
Teddy begitu kecewa denagn sikap Arsy saat ini. Ia mati -matian membela Arsy dan mencari tahu soal kejadian hari itu. Ternyata Arsy malah menganggap hal itu sebagai kecelakaan yang wajar.
"Jadi mau kamu, apa sekarang? Mau fokus sama kuliah? Terus?" tanya Teddy kemudian.
"Ya ... Gak ada terusannya. Mau fokus aja sama kuliah. Bisa kerja, berkarir, dan mandiri," ucap Arsy penuh emosi.
"Kalau kamu belum bisa menerima kenyataan ini, kasih hukuman sama Emil. Dia penyebab semua ini. Dia itu psikopat. Gadis depresi yang ingin membalas dendam pada semua wanita hamil, karena ia benci pada Papahnya yang datang membawa selingkuhannay yang sdeang hamil. Kamu itu korban!!" ucap Teddy dengan nada tinggi.
Teddy lelah setiap hari mencari tahu tentang siapa Emil dan mencari saksi untuk mendukung pelaporannya kepada Emil. Semua sudah finish, dan Emil sudah di bawa ke kantor polisi hari ini. Besok Arsy harus datang dan memberikan BAP sebagai korban. Tapi, jawabannya sungguh di luar dugaan. Arsy malah tidak mau.
Arsy kembali fokus melihat dua makam bayinya yang mungil dan terasa nyaman.
__ADS_1
"Kenapa gak tanya Arsy soal nama mereka?" ucap Arsy lemah.
Teddy mengehmbuskan napasnya pelan. Ia tahu kalaua masalah kecil seperti ini bisa panjang urusannya.
"Maaf sayang. Kalau soal nama, memang Mas tidak bicara dan berunding sama kamu. Posisi Mas, bingung saat itu. Kamu juga belum sadar pasca operasi caesar itu. Mas hanya ambil nama yang mudah. Mas sendrii tidak persiapan soal nama, emmang Mas akan serahkan soal nama bayi kembar kita pada kamu. Tapi semuanya jadi berbeda. Saat kamu teerjatuh dan pendarahan lalu di haruskan operasi waktu itu juga. Perasaan Mas campur aduk. Maafkan Mas," ucap Teddy lirih menjelaskan.
Suasana di makan itu semakin sunyi, dan terik matahari mulai meredup karena mendung. Awan hitam sudah berjalan cepat karena angin yang tiba -tiba berhembus kencang seperti akan ada badai besar.
Teddy mengangkat wajahnya mendongak ke atas langit yang mulai gelap. Angin mulai terasa dingin dan dedaunan kering mulai beterbangan mengikuti arus angin yang memutar seperti angin puyuh.
"Pulang saja duluan. Arsy masih mau disini. Arsy mau temani mereka. Kasihan mereka kedinginan Mas. Arsy lupa bawa selimut untuk mereka, Arsy mau peluk mereka sampai mereka merasa hangat," ucap Arsy dengan tatapan kosong kini.
__ADS_1
Keduanya matanya tidak lagi basah, apalagi mengeluarkan air mata. Air matanay sudah kering dan tak lagi bisa di paksa keluar. Kedua mata Arsy malah bengkak dan sedikit menghitam karena jarang tidur menangisi kedu abayi kembarnya.
Tangan Teddy memegang tangan ARsy lalu di genggam erat Teddy tidak ingin istriny terpuruk seperti ini. Kadang bisa di ajak bicara baik -baik tapi kadang Arsy sama sekali tidak bisa di ajak bicara malah terlihat keras kepala dan egois, bahkan terlihat seperti orang ing lung serta depresi dengan tatapan kosong.
"Ayo pulang dulu," titah Teddy sambil berusaha sedikit menarik tangan Arsy agar mau bangun dari duduknya.
"Gak mau!!" teriak Arsy sambil menghempaskan tangan Teddy yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Ini mau hujan Arsy. Itu petir mulai menyambar, langit juga sudah gelap, angin begitu kencang. Kamu bisa sakit nanti," ucap Teddy emncoba merayu Arsy.
"Mereka juga akan sakit kalau Arsy tinggal, Mas ..." ucap Arsy dengan suara lemah. Tangannya mengusap pelan kedua makam itu bersamaan.
__ADS_1
"Arsy!! Lihat hujan mulai turun ini. Ayo, Arsy!!" ucap Teddy berteriak lantang sambil mengulurkan tangannya agar Arsy cepat berdiri.
Siang yang gelap karena langit sudah menghitam, awan terlihat berjalan cepat dan petir mulai menyambar di beberapa bagian yang tak jelas arahnya. Teddy masih terus menyuruh Arsy pulang sebelum hujan semakin besar turunnya.