Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
PARFUM PELAKOR


__ADS_3

Arsy masih tak percaya denagn hadiah valentine yang di berikan oleh Teddy untuk dirinya. Teddy hanya bilang, ini kado valentine sekaligus liburan untuk honeymoon juga. Kebetulan Teddy ada pekerjaan di London selama beberapa hari Tadinya tadi ingin berangkat sendiri, hanya saja ia tidak tega meninggalkan Arsy sendirian di apartemen atau di titipkan kepada ibunya di rumah.


"Mau kemana? Belanja? Atau kemana?" tanya Teddy pelan. Wajahnya tampan sempurna di balik kaca mata hitam yang menutup kedua mata lentik itu.


"Katanya Mas mau ke kantor? Emang gak jadi?" tanya Arsy pelan.


Teddy menoleh ke arah Arsy.


"Kamu gak apa -apa? Mas ajak ke kantor? Capek gak?" tanya Teddy pelan.


Arsy menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak. Nanti kalau bosan, Arsy ke lobby makan di bawah. Boleh kan?" tanya Arsy pelan.


"Boleh dong, Sayang. Nanti, Mas temani. Mas hanya ingin memastikan pekerjaan Ivana itu benar. Dan semua orang -orang yang telah berbuat curang di kantor bisa di tindak sceepatnya," ucap Teddy tegas.


"Mas gak malu? Bawa anak SMA?" tanya Arsy pelan.


"Gak. Kenapa malu? Justru bangga, punya istri masih gadis belias," ucap Teddy menggoda.


"Hemmm ...." jawab Arsy hanya berdehem pelan.


Setenggah jam menuju kantor. Teddy dan Arsy sudah naik ke lantai atas menggunakan lift. Semua orang memberikan sikap hormat kepada Teddy dan menatap tajam ke arah Arsy yang mungkin membuat mereka curiga. Pasalnya Arsy datang ke kantor ini sudah dua kali ini.


Ceklek ...


"Ivana? Maaf sya baru datang," ucap Teddy pelan lalu masuk kedalam sambil memeprsilahkan Arsy terlebih dahulu masuk ke adalam ruangan itu.


Ivana dan team sudah dua hari ini bekerja sendiri di ruangan Teddy. Ivana hanya menanyakan beberapa informasi kepada Teddy dan selebihnya ia kerjakan dengan beberapa anak buahnya.


Pekerjaan mereka sudah hampir kelar. Hanya tinggal finishing dan sudah jelas siapa saja yang bersalah.


"Kenalkan Iv. Ini Arsy, istriku," ucap Teddy pelan mengenalkan.


Arsy pun tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Ivana.


"Oh ini, ibu surinya?" goda Ivana dengan penekanan yang sedikit serius.


Ivana tak membalas uluran tanagn Arsy dan Arsy hanya menoleh ke arah Teddy yang hanya memberikan kode negan anggukan kecil dnegan maksud abaikan saja dan jangan di masukkan ke dalam hati.

__ADS_1


"Mas ... Boleh pinjem ponselnya? Mau main game," pinta Arsy pelan.


Teddy langsung mengambil ponselnya dari saku celananya dan di betikan kepada Arsy. Arsy pun duduk di sofa panjang dan bersandar dengan bantal sofa agar punggungnya tidak mudah pegal.


Teddy melanjutkan mengecek beberapa berkas di meja dan hasil dari pekerjaan Ivana. Ia langsung emailkan kepada Papa Hermawan. Memang sebelumnya Teddy sudah bicarakan maslah yang muncul di kantor dan konsultasi dengan Papa Hermawan untuk langkah selanjutnya.


Semua putusan di tangan Papah Hermawan. Bukan pada Teddy. Teddy hanya menjalankan amanah saja.


Satu jam kemudian. Arsy pun mulai lelah. Ingin rasanya menyelonjorkan kakinya. Teddy menata ke arah ARsy yang sudah bergerak ke kanan ke kiri merasa tak nyaman. Sofa yang bekas ia duduki pun terasa sangat panas, seperti telur yang habis di erami. Apa memang orang yang hamil selalu menimbulkan hawa panas?


"Lelah, Sayang?" tanya Teddy lembut.


Ivana pun ikut menoleh ke arah Teddy yang menatap ke arah Arsy.


