyum dan berdiri lalu duduk di tepi ranjang. Mbok Yum mulai menggenggam tangan Arsy dan mengusap lembut.
"Non ... Den Teddy itu ganteng ya? Baik, perhatian, kelihatan ngemong dan dewasa. Bunda dan Papah tentu punya tujuan sendiri kenapa Non Arsy di nikahkan kepada den Teddy," ucap si mbok pelan menjelaskan.
"Pak Teddy ganteng? Emang ganteng sih. Bnayak temen -temen Arsy yang suka sama Pak Teddy. Tapi, Arsy gak suka Mbok," ucap Arsy jujur.
__ADS_1