"Iya Mas," jawab Arsy santai seperti biasa.


"Mau cari cemilan dulu? Atau gimana? Mumpung Mas belum sibuk? Papah belum balas emailnya?" ucap Teddy beralasan.


"Papah? Memang sedang kominikasi sama Papah?" tanya Arsy pelan.


"Masalah kerjaan, Sayang. Kamu telepon saja kalu kangen. Tapi, Papah sibuk kayaknya, ini juga gak di balas," ucap Teddy pelan.


"Yakin mau sendiri ke bawah? Berani?" tanya Teddy memastikan.


"Berani dong. Cuma tinggal turun naik lift juga dan tekan tombol lobby." ucap Arsy tak mau kalah.


"Bukan itu maksud Mas, Sayang. Mas cuma gak mau kamu kesepian sampai di bawah," ucap Teddy pelan.


"Gak Mas. Bisa kok sendiri. Cuma beli cemilan terus naik lagi kesini. Janji," ucap Arsy lantang sambil menunjukkan dua jarinya membentuk angka dua tanda promise gaya ABG.


"Ya udah. Ini uangnya," ucap Teddy memberikan uang kepada Arsy. Arsy pun berjalan menghampiri Teddy dan menerima uang untuk membeli cemilan.


"Mas, Ponselnya Arsy bawa ya? Arsy mau telepon Bunda. Ponsel Arsy mati karena jatuh tadi," jawab Arsy pelan.


"Iya Sayang," jawab Teddy pelan.


Arsy pun langsung berbalik dan akan keluar dari ruangan kerja Teddy.


"Sy ...." panggil Teddy cepat seolah ada yang di lupakan.

__ADS_1


"Iya Mas? Mau titip juga? Titip apa?" tanya Arsy pelan.


"Bukan titip. Kok, Kening Mas belum di cium?" ucap Teddy manja.


Arsy menatap lekat ke arah Teddy lalu memutar kedua bola matanya malas. Teddy mulai seidkit manja. Ia selalu butuh snetuhan, di cium keningnya.


Cup ...


"Arsy cuma ke bawah Mas. Gak pergi jauh," ucap Arsy pelan.


Tangan Teddy pun menggenggam tangan Arsy dengan erat lalu di cium punggung tangannya.


"Memang manja sama istrinya gak boleh? Ada yang melarang? Dari pada manjanya sama orang lain?" ucap Teddy pelan.


"Bukan gak boleh. Tapi ini di kantor, Sayang. Awas aja kalau berani manja sama yang lain. Gak usah tidur di rumah sekalian!!" ucap Arsy dengan tegas.


Arsy langsung pergi keluar dari ruangan kerja Teddy. Ivana yang sejak tadi menyimak obrolan suami istri pun sesekali ingin rasanya menimpali karena tak fokus bekerja.


"Labil ya? Manja juga?" celetuk Ivana tiba -tiba.


"Siapa? Arsy?" tanya Teddy kepada Ivana.


"Ya. Dulu tipe perempuanmu bukan begitu?" ucap Ivana mengingat.


"Memang aku dulu punya pacar?" tanay Teddy pelan.


Ivana lupa. Teddy gak pernah punya pacar.


"Gak," jawab Ivana malu.


"Ya sudah. Berarti kamu juga tidak tahu kan? Seperti apa tipe perempuan yang aku suka," ucap Teddy pelan.


Teddy melanjutkan pekerjaannya lagi. Ivana pun juga diam melanjutkan pekerjaannya.


Arsy sudah berada di lobby dan berjalan ke arah samping menuju kantin gedung kantor itu.


Ia memilih beberapa jenis roti dan milkshake strawberry dengan es krim di atasnya. Arsy pun memilih salah satu tempat duduk dan mulai membuka satu jenis roti kesukaannya. Kantin di dlam gedung kantor itu begitu mewah seperti toko kue dengan etalase panjang. Semua makanan terpampang di sana dan pembeli hanya menunjuk saja.


"Hai ... Arsy," panggil seseorang yang ikut duduk di sebelah Arsy.

__ADS_1


Arsy hanya melirik ke arah orang yang ada di sebelahnya. Wangi parfumnya membuat perutnya eneg, mual dan ingin rasanya muntah.


__ADS_2